“Saya adalah kakak baginya, Tuan. Nona Calista, sudah menjaga mendiang adik saya saat sakit di rumah bordir itu.”
Jason hanya menjawab. “Ooo.... “ Saat mendengar cerita Timothy.
“Lalu, Calista adalah siapa bagimu?” Suara itu terdengar begitu mengintimidasi di telinga Timothy.
“Sa-saya tidak berani, Tuan. Saya juga hanya menganggapnya sebagai adik saya.” Keringat dinginnya tiba-tiba saja bercucuran. Padahal Jason tidak sedang melakukan apa pun.
Tak seberapa lama mobil Rolls-Royce Ghost milik Jorge yang dikendarai oleh Jason diparkirnya di tempat khusus. “Turunlah!” perintah Jason kepada Timothy.
Setelah menunggu hampir satu jam pintu kamar ICU yang ditempati oleh Calista terbuka dan terlihat seseorang yang dari tadi ditunggunya.
“Timothy! Hiks, hiks … hiks ...,” isak Calista.
Timothy lalu berlari dengan kaki pincang dan memeluk Calista ikut terisak melihat keadaan Calista saat ini. Wajahnya lebam bengkak tak beraturan, bibirnya juga pecah, sekujur tubuhnya terdapat banyak sekali perban, Timothy tak kuasa menahan air matanya.
Ia begitu prihatin akan nasib Calista, ia pernah berjanji akan satu hal. Namun, seolah takdir selalu saja memberikan cobaan yang begitu besar bagi keduanya, janji tersebut hingga saat ini belum juga berhasil ditepatinya.
“Apa yang terjadi denganmu, Calista?” tanya Timothy.
“Siapa yang berbuat seperti ini? Apakah, Takur sialan itu? Apakah, lelaki India itu?” Calista hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menangis serta memeluk Timothy, semua itu hanya disaksikan oleh Jorge dan Jason.
“Sudah ... sudah ... jangan menangis lagi, sekarang kamu aman di sini, okey? Takur sudah tidak ada lagi, tenangkan dirimu,” bisik Timothy sambil memeluk dan mengusap kepala Calista yang berlindung di dadanya.
“Sekarang beristirahatlah, aku harus kembali sebelum Camila mencariku. Jagalah dirimu baik-baik yah, aku akan mengunjungimu lagi jika diijinkan oleh Tuan baru mu.”
“Tuan Baru? Oh Tuhan ... aku sudah dibeli. Aku, sudah berpindah tangan lagi, dari satu Tuan ke Tuan yang lain. Tuhan, aku harus bagaimana?” batin Calista semakin ketakutan dan tak sanggup memberikan komentar apa pun atas hidupnya lagi,
“Aku rasa dia harus beristirahat,” potong Jorge yang gerah melihat Calista dipeluk-peluk oleh Timothy.
Dia, tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain. Timothy lalu melepas pelukannya dan membisikkan sesuatu kepada Calista, hingga membuat Calista lebih tenang.
“Tidurlah,” ucap Timothy, lalu menaikkan selimut menutupi tubuh Calista.
Hingga, ia yakin Calista sudah benar-benar memejamkan matanya, Timothy lalu berbalik dan memAndang serius kepada kedua orang di hadapannya itu.
“Tuan, ada yang harus aku beritahukan kepada kalian berdua. Apakah, kita bisa berbicara di depan?” tanya Timothy dengan serius, keduanya mengangguk bersamaan dan kini mereka bertiga telah duduk di sebuah sofa pada ruangan khusus rapat para dokter-dokter spesialis.
“Apa, yang ingin kau beritahukan hingga kami harus menyediakan ruangan ini untuk mu, Timothy?” Jason selalu saja mengintimidasi lawan bicaranya. Tapi kali ini ada yang lebih penting yang harus disampaikan oleh Timothy, sebelum semuanya terlambat.
“Tuan, Calista adalah penghibur khusus di tempat kami, dia sebelumnya dibeli oleh Madam dari satu tempat Bordir di Amerika. Lalu dia dibawa ke Barcelona ke tempat terakhir kalian menebusnya yaitu Club Parradise. Madam yang belum pernah kami temui selain Camila telah berpesan untuk memperlakukan Calista seburuk mungkin tapi dia tidak boleh mati, tidak boleh dijual atau berpindah tangan kepada majikan baru dengan pembelian putus. Siapa saja yang ingin menjamahnya harus memakai kondom, karena Nyonya mengingatkan bahwa Calista tidak boleh sampai hamil. Dia berpesan akan menjemput Calista tepat saat usianya dua puluh satu tahun, yaitu dua minggu dari sekarang.”
“Madam, terkenal sangat kejam, Tuan. Oleh karena itu seperti yang Anda lihat sendiri, bagaimana Camila ketakutan dan hendak pergi meninggalkan Club Parradise sesegera mungkin agar dapat menyelamatkan hidupnya. Tuan, kumohon pergilah dari Barcelona, pergilah, Tuan! Selamatkan Calista sesegera mungkin, Tuan!! PERGILAH TUAN!” Timothy cukup emosional saat menceritakan garis besar informasi yang dia tau tentang Calista.
Betapa tercengangnya Jorge mendengarkan informasi dari Timothy, bagaimana mungkin ada seorang sesama wanita yang begitu jahat terobsesi untuk menyiksa seorang wanita muda yang tak berdaya. Siapa sebenarnya Madam, yang dibicarakan oleh Timothy. Jika benar apa yang disampaikan oleh Timothy, bukankah nyawa Calista saat ini benar-benar dalam keadaan yang berbahaya? Ternyata, Calista bukan hanya terjebak dengan perdagangan manusia, tapi ada sesuatu yang lebih dari kasus ini.
“Jorge, hidupmu berbeda dengan hidup ku. Mengapa, membuat segala sesuatunya menjadi sangat sulit hanya karena seorang wanita? Saat ini kau sedang bersama denganku, lalu bagaimana jika aku ada tugas lain dan harus pergi lantas terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan menimpa dirimu?” cecar Jason setelah menyuruh Timothy untuk pergi ke kamar Calista sementara dia berunding dengan adiknya.
“Lalu kau akan membiarkan Calista tersiksa setelah tau apa yang akan dialaminya dan sudah dilaluinya selama ini? Jason, kemana hatimu, hah?!! Sebenarnya apa yang kau kerjakan selama ini hah? Aku cukup terkejut melihatmu membunuh begitu banyak orang, bahkan dalam kurun waktu tidak sampai satu jam, Jason! Katakan sejujurnya apa pekerjaanmu?” gantian Jorge mencecar kakaknya.
“Kita tidak sedang membahas kehidupanku, Jorge!”
“Pikirkanlah apa yang akan menimpanya, tidakkah kau merasa iba kepada wanita lemah itu?” Jorge tidak menyangka dengan penolakan dan sikap antipasti dari Jason.
“Lalu kau rela berkorban nyawa deminya?” Jason juga tidak terima dengan sikap Jorge yang dirasanya terlalu bersimpati kepada seseorang yang baru dikenalnya. Bahkan sampai terobsesi untuk memiliki Calista, ia tidak menyangka jika saudaranya itu mau menerima resiko yang seharusnya tidak perlu mereka ambil hanya karena seorang w************n.
“Yah! aku rela, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya dan tentu saja aku rela mati deminya, demi cintaku padanya.” Jorge menjawab tanpa rasa ragu sama sekali sampai membuat Jason tercengang melihat adiknya itu.
“Kau sangat menjijikkan, Jorge! Apakah, kau tidak belajar dari apa yang terjadi pada orang tua kita? Apakah cinta lantas menyatukan mereka, hah?! Lihat kita, lihat aku, apakah ini hasil dari cinta?! Aku hidup dengan keras dan hanya mengenal kekerasan! Hidup atau mati, dan cintaku hanya kepada satu-satunya keluarga yang saat ini dengan bodohnya rela mati demi seorang perempuan yang sudah digilir entah dengan berapa laki-laki!” bentak Jason berapi-api sambil menggebrak meja. Ia begitu marah saat dibantah oleh adiknya sendiri.
Nafas Jorge tetap tenang, namun wajahnya memerah, sangat merah menahan emosi yang dicoba untuk diredamnya. “Jika kau keberatan berada di sisiku, aku tidak memaksamu. Tapi, aku tidak akan meninggalkan wanita itu, sekali pun bukan atas nama cinta, tapi ini semua aku lakukan atas nama kemanusiaan. Aku minta maaf, jika kau dibesarkan oleh Papi dengan penuh kekerasan, aku juga minta maaf jika aku dibesarkan dengan penuh kasih dan sayang oleh Mami. Aku, aku juga minta maaf baru sanggup mencarimu di saat kita sudah dewasa seperti ini Jason,” ucap Jorge terdengar cukup lirih.
Tangan Jason mengepal begitu kuat saat mendengar penuturan Jorge, memang benar jika semua yang terjadi, semua perbedaan ini bukanlah kesalahan mereka. Bukankah keduanya dididik dengan cara yang berbeda, dan keduanya juga sama-sama memiliki keinginan menjadi yang terbaik sesuai dengan versi masing-masing.
“Aku, tidak setuju dengan keputusanmu, Jorge. Kau tau, ini sangatlah beresiko.” Jason mendesis, frustasi dan jengkel bercampur menjadi satu.
“Aku tau, baiklah kalau begitu …”