Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, beberapa penduduk lokal datang untuk menyajikan makanan yang lebih banyak lagi. Seorang lainnya memberikan bahasa isyarat kepada Jason untuk segera memakan-makannya yang baru saja disajikan. Jason hanya mengangguk singkat.
Suara ponsel pun juga berbunyi lantang, dan ini bukanlah ponsel yang biasa digunakannya, ini adalah ponsel sekali pakai.
“Halo” sahut Jason. Melihat ponsel sekali pakai yang diangkat oleh Jason, jantung Jorge berdetak kencang bukan main, apakah ada masalah dengan Timothy?
“Tuan, Tuan, Madam sangat marah, Tuan! Saya kemarin mendapatkan telepon dari salah satu ajudannya yang bernama Nabil, Tuan. Madam sebentar lagi akan mendarat di Barcelona, maafkan saya baru sempat memberi kabar, Tuan. Saya, baru sempat untuk mencari lokasi yang aman untuk bisa menghubungi Anda, Tuan dan Stanly salah satu teman saya memberitahu jika malam itu Raj, Nabil dan salah satu anak buah lainnya dibantai dengan sadis oleh Madam. Mereka semua mati dengan tidak wajar, Tuan.” Suara Timothy terdengar begitu panik, suara nafasnya begitu menderu serta menahan tangis yang tak sanggup untuk dikeluarkannya.
“Easy, Timothy. Kamu pergilah, sembunyilah dulu,” sahut Jason dengan tenang.
“Tuan, apakah Anda lupa jika aku pergi maka kedua orang tuaku akan mati, Tuan? Aku memberi tahu ini juga tidak tau bagaimana nasibku kedepannya. Jika, aku tidak menghubungi Anda selama tiga hari ke depan, maka aku pasti sudah mati, Tuan,” lirih Timothy.
Jason kembali memutar otaknya dan menatap Jorge. “Kita harus selalu berpindah-pindah tempat Jorge.” Dijawab dengan anggukan tegas oleh Jorge.
Sedangkan di benua Eropa langkah kaki nan jenjang melangkah begitu anggun. Madam yang baru saja mendarat dengan peswat Jet pribadinya sedang menapaki jalan menuju ke Bar miliknya. Ia menyapu pandangannya hampir di setiap seluk beluk ruangan serta memperhatikan lokasi-lokasi cctv yang sudah tertembak. Ia bahkan tersenyum jahat melihat aura ketakutan dari hampir seluruh anak buahnya.
Yah, aura yang paling dinikmatinya “Yoshiro, apakah kau bisa memeriksa dan mengendus keberadaan Camila untukku dalam kurun waktu satu kali dua puluh empat jam? Aku ... sangat tidak suka menunggu terlalu lama.”
“Baik Nyonya,” sahut Yoshiro langsung begitu saja berbalik dan pergi meninggalkan rombongan Madam untuk melaksanakan perintahnya. Kembali Madam melihat ke kiri dan ke kanan juga memperhatikan satu demi satu anak buah dan pegawai bar yang ada di hadapannya itu. Ia seolah sedang mencari seseorang dan orang pertama yang di carinya adalah “Bawa Pengawal yang bernama Timothy di hadapanku sekarang!”
Jason yang sedikit banyaknya tau dan memahami bagaimana karekter seorang psikopat, lantas memberikan banyak sekali arahan dan saran kepada Timothy. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya dan dikatakannya. Jason memberikan deskripsi sifat dasar seorang psikopat dan Timothy mendengar semua ucapan Jason dengan seksama. Semua yang diucapkan oleh Jason di hadapan Calista dan Jorge membuat keduanya begitu tercengang.
“Ingat Timothy, bersikaplah untuk tenang. Walau pun jantung mu mau meledak, di saat kau merasa gugup, jangan pernah berbicara dengan terbata-bata, jangan menunjukkan ketakutanmu, seorang psiko biasanya akan memberikanmu sebuah ujian. Jika, dia memerintahkanmu menghabisi orang lain saat itu juga jangan pernah ragu, habisi di hadapannya atau dia yang akan menghabisimu dan kedua orang tua mu. Ingatlah, taruhannya jika kau merasa ragu dan takut, aku tidak tinggal diam begitu saja, Timothy. Aku, sudah tau orang tuamu di mana. Selama kedua orang tuamu belum berada di tangan anak buahku dan ku nyatakan aman, kamu harus melakukan apa pun yang dikatakan oleh Nyonya mu itu.”
“Dan satu lagi, jika kedua orang tuamu sudah aman, pergilah sejauh mungkin, jangan gunakan segala kendaraan yang legal, mereka akan mudah menemukanmu. Carilah cara dengan menumpang dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain, dan bila perlu gunakan identitas orang lain. Jika kau masih hidup, aku akan memberikan titik kumpul, agar kau bertemu dan hidup tenang dengan kedua orang tuamu, apakah kau paham?!” tegas Jason.
“Tuan, aku tidak tau harus berterima kasih seperti apa kepada Anda ... semoga Tuhan masih memberikan umur yang panjang untukku, agar aku dapat bertemu dengan kedua orang tuaku dan membalas kebaikan Anda kepadaku, Tuan.” Suara Timothy terdengar terbata seperti orang yang menahan tangis.
Setelah Ia menghubungi Jason, Ia lantas membuka ponsel androidnya, dan kembali melihat letak GPS yang terpasang di sepatu Camila.
“Maafkan aku Camila, mungkin dengan cara ini, aku akan bertahan hidup, dan anggap saja ini sebagai bentuk pembalasan dendamku atas meninggalnya adikku karena mu!” ucap Timothy sambil menarik nafasnya dengan berat beberapa kali. Hingga, akhirnya metode tersebut berhasil membuatnya benar-benar yakin tenang, barulah ia kembali ke dalam Bar pusat prostitusi terbesar di Barcelona.
Ketika melangkah lewat pintu belakang, suasana terasa sangat sepi, tidak seperti biasanya. “Kemana semua orang?” gumamnya, sambil terus melangkah bagian Bar tender, dan terdengar suara mengerikan dari Sang Madam serta langkah kaki mengintimidasi beberapa orang di sana. Timothy lalu menenangkan hatinya yang berdebar dan mengingat kembali ucapannya Jason, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Timothy lantas melangkah keluar sesudah Madam mengungkapkan niat hatinya yang sedang mencari dirinya.
“Bawa pengawal yang bernama Timothy di hadapanku sekarang! Apakah kalian mendengar itu?! Sungguh aneh di saat dia tau aku akan datang justru dia menghilang dari tempat ini. Hem … apa dia juga kabur?” lirik Madam ke sana dan kemari.
“Saya di sini Nyonya, saya tidak kabur dan tidak mungkin kabur Nyonya, saya sedang mengaktifkan GPS pada sepatu Camila, makanya saya baru saja datang,” terang Timothy yang berjalan dengan gagah berani.
Walau pun kenyataannya ia sedang menahan ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang membuatnya ingin kencing di celana sekarang juga. Namun, Timothy mengingat jika itu terjadi maka bisa dipastikan, DOR! Kepalanya pecah saat itu juga.
Madam mengernyitkan alisnya, Ia sedikit heran ada satu orang tambahan yang berani menghadap dan berbicara lantang di hadapannya. Lalu Madam kembali berjalan mendekat dan mengintimidasi Timothy. Namun, Timothy tidak terlihat terpengaruh sama sekali, semua yang melihat Timothy cukup heran dengan perubahan sikap Timothy. Ia tidak merasa gentar sedikit pun, walau Madam sudah menatapnya dengan raut wajah curiga.
“Ingat jangan pernah menjawab atau memberikan informasi terlalu cepat sebelum waktunya, kamu akan tau timing yang tepat untuk menjawab nanti. Selama dia mengintimidasi, kamu harus tetap tenang dan harus tetap bersikap dingin tanpa ekspresi.” Wejangan dari Jason embali terngiang di pikirannya, itulah yang membuat Timothy tetap tenang di hadapan Madam.
Dalam hati Timothy berpikir, bahwa dia hanya akan dicobai seperti ini saja. Namun, ternyata wanita di hadapannya ini benar-benar wanita yang gila. Wanita yang sangat tidak waras, ia mengambil koper andalannya yang berisikan Desert Eagle miliknya, lalu Ia kembali mengeluarkan pistol tersebut dan menaruh tepat di kepala Timothy. “Benarkah Kau tidak mengkhianatiku?”