"Mel, gue bakal bayar lo lebih sesuai dengan kesepakatan Kita."
"Gue cuma butuh pinjeman aja, Bang. Nanti bakal gue bayar kalau udah punya uangnya."
"Masalahnya kapan? Tunggu..tunggu. Lo belum paham. Gue ini mau menawarkan hal lebih buat lo. Daripada jadi pelayan bar dan lo nabung uang gaji lo buat bayar utang, gue punya salah satu temen yang sering ngasih job tambahan buat cewe-cewe kaya lo."
"Gue ga mau aneh-aneh ah, Bang."
Sejujurnya uang bukan jadi perkara yang besar bagi gue semenjak masuk di keluarga Bu Angel dan Pak Pandji. Semua kebutuhan gue selalu dipenuhi sama mereka. Tapi ada satu alasan kecil yang dari dulu gue terapin. Gue ga mau pakai uang yang dikasih Bu Angel atau Pak Pandji untuk kepentingan pribadi. Jadi semuanya gue tabung. Darimana gue dapet uang untuk jajan selama ini. Ya dari bekerja setelah pulang sekolah. Itu kenapa meski Bu Angel selalu memaksa gue untuk ikut eskul. Gue nolak.
"Lo mesti coba dulu. Lagian gue tau lo lagi butuh uang buat adek-adek lo di panti asuhan. Kerjanya simpel kok. Lo cuma perlu menemani client Kita karokean. Gue bakal selalu milih client kelas kakap buat lo. Gue jamin mereka ga akan bisa macem-macem."
"Soal bayarannya?"
"Untuk pertama lo bisa bawa uang itu semua. Sebagai masa coba-coba. Kalau lo mau, malam ini Kita bisa mulai."
Gue mengigit bibir bawah, tidak siap dengan kemungkinan buruk.
"Gimana?" Tanya Bang Rio.
"Gue ga punya baju seksi-seksi gitu."
"Ga usah dipikirin. Gue modalin lo, yang penting lo mau dulu. Kalau lo udah mau, gue bakal minta Maya buat dandanin lo."
"Tapi ini cuma nemenin mereka karokean ajakan?"
"Iy..ya."
Ga ada pilihan. Gue menyanggupi permintaan Bang Rio demi mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari gue dan adik-adik yang masih sekolah di jenjang pertama. Para donatur sudah mulai berkurang. Berarti itu berpengaruh ke pemasukan kas panti. Bang Rio menawarkan sesuatu yang gue perlukan. Dan menyuruh gue ikut Kak Maya ke sebuah kamar khusus yang berada di belakang area bar setelah menyepakati soal pembayaran kerja.
Ternyata di sana, ada sebuah ruangan kecil yang dipenuhi cermin juga lampu-lampu yang menyala terang menjadi tempat perempuan seperti gue tengah bersiap-siap untuk menyambut tamu. Berdandan dengan cantik, berpakaian minim. Entah gimana jadinya gue berpakaian seperti mereka. Gue ga merasa cukup cantik kalau dibandingin perempuan-perempuan itu, yang lebih matang, lebih menggoda. Mental gue tiba-tiba saja drop out.
"Ga usah tegang." Ucap Kak Maya.
Gue cuma bisa nyengir, kikuk.
"Gue pilihin baju yang ga begitu terbuka buat lo. Lo bisa pake heels kan?"
Gue menggeleng, belum pernah bahkan mendengar sepatu jenis itu.
"Yaudah lo nyeker aja kalau gitu."
"Nyeker?"
Kak Maya mengangguk, dia tersenyum ramah. Berusaha menyisir rambut panjang gue yang kusut."Lo beruntung, malem ini tamu lo kelas kakap. Dia client tetap Kita. Masih muda juga. Ganteng pula. Tapi dia suka banget ngeliat perempuan ga pakai alas kaki."
Tentu aja gue ga percaya dengan omongan Kak Maya. Gue bahkan lebih sering ngeliat om-om perut buncit yang datang ke bar dan anak-anak kuliahan yang berkantong tipis. Walau gue tau, di paling atas bangunan bar ini ada lantai esklusif yang hanya di peruntukan bagi client tertentu. Gue belum pernah ke sana sebelumnya. Gue cuma denger dari orang-orang yang bekerja di sini.
"Gue kasih saran. Kalau dia grepe-grepe lo. Ga usah ngelawan. Tapi kalau emang lo mau uang tambahan, lo bisa bujuk client lo buat tidur sama lo. Uang tips'nya selalu gede."
"Gue ga minat, Kak."
Kak Maya cuma mengerutkan bibirnya ke bawah."Yaudah."
***
Dua jam kemudian, gue cuma bisa berbaring miring di sofa dengan pandangan yang kabur. Musik jazz mengalun pelan dari mesin pemutar piringan hitam yang berada di sudut ruangan. Ruangan ini terlalu besar redup. Dunia gue goyang, gue ga bisa berjalan dengan benar. Client pertama gue malem ini adalah pengusaha kaya yang tidak begitu aktif berbicara. Dia hanya minta di temani melihat pemandangan dari arah luar jendela yang menjajahkan lampu-lampu jalanan dan kemacetan kota melalui seketarisnya. Bersama bergelas-gelas alkohol yang tersedia, melengkapi kebisuan di antara kami, client gue ga pernah membuka suaranya sedikit pun. Tidak pernah ada obrolan yang tercipta. Kami hanya berbagi ruangan bersama.
Saat gue memandang client gue dari kejauhan, dia mendekat ke arah gue tanpa suara. Bahkan langkahnya begitu tenang. Dia setengah berjongkok untuk menyamai posisi kami. Jari-jari tangan kanannya membenahi letak anak-anak rambut gue yang menghalangi wajah. Gue ga berkutik ketika ibu jarinya meraba permukaan bibir gue yang dihiasi lipstik merah, tipis. Gue terlalu mabuk untuk sekedar merespon perlakuannya. Entah bagaimana, sentuhan dia membuat gue ingin terpejam, perasaan tenang itu diciptakannya dengan sempurna.
"Seharusnya lo ga di sini, Mela."
Samar-samar suara berat yang berasal dari client gue, mengusik. Gue berusaha membuka mata lagi dan mendapati wajahnya kini begitu dekat dengan gue hingga kami bisa merasakan deru napas satu sama lain.
"Lo kenal gue?" Hanya pertanyaan itu yang terlontar dari mulut. Sejak pertemuan pertama kami, gue belum pernah memperkenalkan diri. Apalagi mengetahui nama client gue. Tapi dia bertingkah seperti kami sudah lama saling mengenal.
Sentuhan-sentuhannya turun dari bibir sampai ke belahan d**a gue yang terekspos. Perlakuannya membuat gue tersentak. Pertama kalinya laki-laki menyentuh gue sedalam ini.
"Bagaimana kalau Papi dan Mami tau? Anak perempuan yang mereka sayang, justru jadi pelacur."
Kata-kata p*****r yang dia ucapkan membuat gue bergerak lebih. Dengan memegang sebelah kepala gue yang terasa pusing. Berharap dengan begitu dunia gue berhenti bergoyang setiap kali gue bergerak. Tetapi nihil, gue kehilangan keseimbangan bahkan hanya untuk duduk.
Tangan client gue menahan tubuh gue yang limbung, hampir jatuh ke lantai. Membuat posisi kami justru berubah semakin intim. Gue bisa mencium aroma woody dari kerah baju hitamnya. Kepala gue tersandar di pundaknya. Maskulin, berkarakter. Gue sedikit tersenyum, mendapati diri sendiri berubah seperti, jalang.
"Gue ga kenal lo. Jadi jangan bilang sekali-kali kalau gue ini pelacur."
Wajah kalem yang dingin itu tersenyum. Gue bisa melihatnya meski sekilas. Gue bisa melihat lesung pipi di kedua sudut bibirnya. Timbul, menciptakan garis wajah yang begitu memukau. Gue terhenyuh beberapa saat.
"Lo masih perawan?"
"Gue perawan atau ga, itu bukan urusan lo. Gue mau pulang." Gue berusaha bergerak menjauh. Tapi tangan client gue menghentikan pergerakan itu.
"Ga dalam keadaan mabuk seperti ini. Gue akan bawa lo ke hotel."
Gue ketawa, mendengar niatannya."Buat make gue?"
"Make lo? Lo mau gue pake?"
"Hahahaha."
"Gue bisa pake lo kalau lo mau. Tapi Satur pasti kecewa karena perempuan yang dia suka udah ga perawan lagi."
***