Di interogasi

1111 Words
Mata Luphi perlahan terbuka, netranya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk menyeruak matanya, membuatnya mencoba untuk menyesuaikan diri. Setelah beberapa saat Luphi menyadari jika ia sudah berada di dalam sebuah ruangan yang sangat asing baginya. “Di mana aku?” batin Luphi. Ia mencoba untuk bangun, tapi ia merasa ada sesuatu yang menindih perutnya. “Astagfirullah! Di mana ini? Si-siapa dia?” monolog Luphi. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, kepalanya sedikit pusing, saat mengingat hal itu. “Tadi aku di culik sama para preman, setelah itu aku di paksa meminum sesuatu dan setelah itu, Aku–“ Luphi menutup mulutnya saat mengingat hal itu. Ia segera membalik badannya untuk memastikan siapa yang tengah memeluknya. Mata Luphi membelalak, saat tahu siapa pria yang ada di sebelahnya yang tengah memeluk tubuhnya dengan erat. “Tu-tuan Dehan,” ucap Luphi terbata. Ia kaget dan syok melihat keadaan Dehan yang tengah memeluknya. Tidur memeluknya dengan tidak memakai sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ia memeriksa tubuhnya sendiri, bajunya sobek di bagian depan. “A-apa yang sudah terjadi padaku? Kenapa Tuan Dehan tidak menggunakan baju?” ucap Luphi. Ia tak ingin berlama-lama di sana, ia takut jika ada yang melihatnya. Jadi Luphi bergegas bangun dan segera keluar dari kamar itu, meninggalkan Dehan sendiri. Dengan cepat Luphi membuka pintu dan segera berlari menuruni tangga, tapi belum sampai di ujung tangga, matanya kembali membelalak melihat dua orang yang ia kenal tengah duduk di ruang tamu rumah itu. “Bu Linda,” ucap Luphi. “Sudah bangun?” tanya Linda. “Bu–“ “Kamu mandi dulu sana. Setelah itu ada yang ingin kami bicarakan,” ucap Linda. “Ta-tapi, Bu–“ “Mandi, Phi. Sekarang sudah malam. Dan lihatlah keadaanmu,” ucap Linda. “Ba-baik Bu,” ucap Luphi. “Mandi di kamar itu saja, Phi. Di sana ada bajuku, kamu bisa memakainya,” ucap Linda saat Luphi hendak kembali ke atas. “Iya, Bu,” ucap Luphi, lalu pergi menuju kamar yang di tunjuk Linda. “Mama lihat Dehan dulu, Pa,” ucap Linda. “Apa perlu Papa temani Ma?” tanya Handi. “Tidak usah, Pa. Nanti jika Mama panggil jika membutuhkan Papa,” ucap Linda. Linda segera berjalan menuju kamar Dehan setelah mendapat anggukan dari suaminya. “Apa yang terjadi pada kalian?” gumam Linda saat ia sudah sampai di kamar Dehan. “Han, Dehan. Bangun,” ucap Linda seraya menggoyangkan tubuh Dehan. “Hm!” gumam Dehan. “Dehan, bangun ...!” teriak Linda. Dengan rasa terkejut dan kaget, Dehan sontak saja duduk dari tidurnya. Ia melihat ada sang Mama yang terlihat sudah berkacak pinggang dan jangan lupakan, sorot matanya seperti mata elang yang mengunci mangsanya. Namun saat menyadari bahwa dirinya tidak berpakaian, Dehan segera menarik selimut hingga ke lehernya. “Ma-mama? Ke-kenapa Mama bisa ada di sini?” tanya Dehan gugup. “Sekarang mandilah, lalu turun ke lantai bawah, ada yang ingin Mama dan Papa bicarakan padamu,” ucap Linda, sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar putranya. Dehan mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dan juga mencoba memahami kenapa sang Mama bisa ada di kamarnya. “Ah! Sial! Apa yang sudah aku lakukan? Apa Luphi baik-baik saja? Atau–!” Dehan mengacak rambutnya membayangkan apa yang terjadi dengannya dan Luphi. Dengan perasaan was-was dan juga khawatir, kini Dehan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia mengingat apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadarannya, tapi setelah itu ia tidak mengingat apa pun, hingga sang Mama datang membangunkannya. “Lalu ke mana Luphi pergi? Apa jangan-jangan dia–! Ah semua pemikiran ini membuatku kehilangan kewarasan,” ucap Dehan. Dengan cepat ia segera menyelesaikan acara membersihkan dirinya. Setelah berganti pakaian, ia pun segera turun ke lantai bawah, dan di sana ia melihat Luphi yang terlihat sudah segar dengan pakaian milik sang Mama. “Ada ap–“ Dehan menghentikan ucapannya saat Handi menampar pipinya hingga ia menoleh ke samping. Sementara Luphi menutup mulutnya melihat hal itu. “Ada denganmu, Han? Apa yang sudah kamu lakukan hah?” tanya Handi penuh amarah. “Apa maksud Papa?” tanya Dehan. “Kamu masih bertanya apa maksud Papa? Apa kamu tidak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan hah?” “Aku benar-benar tidak tahu Pa,” ucap Dehan. “Luphi, apa yang telah dia lakukan padamu tadi?” tanya Handi. “A-aku tidak ingat,” jawab Luphi gugup. Sebenarnya ia ingin berkata tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Dehan. Tapi dia takut jika memang terjadi sesuatu pada mereka. Jadi ia memilih menjawab tidak ingat, karena memang pada kenyataannya dia tidak mengingat apa yang terjadi pada mereka tadi. “Kamu benar-benar tidak mengingatnya Phi?” tanya Linda, Luphi hanya menggelengkan kepalanya. “Kalian tidur bersama, dan kamu tidak memakai baju apa pun, sementara baju Luphi ada yang sobek,” ucap Handi. “Tapi kami tidak melakukan apa pun Pa,” ucap Dehan. “Papa tahu tadi Luphi di culik oleh para preman, dan kamu sudah menolongnya, tapi tidak sepatutnya kalian tidur dalam satu ruangan yang sama dengan berpelukan,” ucap Linda. Mata Dehan dan Luphi membelalak mendengar ucapan Linda, lalu keduanya saling pandang sebentar. “Tapi kami tidak melakukan apa pun, Ma. Aku tadi pusing dan aku pingsan saat aku ingin mengganti baju,” ucap Dehan. “Apa itu sebuah alasan, atau sebuah pembelaan?” tanya Handi. “Tapi kami benar-benar tidak melakukan apa pun, Pa,” ucap Dehan. “Seharusnya kamu menelepon kami atau memanggil dokter untuk memeriksa keadaan kalian, jika kamu susah dalam melakukan hal itu, kamu bisa kan meminta tolong satpam di depan untuk menghubungi kami, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru membawa Luphi ke sini dan– ah sudahlah!” ucap Handi. “Pa, aku minta maaf soal itu, tapi aku benar-benar bingung tadi, dan lagi kepalaku sangat pusing tadi, Pa,” ucap Dehan. “Papa mengerti, tapi Papa tidak bisa membenarkan apa yang kamu lakukan tadi. Kamu harus bisa memikirkan sebuah konsekuensi jika kamu melakukan sesuatu,” ucap Handi. “Maafkan saya, Pak. Tapi benar apa yang di katakan oleh Tuan Dehan, kami tidak melakukan apa-apa, dan kami–“ “Jangan membelanya Phi. Kamu sudah di ajak tidur dalam satu kamar, dan kamu masih membelanya?” tanya Handi. “Bukan begitu, Pak tapi kami–“ “Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang telah kalian lakukan, terjadi sesuatu atau tidak, kalian harus tetap mempertanggungjawabkan perbuatan kalian,” ucap Handi. “Maksud Papa apa?” tanya Dehan. Perasaannya mulai tidak enak saat Handi mengatakan hal itu, begitu juga dengan Luphi. Ia juga merasa akan ada sesuatu saat Handi mengatakan hal itu. “Kalian berdua harus menikah Minggu depan!” ucap Handi. “APA? MENIKAH ....?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD