Ada Diantara Kalian

745 Words
Mendung tipis menggantung diatas kota, membuat sinar matahari tidak terlalu terik tetapi udara terasa lembab dan gerah. Sisy menyalakan kipas angin dengan kecepatan tinggi, membuat lembaran kertas dihadapannya berkibar kibar. " Kamu mau bikin rumah ini terbang ?" Iskandar mengecilkan kipas setelah meletakkan tas nya diatas meja , " Masuk angin kamu nanti." " Dari mana ? " " Kopo. Presentasi hasil penelitian kemaren " dilepasnya jaket , " Kamu sendirian ?" " Gak. " Iskandar mengedarkan pandangan, " Ada siapa diatas ? " Sisy tertawa , " Kan sama kamu. " Iskandar mendengus, menarik rambut Sisy yang diikat tinggi. " Hai ... " Dewi masuk dan melepas blazernya. " Gimana acara wisudanya ? Seru ?" tanya Iskandar " Panas." Iskandar dan Sisy tertawa " Siapa suruh kesana ?" Sisy menatap gadis yang tampak anggun dengan pakaian semi formalnya " Cakep amat. " " Baru tahu ?" Sisy meleletkan lidahnya. " Sudahlah, matikan dulu komputer. Kita keluar. " " Kemana ? " " Kita ditunggu makan siang. " ujarnya sambil menyebutkan salah satu restoran. " Siapa ?" " Keluarganya Ito ... keluarga Miftah juga. " lanjutnya cepat melihat senyum jahil keduanya. " Ayolah ... daripada kepanasan dan kelaparan disini. " Sisy mematikan komputer dan bersiap pergi. Kurang dari dua puluh menit kemudian ketiganya sudah memasuki restoran yang cukup luas itu. Memberi salam pada dua keluarga yang sudah berkumpul di meja besar diujung ruangan. Iskandar mendesah tak kentara menyadari pandangan spekulatif orang tua dan kedua kakak Rika sejak dia mengambil tempat disamping gadis itu ... kalian terlihat khawatir, dan itu tidak salah. Semoga hanya karena aku, dan mereka tidak menghubungkan ini dengan Sisy ... Sekilas ditatapnya Sisy yang terlihat tanpa beban kendati tadi Miftah sengaja berdiri menarik kursi disampingnya. Sedikitpun tidak terlihat dia gelisah memikirkan bagaimana keluarga Miftah akan menilainya. Dibawah meja, Dewi menepuk lutut sahabatnya, seakan mengatakan mereka berdua dalam posisi yang sama. Iskandar berpaling, tersenyum menenangkan pada Dewi. Ibu Ito terlihat sebagai perempuan yang bijak, kalaupun ada keberatan dalam hatinya ... hal itu lebih pada prihatin. Sementara Irfan, adik Ito nampak jelas menatap Dewi dengan pandangan memuja sekaligus heran saat melihat gadis itu duduk disamping kakaknya. " Jadi kakak mulai kapan kerja ?" Sisy mendorong piring buahnya yang sudah kosong. " Tanggal satu. " " Lha ... minggu depan dong. " tersenyum. melihat Miftah mengangguk , " Itulah enanya kalau otak encer ... dan beruntung. " lanjutnya cepat melihat lelaki disampingnya membuka mulut untuk membantah. Mistah tersenyum. " Bang ... " Sisy mencondongkan tubuh pada kakak sulung Miftah , " Apa selalu terkendali seperti ini ?" ditirukannya senyum rapi milik Miftah. Bang Rahman dan istrinya, serta Hani adik Miftah tertawa sambil mengiyakan. Keduanya lebih mirip ayah Miftah, lelaki yang hangat dan terbuka. Sementara Miftah dan Rika tidak dapat dipungkiri mengikuti garis ibunya, perempuan anggun yang teramat lembut. " Kamu ya ... " Miftah mengacak rambut Sisy. Tertawa kecil ketika gadis itu cemberut samhil membenahi ikatan rambutnya ... Pembawaanmu yang ringan membuat semua begitu mudah menerima dan menyayangimu, bahkan Hani dan ibu yang pemilih sekalipun. Tapi mungkin karena kamu tidak punya beban untuk menampilkan yang terbaik dari dirimu, tidak ada harapan khusus dihatimu. Kalau saja aku boleh sedikit berharap kamu dalam posisi yang sama dengan Dewi saat ini .... Ditariknya nafas sebelum meraih gelas dihadapannya. " Kamu bagaimana, To ?" tanya Bang Rahman. " Jalani ini saja dulu , Bang. Melihat perkembangannya, usaha kami cukup menjanjikan. Lagipula ... terkurung dari pagi sampai sore ... "Ito mengangkat bahu. " Jangan ... daripada nasabahnya kabur semua. " sela Sisy. Ito melotot melihat gadis itu nyengir, nyaris mirip dengan cengiran Iskandar " Aku gak tega meninggalkan kalian. " ujarnya disambut leletan lidah Sisy. " Abang lihat memang menjanjikan. Secepat ini usaha kalian berkembang. " ujar Bang Rahman. " Syukurlah, kami juga gak menyangka secepat ini. " " Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. " ujar ayah Miftah , " Yang lain bagaimana ? Dan kamu mau meninggalkan mereka begitu saja, Mif ?" " Gaklah , Yah .... Aku akan membantu sebisanya," Sy ?" " Masih lama, lagipula aku pulangpun bukan berarti gak bisa kerja kan ? Toh selama ini juga sering bawa kerjaan pulang, apa gunanya internet ?" " Bawa kerjaan pulang ?" " Ke tempat kos ?" tanya Iskandar , " Yang kamu tempati jam sebelas malam sampai jam enam pagi ?" Sisy meleletkan lidah saat semua tertawa. Aku tidak tahu akan bagaimana nantinya. Aku akan menikmati saja apa yang ada sekarang, berada ditengah kalian semua ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD