BAB 8

990 Words
Aldric tertawa ketika mengingat teman-temannya tadi yang langsung masuk ke kelas bersama. Mereka tidak jadi kuliah karena Dosen tersebut malah sibuk bercerita sembari memarahi teman-temannya. Dosen tadi sangat galak sekaligus juga lucu. Jadi sedari tadi kelas mereka hanya bergurau. Sena menatap Aldric yang tersenyum senang. “Kenapa?” Tanya Sena yang kini ikut duduk di atas tempat tidur. Aldric pun menceritakannya. Sena tertawa kecil mendengarnya. Kini ia menarik Sena lalu memeluknya erat. Ia juga mencium bibir istrinya itu. Melihat putranya yang tertidur, Aldric menyandarkan badannya sembari memeluk Sena. Sena sendiri mengusap rambut Aldric sayang. Aldric menelusupkan tangannya di dalam baju Sena. Sena segera mengeluarkan tangan Aldric. “Geli tau!” Omel Sena. Aldric hanya tersenyum saja. Ia lalu melanjutkan apa yang di lakukannya. Sena memegang tangan Aldric lalu mengeluarkannya dari dalam bajunya. “Nanti ya.. Aku harus bikin jurnal soalnya.” Kata Sena yang kini berdiri menjauh. “Sen,” “Benaran, nanti!! Aku harus bikin tugas. Di kumpulin jam 4 ini!” Kata Sena yang mengambil laptopnya lalu berlari keluar. Aldric mengacak rambutnya dan mendesah kasar. Astaga... Lihat saja sekarang ia mirip dengan orang yang kurang di belai. Yah.. Ia memang kurang di belai. Hampir 3 bulan. Hampir ... Dan istrinya tak memperdulikannya. Aldric lalu berjalan keluar menghampiri Sena. “Dasar Kejam!” Ejeknya yang langsung membanting pintu keluar rumah. Sena hanya menatap dan mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum melihat Aldric keluar dari rumah. Sena paham jika Aldric marah padanya. Mau bagaimana lagi, dia benar-benar sibuk. Dan jika ia sudah melayani Aldric. Aldric tak akan membiarkannya menyentuh tugas. Sampai nanti ia berangkat kerja. Dan tugas ini sebentar lagi di kumpulkan. **** Tak terasa saat ini sudah masuk liburan. Sena mengepak semua baju miliknya dan milik kedua putranya. Aldric sendiri sedang mandi. Putranya sedang bermain dengan mertuanya. Ia akan pulang ke rumah mertuanya. Karena tak terasa saat ini mereka sudah liburan. Ia dan Aldric akan mengantarkan anaknya ke rumah neneknya. Untuk sebulan kedepan Sena tidak bisa bertemu putranya. Sena mengambilkan baju Aldric ketika suaminya itu keluar dari kamar mandi. Setelah itu mama mertuanya pamitan keluar dan membiarkan Aldric ganti baju. Aldric sendiri tidak segera berganti baju ia menatap putranya yang seperti berusaha bergerak. “Sen, lihat deh,” Kata Aldric. “Apa?” “Lihat ...” Sena menoleh ketika melihat Elias berhasil terlungkap. Ia langsung tertawa gembira. “Ya ampun ... Anaknya mama udah bisa telungkap.” Kata Sena histeris. Ia sangat senang sekarang. Ia pun memanggil mertuanya. Mertuanya sendiri langsung mengambil handphone lalu memotret Elias. Lain halnya dengan Elios. Anaknya itu malah menghisap jempol tangannya. Dengan kaki yang ia gerakan ke atas. “Elios nggak telungkap juga biar sama kayak adiknya?” Tanya Aldric. Elios tertawa melihat Aldric. Ia menggerakan tangannya berusaha menyentuh Aldric. Aldric mendekatkan wajahnya. Elios memukul pipi Aldric lalu tertawa. “Oh, kok papanya di pukul sih. Hm ... Sini,” Kata Aldric yang langsung mencium Elios. Tawa Elios semakin keras. Dan menyentuh wajah Aldric. Aldric mengangkat Elios lalu menggendongnya. Ia mengajak putranya bercanda berbicara sementara Sena dan mamanya sedang memotreti Elias yang sudah bisa telungkap. ***** Sesampainya di rumah Aldric, Sena mengajak kedua putranya bermain. Sedangkan Aldric berbicara dengan papanya. Kini gantian Elios yang telungkap. Melihat hal ini terjadi Sena sangat bahagia sekaligus sedih. Ia akan meninggalkan putranya besok. Dan ia tidak akan bisa melihat pertumbuhan putranya. Hah... Rasanya ia sangat sedih. Mendengar seseorang mengetok pintu, Sena menyuruhnya masuk. Ada adik iparnya dan Mertuanya yang membawakannya beberapa bantal lagi. “Kalau udah bisa telungkap gini harus extra hati-hati. Bisa aja gelinding. Belum lagi Aldric tidurnya jelek banget. Nanti suruh aja Aldric tidur di sofa sana ato kamarnya Ares.” “Nggak mau!” Tolak Ares. “Nggak mau aku tidur bareng kak Al. Suruh aja tidur di kamar tamu!” Katanya lagi. Risa menghel napas. “Lihat adik iparmu itu Sen. Punya anak 2 aja nggak pernah akur. Berantem mulu kerjaannya.” Keluhnya. “Dengerin oma Elios Elias. Jangan suka berantem ya kalo udah besar nanti. Jangan tiru Papa sama om Ares ya.” katanya. Sena tertawa kecil mendengarnya. Ketika kedua anaknya sudah tidur Sena berjalan turun. Di ruang keluarga sudah ada Aldric dengan papanya. Sena pergi ke dapur lalu membuat kopi untuk kedua laki-laki itu dan membawanya kesana. Sena lalu meminta maaf karena merepotkan mertuanya dengan menitipakan kedua putra kembarnya. Keesokannya, Sena menatap kedua putranya dengan menangis. Ia tidak tega ketika hendak meninggalkan anaknya. Sedangkan anaknya sendiri tertawa kecil melihat Sena dan Aldric. “Udah ah Sen. Anak kamu aja nggak nangis masa kamu nangis gitu??” Tanya Aldric. “Diem napa Al! Sayang mama pergi dulu ya ... Elios yang pinter ya ...  Elias juga, jangan suka gangguin kakaknya.” Katanya dengan mencium kedua kening putranya. Aldric langsung menarik Sena agar masuk kedalam mobil, bisa lama acaranya jika ia tak memasukan Sena kedalam mobil. Aldric menyalamai orang tuanya lalu mengacak rambut putranya dengan tersenyum. Ketika Aldric berbalik, Elios menangis keras. Sontak Aldric dan Sena melihatnya terkejut. Terlebih Aldric. Ia sangat terkejut. Apa yang baru saja ia lakukan menyakiti kepala putranya?? Tapi biasanya putranya tak menangis jika ia melakukan itu. Sena keluar dari mobil. Mamanya Aldric berusaha menenangkan cucunya tapi tidak mau diam. “Masa sakit sih? Biasanya juga gapapa.” Tanya Aldric. Bahkan kini putranya itu berurai airmatanya. Kalau acaranya begini, lama, putranya tidak akan mau diam. “Nggak mau di tinggalin Papa?” Tanya Sena yang kini meminta Elios. Setelah mendapatkan Elios Sena menyuruh Aldric menggendongnya. “Wih, Kak Aldric.” Goda Ares. Aldric menurutinya, meskipun Wajahnya memerah karena malu. Tapi ia tetap melakukannya. Aldric mengajak berbicara putranya menyuruhnya berhenti menangis. Sena melihatnya damai. Perasaannya sangat hangat. Acara mereka tertunda setengah jam. Karna Elios yang menangis tak mau diam. Ketika Elios tenang, Barulah setelah itu mereka bisa berangkat. “Langsung kampus?” Tanya Aldric. Sena menganguk. Aldric memegang tangan Sena. Lalu menciumnya. Sena tersenyum. Ia lalu mencium pipi Aldric. Aldric membalas senyuman itu lalu mengusap rambutnya sayang. Sena kebahagian terbesarnya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD