Anya menghela nafas panjang saat memutuskan untuk mencoba menghubungi Je mengenai hasil rapat. Sepanjang jalan menuju kediaman Halim, Anya berusaha memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan di hadapan Je. Setelah beberapa saat berpikir, Anya memutuskan untuk menghungi Je. Anya sudah menghubungi Je sebanyak tiga kali namun panggilan itu tersambung pada kotak suara.
Anya mengendus sebal. Harus berapa banyak kali yang dibutuhkan untuk menghubungi pria menyebalkan itu? Anya sepertinya harus menurunkan egonya dan tetap berusaha menjalankan bagiannya dengan baik.
“Sekali lagi…” Anya kemudian mencoba menghubungi ponsel Je. Tapi lagi hasilnya sama. Kotak suara.
Anya membanting dirinya ke sandaran kursi dan mengusap wajahnya kasar. Sejujurnya ia sudah sangat jengkel dan marah pada atasan tidak manusiawi seperti Je! Menjadi sekretaris Rivaldi jauh lebih baik dibandingkan dengan mengatasi Je walau pada awal-awal ia bekerja sering mendapatkan amukan Rivaldi. Tapi itu masih bisa dimaklumi, mengingat Rivaldi bukanlah tipe atasan yang marah tanpa sebab. Dan ia juga bukan tipe atasan yang suka memerintah tanpa memberi arahan.
Berbeda dengan sekarang. Berhadapan dengan atasan seperti Je, Anya merasa terombang-ambing. Tanpa arahan, tanpa tujuan dan tanpa bantuan. Belum lagi perlakuan tidak sopan pria itu yang membuat Anya makin gemas. Pesan-pesannya tidak dibalas. Teleponnya tidak diangkat. Ia diusir secara terang-terangan dari kondominium Je. Anya sendiri masih terheran-heran bagaimana bisa pria seenaknya sendiri seperti Je ini menjadi MVP dalam basket? Sikapnya saja bertolak belakang.
“AHHHH, SEBAALLLLL!!!” maki Anya dalam Bahasa Indonesia dan langsung menarik perhatian sopir. Pria di balik kursi kemudi itu sempat melirik Anya yang berteriak karena frustasi.
“Are you okay, Miss?” tanya sang sopir memastikan kondisi Anya.
“Maafkan aku yang berlebihan. Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah karena urusan kantor.” Anya menggaruk tengkuknya dengan sedikit sungkan.
Mobil yang ditumpangi Anya telah sampai di kediaman Halim. Anya bergegas turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu baginya. Namun Anya lagi-lagi dibuat terkejut dengan kehadiran sosok pria menawan yang ia temui di kantor, Jo. Pria itu sedang bersantai dengan menyilangkan kakinya di atas meja sambil membaca-baca majalah bisnis.
Merasa terkejut, Anya mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
“Hei, Jo! Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Anya terkejut.
“Apakah tuan rumah tidak boleh pulang ke rumahnya?” Bukannya menjawab, Jo hanya tersenyum manis dan membalas dengan pertanyaan.
Cara bicaranya sama persis seperti saat keduanya berbincang di kantor. Jo enggan menyampaikan jawabannya langsung. Ia lebih suka membalas ucapan seseorang dengan pertanyaan karena ingin orang itu menafsirkan sendiri ucapannya. Terdengar sedikit aneh memang, tapi Jo hanya ingin membuat orang lain memiliki pemikiran yang lebih terbuka daripada menunggu jawaban dari sang empunya jawaban.
“Tuan rumah?” Anya makin bingung. Apakah benar dugaannya selama ini? Jangan-jangan…
Anya melirik foto keluarga yang dibingkai besar di depan bagian tengah ruangan. Sesaat Anya merasa begitu bodoh tidak mengenali Jo. Ia adalah putra kedua keluarga Halim. Dan benar, ia adalah adik kandung Je.
“Astaga! Bisa-bisanya aku tidak mengenalimu. Maafkan aku, Mr Jo!” ucap Anya sambil tersenyum malu. Bagaimana bisa ia tidak mengenali Jo? Jo tertawa kecil.
“It’s okay, Anya. Mungkin karena aku tidak ada di rumah saat kau datang dua hari lalu,” kali ini Jo menjawab dalam Bahasa Indonesia. Dan, Anya merasa tertipu oleh Jo sejak di kantor tadi. Pria itu bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengannya.
“Aku harus ke Stanford untuk memimpin seminar alumni di sana lalu lanjut dinas beberapa hari setelahnya,” imbuh Jo. Jo adalah alumni dari Stanford University, salah satu universitas terbaik di Amerika. Memang tidak sebergengsi Harvard namun lulusan Stanford University juga sangat diminati oleh perusahaan-perusahaan besar.
Jo ternyata cukup bersemangat untuk menceritakan tentang kuliah, keluarga bahkan sebagian tentang dirinya pada Anya. Keduanya larut dalam pembicaraan untuk saling mengenal satu sama lain hingga jam makan malam tiba. Di rumah sebesar itu hanya ada mereka berdua dan para pelayan, sebelum akhirnya Viona datang dan bergabung di meja makan bersama kedua anak muda itu.
***
-H-10 sebelum perayaan ulang tahun perusahaan-
Je melirik ponselnya yang dinonaktifkan sejak kemarin. Ia jengah mendapatkan panggilan dari Anya yang mengusiknya setiap saat. Ia sungguh kagum dengan kegigihan Anya. Bayangkan saja dalam sehari Anya bisa melakukan 50 panggilan, 100 lebih pesan singkat dan setidaknya 30 email. Ponsel Je terus berdering setiap saat. Tapi Je tidak pernah mau mengangkatnya walau ia sendiri jengah mendapatkan panggilan Anya.
Kepalanya langsung pusing saat setiap kali ponselnya berdering dan menampilkan nama Anya di sana. Bahkan saat berlatih basket sekalipun, ponselnya tidak berhenti berdering. Ia sungguh kesal dan sebal dengan wanita satu ini. Sekalian saja Je matikan ponselnya agar tidak perlu mendapat panggilan dari Anya.
Je melihat daftar panggilan. Ada beberapa nama yang terpasang di sana, namun ia terkejut saat melihat bukan Bella yang berada di puncak daftar panggilan, tapi kali ini lagi-lagi diisi nama Anya. Menelepon lebih dari lima puluh kali dan meninggalkan lima puluh pesan dalam kotak suara yang berisi tentang lapran kantor dan lebih dari seratus email yang belum terbaca. Astaga! Betapa wanita satu ini merepotkan Je!
Wanita ini terbuat dari batu mungkin karena ia juga sama keras kepalanya. Ia tidak peduli Je membalas atau tidak, ia hanya terus menghubungi Je tanpa henti. Makin dipikir, makin Je merasa tidak menyukai kehadiran Anya.
Sepertinya, pilihannya pada Anya adalah sebuah kesalahan. Wanita itu hanya menambah daftar rasa sebalnya tentang dunia bisnis, kantor dan Ibunya. Ia bahkan lebih parah dibanding Ibunya yang suka menuntut. Di mata Je, Anya terlihat seperti benalu yang tidak pernah lepas. Membuat risih dan sepertinya tidak tahu malu walau ditolak dengan berbagai macam cara.
Jika memang Anya terus berusaha mendobrak pertahanan Je, baiklah Je akan meladeninya. Mari melihat siapa yang menang dan siapa yang goyah dalam hal ini. Yang pasti, Je tidak pernah mengizinkan kekalahan!
Daripada mengurusi Anya yang membuat pusing, lebih baik Je menghubungi kekasihnya saja.Setidaknya mendengar suara menggemaskan Bella bisa membuat hatinya jauh lebih baik.
Setelah menghubungi kekasih kesayangannya, Je bersiap untuk melakukan ritual paginya sebelum latihan di lapangan basket, jogging. Diamond Group memiliki jogging track yang mengelilingi lapangan golf mereka.
Je mengambil jaket training-nya lalu mengeratkan resletingnya dan mengenakan sepatu jogging miliknya. Memasang earphone dan memutar lagi dari iPod terbarunya. Tidak peduli siapa yang lewat dan siapa yang menyapa, Je tenggelam dalam dunianya sendiri.
Je berjalan keluar dari lift untuk memulai ritual jogging-nya di jogging track lantai dasar hotel. Tapi tanpa ia sangka, di depan pintu penghubung area dalam hotel dengan jogging track, seorang wanita cantik di dalam balutan seragam Diamond Group sudah menunggunya sambil membawa beberapa buah map di pelukannya.
Anya rupanya mencari informasi rutinitas Je di dalam hotel. Dan ia mendapatkan informasi bahwa setiap pukul 6 pagi, Je melakukan jogging. Dan jadilah Anya di sini. Berangkat lebih pagi untuk menunggu Je datang. Ternyata benar, Je datang ke jogging track pagi itu.
Je mendengus sebal. Lagi, wanita merepotkan itu datang lagi dan lagi. Ia yakin kali ini Anya sengaja datang dan menunggunya untuk hal yang sama. Melaporkan urusan kantor dan memintanya mengurus semua urusan memuakkan itu.
“Wanita ini benar-benar merepotkan!” maki Je dalam hatinya.
Berusaha untuk tidak memperhatikan Anya, Je meneruskan kegiatannya dan berjogging. Anya melangkah dengan cepat mengekor Je yang terus berlari.
“Mr Je, Anda harus membaca laporan ini. Ini membutuhkan pertimbangan dan keputusan Anda.” Anya terus mengikuti Je bahkan ia sudah setengah berlari karena berusaha menyamakan langkahnya dengan Je. Tapi bodohnya, Anya masih menggunakan sepatu hak tingginya. Alhasil, kakinya terpelecok.
“AUCHH!” pekik Anya dan langsung terhenti di tempat. Je berhenti sejenak. Hanya untuk menengok karena suara pekikan Anya. Tapi tidak berniat menolong.
Hanya beberapa detik ia menengok lalu kembali lari. Mengabaikan Anya yang sekarang terlihat seperti pembagi brosur yang sering diacuhkan orang-orang yang berlalu lalang. Walau Anya kesakitan sekalipun, Je tetap tidak akan bergeming.
Melihat Je yang sudah menjauh, Anya menyadari kebodohannya. Ia melepaskan sepatunya dan meninggalkan begitu saja di sana, dan dengan segera mengambil kembali map-map yang berjatuhan lalu kembali mengejar Je walau tertatih dan sedikit kesulitan karena rok seragam yang cukup ketat membalut pinggulnya.
“Mr Je… kumohon… hah… hah… bisakah Anda memberikan sedikit waktu?” Anya terus memohon dengan nafas tersengal dan kakinya yang mulai terasa pegal.
Dan Anya berhasil! Je berhenti dan membalikkan badan menatapnya. Sayangnya bukan dengan tatapan ramah, tapi tatapan permusuhan dan kebencian.
“Bukankah waktu itu sudah jelas kukatakan, aku tidak mau mengurus hal apapun tentang kantor, hotel dan semua hal yang berkaitan dengan Ibuku. Jadi, jangan cari aku lagi dan putuskan saja sendiri!” jawab Je ketus lalu kembali berlari.
Dalam hati Anya ingin sekali menangis. Je sama sekali tidak memberikan waktu baginya sebentar saja. Apa dia tidak tahu perjuangan Anya? Apakah pria itu sama sekali tidak tahu bagaimana waktu-waktu sulit yang dialami Anya? Seluruh berkas yang ia bawa adalah hasil lembur selama tiga hari dan tak sedikitpun Je peduli. Seolah seluruh kerja kerasnya tidak ada harganya di mata Je.
Tanpa terasa air mata Anya mengalir begitu saja. Tapi ia menghapusnya cepat. Apakah Anya menyerah? Tidak! Anya bukan wanita yang mudah menyerah. Ia kembali mengejar Je dan menjatuhkan harga dirinya hingga ke tanah. Lupakan harga diri. Lupakan rasa malu. Anya harus berhasil karena ini tanggung jawabnya.
“Setidaknya berikan aku waktu lima menit saja… tidak… tiga menit saja… tidak, itu terlalu lama. Satu menit. Satu menit untuk menjelaskan semua yang harus kau tahu.”
Je berhenti. Wanita ini benar-benar merepotkan. Bahkan lebih menjengkelkan dibanding Bella yang sedang merajuk atau cemburu. Oke, Je sepertinya harus memberi peringatan keras. Anya tidak bisa dibiarkan begitu saja atau dia akan melakukan hal yang membuat Je makin pusing dan jengah.
Anya tersenyum. Hatinya merasa akhirnya usahanya tidak sia-sia. Je berhenti dan kini menatapnya. Menunggu Anya memulai pembicaraan. Walau gesture tubuh Je tidak sopan dan hanya menyilangkan tangan di depan d**a sambil menatap Anya seolah menantang, tapi Anya tidak boleh membuang kesempatan langka. Ia mendekatkan diri dan membuka map pertama di tangannya. Menjelaskan dengan cepat perkembangan yang dilaporkan divisi lain.
Je memutar pandangannya ke segala arah. Merasa malas meladeni Anya. Makin didengarkan, makin ia pusing dengan penjelasan Anya. Makin ia muak dengan semuanya. Sepertinya ini saatnya memberi pelajaran pada Anya bahwa seorang Je tidak mudah diluluhkan.
Dari bawah map, Je menampik semua berkas yang Anya bawa. Layaknya tip off* saat bermain basket. Tanda bahwa pertandingan antara Je dan Anya dimulai. Siapa yang paling kuat bertahan di sini?
Alhasil, semua kertas-kertas laporan di dalam map itu terlempar dan bercecer di lantai bahkan beberapa lembaran masuk ke dalam kolam ikan.
Betapa terkejutnya Anya! Hasil kerja kerasnya dibuang dan diserakkan begitu saja oleh seorang Jeremy! Pria tidak punya aturan! Seenaknya sendiri dan tidak punya hati! Pria itu tidak menghargai apapun yang Anya lakukan dan sekarang malah menambah masalah. Hidupnya dipertaruhkan dalam pekerjaan ini dan pria itu seenaknya saja membuang semua laporan itu! Dan sekarang pria itu lagi-lagi meninggalkan Anya.
Anya tidak bisa menahan emosinya lagi. Tangannya terkepal dan air mata penuh kebencian menetes dari matanya. Sementara di depan sana, Je tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjahili Anya.
“DASAR b******k!!!” teriak Anya dengan kencang, melepaskan semua emosi negatif yang menumpuk di kepalanya.
Saking kencangnya, Je yang baru berlari beberapa meter berbalik dan menatapnya. Je ikut tersulut emosi. Wanita merepotkan ini nyatanya malah membuatnya makin jengkel. Bisa-bisanya ia memaki seperti itu padanya. Bagaimanapun Je adalah atasannya bukan?
“Apa kau bilang?”
“b******k! Mentang-mentang kau anak pemilik perusahaan, kau bisa semena-mena berbuat seperti ini padaku! Kau tahu berapa banyak ucapan miring tentangmu di dalam kantor? Semuanya mengatakan kau memang tidak becus jadi CEO dan benar ucapan mereka. Kau tidak lebih dari seorang sampah masyarakat yang hanya menggunakan topeng MVP-mu dan menyembunyikan diri di balik ketenaran dan prestasi basket. Dan nyatanya kau memang tidak lebih dari seorang b******k!” Anya lega. Semua uneg-unegnya keluar begitu saja. Terlalu lama ia bersabar dan Je tetap memperlakukannya tidak sopan.
Je melangkah mendekat pada Anya dengan amarahnya. Bagaimana bisa dari bibir manis wanita itu keluar kata-kata paling tidak menyenangkan yang pernah Je dengar?
“Apa katamu barusan?” kini Je sudah berjarak beberapa senti dari Anya. Bukannya takut, Anya memandang nyalang Je dengan sedikit mendongak karena pria setinggi 190 cm itu jauh lebih tinggi dibanding Anya yang hanya 165 cm.
“Kau- tidak- lebih- dari- sampah!”
“KAU!!!” Je sudah hampir melayangkan pukulannya ke wajah Anya. Jika saja manusia di hadapannya ini bukanlah wanita, dipastikan tangan besar Je sudah melayang membuat lebam di wajah mulusnya. Dengan geram, Je berbalik dan meninggalkan Anya. Lebih baik pergi daripada mengurus wanita itu lagi.
“Untuk apa saat itu kau memintaku menjadi asistenmu kalau kau sendiri saja tidak mau bekerja sama? Mengapa? Kau bilang kau akan menunggu kerja sama kita, tapi nyatanya aku diperlakukan seperti seekor lalat yang tidak berarti bagimu. Kau tahu? Kau adalah orang paling b******k yang pernah aku kenal! Persetan dengan gelar MVP’mu, persetan dengan Ibumu yang hebat atau jabatanmu sebagai CEO, karena kau itu… ASSH*LE!” Anya menumpahkan semua kekesalannya pada Je yang telah pergi.
Setelah sosok Je menjauh, Anya menundukkan diri dan menangis sejadi-jadinya. Baru beberapa hari pertama ia di kantor ini, ia merasa tidak sanggup lagi bertahan. Mengapa ia harus berhadapan dengan Je? Bagaimana caranya ia bisa menyelesaikan semua masalah ini? Atau mungkin pertanyaan lebih pentingnya, dapatkah ia menyelesaikan masalahnya?
***
A/N: Kasian sama si Anya. Semangatttt!!! Ada yang mau kasi semangat buat Anya?
Keterangan:
Tip off adalah istilah dalam dunia basket untuk memulai pertandingan. Wasit akan melambungkan bola ke atas dan kedua kapten tim akan berebut untuk memukul bola pertama kali.