BAB 10

1195 Words
“Sen, kamu udah punya pacar?” Tanya Eden ketika ia sedang perjalanan pulang ke kantor desa. Ia dan teman-temannya memang menginap di tempat itu selama KKN berlangsung. Sena baru saja selesai mandi. “Nggak punya, tapi aku-” “Oh ... Ku pikir kamu udah punya pacar.” potongnya cepat. “Cie ...” Sorak teman-temannya. “Pepet teruss Den .. Jangan kasih kendor.” Goda salah satu temannya. Sena ingin berbicara dan mengatakan jika ia sudah menikah tapi ucapannya terhenti karna Eden dan teman-temannya. Sampai akhirnya ketika ia sampai di kantor desa. Ia masih belum sempat mengatakannya. Sena sendiri tak ambil pusing. Ia bisa mengatakannya nanti. Itulah yang di pikirannya. Tapi, sampai acara KKN hampir selesai ia masih belum bisa mengatakannya. Kini Sena sedang di atas bukit mencari sinyal. Ia ingin menelfon putranya. Melihat putranya yang tersenyum melihatnya, Perasaan Sena menghangat. Setelah itu mendapat pesan dari Aldric. Aldric meminta Sena mengirimkan fotonya. Sena pun memberikannya. Foto selfi. Aldric yang sedang membaca pesan Sena tersenyum senang. Tapi, kegiatannya itu segera terhenti karna Ryan yang mengatakan hal yang tidak perlu. “Al.. Lo udah lihat foto yang di post Sena belom?” Aldric menoleh. Ia pun menggeleng. Ryan pun menunjukan foto itu. “perasaan cowok ini selalu ada di foto Sena. Jangan-jangan naksir Sena tuh Al.” Goda Ryan. “Yan lu ah.. Kan temen kelompoknya. Positif thingking aja Al.” Sambung Gea. “Gue tuh cowok Ya’, Sekali lihat gue juga tau orang itu suka apa nggak sama temen gue.” Balas Ryan. “Gila.. Sena makin langsing aja Al.” Saut Reza di belakangnya. “Lihat nih cowok ... Menurut lo gimana?” Tanya Ryan dengan menunjuk foto seorang laki-laki disamping Sena. “Kayaknya naksir Sena deh.” Jawab Melvin. “Kan ...” kata Ryan ke Gea. “wajar aja, Sena kan cantik. Mana mungkin nggak ada yang suka.” Balas Reza dengan meminum Cappucinonya. Aldric tertawa mengejek. Sena .... Sekalipun Sena belum pernah ngepost fotonya. Tapi melihat foto yang di post Sena sekarang, “Gue ambil cuti!!” Kata Aldric yang langsung berjalan keluar. “Mau kemana Al?” Tanya Gea. Aldric tak memperdulikan Gea. Ia masuk kedalam mobilnya lalu pergi. Gea sendiri memukul ketiga laki-laki itu. Karena mulutnya asal jeblak. “Menurutmu dia bakal nyusulin Sena nggak?” Tanya Melvin ke Reza dengan melihat kepergian mobil Aldric. “Pasti disusulin lah ... Aldric loh itu. Dia nggak akan diam aja.” Kata Reza. Gea tak tinggal diam. Ia memukul bahu mereka bertiga. Mereka hanya menanggapinya dengan candaan. “Apa sih sayang ... Sakit tau.” Goda Reza. Melvin yang mendengar itu langsung menonjok perut Reza pelan. Reza langsung berpura-pura kesakitan dan meminta tolong Gea. Gea mendorong Reza hingga laki-laki itu terjatuh. Mereka asyik bergurau hingga salah satu teman mereka  Brahms datang. Gea lalu menayakan pesanan Brahms dengan tersenyum manis. “Terserah.” Kata Brahms. Gea tetap tersenyum. Setiap Brahms  kesini laki-laki itu selalu pesan terserah. Padahal di dalam menunya tidak ada kata terserah. “Udah Ya.. Lo yang masak aja. Biar gue yang ngurus pesanan nih anak.” Kata Melvin yang kini menuliskan banyak pesanan. “670rb Brahms.” Kata Melvin. “Tck..” Decak Brahms yang kini memberikan beberapa uang lembaran. Gea hanya menggelengkan kepalanya. Setiap kesini Brahms pasti akan di peras oleh Melvin, atau Reza. Mereka berdua akan memesankan banyak sekali menu makanan. Gea pernah bertanya, apa mereka tidak kasian jika Brahms uangnya habis. Dan jawaban mereka tidak. Karna uang jajan Brahms sangat banyak. Jika ada 10 jenis makanan di meja, dan 2 minumam. Brahms hanya akan menghabiskan 2 minuman itu dan 3 makanan. Lainnya Brahms tidak menyentuhnya. Karna Gea yang memasaknya, ia pun langsung mendatangi Brahms menyuruhnya menghabiskan makanan itu. Jelas Brahms dengan wajah songongnya itu langsung menolak mentah-mentah. Akhirnya Gea pun menceramahinya, memarahinya. Sejak itu Brahms selalu menghabiskan apa yang ia pesan. “Kok nggak lo makan sih?” Tanya Gea ketika Brahms akan pergi.  “Nggak buang aja!” Suruh Brahms. “Nggak mau!! Ini kan belinya pake uang. Yang masak gue lagi. Kan gue tersinggung kalau lo giniin makanannya.” “Kalo gitu lo aja yang makan!” Ucap Brahms acuh. “Oke.” Kata Gea. Kini Gea menarik kursi di depannya dan mulai memakan camilan yang di pesan Brahms. Brahms menatapnya takjub. Besoknya ketika Brahms memesan makanan lagi, Gea melakukan hal yang serupa. Akhirnya Brahms pun bertanya kepada perempuan itu. Kenapa Gea selalu memaksanya untuk menghabiskan makanannya. Gea dengan tersenyum ia menjawab bahwa semua itu dibelinya menggunakan uang. Dan mencari uang itu susah. “Buat orang kek Brahms sih nggak susah nyari uang. Tinggal telfon. Uang langsung cair.” Saut Reza yang kini meminum Americano. “Za ... Itu bayar ya ... Nggak gratis!!” Omel Ryan. “Iya. Iya.” Jawab Reza yang kini mengeluarkan dompet lalu membayar minumannya. “Diluar sana banyak yang nggak bisa makan. Harusnya lo itu syukurin tau apa yang ada.” Geram Gea. “Kan itu derita mereka sendiri. Salah siapa nggak punya?” Gea spechlesss mendengarnya. Ia ingin sekali menjambak Brahms di depannya. Biar laki-laki itu tau rasa. Pantas saja Sena dan Caca sangat tidak menyukai laki-laki itu. “Aldric ... Kok lo bisa sih punya temen kayak gini?” Tanya Gea ke Aldric kesal. “Gue juga heran,” Balas Aldric yang mengambil nugget di piring Brahms lalu memakannya. “Lagian abisin aja Brahms... Lo suka banget sih bikin Gea ngomel.” “Ogah..” “Coba aja, misalnya itu lo bikin sesuatu tapi nggak di hargain. Emang perasaan lo nggak sakit??” “Kan tergantung itu buat siapa dulu?” “Mau buat siapapun itu sama tau!” Keukuh Gea. “Beda tuh. Lagian lo ngapain sih cerewet banget. Kan suka-suka gue mau gue maka ato nggak, yang penting kan gue udah bayar. Lo di gaji!” “Sumpah.. Gue nggak suka banget sama tipe orang kek lo!” “Gue juga nggak minta lo sukain tuh!!” “Astaga orang ini ... Terserah lo deh!! Abisin tuh Al!” Suruh Gea emosi. Keesokan harinya ketika Brahms datang lagi Gea hanya memberikan 2 menu saja. Karna seperti biasanya Brahms hanya berkata terserah. Melihat ia hanya memesan 2 makanan. Brahms pun nambah. Ia ingin memesan seperti biasanya. Gea meliriknya sebal lalu menekan semua menu untuk di pesan. “700rb.” Brahms memberikan kartunya. Gea langsung menggeseknya. Brahms duduk dan mengobrol dengan Aldric dan Reza. Kedua temannya itu kadang Melvin dan Ryan yang menemaninya berbicara. Kadang juga Brahms mengajak Lois mampir ke Cafe milik temannya itu. “Kok lo nggak ngomelin gue lagi?” Tanya Brahms ke Gea yang sedang membersihkan meja di sebelahnya. “Buat apa?? Kan nggak lo dengerin juga.” Balas Gea sinis. “Gue dengerin kok.” Kata Brahms. “Ya bagus kalo lo dengerin.” Balas Gea cuek. “Lo marah sama gue” “Nggak tuh. Ngapain buang-buang tenaga.” Brahms pun duduk kembali ke mejanya lalu menghabiskan makanan yang di pesannya itu. Aldric yang melihatnya langsung menunjukannya ke Gea. Gea tersenyum, ia senang melihatnya. Brahms menatap Gea ketika perempuan itu membersihkan mejanya. Ia menunggu reaksi perempuan itu. Ketika melihat Gea tersenyum dan memujinya, Wajah Brahms memerah melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD