Aku berlari menuju parkiran. Mataku berkeliaran mencari mobil Mas Graha. Setelah sekian menit, aku baru berhasil menemukan mobil Mas Graha yang terparkir di dekat pintu keluar. Buru-buru aku membuka pintu mobil Mas Graha dengan kunci yang tadi dititipkan padaku dan kemudian menguncinya. Napasku terengah-engah. Aku berlari untuk menghindari wanita itu. Siapa tadi namanya? Diara? Aku tidak mau dia bercerita lebih banyak lagi tentang dia dan Mas Graha di masa lalu. Mendengarnya saja sudah membuatku benci sekali melihatnya. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku merasakan cemburu yang begitu berapi-api, antara kesal dan ingin marah. Sosok wanita itu terekam jelas di ingatanku. Aku jadi membayangkan Mas Graha dan wanita itu bersama, dan mendadak rasanya aku ingin menangis. Aku menari

