3

1142 Words
"Mel, gue mau nanya dong.." "Lu nanya terus kaya pembantu baru.." "Dih, gue disamain sama pembantu." Sejujurnya gue masih kesel dengan kejadian lusa kemarin. Terjebak bersama Satur di gudang, berdua. Drama terbaru. Niat baik dia yang awalnya mau ngelindungin gue dari jeratan ketidak adilan guru BK. Kini malah berubah seperti bumerang. Kami memang ga berakhir di meja hijau guru BK yang namanya Bu Elin itu, yang terkenal dengan kaca mata kudanya, yang kalau ngehukum pasti selalu jadi hal yang membosankan ketimbang hal yang menjerakan. Tapi lebih parah dari hanya berakhir di meja hijau Bu Elin. Bli Setya, kakak kedua dari Satur menemukan kami selepas magrib menjelang di gudang bersama temannya. Itu pun karena ga sengaja disuruh ngambil bola bekas dari gudang untuk dijual dan diganti yang baru oleh guru olahraga yang menjadi penanggung jawab eskul basket di sekolah kami. Malu, pasti. Kejadian ini, kontan terdengar oleh penjuru anak-anak sekolah. Sampai ke telinga Bu Angel. Ibu angkat gue itu, entah bagaimana, selalu punya stock kesabaran yang melampaui batas. Ketimbang marahin gue yang memang badung, Bu Angel malah nyuruh setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bareng Satur. Alasannya simpel, biar gue sama Satur ga berantem terus dan selalu pulang tepat waktu. Mungkin sifatnya ini yang paling kental diturunkan oleh anak bontotnya. Bedanya, kebaikan Bu Angel ga pernah mengesankan sesuatu yang berubah jadi menyebalkan seperti sifat Satur. "Lo risih ya kalau dianggap sebagai adek gue?" "Gue bukan adek lo. Lagian Kita cuma beda satu bulan aja. Ga usah belaga paling tua deh lo." Jawab gue ketus. "Ya ampun, Mel. Mami kan bilang, gimana juga lo tetep harus gue anggap adek kecil gue." Adek kecil dia bilang? Cih. "Tuh tuh, kenapa lagi sekarang? Gue salah ngomong lagi?" "Apa sih? Orang gue ga ngomong apa-apa. Sensitif banget lo kaya testpack." "Noh, muka lo lecek, kaya bajunya Pak RT." "Bodo amat. Urusan apa lo sama bajunya Pak RT? Gue mau berangkat." Baru aja, gue mau ngambil sepeda kesayangan gue yang dibelikan oleh Pak Pandji beberapa tahun lalu, demi menghindari berangkat berdua pake motor Satur sebagai hukuman. Bu Angel keluar, memergoki gue yang berbalik arah menuju garasi. Percaya sama gue, muka Bu Angel ini kaya penggambaran malaikat dicerita anak-anak. Auranya itu, keibuan banget. Bisa bikin anak badung kaya gue ga pernah bisa berpikir untuk nolak dan berontak di depan dia secara langsung. Kesel. Meski wajah Bu Angel, bule. Tapi dari kecil Bu Angel sudah dibesarkan di Bali. Jadi bahasa Indonesianya fasih. Terlebih sikapnya yang selalu lemah lembut. Udah bener-bener mirip perempuan Indonesia tipe-tipe keibuan. Mungkin juga karena beliau ga punya anak perempuan. Jadi Bu Angel selalu nganggep gue harus dijaga dengan sebaik-baiknya oleh ketiga anaknya yang laki-laki semua. Padahalkan siapa juga yang mau nyulik anak badung kaya gue? Yakan? "Lho, Mela. Mami kan sudah bilang, berangkat sekolah mulai sekarang bareng Satur ya, Nak." Jelas aja, gue yang ketangkep basah dipergoki kaya maling ayam. Cuma bisa ngeluarin jurus nyengir seribu kuda."Gapapa, Mi. Mela naik sepeda aja. Kalau naik motor Satur, p****t Mela ga kebiasaan. Nanti motor Satur rusak lagi kalau dibawa gonceng Mela." "Hahaha ya ampun Mel, Mel. Emangnya kamu seberat apa sih sampe bisa ngerusakin motor Satur. Sudah sekarang kalian berangkat bareng. Satur, kalau kamu ga pulang bareng Mela. Uang jajan kamu Mami potong sampai tiga bulan." "Yaaaah Mi kok gitu?" Setelah terjadi pemberontakan yang alot. Bu Angel memilih masuk rumah lagi dengan gesture'nya yang anggun. Gue sama Satur cuma bisa saling liat-liatan. Gimana enggak, gosip yang berkembang di sekolah selalu menyudutkan gue. Gue dibilang suka Satur lah. Ngefans Satur diem-diem lah. Musuh bebuyutan Satur lah. Nah, kalau yang terakhir itu bener sih. Gimana kalau mereka ngeliat lagi, gue berangkat bareng Satur? Bisa-bisa sekolah jadi panggung sandiwara. Kenyataan bahwa gue anak angkat sekaligus adek Satur dan Bli Setya memang belum sampai ketelinga anak-anak. Jadi yang mereka tau, gue cuma anak orang miskin yang kebetulan aja bernasib mujur, selalu berhubungan dengan anak populer seperti sodara angkat gue. Padahal kalau dipikir-pikir siapa juga yang berurusan sama Satur apalagi dianggep adek kecil sama dia, Cih. Bagi Satur mungkin ini kebalikannya. Dia pasti seneng banget dapet hukuman kaya gini. Memanfaatkan gue buat jadi tumbal tameng dia menghindari anak-anak perempuan yang selalu ngirimin dia coklat atau secara agresif ngintilin dia kaya itik. Lha buat gue? Ini malapetaka. Satur itu ya ampun. Kalau bisa diibaratkan, gue sama dia kaya langit sama bumi. Kaya kutub selatan sama padang pasir di Mesir. Kaya steak sama nasi uduk pinggir jalan. Jauhkan bedanya? Iya, gue selalu bagian jeleknya. Sesampainya di parkiran sekolah. Gue buru-buru masuk ke kelas tanpa bilang makasih atau sesuatu yang lebih dari itu ke Satur. Dateng sama dia ke sekolah aja udah bikin dunia persilatan geger untuk beberapa hari kebelakangan. Ga sedikit anak-anak perempuan di setiap koridor bisik-bisik ketika gue jalan. Seolah-olah gue pembawa aib yang dikutuk buruk rupa sampai mereka heboh gitu karena gue sekolah di sini. Lebay sih, emang, tapi kenyataannya memang begitu. Dan benar aja, baru masuk kelas. Meja gue yang ada di barisan paling belakang tadinya, mendadak dipindahin di barisan paling depan. Sesuai intruksi Bu Dini, wali murid kelas IPS-4. "Sorry Mel, gue ga tau kenapa Bu Dini tiba-tiba minta lo duduk paling depan." Jawab si ketua kelas, Aldi. "Ok thanks." "Mel, tunggu dulu." Belum sempet gue duduk, Aldi udah bertingkah dengan gelagat yang aneh. Matanya melihat seluruh isi kelas yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing lalu kembali melihat ke arah gue."Mel, nanti malem jangan sampai telat ya. Gue tunggu di bar." Bisiknya. Ya. Gue emang kerja di sebuah bar malam. Jadi salah satu pelayan. Uangnya lumayan banget buat beli keperluan adek-adek di panti asuhan. Lagian, bar itu juga punya kakaknya Aldi. Gue baru dapet kerjaan ini seminggu yang lalu. Tapi berhubung hukuman yang baru aja gue terima. Aldi khawatir kalau gue ga dateng lagi malem ini. Padahal bar milik kakaknya selalu ramai apalagi kalau malam minggu. Gue memang sengaja meminta Aldi merahasiakannya dari anak-anak. Syukurnya Aldi bisa diajak kerjasama. "Oke." Setelahnya, Bu Dini masuk kelas berikut dengan suara bel masuk sekolah yang mirip suara peringatan palang pintu kereta api. Agak norak sih emang bel'nya. Tapi yang semakin bikin gue ngerasa aneh hari 5 adalah ketika gue ngeliat Satur tiba-tiba masuk kelas gue sambil bawa tas ranselnya. "Pagi anak-anak. Yaa, kalian pasti sudah kenal dengan Satur. Mulai hari ini Satur pindah ke kelas Kita karena satu dan lain hal yang dia rasa tidak cukup cocok dengan kelas unggulan IPA-1. Satur, kamu boleh duduk di samping Melati." Apa? Dia bilang ga cocok di kelas IPA? Omong kosong apalagi sekarang? Dia selalu dapet peringkat nomer dua dengan rata-rata nilai menyentuh angka sempurna. Dan dia bilang, dia ga cocok di kelas IPA? WAH kambing nih anak. "Baik, Bu." Gue hampir mati berdiri pas ngendenger pengumuman dari Bu Dini. Apalagi pas lihat senyuman biadab Satur yang tertuju ke gue. Ga lama setelah itu, dia duduk persis di bangku yang kosong dan berbisik. "Hai, adek kecil." Sialan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD