2

1287 Words
Flash back ______________ Gue Melati, gue anak yatim piatu yang sedikit beruntung dititipkan oleh Ibu Mirna di panti asuhannya oleh Tuhan semenjak gue hidup di hari pertama di dunia ini. Gue ga pernah kenal Ibu atau Bapak kandung gue. Gue juga ga pernah peduli dengan status abu-abu yang mirip seperti seragam rok sekolah gue sekarang. Kusut, kumal, kependekan dan sudah minta diganti dengan yang baru. Selain gue benci sekolah, gue juga benci harus setiap bulan nyetor nilai ujian sama orangtua angkat gue. Namanya Pak Pandji dan Ibu Angel. Sebenernya mereka orang baik. Cuma gue yang selalu ga merasa nyaman ada di tengah-tengah keluarga sempurna mereka semenjak umur sepuluh tahun. Pasti, selalu, gue balik terus ke panti asuhan untuk nengok Bu Mirna dan adik-adik meski sudah menetap secara sah di rumah keluarga angkat gue. Tapi balik ke panti asuhan sudah menjadi sebuah rutinitas setiap akhir minggu setelah eskul basket. Ini bukan kemauan gue. Ga sama sekali ya, cuma Bu Angel bilang gue cocok untuk masuk ke eskul ini semenjak di awal tahun masuk sekolah SMA karena alasan ukuran tubuh gue terhitung tinggi untuk rata-rata anak SMA. Sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Gue mana mungkin bisa nolak, Bu Angel udah terlalu baik sama gue. Sama seperti Bu Mirna yang selalu menganggap gue seperti anaknya sendiri. Jadi intinya gue ga pernah kekurangan kasih sayang yang sering dipikirin orang-orang. "Woy, Melaaaaa.." Nah ini namanya Satur. Anak bontotnya Pak Pandji dan Bu Angel. Blasteran, wajahnya perpaduan yang canggung. Berkhas orang Bali tapi dengan karakteristik mirip bule. Kalau saja dia ga ikut eskul basket, kulitnya lebih putih dari gue. Berkat genetik yang diturunkan Bu Angel tentunya. Tipe-tipe cowok dengan segudang fans. "Ssssttttt jangan teriak-teriak." "Lo mau kemana? Mau kabur lagi? Nanti ketauan Pak Sentot dibawa ke BK." "Berisik." Satur yang sudah mengenal gue luar dalam, pasti selalu menolak ide gila gue mengenai kabur dari sekolah setiap pelajaran matematika. Walau dia ga pernah tau tentang alasannya. Yang Satur tau gue ga suka pelajaran itu, laknat banget. Hidup udah susah, kenapa harus dibikin tambah susah? Dan udah begitu masih banyak sekte-sekte penggemar jajaran genjang yang selalu merasa paling pintar di kelas, bela-belain ikut bimbel tambahan, les sana-sini. Tapi pelitnya nauzubillahiminzalik. Buat apa pinter tapi ga bermanfaat bagi orang lain? Cuih~ "Mela, turun. Nanti ketauan." "Gue ga akan ketauan kalau lo ga banyak bacot." "Abis ini pelajaran matematika, ada ulangan. Nanti nilai lo udah jeblok makin jeblok kalau lo kabur." Tapi gue ga peduli. Gue lebih milih ngelempar tas ke luar area sekolah terlebih dahulu dan segera naik pagar pembatas. Gue bisa denger suara lari Satur di belakang dan bener aja, tangannya dia yang panjang dan berotot itu langsung narik kaki gue yang ketinggalan di bagian dalam area sekolah. "Satur, lepasin. Nanti gue jatoh, bego." "Turun dulu." "Iya gue turun nanti di luar." "Mel, jangan keras kepala. Aduuuh lo ga pake celana ketat, hah?" Sialan si Satur. Gue terpaksa ngeliat ke arah bawah dan memergoki Satur tengah mendongak sambil menutup matanya dengan telapak tangan sebelah kiri. "Lo ngintip ya?" "Gue ga ngintip, lo yang mamerin." "Lepasin kaki gue, Satur." Perdebatan itu terus menerus terjadi hampir satu menit pertama sebelum satu menit berikutnya gue denger suara peluit Pak Sentot, satpam sekolah yang punya kumis tebel kaya Pak Raden dicerita Unyil itu meniup peluitnya nyaring terdengar. Belum sempat gue akhirnya berusaha nyerah dengan tarikan dari Satur, Satur sudah benar-benar narik gue dengan kekuatan yang gue ga tau dia dapat dari mana. "Wanjiiiirrrr...." Gue jatuh di atas badan Satur yang kini terbaring di tanah bersama gue. Sial. Bukan karena adegan yang mirip film India ini gue berkali-kali ngucapin kebun binatang dan seluruh isinya dalam hati. Tapi gue sadar. Rok pendek gue robek. Mata gue dan Satur saling pandang. Penuh arti. Memahami apa yang tengah terjadi. Satur bergerak sedikit, tapi berikutnya gue pelototin dia karena gerakan yang dibuat Satur justru menambah lebar robekan rok gue. Tapi ternyata Satur begerak secara spontan membuat gue merubah posisi menjadi tergulir di tanah. "Bangun cepetan. Keburu Pak Sentot dateng." "Aduhhh, sakit Satur." Satur menarik gue bergegas, berlari menuju bangunan gudang yang terpisah dari bangunan sekolah utama. Di balik bangunan itu ada sebuah taman kecil yang kurang terawat. Biasanya anak-anak badung yang ga tau aturan seperti gue suka nongkrong di sini. "Kita mau ngumpet nih?" "Yaiyalaaaah masa mau kawin lari." Celetuk Satur ngasal. "Rok gue robek, kampret." Satur menghentikan langkahnya, menengok ke belakang, ke arah gue."Nanti tutupin pake jaket gue. Lo sih pake segala manjat kaya monyet." Sebelum gue melontarkan balasan perkataan Satur yang demi apapun pengin banget gue sumpel pake softek itu. Satur sudah lebih dulu menarik gue ke dalam bangunan gudang. Gue baru tau, kalau ternyata gudang ini ga dikunci. Debunya terlalu tebal, banyak meja dan bangku bekas pakai yang sudah rusak. Beberapa lemari dari besi yang berkarat berjejer di sudut-sudut ruangan. Debu-debu berterbangan dengan jelas di antara cahaya matahari yang menyelusup dari jendela. Gue langsung merinding setelah Satur nyuruh gue masuk ke dalam satu cela yang paling gelap di antara cela yang lain. "Lo gila." "Tutup mulut lo." Bisik Satur. Sekarang, Satur dan gue saling berdiri berhadapan. Sempit. Tidak ada jarak di antara tubuh kami yang terlampau tinggi ini. Gue ga nyaman, karena d**a Satur nyentuh p******a gue yang terasa nyeri sekarang. Gue tau, Satur juga berpikir apa yang gue pikirin sekarang. Tapi kami ga bisa bergerak lebih berjarak lagi karena beberapa detik kemudian. Pintu gudang kebuka, suara langkah kaki terdengar. "Kemana anak-anak nakal itu." Suara Pak Sentot membahana di ruangan gudang. Terdengar seperti suara malaikat pencabut nyawa. Gue nahan napas, begitu juga Satur yang terlihat sangat tegang sekarang. Dia hanya memberi kode berupa jari telunjuk di depan bibirnya agar gue tetap diam sementara menunggu Pak Sentot yang kini tengah menutup pintu gudang benar-benar pergi. "Gilaaaak.." "Ssssttttt jangan teriak-teriak, Mel." Gue berusaha mendorong d**a Satur, menciptakan jarak di antara kami. Dia terhuyung ke belakang hampir kehilangan keseimbangan dan kemudian tersenyum kecut ke arah gue."Seharusnya lo bilang makasih, gara-gara gue lo ga jadi di masukin ke ruang BK." "Kalau lo ga narik kaki gue, pasti gue ga ketauan dan rok gue ga sobek. Lo taukan, gue ga punya uang buat beli seragam baru." Jawab gue sewot. Gue bener-bener marah sama Satur. "Kan Mami ngasih lo uang setiap minggu. Habis juga?" "Ga pernah gue pake." Langkah Satur bergerak mendekati gue yang hampir aja menangis melihat rok yang sobek sampai area paha. Ah sialan, gara-gara hormon menstruasi gue. Gue jadi emosional begini. Mau ditaruh kemana harga diri gue kalau nangis di depan Satur? "Jangan nangis juga kali, Mel. Besok Kita beli yang baru ya." Ucapnya berusaha menghapus air mata gue yang kelewat sudah banjir. "Diem lo." Gue menangkis tangan Satur yang berusaha kembali menghapus air mata gue. Gue muak sama dia. Bener-bener muak. Gue memilih meninggalkan Satur yang masih berdiri di tempatnya. "Mel, jangan marah. Dengerin gue dulu." Gue ga peduli dia mau ngomong apalagi. Tapi setelah gue berusaha menarik pintu dimana satu-satunya menjadi jalan masuk dan keluar. Pintu itu terkunci, ga bisa dibuka. Satur buru-buru lari mendekati gue. Berusaha membuka pintu tapi tetap saja. Pintu itu enggan terbuka. "Hwaaaaaahhh apalagi sekarang." Gue bener-bener nangis tanpa ampun. Merubah posisi menjadi jongkok, menangis, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "Yah, dia makin kenceng nangisnya." Satu hal yang paling gue benci selain pelajaran matematika. Yaitu, Satur. Gue benci sama Satur semenjak pertemuan pertama kami. Kami ga pernah akur, karena gue selalu menghindar dari dia yang selalu deketin gue. Gue ga suka kebaikan dia. Gue ga suka pesonanya dia yang lebih pintar di semua bidang pelajaran. Punya keluarga yang baik dan lengkap. Punya temen yang banyak. Kehidupan Satur sempurna, begitu sempurna dibanding gue yang cuma anak panti asuhan. Terlebih sekarang, kami terpaksa harus terjebak berdua di gudang dan tidak bisa keluar. Gue benci keadaan ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD