SAY - Honey?

1029 Words
“Jadi mau buah apa, Ara?” “Kakek suka pepaya. Lalu Nenek suka jeruk dan apel.” “Sekarang Ara bantu Bu Leah memilihnya, oke?” Ara mengangguk sekali lagi dan Leah dengan sigap menggendong Ara agar anak kecil itu bisa melihat buah lebih dekat. Gabriel di sisi lain yang memperhatikan kedua perempuan beda usia tersebut hanya tersenyum penuh arti. Tiap kali Ara menyentuh buah dengan gembira, Leah akan berkomentar lucu tentang buah itu membuat Ara terkikik sebelum memasukkannya ke dalam kantong buah. Setelah puas memilih dan kelelahan karena cekikikan, Leah menurunkan Ara kembali. Tidak lupa juga dia merapikan rambut Ara yang sedikit berantakan. Mungkin karena dia selalu melihat Ara yang tampil sangat sempurna tanpa cela, makanya Leah melakukan itu tanpa sadar. Selagi masih merapikan Aurora, dia bisa mendengar celetukkan di belakang mereka. “Ya ampun, pria itu tinggi. Wajahnya juga tampan. Apa dia sudah menikah? Kuharap dia mau dengan anakku.” “Aku pikir itu anaknya. Wajah mereka mirip sekali.” “Oh benar juga. Tapi bukannya membawa istri, dia membawa babysitter kemari?” Dan babysitter yang dimaksud mereka adalah Leah. Leah menyadari ini begitu dia mendengar sebutan itu. Dia tidak tahu ingin menangis atau tertawa sedih. Yah, omongan mereka tidaklah salah. Dari sudut mana pun jika Leah berada di sebelah Gabriel dan Ara, dia mirip seperti babysitter atau asisten rumah tangga dibandingkan sebagai sosok istri. Tapi, haruskah celetukan para ibu itu selantang itu? Akhirnya Leah hanya bisa tersenyum pasrah. Di saat dia berdiri kembali, tiba-tiba saja sebuah lengan yang besar melingkari punggungnya dan berakhir di lengan bagian atasnya membuat dia tersentak dan menoleh ke pemilik tangan. “Pak Gabriel …,” bisik Leah kaget bercampur bingung. Gabriel tersenyum lembut. “Honey, ada tambahan buah lain lagi?” H-Honey? Di situasi yang mengejutkan ini membuat Leah tidak bisa berpikir jernih selain melamun dengan wajah bodohnya. Cara Gabriel memandangnya, sentuhan telapak tangannya yang hangat hingga cara dia bertanya pada Leah. Kenapa Leah sekarang mulai merasa gerah? "Honey?" Membuka mulutnya, Leah menjawab, “Pisang." *** Mobil Gabriel berhenti di depan apartemen Leah. Pria itu melirik ke sampingnya sambil mencoba menghentikan senyum konyolnya. Sepanjang perjalanan mereka pulang, Leah tidak bersuara sama sekali dan hanya menunduk terus menatap rambut anaknya. Bisa dibilang wanita ini malu. Apakah karena perilakunya beberapa waktu yang lalu di toko tadi? Di sisi lain, Leah ingin sekali menenggelamkan wajahnya di mana pun. Bagaimana tidak? Hanya karena panggilan dan sentuhan Gabriel, otak Leah seketika berselancar ke mana-mana. Leah tidak membuat Gabriel jijik, bukan? Padahal dia tahu sendiri bahwa Gabriel hanya menolongnya di sana. Dan … pisang?! Dari sekian banyaknya buah, kenapa saat menatap Gabriel, Leah hanya bisa memikirkan buah itu? Apa yang salah dengannya? Apakah orang kaya memakan pisang? Jika tidak, sungguh sangat disayangkan buah itu akan dibuang begitu saja. Leah segera melepaskan seat belt. Wanita ini bahkan tidak ingin menatap Gabriel ketika menundukkan kepalanya. “Saya permisi, Pak Gabriel. Terima kasih atas tumpangannya.” Entah kecepatan mana yang dia punya, tanpa membuat Ara turun, Leah bisa keluar dari mobil. Dia bahkan memiliki waktu untuk menggunakan seat belt untuk Ara sebelum menutup pintu mobil. Gabriel menghela napas. Dia segera keluar dari mobil juga dan menghentikan Leah. “Leah, tunggu sebentar!” Leah yang melangkah tergesa-gesa seketika berhenti di tempatnya. Dia memejamkan matanya erat dan berdesis pelan. Mengambil napas dalam dan membuangnya dengan tenang, dia kemudian membalikkan tubuhnya. Gabriel menghampirinya sambil berlari santai dengan kantong yang berisikan beberapa apel, jeruk, dan tentu saja pisang. Oh tidak … sepertinya Leah tidak bisa lepas dari pisang. Pria itu mengulurkan tangannya dan berkata, “Ambillah ini.” Leah tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis ketika menerima itu. Dia hanya bisa berterima kasih dengan suara kecil. “Uhm … maaf untuk sikapku sebelumnya. Aku sadar bahwa aku bersikap kurang ajar kepadamu.” Leah otomatis menggeleng. Jika topik kurang ajar diangkat, Leah juga merasa kurang ajar karena membayangkan Gabriel tanpa malu di dalam toko serba ada sebelumnya. Bisa dibilang, secara halus dia sudah melecehkan Gabriel di dalam kepalanya. “Oh tidak apa-apa, Pak. Saya tahu maksud Anda baik, menolong saya dari omongan para ibu di sana. Seharusnya saya berterima kasih kepada Anda.” Gabriel mengangguk lalu berdesis. “Maka dari itu aku minta tolong kamu ketika kami ingin ke sana. Jika hanya aku dan Ara saja yang masuk, satu dua ibu akan menghampiriku. Yah, kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya .…” Leah tertawa pelan. Dia mengikuti arah pandang Gabriel ke mobil di mana anaknya masih di sana kemudian berujar, “Saya tidak masalah dengan itu. Tapi, saya pasti merepotkan Anda karena buah-buah ini. Seharusnya saya tidak mengatakan pisang tadi. Semoga saja kakek dan nenek Ara suka pisang.” “Mereka menyukainya, tenang saja. Aku pun menyukai pisang, begitu juga Ara. Dan itu anggap saja rasa terima kasihku atas bantuanmu.” Gabriel tersenyum lembut lalu menularkannya ke Leah. Leah tanpa dia sadari dia mulai santai. Tidak malu dan gugup lagi. Mungkin karena bagaimana Gabriel yang tidak menentangnya tentang pernyataan sikapnya di toko serba ada atau juga penyesalannya yang tulus itu atau pun tentang orang kaya juga menyukai pisang, Leah bisa lega. Leah mendongak, sedangkan Gabriel menunduk. Mereka saling pandang satu sama lain dan tersenyum cukup lama. Tidak tahu seberapa lama, namun Leah tahu itu sangat memakan waktu mengingat sudah banyak orang keluar masuk ke dalam lobi apartemen. “Papi!” Keluhan Ara seketika menarik perhatian mereka berdua kembali ke dunia nyata. Leah mengerjap cepat dan membuang wajahnya ke arah lain. Gabriel berdeham singkat menarik perhatian Leah kembali. “Maaf. Kamu pasti sibuk dan aku menahanmu terlalu lama di sini.” Leah menggeleng. “Tidak apa-apa, Pak.” “Leah.” Senyuman Leah membeku. Panggilannya cukup menyenangkan terdengar. Dia mengerjapkan matanya dan membalas tatapan Gabriel. “Aku harap kita bisa lebih santai ketika mengobrol. Biasakan untuk tidak terlalu formal denganku jika ini bukan di sekolah Ara.” Leah membuka bibirnya sedikit namun tidak mengatakan apa pun. Senyuman memabukkan itu muncul kembali di wajah rupawan Gabriel. “Sampai jumpa besok.” Pria itu mengelilingi mobilnya. Sebelum dia masuk ke dalam mobil, dia melambaikan tangannya sejenak kepada Leah. Dan setelah mobil itu mulai dikendarai Gabriel, barulah Leah menjawab, “… Ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD