“Hem,” jawab Madam dengan singkat.
Wajahnya dingin, sedingin salju di Siberia, ia terlihat tidak terlalu menikmati suasana pesta malam ini. “Raj!! Apakah, tidak ada kabar apa pun dari Barcelona?” Sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya akhirnya diungkapkannya kepada salah satu anak buah yang biasa menemaninya.
“Belum ada kabar apa pun Nyonya, saya sudah menghubungi mereka semua tapi belum ada balasan. Habis pesta ini selesai, saya berencana akan menghubungi Camila, Nyonya,” lapor Raj dengan percaya diri.
“HABIS PESTA?! HABIS PESTA KATAMU?! Aku Bahkan tidak bisa menikmati pesta ini karena aku belum mendengar kabar apa pun dari Barcelona, Bodoh!” teriak sang Madam lalu mengambil Pistol Glock di tasnya dan memasukkan moncol pistol itu ke mulut Raj dan DOR!
Otak-otak berceceran di ruangannya, membuat semua anak buah yang melihatnya bergidik ngeri. “Kau buang seonggok daging tak berguna ini, dan Kau!!! Akan menggantikan kedudukan si t***l ini,” ucapnya sambil menunjukkan seringai kejam di wajah cantiknya.
Suara kuku dari kelima jemari lentik Sang Madam beradu dengan meja kayu dihadapannya. Suara ketukan dari jemari itu bagikan suara penjemput kematian, irama dari setiap hentakkan kuku dan meja tiap kali beradu menjadikan suasana di sekitar mereka semakin mencekam. Madam seperti sedang memanggil malaikat pencabut nyawa, malaikat yang baru saja merampas nyawa seseorang yang kini sedang terkapar kaku di atas karpet merah sang pemilik dengan kepala yang tak lagi berbentuk bulat. Melainkan seperti buah pepaya matang yang terjatuh dari pohonnya dan menghantam batu besar di bawahnya.
Terlihat sangat mengerikan apalagi marmer putih yang tak dilapisi kerpet merah terlihat kotor akibat ceceran-ceceran otak yang berserakan di lantai. Tentu saja itu semakin membuat gugup para anak buah lainnya, mereka bahkan tidak berani menyeka wajah mereka akibat darah dari Raj yang terciprat saat ditembak beberapa menit yang lalu.
Sang Madam masih terdiam sambil sesekali meneguk wine pada gelas kristal Baccarat, tentu saja gelas ini dibelinya di Barcelona dengan harga yang sangat fantastis, senilai delapan ratus lima puluh euro. Semua itu dilakukannya hanya untuk merayakan bagaimana dia merasa sangat bahagia saat tau jika gadis muda yang bernama Calista itu akhirnya jatuh di tangannya dan di tempatkan pada pusat prostitusi di Club Parradise.
Bahkan di hari pertama Calista sampai di Club Parradise, Madam menyiksanya begitu sadis dengan merendamnya di air es hingga membuat Calista terserang Hipotermia. Ketika diambang batas kemampuannya, Madam memerintahkan dokter pribadinya untuk menyembuhkan Calista secepat mungkin dan setelah sembuh Madam kerap kali memerintahkan Mila untuk menyewakan Calista pada tamu-tamu khusus.
Yah, tamu khusus disini adalah para penjahat, mafia, maniak, bahkan seorang psikopat seperti tamu terakhirnya Calista yang bernama Lalit. Madam begitu bahagia mengingat kembali kenangan di mana Calista, dijambak membabi buta dengan seorang tamu yang sering dipanggil dengan sebutan Hades. Tamu yang satu ini hanya suka mengoleksi rambut dari perempuan-perempuan muda, namun hanya yang berambut coklat saja.
Tentu saja ketika melihat Calista memiliki rambut coklat yang panjang membuatnya ingin mengambil secara paksa. Jika orang paada umunya hanya mengambil rambut dengan cara menggunting, berbeda dengan Hades yang akan mendapatkan sensasi nikmat ketika mendapat segenggam rambut coklat korbannya dengan cara menjambak membabi buta.
Semakin Ia berterik kesakitan semakin Hades bengis dan menjambak dengan brutal, bahkan karena kebrutalannya, kepala Calista sampai berdarah. Akibat luka terkena kuku tajam sang maniak, semua itu disaksikan dengan kedua mata kepalanya Sang Madam di balik kaca satu arah. Dia bahkan menikmati setiap aksinya Hades, sambil merokok dan meneguk White Wine terbaik dari Chardonnay, membuat kebahagiaannya semakin sempurna.
Namun kebahagiaannya itu kini sedikit meredup di kala sudah satu kali dua puluh empat jam, kelima para pengawalnya itu belum juga mengabari apa yang terjadi saat Lalit menyewa Calista. Hasratnya untuk membuat Calista menderita sangatlah tinggi, apa yang terjadi disana hingga membuat dia tidak ada kabar sama sekali kembali membuatnya gusar. Bukankah seharusnya sekarang dia sudah mendapatkan video rekaman cctv dari dalam kamar itu, dan jika sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, Madam bisa kembali ke bawah menikmati pesta yang dibuatnya.
Tapi karena tidak ada kabar sama sekali, semua kebahagiannya sirna. Menunggu adalah pekerjaan yang paling dibenci oleh Nyonya, oleh karena itulah Raj mati mengenaskan. Raj mati karena mengatakan menunggu acara pesta selesai baru Ia akan menghubungi Camila dan seketika itu juga hasrat untuk menumpahkan darah seseorang, sangat tinggi dirasakan oleh Sang Madam hingga membuatnya meledakkan kepala Raj tepat di hadapan semua anak buah intinya.
“Nabil!” panggil Madam kepada salah satu anak buahnya yang berasal dari Mesir.
“Iya, Nyonya?” sahutnya sambil membungkuk hormat.
“Apakah kau akan diam saja melihat tubuh Raj tergeletak sini? Aku muak harus memerintah kalian semua. Apakah otak kalian semua harus aku keluarkan seperti aku mengeluarkan otaknya si g****k Raj ini?!” bentak Madam membuat beberapa di antara kalang kabut segera mengangkat tubuh Raj yang sangat memprihatinkan.
Nabil juga segera menghubungi cleaning service yang bertugas untuk segera naik keatas dan mengganti karpet merah yang telah ternoda dengan darah itu dengan karpet merah yang baru. Nabil juga tentu saja, berinisyatif untuk menghubungi Mila. Namun, beberapa kali menghubungi nomor Camila tetap saja tidak ada respon dari si pemilik ponsel. “Apakah dia sedang sibuk?” gumam Nabil kebingungan, bisa-bisa nyawanya melayang jika ia membuat Madam marah dan gusar apalagi menunggu.
“Kenapa kau berkeringat, hah?!” desis Sang Madam. Ia menikmati setiap ekspresi ketakutan yang diperlihatkan oleh Nabil.
“Nyonya, Camila tidak mengangkat ponselnya. Aku akan menghubungi Timothy, Nyonya,” lapor Nabil menahan rasa gugupnya, sambil menyeka keringatnya yang berjatuhan sebesar biji jagung.
“Heemm ...,” jawab Madam mulai jengah, dan kembali mengetuk-ngetuk jemari lentiknya pada meja di hadapannya.
Yang terdengar hanya beberapa kali nada tersambung hingga membuat Nabil semakin gelisah, saat Madam mulai mengambil sebuah koper hitam berisikan Pistol Desert Eagle yang memiliki sentuhan Titanium Gold, rasanya dia ingin kencing di celana saat itu juga. Senyuman sinis Madam yang diperkirakan berumur empat puluh tahunan ini sungguh sangat mengerikan, dengan suaranya yang mendayu, Madam berbicara entah kepada siapa, mungkin saja kepada siapa pun yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Bukankah begitu cantik pistol Desert Eagle ku ini? Apakah, kalian tau pistol ini hanya ada beberapa ratus diproduksi dan disebarkan di seluruh dunia. Tentu saja, ini bukan hanya pistol Desert Eagle biasa, hanya yang memiliki sentuhan Titanium Gold dengan selongsong kaliber 440 Cor-Bon saja yang terbatas. Taukah kalian kalau dia bahkan memiliki Frame pada bagian pegangan tangan hingga pelatuk, dengan ukuran lebar dan recoil untuk menghentakkan peluru dengan sangat kuat. Aku, bahkan belum mencobanya, dan saat ini aku benar-benar ingin mencobanya,” ucapnya sambil mengusap-ngusap mesra lalu mengecup bagian pinggir moncong Desert Eagle miliknya.