6. Hari Pertama Yang Menyakitkan

2710 Words
    Hari pertama bagi segala sesuatu yang baru terasa begitu menyenangkan. Seperti hari pertama ketika kita berlibur, salju pertama, hujan pertama, hari pertama berkencan atau bahkan hari pertama kita memiliki ponsel baru. Siapa yang tidak menyukai hal itu? Termasuk Anya. Ia menyambut hari pertama kerjanya di negeri impian ini dengan antusias.      Kakinya kini telah menjejak di halaman lobby Diamond Hotel. Kantor Diamond Group terdapat di lantai 10 gedung Diamond Hotel.      Di balik balutan seragam khas hotel berkelas dan rambut yang digulung rapi, Anya tampak seperti salah satu staff hotel. Tidak akan ada yang tahu bahwa Anya baru pertama kali menginjakkan kaki ke hotel super mewah seperti Diamond Hotel. Gedung megah setinggi lima puluh lantai nampak begitu kokoh dan mewah. Di sampingnya terdapat sebuah gedung lagi, Diamond Condominium, hunian apartemen mewah dengan harga fantastis dan fasilitas ala hotel bintang lima yang mewah. Kedua gedung ini dihubungkan dengan sebuah jembatan kaca di lantai 10. Para penghuni kondominium bisa dengan bebas menggunakan fasilitas hotel yang super lengkap dan mewah.      Anya melangkahkan kakinya ke dalam bagian hotel. Jangan tanya bagaimana bagian dalamnya sebab sudah bisa dipastikan seluruh perabot dan dekorasinya sangat bernilai tinggi. Ukiran ala Yunani dan pahatan-pahatan bernilai seni menghiasi bagian dalam hotel. Di langit-langit lobby diukir lukisan khas dewa-dewi Yunani yang begitu luar biasa. Jangan lupakan segala fasilitas mewah di dalamnya, mulai dari lapangan golf, lapangan tenis dan bola basket, gym, kolam renang yang sangat besar, spa, jacuzzi bahkan restoran dan club malam kelas premium ada di dalamnya. Apapun yang mewah dan megah, Diamond Hotel memilikinya.      Pertama kalinya Anya merasa udik, melihat hotel semewah ini. Bagian dalam hotel terlihat sibuk dengan para tamu yang berlalu-lalang. Semua tamu mereka berasal dari kalangan atas, pejabat atau bahkan public figure seperti artis atau tokoh politik. Anya bisa melihat kelas mereka hanya dengan memperhatikan pakaian dan gaya berjalan orang-orang itu. Ia tidak boleh main-main di dalam hotel berkelas ini.      Kini Anya tahu mengapa Sally mati-matian menginginkan Je berubah. Di hotel sekelas ini, reputasi adalah segalanya. Sekali berbuat kesalahan, semuanya akan menjadi bencana. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun di dalam operasional dan layanannya.      Desmond mempersilakan Anya masuk ke dalam lift dan membawanya menuju ruangan manajemen di lantai 10 di dalam gedung. Anya dibawa menuju ke ruangan HRD dan diperkenalkan dengan tugas, tanggung jawab dan standard pelayanan hotel yang harus Anya pelajari. Setelah itu Anya diarahkan menuju ke ruangan kerjanya. Ruangan CEO.      Meja kerjanya ada di dalam ruangan yang sama, berhadapan dengan meja CEO. Tentu saja desain ruangan dibuat agar sang asisten dapat berkoordinasi langsung dengan CEO mereka. Setidaknya begitu yang Anya tangkap.      Begitu Desmond selesai menjelaskan semua yang perlu Anya tahu, pria berambut pirang itu akhirnya keluar dari ruangan Anya. Anya menghela nafasnya. Melihat tumpukan berkas yang harus dipelajarinya. Terbayang hal-hal baru yang akan Anya pelajari, membuat Anya antusias. Dunia baru yang akan dijalaninya telah resmi dimulai hari ini.      Anya mulai membuka berkas-berkas itu satu per satu.      Saat Anya mulai bekerja, beberapa staff manajemen di ruangan sebelah mengintipnya dari balik kaca penghubung ruangan dan membicarakan Anya.      “Kau lihat wanita itu? Dia cantik sekali.”      “Apa dia wanita dari Asia?”      “Kurasa begitu. Kudengar wanita Asia memang terkenal cantik dan eksotis.”      “Dia menjadi asisten CEO tidak kompeten itu?”      “Begitulah yang kudengar. Lebih baik tanyakan saja pada Desmond,” kata seorang staf pria lalu menunjuk Desmond dengan dagunya.      Para staf lain langsung menutup jalan Desmond dan menggiring pria itu untuk duduk di antara mereka. Layaknya orang yang sedang diinterogasi kepolisian. Mereka mempertanyakan siapa Anya dan bagaimana Sally menemukan wanita secantik itu. Dan berbagai pertanyaan lain yang mengacu pada identitas Anya. Desmond tidak memiliki pilihan selain menceritakan informasi yang ia dapat, tapi tentu saja untuk hal-hal yang sifatnya rahasia seperti masalah keluarga Anya, ia tutup rapat. Sally sudah mewanti-wanti agar tidak mengungkap keluarga Anya dan Desmond orang yang dapat dipercaya.      “Hanya itu yang ku tahu. Sebaiknya kalian berkenalan langsung padanya.” Desmond bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan para penggosip itu. Tidak mau berlama-lama karena Sally pasti akan mencarinya.      Tak berapa lama kemudian Anya keluar dari ruangannya. Seketika para staff yang berkerumun memasang aksi sibuk. Padahal Anya tahu mereka membicarakan dirinya. Anya sempat melirik mereka dari balik kaca. Dan Anya pikir ia perlu mendekatkan diri dan bersosialisasi dengan mereka.      “Hi, everybody!” Anya berusaha menyapa. Semua staff itu melongok dari dalam kubikalnya dan menyambut sapaan Anya. Anya mulai acara berbasa-basi rianya untuk mengenal rekan-rekan kerjanya. Bagaimanapun juga mereka adalah rekan kerja dan setiap saat terlibat untuk kerja yang sama. Rupanya, Anya memang pandai menyesuaikan diri. Baru lima belas menit mereka saling mengenal, kini para staff itu terlihat sudah akrab satu sama lain. Anya kini mengenal dua orang dari divisi perencaan dan pengembangan, satu dari divisi event dan dua orang dari divisi pemasaran dan branding. Anya kini mengetahui nama rekan-rekan kerja barunya, Miriam, Cornellia, Bryan, Emily dan Danny Lee.      Merasa sudah cukup untuk bersosialisasi, Anya mulai merasa janggal. Ia belum melihat Je sama sekali pagi ini.      “Oh ya… apakah kalian sudah melihat CEO kita hari ini?”      Tanpa disangka, pertanyaan polos Anya hanya dijawab dengan tawa sinis semua staff yang sedang berbicara dengannya.      “Jangan berharap dia akan datang. Dia akan tetap di kamar mewahnya itu atau bermain basket di lapangan,” Danny menjawab. Anya tahu Je adalah pemain basket, tapi bermalas-malasan di dalam kamar sementara ia memiliki tanggung jawab di kantor, jelas ini sebuah bentuk tidak bertanggung jawab.      “Atau mungkin bersama dengan kekasih seksinya itu,” celetuk Emily dengan bercanda dan disambut gelak tawa dari rekan-rekannya yang lain. Anya masih menatap dengan bingung.      “Dia tidak akan pernah datang. Apa yang bisa kita harapkan dari seorang pemain basket yang menjadi CEO di hotel ini. Yang mereka tahu hanya melemparkan bola dan membuat masalah. Semua tempat mereka pikir adalah lapangan bermain,”sindir Bryan dan lagi-lagi rekan-rekannya tertawa. Semua itu terasa lucu bagi mereka tapi tidak dengan Anya. Ia malah baru tahu sisi lain Je.      “Ssst… jangan bilang begitu, bagaimanapun juga dia adalah seorang MVP tahu? Lepas dari perusahaan ini, nyatanya dalam dunia basket karirnya sangat gemilang!” sahut Emily yang adalah salah satu fans fanatik Je. Ia berusaha membela idolanya. Tapi Anya sedikit ragu dengan ucapan Emily dan rekannya yang lain melihat tatapan aneh Anya yang sepertinya meragukan yang mereka bicarakan.     Emily tiba-tiba saja mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan foto-foto Jeremy dari browser ponselnya. Anya melihat foto-foto Je dengan aneka pose-nya saat bermain basket dan beberapa foto yang paling sering muncul adalah saat Je mengangkat sebuah trofi emas. Anya sempat membaca tulisan pada trofi itu. MVP.      “Je adalah pemain NBA terkenal dan terhebat abad ini. Orang hanya tahu Je adalah pria yang spesial. Wajah tampan, tubuh seksi, atlet basket, perilakunya manis dan sangat team player. Dan dia adalah sosok pria yang paling dicari banyak wanita dan memiliki kekasih yang seksi dan sempurna.      Tapi aku tidak yakin mereka akan tetap beranggapan sama jika mereka tahu seperti apa dia saat bekerja di sini.” Lagi para staff itu terlihat tertawa saat menyindir atasan mereka, sementara Emily terlihat sibuk membela idolanya. Tapi Anya tak bergeming. Mungkin ia akan menyelidiki lebih jauh lagi nanti. Kini ia harus kembali fokus untuk menjalankan misinya.      Memang benar Anya belum mengerti tentang kehidupan Je. Kalaupun Je sudah memiliki kekasih, memangnya masalah untuk Anya? Anya hanyalah orang yang baru Je kenal dan secara mendadak menjadi asistennya. Harusnya tidak perlu sebegitu marah atau sensitif. Entah Anya yang mudah dipermainkan atau Anya memang sudah jatuh hati pada pria itu, yang pasti sekarang perasaan Anya sedikit tak menentu begitu mendengar Je sudah memiliki kekasih.      Baiklah, mari kita mencoba kembali ke dunia nyata. Urusan Anya bukan mengurus kehidupan pribadi Je. Ia hanya bertugas memastikan Je kembali ke kantor. Itu saja. Jadi, mari kesampingkan masalah hati Anya yang tidak jelas itu.      “Oh begitukah? Aku baru tahu fakta itu. Ngomong-ngomong apakah kalian tahu keberadaan pria itu? Aku hanya ingin menyapanya.” Anya mencoba mencari informasi.      “Kurasa dia ada di dalam kondominum mewahnya. Datang saja ke gedung kondominium lalu naik ke lantai 49. Kamar 4901. Unit khusus yang hanya ada satu dan satu-satunya dibuat untuknya,” jawab Miriam yang sedari tadi paling aktif berbicara.      “Ya… siapa lagi yang memberikannya jika bukan Ibunya sendiri. Benar kan?”      “Pemilik perusahaan bebas melakukan apapun.” Semua staff itu tertawa cekikan. Ucapan mereka terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Anya. Anya ingin menyudahi pembicaraan ini agar ia bisa memulai misi pertamanya.      “Tapi kurasa sebaiknya kau menyiapkan hatimu. Semua asisten CEO yang mendatangi kamar Je selalu pulang dengan tangan hampa. Pria itu akan selalu menolak semua pekerjaan menjengkelkan itu. Jadi jangan terlalu banyak berharap,” pesan Bryan, yang pernah beberapa saat menjabat sebagai asisten CEO dan baru hitungan hari, ia sendiri yang meminta dimutasi ke bagian lain. Beruntung, tim HRD bersedia memindahkannya ke bagian lain.      Setelah mendapatkan informasi, Anya pun undur diri. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Mungkin Je sudah berubah ketika memilih Anya. Anya mencoba berpikir positif.     Ia memantapkan langkah dan langsung menuju ke lantai yang ditunjukkan rekan kerjanya tadi. Anya masuk ke dalam lift dan berpapasan dengan seorang pria muda tampan dengan pakaian jasnya turun dari lift. Anya tidak begitu memperhatikan pria itu dan langsung masuk ke dalam. Tapi sang pria tersenyum penuh arti saat melihat Anya lagi, seolah ada yang disembunyikannya.     Kedua pasang mata itu sempat beradu sekian detik sebelum akhirnya pintu lift tertutup. Sedikit menyesal karena pria itu belum sempat mengajak Anya berkenalan.      “Kita berjumpa lagi, Anya!”  ***     Di dalam lift, Anya mengamati sebuah gambar promosi hotel dengan seorang wanita berwajah Latin sebagai modelnya. Wanita yang sangat cantik dan seksi. Di bawah gambar itu terdapat tanda tangan sang model dan namanya.      “Isabella Cortez. Nama yang tidak asing, tapi di mana aku mendengarnya ya?” Anya membuka social media dari ponselnya. Mencoba mencari nama itu.      “Astaga! Dia ternyata influencer terkenal dengan tarif endorse paling mahal di dunia itu! Astaga, hotel ini menggunakannya sebagai model? Luar biasa!” Anya berdecak penuh kekaguman.      TING! Pintu lift akhirnya terbuka dan ia sudah sampai di lantai VIP. Lantai 49 di hotel ini disebut lantai VIP karena di lantai itu hanya ada tiga ruangan kondominium yang sangat privat. Khusus bagi tamu-tamu penting kenegaraan seperti presiden atau pimpinan negara lain. Penjagaan di lantai VIP ini sangat ketat. Sejak awal pintu lift terbuka, setiap pengunjungnya harus menjalani pemeriksaan ketat. Tak terkecuali Anya.     Setelah dipersilakan masuk ke dalam lorong kondominium VIP, Anya mencari nomer ruangan VIP yang ditunjuk.  “4901.”      Anya membunyikan bel kamar, memberitahu kehadirannya. Beberapa kali ia membunyikan bel hingga akhirnya seseorang menekan handle pintu kayu itu. Nafas Anya tercekat saat melihat seorang wanita cantik berwajah latin dengan tanktop putih belahan rendah yang menampilkan gunung kembar yang berisi dan hotpants jeans membukakan pintu. Apa mungkin Anya salah kamar?      “Siapa kau?” tanya wanita itu dengan penuh nada curiga. Anya kehilangan kata-katanya saat menyadari gadis yang fotonya ada di lift itu kini berdiri di hadapannya. Memang lebih cantik dan seksi aslinya dibandingkan dengan di foto. Apakah wanita ini yang menjadi kekasih Je? Jika memang benar demikian, ia setuju dengan ucapan teman-temannya. Penampilan wanita ini memang sempurna. Tubuhnya montok dan seksi, wajah latinnya sangat cantik dan menggoda. Pakaiannya walaupun terlihat sederhana dan pada umumnya, tapi terlihat indah pada body gitar Isabella.      “Miss… “ panggil wanita itu membuyarkan lamunan Anya seketika.      “Oh… itu… saya mencari Mr Jeremy….” Belum sempat Anya melanjutkan kata-katanya, suara pria dari balik Isabella menghentikannya.      “Siapa, Sayang?” Suara berat seorang pria terdengar dari dalam kamar. Pria itu kini telah melingkarkan tangannya pada pinggang Bella dan menempatkan kepalanya di ceruk leher sang wanita seksi itu.      Lagi, Anya dibuat terkejut dengan sosok manusia di hadapannya. Pria menakjubkan yang ia temui di Surabaya itu nyatanya telah memiliki kekasih, yang penampilannya jauh di atas dirinya. Terbersit rasa kecewa di benak Anya karena Je telah memiliki kekasih. Tapi ia yakin rasa kecewa itu karena ia hanya tertarik, mungkin seperti seorang fans. Dan bukan cinta. Lagipula kontrak kerjanya jelas menyatakan tidak boleh terlibat cinta bukan? Anya pun mengesampingkan perasaannya. Ia harus tetap professional.      “Aku tidak tahu… wanita ini tiba-tiba datang ke kamar kita dan mencarimu,” jawab wanita itu lalu membukakan pintu kamar lebih lebar agar Je bisa melihat siapa yang dimaksud.      Wajah Anya kini memerah saat melihat Je yang sedang mengenakan jubah mandi hotel. Dengan rambut acak-acakan yang basah dan d**a bidang serta berototnya yang sedikit terlihat, Anya terpesona. Je terlihat sangat jantan dan terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Lagi, Anya sepertinya sudah gila menyukai Je. Ia mengenyahkan bayangan kotor itu dari otaknya cepat.      Lain dengan Anya, Je hanya melihat wanita itu dengan santai.      “Oh, kau datang rupanya,” kata Je dalam Bahasa Indonesia. Bella sedikit mengernyit. Ia tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia dan Je terlihat mengenal wanita ini. Bella mulai merasakan ancaman pada posisinya. Siapapun wanita di dekat Je adalah ancaman.      Bella memutar badannya menghadap Je dengan wajah marahnya.      “Katakan padaku siapa dia? Bagaimana kau mengenalnya? Apakah dia kekasihmu di belakangku?”      Melihat wajah Bella yang cemburu, Je makin gemas. Ia mencium cepat bibir Bella yang selalu menggoda itu.      “Dia hanya asisten. Ibuku yang menerimanya bekerja.”      “Sungguh?” telisik Bella dengan beribu keraguan tertulis di keningnya.      “Tentu. Hanya itu. Benar kan, Anya?” kini Je melemparkan bola pada Anya. Anya yang masih bengong terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Je. Dan ini sudah kesekian kalinya Je melemparkan pertanyaan saat ia tidak siap.      “Hah… oh itu… benar. Saya hanya asisten Je. Kami tidak ada hubungan apapun.”      “Begitukah? Lalu untuk apa kau ke mari? Mengganggu pagi mesra kami saja!” sahut Bella sambil menggelandot mesra pada lengan Je dan berusaha menciumnya di depan Anya. Jujur, tingkah laku Bella terlihat seperti wanita yang murahan daripada wanita baik-baik. Dan Anya masih tidak percaya jika Je memilihnya menjadi kekasih. Anya menduga Bella hanyalah teman tidur.      “Aku hanya ingin menyapa Mr Jeremy karena hari ini hari pertamaku bekerja…”      Jeremy kini menarik tubuh Bella ke belakangnya lalu keluar menemui Anya.      “Kurasa aku perlu menjelaskan aturan mainku di sini.” Kalimat yang Jeremy ungkapkan membungkam Anya.      “Satu, jangan pernah tanya atau bahkan memaksaku ke kantor. Dua, aku tidak pernah menerima tamu di dalam kamar kondominium-ku, apalagi jika ia berasal dari kantor Ibuku. Tiga, tidak ada bantahan atau sanggahan tentang dua hal itu. Titik. Aku yang menentukan kapan aku ke kantor. Tidak perlu menyusulku atau memaksaku karena tanpa kehadiranku sekalipun kantor itu tetap berjalan seperti biasanya. Jika ada dokumen yang membutuhkan tanda tanganku sebagai formalitas, bubuhkan saja tanda tangan elektronik yang kalian sudah miliki. Paham?” Je menekan setiap kalimatnya di hadapan Anya.      Baru kali ini Anya menemui CEO yang tak pernah mau ikut campur urusan kantornya seperti ini. CEO aneh yang bertingkah seenaknya sendiri. Sejenak Anya menggerutu dalam hatinya, apa gunanya merekrut Anya jika Je sendiri tidak mau mengurus urusan kantor? Pria yang aneh! Apakah ini berarti semua pekerjaan CEO diserahkan padanya? Astaga! pekerjaan macam apa ini?      “Jadi daripada membuang waktumu lebih baik pergilah dari sini dan selesaikan semuanya dengan namaku. Anggap saja aku sudah menyetujuinya. Mengerti Anya?” Anya refleks mengangguk.      “Tapi… tapi…” tangan Je menjulur ke atas. Menghentikan ucapan Anya.      “Tanpa sanggahan. Sekarang, pergilah sebelum aku marah karenamu!”      Anya terkejut dengan sikap Je. Setahunya pria itu adalah pria yang baik dan sangat ramah saat di Surabaya, tapi mengapa ia berubah saat berada di sini? Apakah Je memiliki kepribadian ganda?      “Ta-tapi…” Anya masih belum menyerah. Bagaimanapun ia tetap harus mendapatkan kehadiran Je di kantor.      “Bella, tutup pintunya!” teriak Je, meminta Bella. Tapi kaki Anya buru-buru menahan pintu itu dan ia mendapatkan benturan keras di telapak kakinya yang terjepit.      “AUCHHH!!!” pekik Anya yang refleks memegangi kakinya yang nyeri.      Je terkejut karena Anya berusaha menahan pintu itu. Ia sedikit merasa bersalah karena sikap kasarnya. Dan bodohnya, mengapa wanita itu mencoba menghalangi pintu besar dengan kakinya. Bodoh! Walau begitu, tidak ada rasa kasihan Je pada Anya.      “Maafkan aku, Nona! Kau dengar apa kata Je bukan? Jangan ganggu kami!”      BRAKK!!!      Pintu itu tertutup rapat. Menyisakan Anya yang kesakitan, bukan hanya di kakinya yang terjepit tetapi juga di hatinya yang tertolak. Menghadapi seorang Je ternyata tidak mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD