BAB 3. Aku Menginginkan Timothy

1217 Words
“Mama, apa itu cinta, Ma?” Sepasang suami istri tergelak mendengar pertanyaan putri kecil mereka. “Mengapa tertawa? Aku ingin tau, Mama. Apa, itu cinta?” rajuk Nona Muda karena ditertawai oleh ke dua orang Tuanya. “Cinta ... itu adalah kasih sayang, kamu tidak akan bisa hidup tanpa seseorang yang kamu kasihi Lista. Tapi, cinta juga tidak harus memiliki, Lista cukup bahagia ketika tau orang yang kamu kasihi juga bahagia. Seperti dirimu yang saat ini Bahagia, melihatnya Mama dan Papa juga ikut bahagia. Satu lagi, ketika, Lista ingin terlihat cantik di depan Papa dan Mama. Itu artinya, kau mencintai dirimu sendiri juga mencintai Papa dan Mama karena ingin memberikan segala yang terbaik dari dirimu untuk kami,” terang Hamira sambil mengecup puncak kepala anaknya. “Papa dan Mama, saling mencintai, bukan? Apakah, itu cinta yang sama dengan cinta yang aku miliki kepada kalian? Aku sering melihatmu menangis saat Papa bertugas Mama. Aku tidak suka dengan cinta yang membawa pada kesedihan,” lirih Calista sambil mengerjabkan kedua matanya. “Iyah sayang, kami saling mencintai. Suatu saat nanti, anak Mama akan menemukan cinta yang sama dengan cinta yang Papa dan Mama miliki. Sekarang, habiskan roti bakar dan s**u itu, kamu harus ke sekolah, bukan?” Calista mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh mamanya. “Kelak jadilah seorang wanita yang kuat, karena anak Papa hanya Calista satu-satunya di dunia ini.” Kecup sang Ayah saat mengantarkan anak semata wayangnya berangkat ke sekolah. (Masa Sekarang) Tut ... tut ... tut ... suara mesin detak jantung di ICU berbunyi, terdengar samar di telinga Calista. “Papa ... Mama ...” lirihnya, mendengar wanitanya mengigau Jorge segera berjalan ke samping tempat tidur perawatannya Calista. Ia mengelus tangan Calista dengan lembut seraya membangunkannya. “Hei ...,” tegur Jorge dengan ramahnya. Mata Calista mengerjap dan berusaha untuk menyesuaikan dengan terangnya sinar lampu di ruangan ICU tersebut, tidak langsung menjawab Calista masih menyelidiki di mana Ia berada. Ada seorang pria tampan sedang memandangnya dengan senyuman yang begitu menawan dan meneduhkan, yang satu lagi sedang duduk sambil menatap Calista dengan sorot mata yang tajam. Sorot mata yang tidak dapat diartikan, apakah itu iba atau justru tatapan penuh kebencian, Calista sungguh tak berani beradu pandang dengannya. Ia memalingkan wajahnya, dan mengangkat tangan yang dipasangi infus, baju yang digunakan juga sudah berubah. Saat hendak menggerakkan tubuhnya, rasa sakit bagai ditusuk seribu jarum dirasakannya, hingga membuatnya meringis dan menghentikan niatnya. “Berbaringlah dulu, luka mu masih belum kering,” ucap Jorge sambil membelai rambut panjang Calista dengan lembut. Calista masih diam seribu bahasa, Ia bahkan tidak berani meminta air minum. Walau pun tenggorokkannya terasa sangat kering, Calista hanya menahan dalam diam, namuan Jorge seorang dokter, juga seorang pengusaha sukses pada bidang kesehatan, tentu peka dengan apa yang dirasakan oleh Calista. Ia mengambilkan segelas air beserta sedotan dan memberikannya kepada Calista, “Minumlah dengan perlahan,” ucap Jorge sambil menekan tombol otomatis untuk menegakkan tempat tidur. “Terima kasih, Tuan.” Akhirnya suara lembut itu kembali terdengar setelah beberapa kali mereka mendengar Calista memanggil papa dan mamanya dalam tidurnya. Wajah Jorge langsung sumringah mendengar wanita di hadapannya berbicara kepadanya. “Siapa namamu?” tanya Jorge ramah. Calista tidak langsung menjawab, ia sesekali mencuri pandang kepada pria yang dari tadi melihatnya tanpa ekspresi. Pria tampan yang sanggup mengintimidasinya hanya dengan menatap tanpa kata dan reaksi apa pun, dengan susah payah Calista menelan ludah untuk membasahi tenggorokkannya, lalu kembali memalingkan wajahnya dan menatap pria yang satunya lagi. Pria yang baru saja memberikan air minum untuknya. Calista merasa lebih nyaman dengan wjajah teduh ini, ia merasa terlindungi. “Namaku Jorge, dia Jason, siapa namamu?” terang Jorge sambil mengulang pertanyaannya. “Saya Calista, Tuan,” jawab Calista masih terdengar takut-takut. “Calista? Lista, bolehkah aku memanggilmu dengan menyingkatnya menjadi Lista?” Calista lantas menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum. Ia teringat akan panggilan kecilnya, yah … Lista adalah panggilan yang diberikan oleh kedua orang Tuanya. Lalu ia menjelajahi pandangannya melihat seisi ruangan, seperti sedang mencari seseorang, dan kembali Ia mencuri pandang kepada Jason. “Apakah dia pengawal barunya, Camila?” gumamnya dalam hati, Ia begitu takut jika Mila mengganti pengawal baru. “Apakah Timothy baik-baik saja, di mana Mila sekarang, lalu apakah tamu semalam tidak akan menyewanya aku lagi?” Mengingat bagaimana Takur memperlakukan dirinya, tiba-tiba tubuh Lista kembali bergetar dan ketakutan. Jorge yang baru selesai berbicara dengan perawat serta menandatangani berkas begitu memahami dengan keadaan Calista yang masih trauma, dan menoleh serta menghampirinya. “Ada apa, Lista?” tanya Jorge dengan tenang dan berusaha agar emosi serta rasa trauma Calista tidak semakin memuncak, hingga berujung pada serangan panik. “Di-dimana aku, Tuan? Di mana Timothy?” tanya Calista, membuat Jorge mengernyitkan dahinya. “Siapa Timothy?” tanya Jorge. “Aku mau Timothy menemaniku, Tuan. Kumohon, panggilkan dia Tuan,” lirih Calista yang terlihat mengalami trauma cukup berat. Airmatanya sudah mengalir, sekujur tubuhnya gemetaran bukan main setiap ia melihat Jason yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya. “Jason,” panggil Jorge. Tanpa menunggu lama Jason beranjak meninggalkan Jorge dan Calista di dalam, dia pergi entah ke mana. Namun, Calista sedikit lega melihat Jason sudah tidak ada di ruangan itu lagi. Jorge juga melihat bagaimana perubahan raut wajahnya saat ada dan tidak adanya Jason di ruangan itu, Jorge tau kalau Calista sangat ketakutan. “Apa yang sudah kamu alami memang sungguh di luar akal sehatku sebagai manusia, aku akan merawatmu dengan baik Calista, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku,” gumam Jorge dalam hati, hanya saja lagi-lagi dia kepikiran siapa sebenarnya Timothy ini. *** “Yah Tuhan!!! Tuan, untuk apa Anda ke sini lagi, Tuan? Bukankah aku sudah memberikan apa yang kalian minta? Tolong jangan halangi aku, Tuan. Aku harus segera pergi dari tempat ini, Madam tidak akan membiarkanku hidup jika dia tau perempuan itu dibeli putus olehmu. Ku mohon Tuan, pergilah, ku mohon pergilah sekarang juga, “ tangis Camila sambil memeluk kaki Jason. “Aku kesini mencari pengawalmu yang bernama Timothy,” sahut Jason dengan datar. “Sial apa lagi aku ini, mau kau bawa kemana Timothy? Apakah perempuan Yunani itu tidak cukup kini kau mau merampok anak buah ku juga? Ku mohon pergilah, Tuan, pergilah,” usir Mila sambil memohon. “Di mana Timothy!” bentak Jason, lalu seorang lelaki berkulit sawo matang datang dengan kaki pincang, dia adalah lelaki yang sebelumnya mendapatkan kemurahan hati seorang Jason untuk hidup, dia datang lalu menunduk hormat kepada Jason. “Apakah, Tuan mencari saya?” tanya Timothy sudah pasrah jika dirinya akan kehilangan nyawanya saat ini. “Bukan aku, ikuti aku saja dan jangan macam-macam. Setelah urusan kita selesai kau boleh kembali ke tempat ini.” Timothy lantas mengikuti Jason yang berjalan dengan gagahnya, juga memasuki mobil bersama. Sepanjang jalan Timothy ingin sekali bertanya sesuatu tapi dia begitu takut untuk hanya sekedar bernafas, apalagi bersuara di samping seorang pembunuh berdarah dingin ini. “Apa yang ingin kau tanyakan?” Mendengar Jason yang langsung to the point paham dengan apa yang ditahannya sejak tadi, akhirnya Timothy menghembuskan nafasnya dengan berat. “Tuan, maafkan saya jika lancang. Saya hanya ingin bertanya apakah Nona Calista baik-baik saja, Tuan?” tanya Timothy dengan hati-hati. “Hem,” sahut Jason singkat. “Syukurlah,” gumam Timothy. “Apa dia kekasihmu?” giliran Jason yang bertanya dengan datar, Timothy lantas tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. “Saya …”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD