Wanita itu baru saja memegang hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Tangannya bergetar dan air mata menetes di pipinya. Hatinya merasakan sedih yang luar biasa. Ia selalu menjaga kesehatannya dan mengapa tiba-tiba saja dokter mengatakan bahwa sel kanker itu hidup dalam hatinya.
“Maafkan kami, Bu. Kami harus menyatakan bahwa Ibu mengidap kanker hati.”
Erica buru-buru menghapus air matanya dan berusaha tetap tersenyum. Walau dalam pikirannya sekarang berkecamuk. Semua yang ia tahu tentang kanker adalah penyakit mematikan yang hingga hari ini belum ada obatnya. Di tengah semua mimpi dan keinginannya yang besar untuk membahagiakan putrinya, ia mendapat kabar itu. Bak tersambar petir di siang bolong.
Walau Erica berusaha untuk tersenyum, tapi ia tidak bisa membendung lagi rasa sedih, putus asa dan frustasinya. Air matanya entah sudah berapa banyak yang mengalir di tengah senyumannya.
“Berapa lama waktu hidup saya, Dok?” tanya Erica memastikan.
Yang ia tahu jika seseorang terkena penyakit kanker, maka waktu hidupnya tidak akan lama. Ia sudah memiliki impian untuk melihat Anya menikah dan memiliki anak. Menimang cucunya, melihat bayi kecil itu berkembang dan berjalan. Hanya itu keinginan sederhananya sebagai seorang Ibu. Ia hanya ingin melihat anak gadisnya memiliki kehidupan yang bahagia dan memiliki seseorang yang menjaganya.
Apakah mimpi kecil itu terlalu berat untuk dikabulkan Tuhan?
Jika ia harus pergi lebih cepat, setidaknya ia ingin memohon agar Tuhan berbaik hati mengizinkannya melihat putrinya bahagia. Memiliki suami yang bisa menjaganya dan memiliki keluarga kecil yang akan menemaninya kelak walau tanpa Erica di sisinya. Tapi sekali lagi, manusia hanya bisa berangan-angan tapi semua Tuhan yang menentukan.
Dokter muda itu menghela nafasnya sambil membetulkan kacamatanya.
“Untung saja penyakit Ibu cepat terdeteksi. Sel kanker ini masih tergolong dalam stadium awal, jadi dengan perawatan dan minum obat secara teratur, kita masih bisa menanganinya sebelum menyebar.”
Secercah harapan Erica rasakan. Ia masih bisa bertahan hidup. Akankah ia menggapai mimpinya?
“Kalau boleh tahu, kira-kira seperti apa perawatannya, Dok?” Erica jelas harus bertanya, sebisa mungkin ia tidak ingin putrinya terbeban oleh penyakitnya. Ia harus bisa menyiapkan semuanya sendiri. Anya tidak boleh tahu penyakit ini.
Dokter muda itu mengambil sebuah brosur dari dalam lacinya lalu menjelaskan prosedur perawatan yang Erica harus jalani. Dimulai dari operasi pengangkatan tumor di hatinya lalu dilanjutkan dengan kemoterapi rutin dan mengkonsumsi obat-obatan yang disiapkan.
Secercah harapan, itu yang Erica rasakan. Ternyata kecanggihan dan penemuan terkini di bidang kedokteran mampu memberikan harapan bagi mereka yang bahkan mengidap penyakit menakutkan seperti kanker sekalipun. Dan untuk mempertahankan hidup, biayanya tentu tidak pernah murah.
Dokter muda itu kemudian menjelaskan rincian perkiraan biayanya di hadapan Erica. Sekali lagi, Tuhan seakan mematahkan harapan Erica untuk tetap hidup.
Erica dan Anya selama ini hidup dalam kondisi yang pas-pas’an. Gaji Anya ditambah dengan penghasilan dagang Erica hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan ditabung sedikit. Untuk biaya pengobatan seperti yang dokter muda itu jelaskan, sudah pasti mereka tidak memiliki dana sebanyak itu. Memang mereka memiliki tabungan tapi itu semua ia kumpulkan untuk pernikahan Anya kelak. Erica tidak ingin mengambil tabungan itu untuk berobat. Ia harus memutar akalnya, mencari cara.
“Saya tidak memiliki uang sebanyak itu, Dok. Apakah tidak ada cara lain?”
***
Anya keluar dari suite mewah Sally. Senyumannya mengembang lebar dan ia seperti mendapatkan jackpot.
“Terima kasih, Mr George. See you soon!” pamit Anya pada George yang membukakan pintu. Pria itu sangat rendah hati dan murah senyum. Tidak seperti Sally yang keras dan dominan. Memang benar kata orang, jika berjodoh itu pasti saling melengkapi. Pasangan senior ini buktinya.
Anya tidak bisa lagi menahan betapa senangnya hatinya saat ini. Ia melompat dan menari kegirangan dengan gerakan sembarangan di luar kondominium.
Tanpa ia sadar, seorang pria jangkung dengan tubuh tegap itu bersandar di depan pintu kamar suite lain sambil mengamatinya. Pria itu heran, bagaimana bisa ada wanita yang begitu polos hanya karena ia mendapatkan kabar baik. Bibirnya tersenyum miring melihat tingkah Anya yang sekarang berubah menjadi sangat malu.
“Ka-kau… sudah berdiri di sana dari tadi?” Tidak bisa Anya bayangkan bagaimana wajahnya saat ini. Malunya luar biasa. Berjingkrak dan menari seperti anak kecil di depan pria itu. Oh, malunya…
Je menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Anya sambil bersidekap.
“Yah… cukup lama untuk melihatmu berjingkrak dan menari.”
Pipi Anya terasa panas dan ia yakin wajahnya semerah tomat. Sama seperti saat Je menggombalinya waktu itu. Je mendekatkan wajahnya pada paras cantik Anya. Melihat dirinya ditatap begitu intens dan dekat hingga deru nafas Je terdengar, Anya sontak memundurkan tubuhnya. Lupakan wajah merah karena menahan malu. Pria di hadapannya sudah melihatnya sedari tadi.
“Sampai jumpa lagi, Partner! Semoga kita bisa bekerja sama nantinya,” ucap Je dengan tersenyum manis. Sangat manis bahkan Anya tidak akan bisa melupakan senyumannya.
“A-ah… iya… sampai jumpa… Partner.”
***
Anya masih tidak bisa membendung bagaimana senang hatinya sekarang. Ia bersenandung di dalam lift dan membuat seorang pria muda tampan, yang menjadi satu-satunya penumpang lift memandangnya heran.
Saat dilirik, Anya hanya tersenyum tapi hatinya terus ingin bernyanyi dan berjingkrak. Hatinya bergembira dan penuh dengan ucapan syukur pada Tuhan. Dari sekian juta orang di dunia yang menginginkan bekerja di Amerika, Tuhan memilihnya. Dengan cara yang tidak masuk akal!
Pria itu diam-diam menyunggingkan senyuman manisnya melihat Anya yang polos. Ia menikmati ekspresi Anya yang terlihat menggemaskan.
Pintu lift terbuka dan Anya pun langsung turun. Sementara pria muda itu dengan berat hati melepas kepergian Anya. Lantai yang ia tuju berbeda dengan Anya.
Anya sudah tidak tahan lagi untuk menghubungi Ibunya. Anya mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Erica.
“Ma, aku punya berita baik. Mama dengar ya… “
“Mama mendengarkan,” jawab Erica, berusaha bahagia walau dalam hatinya terasa pedih mendengar fakta bahwa jalan lain untuk bertahan hidup adalah dengan mujizat Tuhan. Dengan kata lain, jika ia tidak mau menerima semua pengobatan maka berapa lama ia masih bisa hidup hanya tergantung pada apa kata Tuhan. Sewaktu-waktu ia bisa pergi.
“Aku diterima kerja di Amerika! Kyaaaaa…. Aku senang, Ma… Aku senang….”
“Oh ya? Puji Tuhan… Mama senang mendengarnya…” Erica berusaha ikut senang. Ikut merasakan bahagia putrinya tapi di saat bersamaan air matanya mengalir dan hatinya terasa diremas. Apakah ini berarti di sisa akhir hidupnya, ia tidak akan bertemu dengan putrinya lagi?
Bagaimana bisa ia mengabarkan kondisinya di saat Anya sedang berbahagia seperti ini? Bagaimanapun juga itu adalah mimpi Anya. Putrinya layak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih layak. Ia tidak boleh membebani Anya. Jika putrinya harus terbang, biarlah ia terbang setinggi yang bisa ia raih. Ia tidak boleh egois dan menariknya kembali ke daratan.
Tapi dari lubuk hatinya yang terdalam, ia hanya ingin ada di sisi Anya di sisa akhir hidupnya. Biarlah ia yang menanggung semua penyakit ini sendiri. Jika memang ia harus meninggal dunia, biarlah Anya tidak menyaksikan penderitaannya semasa hidup. Ia tidak ingin putrinya sedih berlarut-larut dan ikut menderita karenanya. Itu saja.
Erica menahan suara tangisnya dari Anya. Ia menutupi mulutnya saat ia mengingat semua perkataan dokter beberapa saat lalu.
“Mama masih mendengarkanku?” tanya Anya memastikan karena Ibunya tidak bersuara saat Anya menceritakan apa yang terjadi. Erica menghapus air matanya dan berusaha tersenyum selebar-lebarnya. Walau Anya tidak melihatnya, tapi setidaknya Anya harus tahu bahwa Ibunya turut bahagia dengannya.
“Iya… Mama masih di sini…” jawab Erica dengan suara paraunya. Anya merasakan ada yang berbeda dengan suara Erica.
“Mama menangis?”
“Hah? Apa? Menangis? Tentu saja Mama menangis karena terharu. Putri Mama yang cantik bisa bekerja di Amerika. Itu luar biasa ya kan? Dan Mama tahu berapa lama mereka mengontrakku? Dua tahun!”
Erica berusaha menutupi tangis kesedihannya.
Dua tahun. Itu kata dokter. Kemungkinan ia hidup tanpa pengobatan paling lama sekitar dua tahun. Erica menutupi mulutnya dan tangisannya semakin deras. Apakah ini berarti ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan putrinya? Dalam dua tahun ke depan atau bahkan hingga ia berangkat menemui Sang Pencipta.
“Seminggu lagi aku dijadwalkan berangkat.”
“Oh… cepat sekali!” Hati Erica terasa diremas dan ia merasakan sesak tapi ia berusaha mati-matian menahan semua rasa sedih itu. Hanya seminggu waktu yang ia miliki dengan putrinya. Waktu yang sangat singkat. Bisakah ia melepaskan semua rasa rindunya kelak hanya dalam seminggu? Bisakah ia bersama dengan putrinya lebih lama lagi? Ia hanya ingin menikmati masa-masa terakhir bersama putrinya lebih lama lagi. Apakah Tuhan mendengar permohonannya?
Wajah Erica sudah basah karena air mata. Rasa frustasi dan putus asa mendera hidupnya. Tidak ada seorang Ibu pun yang rela berpisah dengan anaknya. Apalagi anak semata wayangnya. Dan vonis dokter tentang penyakitnya terasa begitu kejam. Haruskah ia berpisah dengan Anya?
“Dua tahun ditukar dengan seminggu. Mampukah aku menjalaninya, Ma?” tanya Anya dengan nada sedih. Jujur ia merasakan sedih berpisah dengan Ibunya.
“Jika memang waktu yang kita miliki hanya seminggu di sini, mari kita habiskan bersama, meninggalkan sejuta kenangan dan tidak akan menyesal untuk selamanya,” ucap Erica seolah ia benar-benar akan meninggalkan dunia ini secepatnya. Anya sedikit terhenyak dengan ucapan Erica tapi ia hanya berpikir mungkin Ibunya juga akan sedih kehilangan waktu bersamanya selama dua tahun.
“Aku pasti akan merindukan Mama. Uhmm… bagaimana jika setelah aku pulang ke Malang, kita berkencan?”
“He em… Mama akan menunggumu. Kita akan lakukan banyak hal bersama.”
Air mata Erica mengalir deras begitu panggilan itu berakhir. Ia tidak percaya semua ini akan terjadi dalam hidupnya yang singkat. Ia tidak mampu menjalani hidupnya seperti ini.
***
Pagi itu terasa sangat indah bagi Anya. Semua kejadian kemarin terasa seperti mimpi. Ia tidak menyangka tinggal beberapa hari lagi ia akan berangkat ke negeri impiannya, Amerika. Ia mengambil ponselnya dan melihat email yang masuk.
To : anya_raffles@gmail.com
From: desmond_moore@diamondhotel.com
Berikut adalah tiket pesawat Anda, Miss Anya. Kami juga mengirimkan kontrak kerja Anda dengan Diamond Group beserta dengan surat pernyataan diterima kerja untuk pengurusan visa.
Mata Anya terbelalak. Hatinya sangat senang. Ternyata ucapan Sally tidak main-main. Desmond, asisten Sally ternyata baru saja mengirimkan tiket pesawat dan surat pernyataan kerja untuk mengurus visa kerja Anya.
“Arrrggghhh!!!” Anya berteriak karena girang. Erica terkejut dan langsung mendatangi kamar Anya dengan tergopoh-gopoh, takut terjadi sesuatu pada Anya.
“Ada apa? Ada apa?”
“Mamaaaa…. Aku benar-benar akan berangkat minggu depan!” seru Anya sambil menunjuk ke arah layar monitornya. Erica membaca isi email yang ditunjuk Anya.
“Sungguh? Selamat, putriku!” ucap Erica tulus sambil memeluk putrinya. Anya membalas pelukan Ibunya lalu mengurainya cepat.
“Ma, hari ini kita berkencan ya,” kata Anya dengan semangat. Kencan berdua dengan Ibunya mungkin adalah hal yang paling dirindukan saat ia berada di Amerika nanti.
Erica mengangguk cepat.
“Baiklah. Kita akan berkencan hari ini. Kita mau ke mana?”
“Kita berkeliling kota Batu saja ya, Ma!” Kota Batu sangat dekat dengan Malang, kota tempat Anya tinggal sekarang. Jarak dari kota Malang ke Batu hanya setengah jam dengan motor. Tidak terlalu jauh namun banyak dengan tempat hiburan keluarga.
Erica mengelus kepala Anya lembut. Mungkin ini akan jadi momen yang paling Erica ingat seumur hidupnya. Dan bisa jadi ini adalah momen-momen terakhir bersama dengan putri semata wayangnya.
“Terserahmu saja. Mama setuju-setuju saja.”
Sore haripun tiba. Anya mengajak Erica menghabiskan waktu di kota Batu. Mereka mendatangi tempat wisata terbaru di kota Batu. Sebuah kebun bunga yang luas dengan ragam tanaman yang berwarna-warni. Setiap sudutnya dibangun dekorasi yang dipergunakan untuk kepentingan berswafoto.
Erica dan Anya tidak ingin membuang waktu. Mereka mengambil gambar sebanyak mungkin untuk meninggalkan kenangan bagi satu sama lain karena sebentar lagi mereka tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang lama atau bahkan untuk selamanya.
Setelah puas berjalan-jalan di tempat wisata, Anya memilih sebuah café baru di atas sebuah tebing. Café cantik yang dihiasi dengan rangkaian lampu gantung warna-warni dengan pemandangan gunung di setiap sudutnya. Musik-musik jazz mengalun, mengiringi suasana tenang dan nyaman di dalam café.
Sejenak mereka berdiam untuk menikmati alunan musik. Ibu dan anak itu rupanya menyukai musik jazz yang dimainkan di dalam café. Mereka bahkan menutup matanya untuk menikmati semua hentakan dan permainan ciamik band di depan sana. Pikiran Erica sekarang kembali tertuju pada kenyataan yang akan dihadapinya sebentar lagi. Dengan mata tertutup, ia meneteskan air mata kesedihannya tanpa sepengetahuan Anya.
Anya menoleh ke arah Ibunya. Ia melihat air mata itu menetes. Sesedih itukah yang dirasakan Erica? Bukankah mereka pernah mengalami sebelumnya saat Anya berkuliah empat tahun di Belanda? Mengapa rasanya kali ini berbeda? Erica terlihat seperti orang yang sangat kehilangan.
“Ma…” panggil Anya pelan. Erica buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum berpaling pada Anya.
“Hum… ada apa?” Erica mencoba menunjukkan bahwa ia baik-baik saja
“Apakah Mama sedih karena keberangkatanku ke Amerika?” Erica terkejut dengan pertanyaan Anya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan itu? Hanya satu caranya. Berbohong.
“Tentu saja tidak. Mama tidak apa-apa, lagipula ini kesempatan emas untukmu, Anya. Mana mungkin Mama tidak setuju? Mama hanya akan merasa rindu jika tidak bertemu denganmu. Itu saja,” kata Erica sambil menyentil hidung Anya. Putrinya tersenyum, namun tak lama kemudian bibir tersungging itu berubah melankolis.
“Apa sebaiknya aku batalkan saja kontrak kerjaku. Aku merasa terlalu berat meninggalkan Mama…”
“Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu, Anya! Itu mimpimu dan kau harus mengejarnya. Hal yang membuat Mama senang adalah ketika kau sendiri senang. Jika itu mimpimu, kejarlah. Kesempatan baik ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mama mendukungmu,” potong Erica. Ia tidak ingin mematahkan semangat Anya oleh apapun.
“Aku merasa… aku akan kehilangan Mama.” Satu pernyataan yang lagi-lagi mengiris hati Erica. Tak mampu membendung kesedihannya, Erica kembali meneteskan air mata. Dengan segera tangannya menjulur, memeluk Anya yang sekarang terisak.
“Mama akan baik-baik saja. Jangan cemaskan apapun dan kejarlah mimpimu! Terbanglah selagi kau mampu. Mama akan baik-baik saja di sini.”
Kedua Ibu dan anak itu berpelukan. Mungkin ini adalah pelukan mereka yang terakhir kali.
***
Hari itu datang. Anya dan Erica sudah ada di bandara. Walau hati ini berat melepas kepergian putrinya, tapi Erica hanya ingin yang terbaik baginya. Walau ingin rasanya berlama-lama di sisi Anya, tapi ia tidak boleh egois dan mengorbankan mimpi putrinya sendiri.
Anya memeluk Erica untuk berpamitan.
“Mama… hiks… jaga diri ya…” kata Anya dengan sesenggukan. Begitu juga dengan Erica.
“Kau juga jaga diri. Jaga kesehatan dan jangan sampai berbuat onar. Ingat, kau tinggal di rumah orang jadi harus sopan. Berteman yang baik dan jangan lupakan Tuhan. Mengerti?” pesan Erica, khas seorang Ibu yang mengkuatirkan putrinya. Anya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Erica erat-erat. Menghirup bau Ibunya yang akan selalu dirindukannya dua tahun ke depan.
“Aku akan sering mengabari Mama.” Erica mengangguk.
Anya melangkah masuk ke dalam bandara dan Erica hanya bisa melambai dari depan pintu gerbang. Saat putrinya masuk di dalam, Erica merosot ke lantai dan menangis pilu. Hari ini sepertinya hari terakhirnya bertemu dengan putrinya. Akankah perpisahannya kelak dengan Anya akan sesedih ini? Bisakah ia memohon pada Tuhan untuk memberinya kesempatan bertemu dengan Anya sebelum ajal menjemputnya?
Hanya itu doa sederhana dari seorang Ibu. Hanya itu.
Tiba-tiba pundak Erica ditepuk seseorang. Wanita itu mendongak. Beberapa orang pria dalam pakaian jas menyapanya.
“Nyonya, mari ikut saya!”
***
A/N: Apa yang terjadi dengan Erica?