Musibah atau anugerah?

1139 Words
Dengan amarah yang membuncah, Dehan mencoba menyelamatkan Luphi dari para preman itu, tapi sayang, entah apa yang terjadi, Luphi sudah tak sadarkan diri saat Dehan tiba di sana. “Apa yang kalian lakukan padanya hah?” tanya Dehan dengan mata memerah menahan amarah. “Jangan ikut campur Tuan. Dia adalah gadis yang sudah membuat kami kehilangan mangsa, jadi sebaiknya Anda jangan ikut campur,” ucap salah satu orang itu. “Jika kalian berani menyentuhnya meskipun seujung kuku, akan ku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup!” ucap Dehan. Perkelahian pun tak terelakkan, dengan tenaganya Dehan menghajar kedua pria itu, hingga akhirnya kedua orang itu pun kalah. “Jangan pernah kalian menyentuhnya,” ucap Dehan. Kedua orang itu hanya menggeliat saat Dehan melewati mereka dengan membawa Luphi dalam gendongannya. Dengan segera Dehan pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba kepala Dehan terasa pusing. Jarak ke rumah sakit masih lumayan jauh, Dehan pun membelokkan mobilnya dan memilih menuju rumah pribadinya yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. “Kenapa kepalaku pusing banget sih? Apa yang terjadi padaku?” gumam Dehan. Tak membutuhkan waktu lama, kini mobil degan sudah ada di pelataran rumah pribadinya. Dehan turun dari mobil, dan membawa Luphi di dalam gendongannya menuju kamarnya. “Loh Mas Dehan kok gak bilang-bilang kalau mau pulang ke sini?” tanya salah satu satpam di sana. “Iya,” hanya itu yang keluar dari mulut Dehan. Kepalanya sangat pusing entah kenapa ia juga tidak tahu, setelah sampai di kamar, kini Dehan menidurkan tubuh Luphi di ranjangnya. Sementara dirinya melepas pakaiannya berniat untuk ganti baju, tapi sepertinya kepalanya semakin terasa berat dan akhirnya Dehan pun kehilangan kesadarannya dan tertidur di sebelah tubuh Luphi. Sementara itu, kini di kediaman Morgarano tengah gempar karena sopir yang tadi membawa Dehan, mengatakan jika sang majikan pergi menyelamatkan Luphi dari para preman yang menculik gadis malang itu. “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Handi pada sopirnya. “Maafkan saya, Pak. Tapi Mas Dehan meminta kunci mobil dan segera mengejar preman itu.” “Ada apa, Pa?” tanya Mario yang baru saja memasuki rumahnya. “Kamu kan yang meminta Luphi untuk beli makanan?” tanya Linda. “Iya, memang kenapa Ma? Dia kabur?” twnya Mario. “Dia di culik preman, Yo. Dan Masmu sekarang menolong Luphi dan sampai saat ini juga belum kembali,” ucap Handi. Mario tersentak mendengar ucapan Papanya, ia tak menyangka jika Luphi di culik, awalnya ia memang ingin mengerjai Luphi, dan setiap harinya ia berhasil mengerjai gadis ontel itu, biasanya Luphi hanya menerima saja apa yang ia lakukan, tapi tadi pagi, sepertinya Luphi terlihat kesal dengan ulahnya. “Apa Papa sudah mengirim orang-orang Papa untuk mencari mereka?” tanya Mario. “Belum, soalnya Papa juga baru tahu,” ucap Handi seraya mengotak-atik ponselnya. Saat Handi sibuk mengotak-atik ponselnya, seorang satpam datang menghampiri mereka. “Maaf, Pak. Baru saja saya mendapatkan kabar, kalau Mas Dehan sudah pulang ke rumahnya,” ucap satpam itu “Kapan dia pulang?” tanya Linda. “Tadi Bu, dan dia bersama seorang gadis yang terlihat pingsan,” ucap satpam itu. “Itu pasti Luphi. Ayo kita ke sana, Pa,” ajak Linda. “Ayo Ma. Kamu ikut Yo?” tanya Handi. “Gak Pa. Aku senang jika Mas Dehan sudah pulang dengan selamat,” ucap Mario. Linda dan Handi pun kini bergegas menuju rumah Dehan. Setelah mendengar Dehan kembali, mereka senang dan ingin segera menemui anak dan calon menantunya. Handi memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri daripada di antar oleh sopir, baginya hal itu lebih cepat. “Ma, coba telepon Dehan. Tanyakan keadaannya, siapa tahu saja sudah bisa di hubungi ponselnya,” ucap Handi. “Sudah, Pa. Tapi tetap saja gak aktif. Mungkin mereka kelelahan akibat melawan para preman tadi,” ucap Linda. “Dasar Dehan, seharusnya kan dia langsung membawa Luphi ke rumah sakit, ini kenapa malah di bawa pulang ke rumahnya sih?” gerutu Handi. “Mungkin keadaan Luphi baik-baik saja Pa,” ucap Linda. “Tapi kata satpam kita, Luphi pingsan, gimana sih tuh anak!” ucap Handi. “Sekarang kita lihat saja bagaimana keadaan mereka, jika nanti keadaan Luphi memang tidak baik-baik saja, kita panggil dokter saja,” usul Linda. “Mama benar,” ucap Handi seraya masih fokus ke jalanan. Dengan perasaan gelisah dan tidak tenang, Linda kembali mencoba menghubungi ponsel milik Dehan, tapi hal itu nihil, karena ponsel Dehan masih tidak bisa di hubungi. “Papa punya nomor ponsel milik satpamnya Dehan?” tanya Linda. “Ah iya, punya, lihat saja di ponsel Papa,” ucap Handi. Tanpa menunggu lama, Linda segera mengambil ponsel milik sang suami, dan segera menghubungi satpam Dehan. “Pak, ini saya Linda mamanya Dehan,” ucap Linda saat panggilan ponselnya sudah terhubung. “Oh iya, Nyonya ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam itu. “Bagaimana keadaan Dehan, Pak?” tanya Linda. “Oh, Mas Dehan tadi pulang dengan seorang gadis yang terlihat pingsan Nyonya, tapi keadaan mas Dehan terlihat baik-baik saja,” ucap satpam itu. “Sekarang bagaimana keadaannya? Bisa minta tolong Bapak periksa di dalam?” tanya Linda. “Saya baru saja dari dalam, Nyonya, tapi Mas Dehan belum keluar dari kamar sejak datang tadi,” ucap satpam itu. “Apa?” tanya Linda kaget Hal itu sontak membuat Handi m3noleh ke aras sang istri. “Apa dia di dalam kamar yang sama dengan gadis itu, Pak?” tanya Linda. “Iya Nyonya,” jawab satpam itu. “Ya sudah Pak, terima kasih,” ucap Linda. “Sama-sama Nyonya.” Linda menaruh ponsel Handi, dengan menghela napasnya. “Ada apa, Ma?” tanya Handi. “Satpamnya bilang, jika Dehan belum keluar kamar sejak pulang tadi,” ucap Linda. “Lalu bagaimana dengan Luphi?” “Ini yang Mama khawatirkan, Pa!” ucap Linda. “Kenapa Ma? Apa ada hal buruk yang terjadi pada Luphi?” tanya Handi khawatir. “Bukan begitu Pa. Tapi mereka berada dalam satu kamar saat ini. Dan sampai sekarang mereka belum keluar juga,” ucap Linda. “Apa? Mereka ada di dalam kamar berdua?” tanya Handi. “Bagaimana jika mereka melakukan hal yang tidak kita inginkan, Pa?” tanya Linda. “Semoga saja tidak ada apa-apa, Ma,” ucap Handi. Orang tua mana yang tidak khawatir dengan keadaan anaknya, apalagi mendengar jika ada yang mengatakan jika anaknya berada dalam satu kamar bersama seorang wanita. Pikiran Linda sudah berkelana ke mana-mana. Tak berselang lama, mobil yang di kendarai Handi pub sudah sampai di rumah pribadi Dehan. Rumah yang di beli dengan jerih payahnya sendiri itu, tampak sangat asri dan terawat. “Sudah sampai, Ma. Ayo kita masuk,” ucap Handi. “Selamat malam, Nyonya dan Tuan,” ucap satpam itu. “Selamat malam, kami masuk dulu,” ucap Handi. Langkah kaki Linda melebar saat ia sudah memasuki rumah Dehan. Yang ia tuju adalah kamar Dehan. “Astagfirullah ...!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD