Bahkan Calista sempat mendaratkan sebuah pukulan di ulu hati Briana hingga membuat Briana mundur dua langkah. Ia menahan batuk yang keluar begitu saja dari mulutnya, nafasnya langsung terengah, karena emosi bukan karena kalah kuat tapi karena Briana tidak dapat memaksimalkan perlawanan situasi dan kondisi serta tempat sangat tidak mendukungnya. “Kau sudah mulai tua, Briana. Saatnya ada yang menggantikanmu,” ejek Calista. Bagi Briana cukup sudah dia akan memecahkan kepala anak tirinya ini dengan menggunakan pistol saja agar tidak terlalu berlama-lama dipermainkan seperti ini. Namun ketika dia mulai mengokang senjata tiba-tiba Ruth memanggilnya. “Madam, sudah saatnya kita bersiap pulang. Ada cctv, Madam. Ayo kita pulang,” panggil Ruth ingin menyelamatkan anak yang diasuhnya sejak kecil.

