BAB 9

1141 Words
Sena tak tau jika tempat KKN nya akan semenyedihkan ini. Bayangkan kartu yang terkenal banyak sinyal saja tak ada sinyal disini. Sena harus mendaki bukit dahulu jika ingin mendapatkan sinyal untuk menghubungi putranya. Sedangkan ia tak terlalu peduli dengan Aldric. Karna itu Sena tak pernah menanyakan apa Aldric juga menelfon putranya. Selesai kelas Aldric pergi ke Cafenya. Disana ia sudah melihat teman-temannya menatap Ryan dengan putrinya. Padahal selama ini Ryan tidak pernah membawanya ke tempat kerja. Putrinya itu menangis. “Kenapa?” Tanya Aldric ke Reza. “Ya ... Biasalah anak kecil.” “Udahh jangan nangis. Besok papa dateng.” “Kan yang disuruh dateng mamanya ... Hisk ... Masa papa sendir .i.. Nggak mau!! Masa papa ikut lomba bareng mama-mama. Pokoknya nggak mau!!” Tangisnya semakin kencang. Ryan mengusap air mata putrinya yang mengalir deras. “Ya kenapa memangnya?” Tanya Ryan lembut. Kini ia berjongkok di depan putrinya yang duduk kursi. “Ya nggak sama Papa!!” Teriaknya. “Nggak mau kalo Papa sendiri. Nggak mau sekolahh!! Lombanya kan buat mama.” Ryan memijit pelipisnya. Ia bingung. Terus dia harus gimana??     “Iya, iya ... Sekarang jangan nangis. Pergi less yuk.” “Nggak mau!!” Ucapnya dengan tangis yang terisak. “Biar aku aja.” Kata Gea tiba-tiba. Sontak kata itu mendapat tatapan dari seluruh orang disana. “Biar aku yang nganterin Sena besok kalo ada lomba. Oke Sena.. Besok sama tante aja.” Kata Gea. Sena menggeleng. “Kan lombanya buat mama. Bukan buat tante.” Katanya. Gea mendekati Sena lalu mengusap air matanya. Ia menatap Sena dengan tersenyum. “Khusus besok tante Gea jadinya mamanya Sena.” “Jadi mamanya Sena?” Tanyanya yang berhenti menangis. “Iya ... Jadi, mamanya. Besok kita ikut lomba bersama.” “Seriuss?? Tante Gea nggak bohong kan?” “Iya ... Serius.”  “Sena sekarang jangan nangis ya.. Ayok tante anterin les.” Sena mengusap air matanya. Ia lalu turun dari tempat duduknya. “Ayo ...” Ajaknya. “Ya' Thanks ya,” Kata Ryan tak enak. “Santai aja.” Kata Gea yang kini menggenggam tangan Sena mengantarkannya les. Tempat Les Sena tak jauh dari Cafe tempatnya bekerja. Seperginya Gea, Ryan menatap Melvin mengucapkan maaf. Sudah jadi rahasia umum bahwa Melvin menyukai Gea. Melvin tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, bagaimanapun dia memang tidak memiliki hubungan dengan Gea. “Sans aja Yan ... Lagian gue juga nggak siapa-siapanya Gea.” Kata Melvin. “Kan lo naksir Gea. Anak gue tadi lagi rewel banget memang.” “Mangkanya Yan ... Nikah aja lagi.” Suruh Reza. “Nggak segampang itu Za.” “Lah emang kenapa?” Tanya Reza. “Ya percuma kalo mereka saling suka tapi calon istrinya nanti nggak sayang sama Sena.” Saut Aldric. “Wih ... dewasa banget loh All!”puji Reza. “Namanya juga gue punya anak Za.” “Pokoknya Sena harus suka sama dia. Terus dia juga sayang sama Sena kayak anaknya sendiri. Biar nanti kalo misal kita punya anak ... Dia nggak pilih kasih.” Kata Ryan. “Ah ... soal anak, kok lo nggak pernah telfon anak lo sih Al?” Tanya Melvin. “Buat apa?” Tanya Aldric. “Kok buat apa sih, ya tanya keadaannya lah,” Saut Ryan jengkel. “Keknya baik-baik aja tuh. Nyokap gue nggak pernah ngechat gue soal si kembar soalnya. Lagian kalo gue telfon mau gue apain?? Orang juga mereka nggak bisa ngomomg.” Jawabnya. “Kok bisa ... Sena nikah sama lo Al,” “Lah tuh buktinya bisa. Mana sekarang punya anak 2 lagi.” Jawabnya dengan tersenyum. “Aldric ... Aldric ...” “Gimana sih Vin ... Seriusan mereka belum bisa ngomong. Cuma bisa ketawa senyum sama nangis. Gue juga bingung dong mau gue ajak ngomong apa. Masa lihat-lihatan doang.” Bantah Aldric. “b**o lu!” Ejek Reza yang kini menyalakan rokoknya. “Lo sama Caca jadinya gimana?” Tanya Melvin. “Putus.” Jawab Reza. Mendengar hal tersebut teman-temnnya tertawa keras. Reza membiarkannya, tapi, ketika Aldric tau bahwa dia mengahpus foto Caca, mereka semua mengejek Reza ramai-ramai. Reza tak terima ia balas mengejeknya balik. Terlebih Melvin, Reza menggoda bahwa ia juga akan ikut berpartisipasi mendekati Gea.             “Apa gue deketin Gea juga ya??” Tanya Reza. “Maksud apaan Za?” Tanya Melvin. “Ya biar lo banyak saingannya lah. Lois, Ryan, gue juga. Apa gue jomblangin si Brahms juga ya?” Tanya Reza. Aldric tertawa mendengarnya. Melvin memukul bahu Reza keras. Reza mengaduh kesakitan. Aldric mengambil rokok milik Reza lalu menyalakannya. Melihat Aldric yang merokok teman-temannya menatapnya heran. Setaunya Aldric tidak merokok lagi sejak istrinya hamil. Dengan santainya, Aldric menjawab karena istrinya tidak ada dia kan merokok sesuka hatinya. Sena membantu membersihkan rumput sepanjang jalan. Rencananya ia dan teman-temannya akan membantu memperbaiki fasilitas di desa ini. Rata-rata rumah di desa ini tidak memiliki kamar mandi. Desa ini juga hanya memiliki 2 WC umum yang di gunakan bersama oleh penduduknya.  Jalannya sendiri masih setapak. Tak berhenti disana. Bahkan jembatan untuk menghubungkan 2 desa juga memperhatinkan. Beruntungnya Desa ini sudah memiliki listrik. Penduduknya juga sangat ramah dan mau bergotong royong. Setelah meminta dana desa. Ia, teman-temannya beserta para penduduknya langsung bekerja sama membersihkan rumput sepanjang jalan. Ada yang membantu memindahkan barang material untuk bahan pembangunan. Besok rencananya anggota teamnya akan memperbaiki jalan. Mangkanya ia membantu membersihkan rumput agar mempermudah membuat jalan. Sedangkan kelompok lainnya sedang memperbaiki fASIlitas umum yang lain seperti kamar mandi dan jembatan. Sena bangun, pinggangnya terasa sakit. Terlebih panas seperti ini. Ia haus. Para ibu-ibu disini membantu dengan memberikan camilan dan minum. Ketika hendak mengambil minum seseorang memberikannya minum. Sena tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. “Capek?” Tanya Eden. Eden ini teman sekolompoknya Sena. Anak Tehnik. Dari yang Sena ketahui laki-laki itu lebih tua setahun darinya. Seusia Aldric. Sena menganguk. “Kalo capek istirahat aja bentar.” “Nggak enak lah. semua lagi kerja masak mau enak-enakan.” Kata Sena lagi. “Duluan ya.” Kata Sena yang kini meneruskan pekerjaannya. Sebentar lagi pembuatan jalan akan segera di mulai. Jadi ia harus semangat bekerja kembali. Teman-teman kelompoknya sangat ramah. Jadi, Sena rasa ia akan betah selama disini. Lain halnya dengan Aldric disana. Ia terganggu setelah mendengar perkataan dari Ryan. Apa yang dilakukan Sena sekarang?? Apa istrinya itu ada yang mendekatinya?? Jika sampai benar ada yang berani mendekati Sena istrinya Aldric akan memotong tangan laki-laki itu. Aldric menggeleng. Ia mendesah berat. Sena sangat cantik. Kini ia meraih handphonenya. Melihat foto Sena. Lihat saja, meskipun sudah melahirkan 2 anak, kenapa istrinya itu masih cantik sih. Sena, Istrinya itu belum membalas pesannya. Lagian sebenarnya Sena ada di pedalaman bagian mana sih ... Masa disana nggak ada sinyal?? Nggak ada wifi, Sampe pesannya sama sekali tidak di balas oleh istrinya itu. Lama-lama ia susulin juga istrinya itu. Benar ... Apa perlu ia susulin Sena di tempat itu??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD