VJG 01
Liburan akhir semester membuat Venus harus disibukkan dengan kepindahannya ke sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota, alih-alih menikmati liburan yang biasa dilakukan bersama keluarganya tahun ini terasa amat berbeda, sangat berbeda sekali. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada keceriaan saat liburan yang biasa dihabiskan bersama kedua orang tuanya
" kau tidak akan berdiam diri saja bukan dan melihat ibu mengangkut semua barang ini ke dalam "ucap Marina saat melihat Venus hanya mengutak-atik ponselnya sambil duduk di depan pintu kontrakan yang bahkan belum dia masuki sama sekali setelah kedatangannya setengah jam yang lalu. Venus hanya melirik ibunya sekilas yang terlihat kesulitan untuk membawa beberapa barang milik mereka masuk ke dalam kontrakan yang hanya berukuran sebesar kamar tidur yang sebelumnya Venus memiliki.
"Bu kita tidak bisa cari kontrakan yang lebih besar dari ini?" Tanya Venus membuat Marina melipat kedua tangannya sambil menatap ke arah anaknya dengan tatapan tajam
"kita harus bersyukur setidaknya kita tidak tidur di jalanan malam ini" ucap Marina setelah itu kembali melanjutkan kegiatannya Untuk memindahkan beberapa barang yang masih tersisa
“ kalau begitu Kenapa kita harus pindah dari rumah Galaxy kalau kita masih belum bisa mencari kontrakan yang lebih layak dari ini " ucap Venus sambil mengikuti langkah ibunya menuruni anak tangga menuju mobil pick-up yang mengangkut barang mereka, sejenak Marina mengabaikan ocehan dari anaknya itu dan mengambil beberapa kardus yang berisikan buku-buku milik Venus
" kita sudah terlalu lama menumpang di rumah Galaxy, kita tidak mungkin bukan mengandalkan mereka terus di saat ibu sudah memiliki sedikit tabungan untuk kita pindah dan mendapatkan kontrakan ini "jawab Marina sambil berjalan membawa kardus tersebut Namun Baru beberapa langkah kardus yang dia bawa ternyata tidak sekuat yang dia kira semua buku-buku yang berada dalam kardus tersebut berceceran tepat di anak tangga pertama membuat Marina mendesah panjang Karena lelah, kemudian menekuk lututnya untuk memungut satu per satu buku milik anaknya tersebut, Venus yang hendak kembali membuka mulutnya untuk melontarkan protes kepada ibunya langsung mengatupkan kembali bibirnya saat melihat tatapan tajam dari Marina " Berhentilah untuk mengeluh setidaknya bantu ibu sekarang membereskan buku-buku ini jika tidak ingin Ibu membuangnya ke tong sampah "ucap Marina membuat Venus mencebik namun tetap menghampiri Ibunya dan membantunya untuk memunguti buku-buku tersebut Setelah itu membawanya ke dalam kontrakan yang mungkin akan menjadi tempat tinggalnya sementara bersama ibunya.
Venus mengedarkan pandangannya pada kontrakan yang kini dipenuhi oleh barang-barang mereka yang masih berserakan di Sembarang tempat Setelah itu mulai menyusuri setiap ruangan yang berada dalam kontrakan kecil dengan cat tembok usang tersebut hanya terdapat satu kamar tidur, satu ruang tengah, satu kamar mandi dan juga satu dapur.
ini benar-benar satu ruangan yang komplit yang besarnya memang setara dengan kamar yang dia miliki dulu dan jika Venus menghitungnya hanya memerlukan dua langkah dari dapur menuju kamar mandi dan empat langkah dari kamar mandi menuju ruang tengah kemudian tiga langkah dari ruang tengah menuju kamarnya. Venus kemudian mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang hanya muat untuk dua orang saja dengan tingkat keempukan yang sangat rendah bahkan rasanya dia hanya menduduki sebuah papan ketika duduk di atas kasur tersebut, Venus tidak pernah menyangka jika dirinya akan sampai titik di mana harus merasakan hidup serba terbatas seperti sekarang ini bahkan setahun lalu pun Venus tidak pernah memimpikan sedikit pun kehidupannya yang sekarang, tahun lalu dia masih bisa menikmati liburan indahnya bersama kedua orang tuanya, masih bisa tinggal di rumah mewah dengan semua fasilitas yang membuatnya mudah melakukan apapun dan masih memiliki barang-barang kesayangannya yang kini sudah tidak Venus memiliki lagi.
Dari kecil Venus terlahir menjadi seorang anak tunggal dari kedua orang tua yang memiliki usaha yang sangat maju membuat kehidupan mereka jauh dari kata kekurangan, ibu dan ayahnya memiliki usaha masing-masing dalam bidang yang berbeda pula membuat Venus tumbuh menjadi seorang anak yang dengan mudah mendapatkan semua yang dia inginkan bahkan rasanya Venus selalu melewati hari-harinya dengan penuh kegembiraan ditambah dengan kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya dan juga memanjakannya membuat hidup Venus semakin sempurna namun kesempurnaan itu hancur begitu saja di saat usaha kedua orang tuanya lambat laun mulai mengalami kebangkrutan, satu-persatu aset yang mereka miliki dijual dan juga digadaikan dan bukan hanya masalah perekonomian yang menimpa mereka Venus mulai melihat ke tidak harmonis an diantara kedua orang tuanya, ibunya mulai sering menangis dan emosi ayahnya yang selalu meledak-ledak jauh berbeda dengan yang selama ini Venus kenal, ayahnya yang lemah lembut dan juga penyayang kini berubah menjadi sosok yang sensitif dan juga penuh amarah membuat Venus bahkan tidak berani hanya untuk sekedar menyapa dan mendekat ke arah ayahnya tersebut. sampai mimpi buruk yang selama ini dia takutkan terjadi ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk mengakhiri ikatan di antara mereka ayah dan ibu Venus memilih untuk bercerai di saat kondisi mereka memang dalam Titik terendah dan bagi mereka perpisahan adalah cara satu-satunya untuk membuat mereka terlepas dari penderitaan yang menyelimuti mereka saat ini. Namun bagi Venus itu malah membuatnya semakin merasa terpuruk dalam kondisi seperti ini Venus benar-benar kehilangan semuanya. semua kebahagiaan yang selama ini dia rasakan dan akhirnya Venus memilih untuk ikut bersama Marina karena ayahnya memilih pergi pindah ke Amerika Dimana tempat asal ayahnya tersebut. Venus memang terlahir dari dua kultur yang berbeda ibunya adalah orang Indonesia asli sedangkan ayahnya asli keturunan Amerika membuat Venus memiliki paras yang sangat menawan, wajahnya yang kecil dipadukan dengan rambut hitam dari ibunya dan juga mata cantik beriris kan biru laut yang diwarisi oleh ayahnya membuat siapa pun yang melihat Venus akan langsung terpana melihat ke rupawan wajahnya tersebut.
Lamunan Venus terhenti saat mendengar suara kegaduhan dari arah luar membuatnya langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sumber suara tersebut dilihatnya sang Ibu Tengah kesusahan memunguti beberapa peralatan yang biasa dia gunakan untuk membuat roti dan juga kue kering. Marina Memang sebelumnya memiliki sebuah toko roti yang juga menyediakan kue kering, dessert dan berbagai makanan manis lainnya usahanya cukup maju memiliki beberapa cabang dan pada akhirnya harus kehilangan semua usaha yang dia bangun dari nol untuk membayar semua kebangkrutan usahanya yang lain
"Venus Berhentilah untuk melamun" tegur Marina membuat Venus kembali tersentak dan langsung menghampiri Marina memunguti satu per satu loyang dan juga peralatan lainnya “kenapa kita tidak menyewa orang saja untuk mengangkut semua barang-barang ini apa Ibu tidak lelah?" Tanya Venus sambil berdiri mengikuti Marina dengan kedua belah tangan membawa peralatan kuenya
" jika Ibu mempunyai uang lebih Ibu tidak akan bersusah payah seperti ini "ucap Marina setelah itu meletakkan peralatan yang dia bawa bersama dengan barang-barang yang belum tersusun lainnya, Marina kemudian menghembuskan nafas panjangnya saat pekerjaannya sudah selesai semua barang-barang sudah dia angkut dari mobil pick up
"Baiklah sekarang berhenti melamun, berhenti untuk duduk dan berhenti untuk melihat ponselmu itu, waktunya kita menyusun semua barang-barang ini jika Malam ini kita ingin tidur dengan nyaman" ucap Marina sambil menatap Venus yang sedang memperhatikan sekelilingnya yang penuh dengan barang-barang milik mereka
" apa Ibu yakin semua barang-barang kita ini akan muat di dalam ruangan kecil ini? "Tanya Venus membuat Marina ikut memperhatikan sekitarnya
" Muat tidak muat semuanya harus memuat, kita harus berbagi tempat dengan semua barang-barang ini, tapi kita akan memiliki sedikit ruang jika kau mendonasikan sedikit baju bajumu itu kepada yang membutuhkan "ucap Marina membuat Venus langsung menggelengkan kepalanya pasalnya dia tidak mungkin melepaskan baju-baju kesayangannya dengan brand ternama dengan harga selangit itu karena sebelumnya Venus sudah melepaskan begitu banyak barang kesayangannya dan kali ini tidak lagi pikir Venus.
“aku sudah banyak merelakan semua barang-barang kesayanganku dan aku tidak ingin kehilangan Mereka lagi "rengek Venus membuat Marina hanya menatapnya dengan malas namun Marina tidak memaksa karena Marina juga tahu bahwa semua ini begitu sulit bagi anaknya yang terbiasa hidup dengan mudah, Marina akan sedikit demi sedikit mengajari Venus bagaimana hidup dengan sederhana.
"Kalau begitu Berhentilah mengeluh dan terima jika kau harus berbagi ruangan dengan barang kesayangan mu itu" ucap Marina setelah itu kembali menegakkan tubuhnya dan sedikit merenggangkan nya karena dia harus kembali memulai untuk menguras tenaganya menyusun semua barang-barang yang bisa dibilang tidak sedikit tersebut,
Venus pun mulai mengikuti Marina untuk menyusun satu-persatu barang-barang yang dia miliki mulai dari baju, sepatu, buku-bukunya dan juga peralatan lainnya, Marina dan Venus saling bekerja sama karena ingin pekerjaan mereka ini cepat selesai rasanya Venus baru pertama kali menyadari bahwa membereskan barang-barang ternyata akan selelah ini
" Apakah semua pelayan kita sebelumnya juga merasakan lelah seperti ini " Gumam Venus sambil memijat pundaknya yang terasa pegal, Marina hanya melihatnya sekilas dengan tersenyum melihat keringat yang membasahi pelipis anaknya tersebut
" tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan" ucap Marina,
gerakan mereka terhenti saat mendengar ketukan pintu dari arah luar
" lihat sebentar Siapa yang datang! "Ucap Marina
" apa kita akan menerima tamu di hari pertama kepindahan kita, Ibu tidak mengundang para tetangga untuk berkunjung bukan "tanya Venus membuat Marina memutar bola matanya malas anaknya itu memang sedikit sulit untuk berbaur dengan orang yang belum dikenal apalagi orang-orang yang berada di sekitar kontrakan mereka
"Bisakah Kau melihatnya sebentar tanpa mengeluh apapun "ucap marina membuat Venus akhirnya beranjak berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang datang,
Venus langsung tersenyum senang dan berhambur ke pelukan orang yang juga memberikan senyum hangat padanya
" Venus siapa yang datang,? " Tanya marina sambil berjalan menghampiri Venus yang memeluk seseorang di ambang pintu
"Galaxy" Ucap Marina yang juga selalu menatap seorang remaja lelaki seusia Venus dengan tatapan hangat layaknya seorang ibu.