BAB 11

1530 Words
Sena mengantarkan minum yang telah di buat ibu-ibu tadi bersama temannya. Setelah itu ia mengumumkan kepada para masyarakat dan temannya yang sedang bekerja jika minumnya sudah datang. Jadi yang haus silahkan mengambil minum. Sena mengambil es tersebut meminumnya lalu ikut bekerja kembali. Tapi, tak lama temannya memanggilnya. Sena yang merasa namanya di panggil pun berdiri. Ia mencari siapa yang memanggilnya. Melihat teman perempuannya yang memanggilnya ia langsung menghampirinya. Temannya pun memberitahunya bahwa ada seorang laki-laki tampan yang mencarinya. Ketika melihat siapa yang memanggilnya ia sangat terkejut. Aldric?? Serius ini Aldric?? “Hai sayang.” Sapa Aldric dengan tersenyum lebar. Ia lalu mendekati Sena dan memeluknya erat. Sena tersentak tapi, ia kemudian membalas pelukan itu dan dengan cepat menarik dirinya. “Siapa Sen?” Tanya temennya yang memanggilnya tadi. “Suaminya.” Balas Aldric yang kemudian mengulurkan tangannya. “Aldric, suaminya Sena.” “Dewi.” balas Dewi yang kemudian menjabat tangan Aldric. “Kamu ngapain kesini?” Tanya Sena mengintrupsi. Aldric menatap istrinya kembali. “Kangen.” Jawabnya dengan tersenyum lebar. Sena tak tersenyum. Sejujurnya ia kurang suka Aldric mengunjunginya seperti ini. Terlebih dengan alasan kangen sesimple itu. Tidak mungkin. “Kamu nggak seneng aku kesini?” Tanya Aldric. “Enggak!!” Jawab Sena jujur. “Kenapa?” Tanya Aldric syok. “Ya aneh aja kamu kesini karna kangen. Dibanding itu, keadaan Elios sama Elias gimana?” Tanya Sena kini. Aldric menghela napas. “Baik-baik aja.” “Kamu sering telfon mereka?” Tanya Sena. Aldric tersenyum lalu menganguk. Mana mungkin ia berkata kepada istrinya jika ia sama sekali tidak pernah menelfon anaknya. Bisa di bantai istrinya saat ini. “Kamu balik kapan?” Tanya Sena. “Kamu serius nggak seneng aku disini?? Aku baru dateng loh masa kamu nyuruh aku balik.” Decak Aldric tak suka. “Ya terus kamu mau tidur dimana?? Di mobil?? Desa ini ke penginapan terdekat jauh tau!” “Emang tidur sama kamu nggak bisa?” Tanya Aldric. “Lagian kita juga udah sah loh.” Lanjutnya yang kini memamerkan cincinnya. “Udah Sen. Lo istirahat dulu gih.” Suruh Dewi yang kini pamit meninggalkan Aldric dan Sena. Ketika Sena hendak menarik Aldric tiba-tiba ada bapak-bapak yang menghampirinya. Ia meminta minum kepada Sena. Sena pun mengambilkannya. Melihat Aldric wajah yang asing, ia pun bertanya kepada Sena. Sena dengan sopan menjelaskan siapa itu Aldric. Tentu saja mereka terkejut mendnegar penuturan Sena.  “Terus ini kangen sama istrinya sampe di susulin gini?” Goda bapak itu. Aldric hanya tertawa kecil. Aldric lalu menatap Sena. Melihat wajah Sena penuh keringat, Aldric langsung mengusapnya. “Capek?” Tanya Aldric perhatian. “Lumayan.” Jawab Sena singkat. “Kamu sendiri gimana?? Tiba-tiba banget kesini.” Tegur Sena. Ia mampu melihat wajah kurang tidur Aldric. “Bukannya masih SP?” Aldric mendengus. Ia malah menyandarkan kepalanya sembari berdiri. “Capek. Ngantuk!” Sena menghela napas kasar. “Yaudah duduk istirahat.” suruh Sena. Aldric menggeleng, celananya ini mahal. Ia beli langsung di Milan ketika mamanya liburan kesana. Ia tidak mau mengotori celananya. Sena menegakan kepala Aldric lalu mengambil minum dan menyuruh Aldric meminum es jeruk itu. Aldric meminumnya. Ia merasa segar. Sena llau mengajukan pertanyaannya kembali. Mendegar bahwa Aldric belum makan sedari tadi, sena terkejut, lalu memarahi Aldric yang tidak memperdulikan kesehatannya. Ia lalu mengaja Aldric mencari makan. Aldric menggeleng. Ia malah memeluk Sena erat. “Aduh, Romantisnya.” Tegur ibu-ibu yang membawa makan siang. Sena menyuruh Aldric melepaskan pelukannya. Ia malu. “Pacarnya?” “Bukan bu!!” Jawab Sena. “Suaminya itu.” Jawab bapak-bapak tadi.  “Aduh.... Ganteng banget Sen suaminya.” Sena hanya tersenyum menanggapinya. Aldric pun mengenalkan dirinya. Beberapa ibu-ibu tidak mempercayainya. Aldric pun menunjukan foto buku nikahnya. Barulah mereka semua percaya. Tak lama teman-teman Sena dan para warga lain berkumpul berniat mengambil makan. Ketika melihat Sena bersama dengan laki-laki yang ganteng mereka pun bertanya kepada Sena. Yah, Wajah Aldric tak asing bagi mereka. Ketika mengetahui nama Aldric teman-teman Sena terkejut. Ternyata gosip yang dulu pernah mereka dengar nyata. Aldric dan Sena sudah menikah. Terlebih Eden ketika melihat Aldric yang sengaja memeluk pinggang Sena posesif. Ia merasa sudah tertipu oleh Sena. Aldric menatap Eden tak suka. Laki-laki itu, Sepertinya memang benar, ia menyukai istrinya ini. Aldric semakin mengeratkan pelukannya. Jangan sampe terlepas. Sena berusaha melepaskan tangan Aldric dari pinggangnya. Ia malu karna sekarang ia berada di tempat umum. Tapi Aldric tak ingin melepaskan dekapan itu. Ia semakin erat memegang pinggang istrinya. “Aldric.. Lepasin.” bisik Sena. Aldric tak peduli. Ia pura-pura tuli. “Malu... Di lihatin orang-orang nih.” Aldric tak memperdulikan Sena. Akhirnya ia langsung melepaskan paksa tangan Aldric dan berpamitan sebentar. Ia mengajak Aldric pergi ke tempat peristirahatan. Yakni kantor desa. Di kantor Desa sendiri, ada satu ruangan yang di pakai tempat untuk beristirahat. Sena menyuruh Aldric beristirahat disana sementara ia keluar sebentar membelikan nasi untuk Aldric tapi Aldric melarangnya dan malah memeluk Sena erat. “Aku lebih mau makan kamu.” bisik Aldric sembari mengeratkan pelukannya. “Aldric lepasin!!! Kamu pikir ini dimana??” Omel Sena sembari mendorong kasar Aldric. “Gila ya, Jangan aneh-aneh deh.” Aldric menatap Sena. “Kamu nggak tau cerita KKN yang viral itu?? Jangan berbuat yang enggak-enggak deh.” “Hah, Kita kan sudah sah!!” balas Aldric seenaknya. “Udah ah. Istirahat gih. Aku beli makan buat kita.” Aldric akhirnya menganguk menurut. Sena pun berbalik tapi Aldric meraih tangan kanan Sena dan mencium bibirnya cepat. “Hush.. Sana. “ Usir Aldric dengan mendorong tubuh Sena pelan. “Aldric.” Aldric hanya tersenyum senang sembari menatap Sena yang sedang jengkel. Seperginya Sena, Aldric langsung duduk di lantai yang sudah beralas karpet tipis. Ia mengeluarkan handphonenya ingin bermain game. Tapi sayang, tak ada sinyal disana. Aldric menghela napas kasar. Bisa-bisanya istrinya KKN di tempat seperti ini. Aldric menyalakan wifinya. Siapa tau di kantor ini ada Wifinya. Tapi nihil... Tak ada wifi. Oke... Aldric bingung sekarang... Gimana cara mereka bekerja kalo nggak ada wifinya??? Aldric ingin mengeluh... Tapi, tak lama istrinya datang dengan membawa sebungkus plastik. Aldric tau isi dari plastik itu. Makanannya. Sena duduk di depan Aldric, ia menata makanan untuk Aldric. Aldric memperhatikannya. Kenapa istrinya itu semakin cantik saja. Arggh ... Rasanya Aldric ingin mengurung Sena di kamar. Sena memberikan sendok kepada Aldric. Aldric menerimanya ia lalu makan bersama Sena. Tapi, tak lama Sena memegangi dadanya dan meringis. Sontak Aldric meletakan sendoknya dan menyentuh bahu istrinya. “Kenapa?” Tanya Aldric khawatir. “Gapapa.” “Sayang ... Aku serius ... Kamu sakit?” Tanyanya lembut. “Enggak ... Ini cuma ngilu dikit. Harusnya aku nenenin Elios sama Elias sekarang. Tapi, karna nggak bisa ngasih ASI mereka berdua jadinya ngilu. Tapi gapapa kok.” Aldric menghela napasnya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Kalaupun ada, Sena juga tak akan mengizinkannya.  Sena lalu melanjutkan makannya. Selesai makan, ia menyuruh Aldric istirahat selama ia melanjutkan pekerjaannya. Aldric menurut. Ia lalu istirahat. Tapi sebelum itu, ia meminta ponsel istrinya. Sena memberikannya, barulah ia pergi. Melihat kepergian Sena, Aldric langsung memeriksa isi handphone Sena. Bukan karna Aldric tak percaya kepada Sena. Ia hanya ingin menenangkan perasaannya. Disisi lain ketika Sena hendak melanjutkan pekerjaannya Eden menghampirinya. Ia meminta penjelasan Sena. “Kenapa bilang nggak punya pacar?? Tiba-tiba aja tadi ada yang ngaku suami kamu.” tanya Eden kesal. “Emang gue nggak punya pacar. Tapi punya suami. Waktu gue mau bilang, lo nya motong omongan gue. Yaudah gue diem. Lagian juga nggak penting banget ngasih tau lo.” Balas Sena sinis. “Misi ya ... Gue mau lanjutin kerjaan gue!!” Melihat hal itu, Eden merasa sangat kesal kepada Sena. Sena sendiri tak memperdulikannya. Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Selesai melakukan pekerjaannya, Sena kembali ke tempat istirahatnya. Disana ada beberapa temannya dengan raut terkejut. Melihat hal itu, Sena paham. Ia pun menjelaskan siapa laki-laki yang saat ini sedang tidur. Untungnya temannnya mau mengerti. Sena mengambil peralatan mandinya lalu pergi mandi. Selesai mandi ia kembali ke tempat peristirahatan. Aldric masih tertidur tenang. Beberapa temannya sedang mengipasi dirinya sendiri dengan buku. Sena menghampiri Aldric lalu membangunkan suaminya lembut. Aldric mengeliat. “Aldric...” panggil Sena lembut. Aldric mengeliat lagi sebelum membuka matanya perlahan. Melihat wajah Sena, Aldric tersenyum. Ia mampu mencium bau sabun dari tubuh Sena. Segar. Aldric meraih wajah Sena dengan tangannya lalu mencium pipinya sayang. “Masih ngantuk!” “Bangun. Habis itu mandi.” Suruh Sena. Seluruh temannya memperhatikan interaksi Sena dan Aldric. Aldric bangun. Sena tertawa kecil melihat rambut acak-acakan Aldric. Ia lalu merapikannya sebelum menarik Aldric berdiri. Aldric mengikuti Sena dengan malas. “Sayang badanku sakit semua!!” Keluh Aldric ketika mereka berjalan keluar. “Mandi sana Al,” Aldric mendengus, tapi ia tetap mengikuti Sena. Sampai di tempat pemandian umum, Aldric syok. Kamar mandi ini, bahkan lebih bagus kamar mandi di pom bensin daripada yang di depannya ini. “Kamu nyuruh aku mandi disini?” bisik Aldric. Sena menganguk. Aldric menggeleng. Wajah jijik dan tak sukanya terlihat sangat jelas. Orang-orang yang sedari tadi menatap kedatangan Aldric dan Sena kini mulai berbisik melihat tingkah Aldric. Banyak dari mereka menghujat Aldric. Sena yang mendengar suara bisik-bisik orang yang menghujat suaminya itu, ia pun mencubit perut Aldric agar Aldric stop menunjukan raut wajah jijik tak sukanya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD