Bagian 1

2828 Words
Duduk di acara lamaran kakaknya saat ini seperti mengusik jiwa Anggi yang masih senang menyendiri. Entah sudah berapa lama kakaknya—Anggita—mengenal lelaki yang bisa dilihat raut berseri-seri dari cara senyumnya di kursi seberang. Anggi mampu melihatnya, lelaki bernama Bramasta yang sering diceritakan sang kakak mulai membaca basmalah dan mulai melantunkan segala kalimat lamaran untuk Gita—nama panggilan kakak Anggi. "Saya banyak membuat putri bapak dan ibu menangis semasa pacaran. Dia sering memprotes banyak hal pada diri saya ketika saya terlalu sibuk dengan dunia kerja. Gita... saya meneguhkan hati untuk melamarmu menjadi pendamping hidup saya ke depan. Berdoa bahwa kamulah yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Semoga Tuhan menjawab doa bahagia kita dihari ini." Kurang lebih begitulah bunyinya. Anggini menatap kakak perempuannya takjub. Meski menggunakan riasan agak tebal dari hari-hari biasanya, Anggi tahu kalau Gita bersemu merah akibat ucapan calon suaminya. Selesai prosesi yang banyak merangkai kata-kata, seluruh keluarga mengambil bagian untuk bercengkerama dan membagi cerita satu dengan lainnya. Anggini benar-benar tidak memiliki teman bicara di Sana selain kakaknya yang diam-diam mencuri pandang ke arah Bramasta. "Git, lo kenal sama Bramasta dari mana, sih?" tanya Anggi. Keduanya terbiasa saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel kakak, mbak, atau lainnya. "Gue dulu sempet ambil psikologi, inget? Sebelum gue keluar karena nggak kuat dijurusan itu." Anggi mencibir, "Oh, iya, ya. Hahaha. Mana kuat otak lo belajar begituan. Lo kan sama aja kayak anak papa, yang secara nggak langsung ya kayak gue... males belajar akademik. Sok-sok an, sih, lo. Ujungnya juga jadi produser senior di tv, kan." "Berisik! Lo juga sama, Nggi." "Ya, kan gue udah bilang tadi. Yeee!" Tak lama pembicaraan mereka berdua terputus karena sang pujaan hati Gita sudah menyambangi meja mereka. "Sayang." "Ya?" "Kamu udah ambil makan?" "Belum, nungguin kamu, Bam." Keduanya bicara seolah Anggi tidak ada diantara mereka. Jadilah Anggini menjadi penikmat merdunya percakapan kedua sejoli itu. "Aku ambilin makanannya, ya. Aspiring berdua aja. Aku lagi diet menuju hari H kita." Akhirnya Gita yang berdiri mengambil makanan untuk mereka berdua—Gita dan Bramasta. Sepeninggalnya Gita, calon kakak-adik ipar itu saling lirik canggung. Tak tahu mau membuka percakapan apa. "Apa kabar, Nggi?" tanya Bramasta. "Baik." Entah kenapa, tapi Anggini selalu bersikap ketus pada lelaki itu. Bukan tak suka, hanya saja dia agak kikuk jika berhadapan dengan laki-laki tak seperti kakaknya yang luwes sekali meski baru pertama kali bertemu laki-laki asing. "Kamu nggak ambil makan?" "Nggak usah ditanya, gue bisa ambil sendiri. Emangnya lo, manja banget sama kakak gue." Bramasta memutar bola matanya. "Ngomong baik-baik sama kamu emang nggak mempan, ya, Nggi. Pantes nggak ada laki-laki yang mau deketin kamu." "Apaan, tuh maksud lo?!" "Ya... mana ada yang mau sama cewek judes, cuek, jutek, ketus, sarkas, dan nggak pandai bergaul kayak kamu ini." Mata Anggini menyipit, "Kok nada ngomong lo nyinyir, sih?! Dasar jiwa netizen kejam. Nggak pantes titel dokter kejiwaan lo itu! Harusnya lo ubah titel dokter lo, ganti jadi lo pasiennya!" "Jangan sok tahu kalo nggak tahu. Aku bukan dokter kejiwaan, tapi terapis—" "Halah sama aja! Sama-sama ngurus orang sakit jiwa!" "Anggi!" desis Gita. "Kamu bikin malu tahu, nggak? Tamu-tamunya pada ngelihat ke arah sini." Anggi melihat sekitar, pandangan yang menghakimi sikapnya lagi-lagi muncul. "Kenapa, sih, setiap sama lo emosi gue naik?! Dan orang-orang selalu nyalahin gue! Dasar dokter sakit jiwa!" "Anggi!" Gita berniat mengejar adiknya yang sudah bersikap tak sopan pada calon suaminya, tapi tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Bramasta. "Maafin sikap Anggi, ya. Dia emang manner nya kurang." Bahkan hingga kini, Bramasta masih menghadapi sikap tak sopan Anggi. Meski statusnya berubah menjadi istrinya. "Git... aku kangen kamu. Kenapa harus cewek kurang manner nya itu yang jadi istriku? Kenapa, Git???" * Anggini merangkai tatap pada punggung pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Semula, tangannya belum berganti posisi menjadi bersedekap. Masih mengamati dengan santai karena Bramasta mulai menangisi kisah lama yang tidak tercapai. Sayangnya, Anggi benci sekali ketika Bramasta mulai meracau menyalahkan kondisi mereka yang menjadi satu. Memangnya kenapa kalo kita hidup bersama, sih, Ta?! Itu yang selalu terpikirkan dalam benak Anggi. Memangnya kenapa jika dia Yang menjadi pasangan Bramasta? Memangnya kenapa kalau Anggi tak seperti Gita? Memangnya salah membangung hubungan baru yang melibatkan diri Anggi? Apa tidak cukup mencoba menerima Anggi setelah tiga tahun masa pertunangan mereka dicanangkan? Apa maunya Asta? Begitu Asta—panggilan yang Anggi berikan—membalikkan badan dan baru menyadari istrinya bersedekap di depan pintu kerjanya pria mengusap jejak tangis serta lelehan yang keluar dari hidungnya. "Ngeluh lagi??" cibir Anggi. "Nggak capek ngeluh sama mantan terus?" Asta melewati sang istri sembari berucap, "Jangan mulai lagi." Anggini mendengus dengan sangat keras, sengaja memancing suaminya untuk bicara dan berhadapan langsung dengannya. "Kapan aku pernah mulai, sih? Kamu aja nggak pernah mau mulai apapun denganku, Ta. Apanya yang harus dimulai lagi?" Sindiran itu datangnya dari bibir manis milik Anggi. Bukan seperti tipe perempuan lainnya yang suka meratapi sakit hatinya hanya seorang diri di dalam hati. "Nggi... aku nggak berniat berdebat apapun sama kamu. Lagi. Coba kamu pikir, berapa banyak perdebatan nggak penting yang kita lakuin pasca menikah? Ini baru lima bulan, Nggi. Tapi kamu udah membuat perdebatan—" "Aku yang salah?! Aku salah lagi, Ta? Apa yang kamu pikirin saat meratapi masa lalu kamu dan menjelekkan aku di depan mendiang kakakku sendiri? Apa yang kamu pikirin ketika begitu lancarnya kamu mengeluhkan sikapku yang selalu kurang dimata kamu? Kamu mikir nggak waktu ngelakuin itu, Ta? Atau jangan-jangan kamu nggak pernah berpikir sebelum bertindak?" Bramasta membelokkan langkahnya menuju kamarnya sebelum menutup pintu dengan keras di depan wajah Anggi, sengaja membalas dengusan tak sopan perempuan itu. "Asta! Jangan jadi chicken dengan menghindari masalah terus-terusan! Asta!" Dan teriakan itu tidak akan pernah digubris. Anggi meringis, matanya memerah dengan bibir mengkeriting menahan tangisannya. Dia buru-buru melangkah ke kamarnya sendiri dan menutup mulutnya rapat agar tidak ada tangisan yang terdengar. Dia adalah perempuan kuat, lebih kuat dibandingkan pria yang mengangguk saja di depan orangtua mereka guna melaksanakan titah untuk menikahi Anggi. Memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, Anggi menahan diri untuk menerjang pintu suaminya dan memaki keras untuk berpisah. Berulang kali, selama lima bulan masa pernikahan yang tidak ada hangat-hangatnya itu memunculkan niatan Anggi untuk berpisah saja. Diprosesi ijab yang mereka lakukan sudah dijelaskan bahwa suami berkewajiban menafkahi lahir dan batin pada istri, membahagiakan supaya Allah tidak menjadikannya dosa suami. Sayangnya, Anggi juga tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik karena emosi selalu naik ketika Bramasta menutup diri dan memilih bercerita pada benda mati; foto Anggita. Selama mengenal dari awal, entah bagaimana hubungan mereka menjadi seperti korelasi antara air dan minyak, tidak bisa menyatu. Pisah, pisah, pisah. Bujukan setan dalam dirinya menuntut hal itu, tapi membayangkan usia pernikahan yang masih seumur jagung, harapan orangtua mereka, hingga prosesi akad yang begitu sakral... Anggi tidak bisa melakukannya. Satu-satunya cara adalah bertahan. Berusaha meruntuhkan kebodohan suaminya dengan cara apapun. * Kebiasaan setelah bangun tidur mereka adalah membuat dinding tinggi dan setebal mungkin agar tidak ada pertengkaran mereka dipagi hari. Mereka sadar diri, ketika pagi semua rencana serta tenaga harus diisi dengan baik. Jangan sampai membuyarkan apapun untuk mengawali hari mereka di tempat kerja masing-masing. "Berangkat jam berapa?" tanya Asta lebih dulu sembari meniup pelan permukaan kopi di gelasnya. Buatan Anggi. Sayangnya hanya sebatas minuman dan makanan saja yang bisa Anggi berikan pada sang suami, dan yang terpenting bisa diterima pria itu. "Duluan aja," jawab Anggi. Tidak bernapsu apa-apa. Juga tidak ingin lebih lama membagi menghirup udara yang sama hanya untuk saling berebut dan ujungnya menahan emosi. "Kenapa harus pisah-pisah? Kita searah." Tegukan pertama Anggi bisa melihat bagaimana jakun suaminya bergerak. Santai betul Bramasta dalam berucap, menjabarkan bahwa tempat kerja mereka searah dan itu menekankan bahwa mengantar Anggi tak akan menghabiskan bensin mobil pria itu. "Jadwalku diganti. Ada asisten PD baru yang bisa aku andalkan." "Lebih santai sekarang? Karena udah makin senior?" Anggi tak tahu mengapa Asta sepertinya sedang mencoba membangun komunikasi bersamanya setelah semalam bersikap sangat pengecut meninggalkan perdebatan mereka. "Ya, lebih santai. Kenapa tanya-tanya? Biasanya juga nggak peduli." Bramasta meletakkan gelas kecil kopi tersebut di atas piring kecil pasangannya, tanpa menurunkannya ke meja. Anggini tahu itu berarti Asta belum berniat mengakhiri kegiatannya saat ini. Tumben? batin Anggi. "Nggi... setelah kupikir-pikir semalaman ada baiknya kita ambil jalan damai." Asta menjelaskan. "Damai buat apa?" "Damai sebagai pasangan yang selalu saling menyakiti dengan ucapan. Berhenti berperang dingin setiap pagi, dilanjutkan adu mulut sepulang kerja, dan jangan lupa perang batin setiap kita melihat wajah satu sama lain." Asta mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. "Aku nggak mau membuat pernikahan ini semakin seperti di neraka. Aku mau kita mulai damai dan memikirkan kenyamanan satu sama lain, bukan masing-masing seperti kita belum menikah." Oh, jadi lagi-lagi aku yang secara nggak langsung disalahkan? "Kenapa kamu yakin kita bisa membuat nyaman satu sama lain? Sedangkan kamu sibuk—" "Kita akan buat perjanjian. Tertulis dan nggak tertulis. Aku yakin dengan saling kompromi, pernikahan kita akan berjalan dengan baik." Anggini membalikkan badan, menghadapi sang suami sepenuhnya. "Perjanjian apa?" "Perjanjian pernikahan...? Semacam itu." Bramasta terdengar tidak meyakini ucapannya sendiri. "Aku nggak mau, Ta." Tolak Anggini langsung. "Terus kamu maunya apa?" "Aku?" tunjuk Anggi pada dirinya sendiri dan diiyakan oleh Asta. "Aku maunya kamu memberikan kesempatan untuk kita saling mengenal. Aku maunya kamu memberi keleluasaan dipernikahan kita layaknya pernikahan normal. Asta, harus kamu tahu pernikahan kita sangat nggak sehat sejak awal. Pasangan yang pisah ranjang itu biasanya pasangan yang ingin bercerai. Tapi, Ta... aku nggak mau ada perceraian." Anggi menatap Asta. "Kamu ngerti maksud aku, kan?" Bramasta tidak mengangguki, tapi pria itu menjawab, "Kasih aku waktu." "Bahkan hampir tiga setengah tahun ini kamu leluasa menggunakan waktu kamu untuk berpikir." Anggi menyindir suaminya. "Ya... tapi kasih aku waktu. Permintaan kamu terlalu—" Anggi memutuskan menyela kalimat Asta yang pasti ingin menghindar lagi. "Gini aja, karena kamu ingin damai. Pergunakan aku semau kamu, aku nggak akan menuntut apapun. Tapi yang jelas aku mau hakku sebagai istri terpenuhi, lahir dan batin. Nanti malam adalah waktu dimulainya perdamaian kita. Nggak ada lagi perdebatan konyol." * Nyatanya bicara tanpa mengandalkan otot leher bisa membuat keduanya berpikir lebih jernih. Meski dengan kejernihan tersebut keduanya tetap saling tindih pendapat, tak sampai saling berteriak, tapi melelahkan karena selalu desis menekankan keinginan mereka masing-masing. "Oh jangan kamu pikir aku benar-benar buta sama niat kamu, Ta. Aku tahu kamu akan berkelit dengan alasan nggak masuk akal lainnya." Anggi mencoret-coret tulisan tangan yang suaminya berikan. Di meja makan yang penerangannya lebih temaram, keduanya mencari kesepakatan bersama. "Nggi, kamu udah janji—" "Aku janji sama orangtua kita untuk bersikap sopan sama kamu. Aku turutin. Aku menuruti semua kemauan kamu tanpa bantahan. Dengan catatan, aku mau menjadikan pernikahan kita ini pernikahan sebenarnya. Nggak ada drama perjanjian ini dan itu secara tertulis, aku nggak akan menuruti tulisan, aku menuruti suamiku. Kamu." "Jadi?" tagih Asta. "Pernikahan sebenarnya seperti apa yang kamu mau?" "Tidur bareng, ngobrol ringan, tuker pikiran, berbagi keluhan yang aku nggak suka dari kamu begitu juga sebaliknya. Supaya komunikasi kita jalan. Berbagi apapun di ruangan yang sama, dan membagi tubuh kita di ranjang yang sama. Nggak ada yang namanya adegan nikah kontrak, karena tujuan kita menikah bukan itu." "We share." Kata Bramasta. "Ya. Kita berbagi. Sebagai pasangan sebenarnya, bukan pura-pura." "Kalau aku nggak cocok dengan ide itu?" bantah Asta. "Aku yang akan memberi jarak. I told you, I comply with my husband, not a contract on the paper." Bramasta tak pernah menyangka bahwa Anggi lebih keras kepala melebihi Gita. Perempuan yang sangat bertolak belakang kadar ketegasannya. Gita memang mirip dengan adiknya, tapi mereka juga sangat kontras satu sama lain. Jika Gita akan lebih banyak diam sebelum dicari atau didekati, maka Anggi akan menarik pelatuk untuk berdebat jika memiliki kepentingan. "Kapan kesepakatan ini kita coba?" "Malam ini." "Kita belum sepakat pindah ke kamar aku atau kamu." "Nggak perlu ribet. Kita pindah ke kamar bawah yang lebih luas, cukup untuk kita berdua berbagi semuanya." * Bramasta mengubah posisi tidurnya yang semula telentang menjadi ke samping. Kebetulan posisi Anggi menghadapnya. Wajah mereka bertemu, tapi berbeda kadar lelapnya. Asta mengintip, apakah Anggi sudah benar-benar lelap atau pura-pura saja. Menemukan jawabannya, Asta berani mengulurkan lengannya guna mengusapi wajah perempuan itu. Terkadang kalian terlalu mirip. Bramasta menarik helaian rambut yang menghalangi sebagian wajah istrinya. Lebih sering kalian yang jauh berbeda. Usapannya turun, jemari nakalnya membelah bibir Anggini yang lebih tebal Dan penuh dari milik Gita. Mungkin kadar cantik memang benar relatif. Namun, Bramasta harus mengakui kecantikan Anggini yang lebih dari sang kakak. Kamu cantik. Setelah mengusap dengan mengusap dagu Anggini, jemari Asta bergerak mengusap bahu perempuan yang terlelap karena sepertinya kelelahan itu  dengan gerakan naik turun. Jangan lupakan fakta bahwa Anggini sengaja memakai pakaian minim dengan dua alasan. Pertama perempuan itu terbiasa tidur dengan pakaian yang membebaskan p******a serta organ intimnya bernapas dengan bahan yang nyaman. Kedua, Anggini mengatakan sendiri bahwa dia ingin membagi apapun dengan Bramasta yang sah sebagai suaminya... termasuk memanjakan mata Asta dengan moleknya tubuh Anggi. Asta harus mengakui yang satu itu. Anggi lebih molek dari Gita yang memuja tubuh tipis bagai triplek bangunan. Menahan gejolaknya sendiri, Asta bergerak mendekat memutus jarak antara dirinya dan Anggi, berakhir dengan posisi saling memeluk semalaman. Kenapa rasanya hangat Dan nyaman? * Begitu bangun dalam keadaan berada direngkuhan suaminya setelah waktu yang cukup lama mereka tidak sempat merasakan saling menyentuh, Anggi dibuat takjub karena lengan Asta membelit pinggangnya erat dan menyerukkan wajah di lehernya. Pertanyaannya, apa Asta bisa bernapas dengan baik jika hidung bangirnya menghadap lehernya? Namun, Anggi tak mau merusak pagi mereka yang mulai dekat dan menumbuhkan efek geli bagi Anggi entah kalau suaminya apa sama gelinya atau... "Jam berapa?" Suara serak Asta mengejutkan Anggini yang sebelumnya asyik menikmati deru hangat dilehernya. "Setengah enam." "Kamu nggak subuh?" "Subuh," Anggi berusaha memundurkan wajahnya dan melihat sang suami yang dipinggir bibirnya terdapat bercak putih mengering. "Kamu iket aku sangat kuat. Gimana bisa turun?" Seperti baru menyadari—setiap Anggi meregangkan belitan tangan pria itu maka dalam alam bawah sadar ketika tidur Asta akan semakin mengeratkannya—rengkuhan yang begitu kuat yang asalnya dari dirinya sendiri, Asta otomatis bergerak cepat melepas. "Ayo mandi bareng sekalian." Tatapan terkejut Asta ditimpali dengan santai oleh Anggi. "Kenapa? Toh udah sah ini. Aku mandi di bathup, kamu di shower dalam. Bisa, kan?" "Aku di kamar mandi luar aja." Anggini mengendik bahu. "Aku udah janji menuruti suamiku. Oke. Cepetan mandi, imamin aku." Anggini lebih dulu turun dari ranjang. Dia bergerak cepat melesat ke kamar mandi dengan bagian tubuh yang agak memantul ketika bergerak dengan gesit di depan mata Asta. Pria itu mengusap wajah, mengucap istighfar karena membayangkan yang bukan ranah mereka selama ini. Begitu menyingkap selimut, Bramasta baru menyadari kalau miliknya mengeras dipagi hari seperti ini. Sekali lagi dirinya mengerang, "Pantes dia ngajakin mandi bareng!" memaki dirinya sendiri. Begitu selesai, dengan mandi dan ibadah mereka. Anggi turun menuju dapur dengan kaus besar menengger ditubuh sintal perempuan itu. "Nggi!" panggil Asta dari kamar. "Ya?" Anggi membalas dengan berteriak dari dapur. "Kamu kenapa minjem kaus aku?? Bukannya kegedean sama kamu???" "Bahannya enak, longgar. p******a aku bisa napas, Ta!" Pria itu tersedak ludahnya sendiri. Untung saja Anggi pandai mengurus rumah, jadi tak perlu menyewa asisten rumah tangga dan tentu saja tak perlu mendengar ucapan istrinya yang sungguh v****r. Menyediakan pisang segar dan membuat jus untuk dirinya sendiri, Anggi asyik saja mengurus buah di dalam blender. Sedangkan Asta berderap menuju meja makan yang memang berada satu tempat dengan dapur. "Kamu nggak pake b*a?" Begitu terdengar dekat suara Asta, perempuan tersebut berbalik badan dan merentangkan tangan guna membuat cetakan di kaus suaminya. "You see?" "Anggi!" "Kok marah, sih, Ta? Kamu nggak suka b*******a? Sukanya apa?" "Kenapa mulut kamu murah banget, Nggi?! Kamu selalu nggak sopan." Anggini menyamarkan helaan napasnya. Dia bersiap terlihat murah didepan suaminya sendiri, dan menggoda pria itu hingga harus lepas kendali. "Kamu harus mulai membiasakan diri kamu untuk melihat aku dengan cara m***m. Aku istri kamu, Ta. Silakan sentuh aku, lihat aku, dan bayangkan aku sekotor mungkin karena itu jelas sah. Tanamkan dalam pikiran kamu, kita bisa melakukan apa aja. Karena kamu suamiku." "Anggini..." Perempuan itu berjalan mendekati meja makan dimana sang suami duduk. Mengambil pisang utuh dan sengaja membuka kulitnya di depan Asta. "Are you serious, Nggi??" Tak mendengarkan ucapan sangsi suaminya, Anggi memperagakan gerakan ambigu yang begitu s*****l plus v****r. "Menu pagi hari ini pisang, babe." Anggi menghabiskan pisangnya, mendekati kursi Asta. Pandangannya menelurusi wajah hingga tubuh pria itu. Tangannya mengusap d**a Asta, "I'll kiss you, Ta. Sebelum kamu menyesal, larang aku sekarang." Anggi pernah mendengar kalimat semacam itu dalam tontonannya di drama romantis. Sayangnya, bukan pihak perempuan yang mengatakan tetapi prianya-lah yang mengucapkannya. Meski miris, Anggi tak peduli. Dia menggapai bibir Asta dengan bibirnya sendiri. Memberikan aroma pisang yang sebelumnya dia makan. Tak mendapati tolakan, Anggi duduk di atas pangkuan suaminya. Menggerakan diri di atasnya dan tetap mengajak Asta untuk berciuman panjang. "You like it, babe." Kata Anggi setelah sesi lumatan itu. Dan Asta terperangah. Dia merasa sudah gila. Namun, dia suka dengan aktivitas seperti ini. "Asta... kalo kamu terpaksa—" Kali ini bibir Anggi yang lebih dulu dibekap. Begitu percaya diri Anggi mengalungkan lengan dileher suaminya. Meninggalkan perasaan bimbang mereka yang sebelumnya ada, lalu perlahan belajar mengikisnya dalam agenda baru mereka; b******a.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD