BAB 7. Tangan Kanan Nyonya Besar

1150 Words
“HALO! HALO!” teriak Nabil merasa jika nyawanya sedang terancam, sungguh beruntung nasibnya karena panggilannya akhirnya dijawab oleh Timothy. “Ha-Halo, Nabil,” sahut Timothy juga menahan rasa gugup. “Timothy, di mana Camila? Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya sama sekali, hah?!” bentak Nabil begitu panik saat melihat Madam masih mengelap Desert Eagle miliknya dengan kanebo khusus. Hingga membuat senjata di tangannya menjadi begitu mengkilat, pantulan sinar dari Desert Eagle itu membuatnya bergidik ngeri. “Aku, aku juga baru saja sadar Nabil, ada orang yang membeli Calista, dan membunuh ke lima orang pengawal Madam. Aku juga tidak tau di mana Camila, paha ku ditembak, dan aku juga dilempar di pinggir jalan setelah mereka memukulku hingga babak belur, aku juga sedang mencari Camila saat ini, Nabil!” sahut Timothy dengan terengah-engah. “APA?!” Nabil menyalahkan fitur Video Call saat melihat Madam sedang menggertakkan giginya, dan terlihat pada layar ponselnya jika wajah Timothy benar-benar babak belur. Posisi rahangnya bahkan terlihat bergeser dari tempatnya, mata yang hampir tertutup akibat bengkak yang berwarna biru terlihat begitu memprihatinkan bagi Nabil, sesama anak buah yang bekerja dalam satu payung yang dipimpin oleh Madam. “Aku sudah berusaha mencegah mereka Nabil, aku bahkan mengatakan kepada Camila jika jangan menjualnya. Namun, aku tidak tau mengapa Camila menjual perempuan jalang itu kepada mereka, bahkan semua cctv telah diambil oleh Camila, dan ... dan aku ... aku dihajar habis-habisan sampai pingsan. Maafkan aku jika aku tidak mengangkat telponmu, bukan karena aku sedang bersenang-senang, tapi karena aku juga sedang mencari Camila dan tentu saja karena sebelumnya aku masih belum sadarkan diri.” “SIALAN!” teriak Madam sambil menarik pelatuk pistol Titanium miliknya, kini Ia menembak wajah Nabil yang awalnya terlihat begitu ketakutan. Kini, bahkan wajah itu sudah tidak berbentuk lagi, semua peluru di dalam megazin pistol tersebut habis dan bersarang di seluruh wajah Nabil yang tewas seketika. “Nyo-Nyonya,” tegur kepala kebersihan yang baru saja masuk dan membuka pintu ruangan kerja Madam bersama seorang anak buah kebersihan yang baru. Melihat Mata Nabil yang keluar dan wajah yang sudah tidak berbentuk dengan hidung yang juga entah hilang di mana seketika membuatnya muntah saat itu juga. Begitu juga anak buah Madam yang ketakutan berdiri dengan gemetar secara reflex memuntahkan semua isi dalam perutnya, saat melihat muntahan gadis muda ini berserakkan di lantai, kecuali satu orang. “Kamu pergilah!” perintah Nyonya Ruth sang kepala kebersihan, Ruth sudah bekerja sejak Madamnya baru lahir. Ia kini bahkan sudah berusia lima puluh delapan tahun, dan sudah bekerja disana sejak berusia enam belas tahun, bisa dikatakan Ruth adalah satu-satunya pegawai terlama dan satu-satunya pegawai yang berani berbicara dan menegur kesalahan sang Madamnya. “Ba-Baik, Ruth,” ucap gadis itu berlari kencang dengan d**a kembang kempis, Ruth lantas membuang nafasnya dengan berat. “Kamu dua orang buang mayat Nabil, kamu juga dua orang ambil sarung tangan dan buang karpet ini, serta bersihkan seluruh muntahan yang ada, dan kamu tiga orang pergilah keluar, biar aku di sini mengawasi kinerja kawan-kawan kalian!” “Baik, Ruth!” ucap mereka sambil menunduk bersamaan. “Aku sungguh muak melihat pada bodyguard penakut seperti kalian, aku sangat membencinya, aku bahkan begitu ingin memusnahkan kalian saat ini juga, f**k!! Kecuali kamu. Hei! kamu yang sipit! Siapa namamu?!” panggil sang Madam setengah berteriak. “Saya Yoshiro, Nyonya,” jawabnya sambil membungkuk hormat lalu berjalan dengan tenang. Tanpa disengaja terdengar seperti daging terinjak “Kreeeecccceeekkk!!” Bunyi itu sontak membuat semua orang menoleh, begitu juga dengan sang Madam yang spontan menyorot kaki Yoshiro yang entah menginjak apa. Namun, Yoshiro tetap berjalan dengan santai seolah Ia hanya menginjak kotoran dan tidak menghiraukan reaksi semua orang di sekitarnya. Ketika Yoshiro semakin mendekat ke arah Madam duduk, barulah terlihat kalau yang diinjak oleh Yoshiro adalah sisa potongan hidung dari Nabil, semua melihat dengan menahan rasa mual yang datang melAnda. Sedangkan, Ruth hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan dan mengambil dengan tangannya sendiri yang menggunakan sarung tangan elastic. “Lain kali kalau jalan hati-hati... kalau begini kau menambah pekerjaanku,” omel Ruth kepada Yoshiro. Yoshiro lantas menunduk hormat tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun bahkan tidak meminta maaf. Bagi Yoshiro itu tidak perlu diucapkan karena dia hanya menginjak seonggok daging sisa yang tidak berguna, permintaan maaf hanyalah menunjukkan sisi lemah seseorang, dan hanya p*****r saja yang sedikit-sedikit minta maaf padahal kata ‘maaf’ itu harusnya digunakan di saat situasi yang memang harus. Melihat Reaksi Yoshiro yang dingin, cuek tapi sopan membuat Madam tersenyum lebar, dia merasa jika pria Jepang di hadapannya ini untuk sementara benar-benar memenuhi kriterianya untuk menjadi orang kepercayaan dan tangan kanannya. Semoga saja Yoshiro adalah tangan kanan terakhirnya, mengingat sudah ratusan kepala orang kepercayaan yang diledakkan sendiri olehnya. Menjadi orang kepercayaan Madam sama saja dengan memanggil Malaikat maut di sisimu, dia akan dengan mudah mengambil nyawamu tanpa ada aba-aba. “Hem ... hanya kamu satu-satunya yang terlihat sangat berani, apakah kamu bisa membuktikan sejauh mana ke kejamanmu? Apakah, kamu cocok menjadi kaki tanganku yang baru mengganti Raj yang t***l itu?!” desis Madam, membuat salah seorang anak buah yang diperintahkan oleh Ruth untuk membersihkan ceceran otak Raj dan Nabil muntah gemetar ketakutan hingga membuat segala perkakas kebersihan jatuh berserakan. “Suatu kehormatan bagi saya, Nyonya,” desis Yoshiro, dan sang Madam langsung melirik anak buahnya yang sangat ketakutan itu sambil menunjukkan smirk kejamnya. Dan kode itu langsung saja dimengerti oleh Yoshiro, dia tau apa yang diinginkan oleh sang Madam, hanya dengan ekspresinya saja, Madam hanya ‘Haus Darah’! Tanpa beranjak sedikit pun Yoshiro melempar kunai tepat di tengah dahi temannya sendiri. “Jangan pernah menunjukkan ketakutan dan kelemahan kalian di hadapan siapa pun,” desisnya melihat temannya mengejang saat maut menjemput dengan tiba-tiba. Seolah mengingatkan yang lainnya bahwa, jika ingin umur panjang di sisi Madam maka, belajarnya untuk menjadi manusia yang tak berbelas kasihan, tak berperasaan dan tidak gampang menunjukkan perubahan ekspresi pada dirimu. “Hahahahaa! Hahahaa! Aku suka denganmu, Yoshiro. Di tengah kabar buruk ini, aku akhirnya mendapatkan kaki tangan yang hampir sama kejamnya dengan ku.” Tawanya membahana sambil menepuk kedua tangannya. “SIAPKAN JET PRIBADIKU, KITA AKAN KE BARCELONA MALAM INI JUGA!” perintah Madam sambil mengangkat pistolnya. *** Bau semilir lautan menari-nari pada indera penciuman Calista yang sedang terbaring, matanya masih sangat berat untuk melihat sekeliling, ia hanya mendengar desiran ombak dan aroma pantai. Mengingatkannya pada Athena, kampung halamannya. Di mana ia begitu sering berlari-lari juga bermain kejar-kejaran bersama kedua orang Tuanya. Kenangan akan pantai yang terakhir yang paling indah dalam hidupnya adalah di saat ia menyaksikan, Gigas Wafter menemukan kembali cinta baru dalam hidupnya. Cinta yang membuatnya melamar seorang wanita, wanita yang begitu lembut dan baik hampir seperti Hamira ibu kandungnya sendiri. Suara lonceng gereja terngiang-ngiang dalam ingatan bawah sadarnya, wajah Hamira ibu kandungnya selalu saja muncul di setiap tidurnya, wajah itu begitu menenangkan sanubarinya. “Aku merindukanmu, Ma,” lirih Calista dalam mimpinya, Ia bahkan sampai meneteskan air matanya. “Mama juga, Sayang …”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD