7. The Prince Charming

2298 Words
    Selepas dari kamar Je yang super menyebalkan dan kejam itu, Anya pergi dengan tertatih-tatih. Menahan rasa perih di telapak kakinya. Apalagi dengan sepatu hak tinggi yang menghimpit ujung-ujung jarinya, rasa pedih dan nyeri itu terasa berlipat-lipat.      Dalam hati, Anya memaki-maki perlakuan pria itu. Bisa-bisanya pria sialan itu yang menjadi bosnya. Parahnya lagi, mengapa harus Anya yang menjadi asisten pria keras kepala, kejam dan paling menjengkelkan yang pernah ada di muka bumi? Mengapa pria itu menunjuk Anya jika ia hanya diperlakukan dengan tidak sopan seperti ini?      “SEBAALLLLL! PRIA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, SEENAKNYA SENDIRI, EGOIS DAN KERAS KEPALA!!! SEBBAAALLLLL!!!!” gerutu Anya sambil mengertakan giginya. Terlalu gemas dan sebal hingga darahnya naik ke ubun-ubun.      Begitu pintu lift terbuka, Anya kembali menarik nafas dan mempertahankan sikap profesionalnya. Walau sejujurnya kakinya terasa sangat sakit sekarang. Seumur hidup Anya berjanji tidak akan pernah mau menangani atasan keras kepala seperti Je. Ia menyesal tidak mencari tahu terlebih dulu situasi kerja dan kondisi kerjanya sebelum memutuskan melamar pekerjaan itu.      TING!      Pintu lift terbuka. Dan lagi, Anya berpapasan dengan pria muda dan tampan di balik setelan jas birunya yang terlihat pas di tubuhnya. Sepertinya baru kali ini Anya memandangi pria itu dengan begitu detil.      Pria itu nampak seumuran dengan Anya. Rambutnya hitam dengan model koma yang sedang trend saat ini. Matanya sedikit sayu namun memiliki sudut mata yang tegas dan menyipit, wajahnya blasteran Asia-Amerika dan entah mengapa dari sisi tertentu pria itu serasa tidak asing di mata Anya. Wajah itu mirip sekali dengan… Jeremy! Bedanya, pria itu memiliki garis rahang yang lebih halus dan memiliki senyuman manis yang selalu mengembang.      “Siapa pria ini? Apakah dia memiliki hubungan darah dengan Je?” tanya Anya dalam benaknya.      Anya tidak mau menyimpulkan yang tidak ia ketahui. Ia memilih untuk menyapa dengan mengangguk. Bersikap sopan pada siapapun tidak salah kan?      “Hai, kurasa kita belum sempat berkenalan. Beberapa kali kita bertemu di lift,” sapa pria itu begitu Anya keluar dari lift. Anya mengernyit. Ia mencoba mengingat apakah benar ia pernah bertemu pria ini sebelumnya? Kapan?      Tak mau berpikir lebih lama lagi, Anya memilih untuk memperkenalkan dirinya lebih dulu. Siapapun dia, tidak begitu penting. Yang terpenting, Anya setidaknya memiliki teman baru di sini. Ia memiliki prinsip bahwa di manapun dirinya berada setidaknya ia harus memiliki beberapa orang teman baru. Karena merekalah yang bisa membantu Anya jika terjadi sesuatu.      “Oh, hai… aku Anya,” sapa Anya sambil menyurungkan tangannya untuk menjabat tangan. Pria muda itu menyambut tangan Anya.      “Aku Jonathan. Panggil aku Jo.” Lama kedua telapak tangan itu saling berpaut hingga Anya memutuskan untuk menarik tangannya lebih dulu. Bukan karena apa, tapi rasanya canggung bersentuhan dengan pria menawan seperti Jo.     “Uhmm…kau mau kembali ke ruanganmu?” tanya Jo penuh basa-basi. Jawabannya pasti iya karena Anya tidak memiliki ruangan lain selain ruangan itu bukan? Anya mengangguk dengan canggung.      “Baiklah…”     “Kau dari…” Keduanya berbicara bebarengan lalu tersenyum karena seakan mereka sehati.     “Ladies first…” Jo mempersilakan Anya.      “Tidak… tidak. Dalam budaya kami di Timur, pria lebih dulu.” Jo tersenyum lalu memberikan isyarat dengan tangannya, mempersilakan Anya kembali untuk berbicara. Baiklah, Anya mengalah. Perdebatan tidak penting ini tidak akan berhenti sebelum salah satunya mengalah.      “Kau di bagian apa? Mungkin suatu saat jika aku membutuhkan bantuanmu… yah, kau tahu mungkin saja kita akan terlibat bekerja untuk proyek tertentu…”      “Cari saja aku di bagian Audit dan Keuangan.”      “Oh… baiklah. Aku ada di…”      “Asisten CEO.” Jawaban Jo sukses membuat Anya terkejut. Bagaimana pria itu bisa tahu bahwa itu jabatannya saat ini? Apakah kabar kedatangannya sudah tersiar ke seluruh hotel?      “Ba-bagaimana kau tahu?” Jo tersenyum manis. Sangat manis hingga Anya ingin mencubit pipinya dengan gemas.      “Berita bahwa di kantor ini kedatangan seorang wanita cantik dari Indonesia yang berani menjabat sebagai asisten CEO pasti menyebar lebih cepat. Kau tahu mengapa bukan?” Anya terkekeh. Ia tahu apa maksudnya. Siapapun pasti tidak akan tahan dengan beban kerja dan perlakuan Je yang semena-mena pada asistennya. Dan bodohnya, Anya ada di posisi itu sekarang.      “Baiklah… baiklah. Aku akui sepertinya aku salah melamar posisi,” timpal Anya sedikit bercanda.      “Tidak ada yang salah. Semuanya atas kehendak Tuhan. Jadi, semangatlah!” Jo mengepalkan tangannya memberi semangat. Anya juga membalas melakukan hal yang sama. Keduanya lantas berpisah. Jo ke arah kiri dan Anya ke arah kanan.      Bertemu dengan Jo dan berbincang ringan dengan pria menawan itu ternyata cukup mengobati rasa jengkel Anya pada Je. Setidaknya ia bisa merasa nyaman berkat kehadiran Jo saat itu. Kini Anya kembali berkutat dengan seluruh laporan divisi untuk Je. Ia harus menyelesaikan semuanya dan meminta Je menandatangani dokumen itu. Hari yang melelahkan!  ***      Tiga hari sudah Anya berada di kantor ini. Dan bagaimana kondisi Anya? Lelah. Bagaimana tidak? Je benar-benar konsisten dengan ucapannya. Ia tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Atau bahkan sekedar membalas pesan Anya walau hanya singkat seperti “ya” dan “tidak”. Tapi nyatanya pria itu benar-benar tidak mempedulikan apapun tentang kantor. Hampir setiap malam ia mengadu pada Becca tentang Jeremy, tapi bukannya menghibur, Anya hanya mendapat ucapan semangat dari sahabatnya. Benar-benar tidak membantu sama sekali. Menurut Becca, Jeremy memang terkadang bersikap menyebalkan tapi sebenarnya pria itu sangat baik hati. Anya harus berjuang lebih lagi untuk bisa bekerja sama dengan pria itu. Walau sebenarnya maksud Becca lebih dari sekedar menjadi rekan kerja. Menjodohkan Anya dengan Jeremy, mungkin?      Anya menghela nafas Panjang. Menatap layar komputer di hadapannya. Semua tugas pria itu, Anya yang mengerjakan. Tapi jangan anggap Anya menyerah dan mengikuti apa kata Je. Anya terus menghubungi pria itu setiap pagi, siang bahkan hingga akhir jam kerja. Ia juga memberondong Je dengan semua email laporan dari divisi-divisi lain untuk Je. Anya juga mengirimi Je pesan-pesan singkat yang berisi dengan laporan singkat.      Dibalas atau tidak, Anya tidak peduli. Anya hanya berusaha melaporkan apa yang Je harus tahu. Ia hanya berusaha menjalankan tanggung jawabnya sebagai asisten dengan baik. Walau pada akhirnya Anya sendiri yang membubuhkan tanda tangan virtual Je dan memeriksa semua laporan yang masuk setelah menjurnal hasil keputusan dan laporan divisi lain.      Anya merentangkan kedua tangannya ke atas. Sedikit mengulet karena otot-otot tubuhnya terasa sangat letih sekarang. Ia melihat jam dinding dan masih menunjukkan pukul tiga sore. Anya mendesah saat melihat tumpukan laporan di mejanya masih menggunung. Hengkangnya Je ternyata membawa setumpuk pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Terlebih Anya masih dalam tahap penyesuaian.      Anya berdiri sejenak untuk membuat kopi manis di pantry. Mungkin sedikit dorongan kafein bisa membuat matanya lebih segar. Saat ia beranjak dari ruangannya, Danny memanggil Anya.      “Anya, ada rapat direksi dan kau diminta hadir sekarang.”      Sejenak Anya merasa bingung apa yang harus dilakukannya apalagi di hari pertamanya bekerja. Rapat direksi harusnya dihadiri oleh Je, tapi bagaimana jika Je tidak mau menyentuh lantai kantor manajemen ini? Apa yang harus Anya lakukan? Ia menggigit jarinya dan mencoba berpikir.      “Sudah, kau tidak perlu mencemaskan kehadiran pria itu. Para direksi sudah terbiasa melakukan rapat tanpa CEO. Mereka hanya butuh kau untuk menyampaikan isi rapat pada Je. Jadi, datanglah tanpa perlu meminta Je datang,” imbuh Danny seolah mengerti apa yang Anya pikirkan.      “Oh… oke.”      Anya pun mengambil buku agenda, bolpen dan ponselnya. Sembari berjalan ke arah ruang rapat, Anya memberikan kabar pada Je. Walaupun pria itu tidak hadir, setidaknya Anya sudah memberikan informasi mengenai rapat direksi hari ini.      Dari dalam mobil Range Rover putih miliknya, Je menyempatkan diri melihat ponselnya. Sebuah pesan masuk datang dari asisten barunya.      [Direksi akan mengadakan rapat pukul tiga sore ini. Aku tahu kau mungkin tidak akan datang, tapi aku rasa harus menyampaikan informasi ini padamu. Walau kau tidak hadir, setidaknya kau harus tahu apa yang terjadi. Karena kau adalah CEO kami.]      Je hanya melihatnya lalu meletakkan ponselnya lagi di atas car holder lalu kembali menyetir menuju ke tempat latihan basketnya. Tidak begitu mempedulikan apa yang Anya katakan. Walau sebenarnya ia merasa tergelitik dengan kata-kata yang Anya gunakan. Anya menekankan peran dan statusnya di perusahaan dan seolah jika ia tidak datang atau bahkan tidak tahu apapun, maka ia tidak bertanggung jawab sebagai seorang pimpinan. Tapi Je buru-buru mengenyahkan pikiran itu dari otaknya karena ia tidak akan pernah menggeser keputusan yang sudah ia buat sendiri.      Je sebenarnya sedikit kagum dengan kegigihan Anya. Baru kali ini ada asistennya yang memberikan kabar tentang apapun yang dikerjakannya di kantor. Padahal Je sudah jelas-jelas menunjukkan ketidakpeduliannya tentang masalah kantor. Tapi Anya memang berbeda. Ia tidak mundur sedikitpun dan tetap berusaha melakukan tugasnya.      Di sisi lain, rapat direksi itu akan segera dimulai. Seluruh petinggi manajemen satu per satu memasuki ruangan rapat. Anya masuk dan mengambil duduk di barisan belakang para direksi dan manajer. Ia tahu posisinya hanya sebagai pencatat notula jadi ia tidak bisa duduk di deretan depan, walau mungkin ia akan menggantikan Je untuk bersuara dalam rapat.      Dari ujung pintu ruangan rapat, Jo masuk ke dalam. Ia melihat sosok Anya yang sedang sibuk dengan agendanya di sudut sana. Asisten Jo mempersilakan Jo duduk di kursi yang sudah diberi penanda namanya tapi Jo menolak.      “Aku akan duduk di kursi lain. Agak sedikit kurang nyaman untuk duduk bersama dengan banyak orang di sini.”      Asisten Jo langsung mengerti. Ia tahu Jo mengidap penyakit asma dan cukup sering kambuh. Mungkin karena itu, Jo tidak bisa berdesakan dengan banyak orang. Ia memaklumi hal itu dan memilih duduk di belakang. Padahal sebenarnya Jo hanya berdalih agar ia duduk di samping Anya.      Entah mengapa wanita itu menarik hatinya. Ia tidak seperti wanita lain di negeri ini yang dengan terang-terangan ‘menjajakan’ dirinya pada para pria. Anya terlihat berwibawa, mampu membawa dirinya dan professional. Wanita itu membuat Jo penasaran.      “Sebelahmu kosong?” tanya Jo sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Anya mendongak, mendengar suara bariton Jo lalu tersenyum.      “Sure. Silakan duduk di sini.” Anya memberikan tanda agar Jo duduk di sampingnya. Jo pun membantingkan tubuhnya di kursi sebelah Anya.      “Ternyata jabatanmu di sini tinggi juga ya? Level manajer ke atas?” tanya Anya membuka percakapan. Ia terkejut melihat sosok Jo di rapat pimpinan seperti ini. Tadi siang ia belum sempat berkenalan lebih jauh dan kini ia bertemu pria menawan itu di sini.      Beruntung ada Jo. Anya tidak perlu canggung dan kesepian. Setidaknya ada seseorang yang ia kenal di sisinya.      “Jabatanku? Ya… bisa kau lihat sendiri,” jawab Jo singkat. Ia tidak mau menyombongkan diri atas posisinya sebagai Direktur Audit dan Keuangan.      “Level asisten manajer? Manajer atau direktur?” Jo tersenyum, membiarkan Anya menebak-nebak.      “Apakah posisiku penting untukmu?”      “Hah? Oh… tentu saja tidak. Aku hanya mencoba menempatkan diri. Setidaknya jika jabatanmu lebih tinggi, aku bisa mungkin… lebih hormat padamu, mungkin?” Anya tersenyum konyol setelahnya. Jo tertawa renyah. Wajah Anya yang polos terlihat sangat menggemaskan.      “Kurasa dalam pertemanan tidak perlu memandang status, jabatan, kekayaan atau apapun. Tak peduli siapa kau dan siapa aku, yang penting kita tahu bahwa kita berteman. Benar kan, Teman?” Jo kini menyurungkan tangannya di depan Anya. Anya terkekeh lalu menyambut uluran tangan itu. Siapa yang tidak senang memiliki seorang teman di tempat baru ini? Apalagi jika Jo, si pria menawan itu yang mau menjadi teman pertamanya di sini.      Setelah berbincang singkat, rapat pun dimulai. Pimpinan rapat kali ini adalah Corporate Communication, divisi yang bertugas untuk menangani citra dan reputasi perusahaan serta mengurus acara-acara formalitas seperti rapat tahunan, ulang tahun perusahaan dan layanan masyarakat perusahaan atau yang biasa disebut Corporate Social Responsibility (CSR).      Agenda yang mereka bicarakan adalah mengenai perayaan ulang tahun perusahaan yang akan diadakan dua minggu lagi. Anya mencatat semua persiapan dan konsep acara yang dibuat dengan detil. Tiba-tiba sebuah pertanyaan diajukan padanya.      “Jadi, Miss Anya… Apakah bisa memastikan CEO kita memberikan sambutan di hari itu?” pertanyaan singkat yang membuat Anya kehabisan kata-kata. Bisakah ia membawa Je ke dalam acara itu?      Anya berdiri dari tempat duduknya untuk menjawab. Seketika seluruh pasang mata tertuju padanya. Mereka menanti jawaban Anya. Bahkan beberapa di antara mereka sudah pesimis Anya mampu membawa Je ke acara penting itu. Beberapa orang lagi tersenyum sinis, seolah yakin Anya pasti tidak akan bertahan lama di hotel ini karena ulah Je.      “Aku tidak bisa memastikan apakah beliau bisa melakukan itu atau tidak. Tapi aku akan mencobanya.”      Rapat pun berakhir dan jam pulang kantor telah datang. Setiap staff manajemen berpisah satu sama lain, termasuk Anya. Entah dipertemukan takdir atau apapun, Anya kini kembali satu lift bersama Jo.      “Lho, kau lagi!” pekik Anya terkejut dan Jo tersenyum. Ia memberikan tempat untuk Anya berdiri di sampingnya.      “Sepertinya kau mendapat tugas yang sulit tadi saat rapat,” pancing Jo membuka pembicaraan.      “Entahlah. Jika dibilang sulit, tidak ada pekerjaan yang mudah kan? Tapi jika dibilang mudah, sepertinya aku terlalu melebih-lebihkan karena nyatanya tidak demikian.”      “Aku yakin jika Mrs Sally mempekerjakanmu, ia yakin kau mampu. Jadi, tetap semangat!” Kehadiran Jo memang menjadi penolong bagi Anya. Di saat semuanya serba suram, Jo datang untuk memberikan kekuatan dan itu lebih dari cukup.      Kini keduanya berpisah karena mobil Jo ada di parkiran sementara jemputan Anya menunggu di lobby.      Sesampainya di parkiran, Jo berpapasan dengan Je yang baru saja pulang dari latihan.      “Kau baru pulang?” sapa Jo seramah mungkin pada Je. Je menghentikan langkah kakinya setelah melalui Jo.      “Mengapa kau bertanya? Apakah kau datang ke kantor kali ini untuk menunjukkan bahwa dirimu lebih layak menjadi CEO dibandingkan denganku?” Belum juga Jo memberi tanggapan, Je sudah melenggang jauh. Seolah tidak mau mendengarkan ucapan Jo.      “Aku hanya ingin menyapamu. Itu saja, Kak.”  ***   A/N: Sampai di sini, siapa yang jadi tim Jo? Nulis ini sambil meleleh membayangkan Jo. Ntar berikutnya lebih leleh lagi. Hahaha... Sabar ya... Pastikan kalian sudah follow saya supaya tahu update karya-karya saya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD