Bagian 2

2797 Words
Dorongan keras dari d**a sang suami menyentak Anggi di atas ranjang. Memang ranjang rumah mereka empuk semua, tapi tetap saja memantul di atasnya membuat pergerakan agak risih. Saat bibir mereka terlepas hanya untuk memosisikan diri, Anggi menahan d**a pria itu karena masih ingin menyeruduk maju. "Apa kamu pernah bilang nggak keberatan tidur denganku?" "Apa?" Asta sepertinya sedikit oleng dengan gairahnya sendiri. Menjawabpun dia tidak fokus. "Asta, kamu harus janji nggak menyesali apapun setelah ini." "Aku nggak akan menyesali menyentuh istriku sendiri, kecuali kamu nggak memiliki status apapun denganku. Apa udah jelas?" Tak sabaran menjawabnya, Anggini tahu dia sudah memanfaatkan gairah pria itu untuk hubungan pernikahan mereka lebih maju. Tak apa, kan, melakukan cara 'kotor' begini untuk mengikat suami? "Cium aku kalo gitu, Ta." "Apa?" "Cium aku lebih dulu. Kamu tahu, kan, gairah perempuan lebih lama muncul daripada laki-laki?" Bramasta mengangguk, meski tidak sepenuhnya mendengar ucapan sang istri, dia mengangguki saja agar aktivitas mereka disegerakan tanpa banyak bicara lagi. "Cium aku, diseluruh bagian, Asta. Paham?" ucap Anggi memenangkan agenda saat ini. Entah agenda lainnya nanti. Ketika Asta mulai menekan bibirnya pada setiap bagian tubuh istrinya, Anggi tak bisa menahan desau lirih nan seksinya. Suara itu muncul tanpa Anggi pilih dan canangkan sebelumnya. Setiap sentuhan kecil dari Asta memang membangkitkan hasratnya untuk bersuara lebih karena hanya dengan itu dia mengumumkan pada suami dan ruangan luas tersebut, betapa surga dunia itu ada. Kegiatan intim seperti inilah yang membuat kepala Anggini serasa kosong dan tidak mendengar bunyi lain selain kecipak lidah, bibir, dan dorongan keluar masuk jari jemari Asta dibagian tertentu. Tangan kiri di atas sibuk memilin, tangan kanan berada di bawah sibuk menerjang, dan bibir Asta sibuk mengulum bagian mana saja yang ingin dikulumnya dalam beberapa menit perpindahan. "Asta—" kakinya berusaha merapat, hingga menekan tangan kekar suaminya yang nakal sekali menusuk terlalu dalam. "Ya, ampun, Taaa... hhh." Saat itu juga Anggi merasa meledak untuk pertama kalinya. Sebelumnya, dia tak tahu bahwa memainkan dengan jari dibagian vital bawahnya yang masih terjaga bisa sebegitu nikmatnya. Anggi juga tak tahu kalau momen pertama ini tidak begitu menegangkan seperti ucapan banyak orang. "Sakit?" tanya Asta. "Nggak." Anggi menggeleng. "Justru enak." Asta diam-diam senang mendengarnya. Sengaja dia belah milik Anggi menggodanya. "Mungkin karena jariku kecil makanya kamu nggak ngerasa apa-apa." "Aku ngerasain, Ta. Enak. Kamu denger itu." Sejujurnya Asta ingin tertawa, tapi ekspresi lugu istrinya justru menarik Asta untuk semakin tak sabar menunggu. "Giliran yang besar kalo gitu." Seperti tak ada habisnya membuat Anggi kehilangan sebagian pikiran warasnya, Asta sengaja menggoda bibir bawah istrinya sebelum benar-benar memasukinya. "Asta..." Anggi menarik bantal menggigitnya guna melampiaskan keinginannya berteriak karena sensasi geli tapi nikmat yang dirasakannya dari godaan Asta. "Nggi... ini mungkin bakalan agak sakit awalnya. Tapi aku yakinin kamu kalo kita nggak berhenti, rasa sakitnya bakalan hilang. Paham?" Anggini mengangguk, bibirnya membuka antara menahan napas dan ingin menarik udara sebanyak mungkin. Sesekali matanya terpejam tak tentu, sesuai debum nikmat yang didapat. Bramasta melesak masuk tanpa aba-aba. Dia tidak mau malah membuat Anggi banyak berpikir menunggu sensasi sakitnya, jadi, Asta putuskan untuk mengambil sebanyak mungkin kesempatan masuk lebih dulu sebelum Anggi menyadarinya. Begitu merasakan nyeri atau bagian sakit yang tidak bisa Anggi jelaskan lebih tepatnya, otomatis airmatanya menitih tak deras, tetapi menjelaskan kalau memang benar... sangat sakit. Asta yang melihat itu menarik tubuh Anggi dan mengecupi bahu perempuan itu. Terkadang juga berusaha menggapaikan bibir mereka, tapi Anggi seperti enggan karena merasakan efek dari lesakkan pertama itu. "Relax, Anggi. Relax." Pinta Asta yang terus berusaha memberikan rasa nikmat lebih gila pada istrinya. Sayangnya, karena faktor baru dimasuki hingga membuat milik Asta terjepit dan terpijat erat, belum ada sepuluh menit bergerak dia sudah kecolongan membuang cairan. "Sorry, Nggi. Nggak bisa ditahan." Asta berucap begitu melihat wajah bingung sang istri. * Hingga dua belas menit setelahnya, Anggi baru bersuara, "Hah?" dengan lesu. Dia sudah kepalang tanggung merasakan sakit dan sedikit enak tadi. Namun, gerakan cepat dalam diri Asta yang berdenyut lalu menyembur membuat Anggi linglung menatap—oke bagi Anggi itu masih menjijikan—cairan milik suaminya dan sedikit darah dari hasil pembobolan selaput daranya yang meleleh begitu saja. "Maaf, Nggi. Biasanya aku nggak secepet itu keluar. Tapi tadi kamu kebangetan rapatnya. Jadi, aku nggak bisa nahan karena pasti keluar..." "Kamu bilang apa?" "Nggak kuat tahan—" "Bukan itu!" Asta mengerutkan dahi. "Terus apa?" "Biasanya??? Maksudnya apa?" tuduh Anggini dengan kesal. "Kamu..." "Bukan, bukan! Nggak gitu, nggak seperti yang kamu kira. Yang aku maksud biasanya itu, ya... kegiatan aku memuaskan diri sendiri." Anggini tidak tahu apakah harus memercayai sang suami atau tidak. Yang jelas, ucapan Asta yang cepat tapi jujur diawal itu mengusik pikiran Anggi. Asta cuma pacaran sama Gita aja, kan? Atau ada yang lain? "Nggi... jangan mikir yang nggak-nggak. Aku murni keceplosan bilang biasanya itu. Kamu tahu-lah, desakan gairah laki-laki. Aku memang banyak main sendiri di kamar mandi." "Apa harus kamu jelasin sejelas itu?" kata Anggi membuat Asta tercekat. "Ap—tadi kamu nanya, Nggi." "Nggak perlu kamu jelasin serinci itu! Kamu pikir o***i kamu itu keren?" Mood Anggini hancur. Dia tak suka dengan kegiatan yang pantas disebut malam pertama itu hancur dan parahnya momen intim itu dilakukan ketika pagi hari dimana keduanya belum meminta izin cuti dan sebagainya. "Minggir!" Anggi bergerak turun. Dia kesal dengan banyak hal pada momen pertama mereka tidur bersama. Dibawah kucuran air, Anggi tidak bisa membayangkan Asta memiliki momen intim dengan wanita lain. Benar, Anggi memang sangat naif. Bahkan saat dulu dia mengetahui kegiatan kakaknya yang diam-diam menonton film tidak senonoh di kamarnya yang mungkin lupa dikunci Anggi juga menganggap Gita masih begitu suci dan... Perawan seperti dirinya. "Aw..." Anggi mengaduh. Dia baru merasakan nyeri dipangkalnya sendiri setelah mulai santai dibawah guyuran air. "Nggi." "Astaga!" Perempuan itu terkaget karena tiba-tiba Asta menyembul saat dirinya mandi, terlebih lagi, Asta masih saja tidak mengenakan pakaiannya. "Ta?! Ngapain t*******g gitu?!" Omel Anggi. Pria yang diberi omelan justru masuk dan ikut berada di bawah guyuran air shower bersama sang istri. "Sakit nggak, Nggi?" Anggi merasa sangat bodoh. Sudah uring-uringan, tapi mendapati Asta memeluknya dari belakang dalam keadaan seperti ini malah membuatnya melumer. "Sedikit nyeri, sih." "Harusnya berendam air hangat di bathup aja. Biar nyerinya cepat reda." Tubuh Anggi masih berjengit ketika Asta mengecup bahunya. "Nggi..." Kecupan itu rupanya tidak berhenti di bahu saja, tapi mulai merambat pada tengkuknya. "Ta kamu ngapain, sih...?" Meski bertanya, Asta tahu kalau perempuan itu kembali terbawa dengan sentuhan yang Asta berikan. Dengan sengaja Asta memajukan tonjolannya di b****g Anggi. Lalu membisikkan, "Kamu bisa ngerasainnya, kan?" Anggi membuang napas. Dia tahan sekuatnya agar tidak terbawa arus gairah milik suaminya. "Ternyata kamu semesum ini, ya. Aku pikir kamu bisa tahan." "Kamu pikir aku biksu? Hal-hal kayak gini yang aku dan laki-laki lainnya suka. Apalagi..." Asta sengaja berusaha memasukkan miliknya tanpa Anggi sadari betul apa yang suaminya lakukan. "... ternyata aku punya istri yang bentuk tubuhnya bukan main semok nya!" Saat itu juga Asta menyentak dalam hingga Anggi memekik. "Asta...! Akh... Ta...." Anggini tidak dapat menolak pesona sang suami yang teramat jago menggagahinya meski dalam kegiatan berguyur seperti itu. * Anggini merasa lega dan mengganjal secara bersamaan. Tak tahu untuk apa dan karena apa. Mungkin rasa lega hadir karena sebagai perempuan yang menikah—kini lebih dari lima bulan—akhirnya bisa merasakan apa itu pelepasan dia merasa lega. Dan untuk bagian yang terasa mengganjal... Anggini tak mau memikirkan kemungkinan terburuknya. Rambut basahnya yang belum sama sekali kering menunjukkan bahwa dia sudah menghabiskan banyak waktu dengan sang suami. Sekarang, setelah terasa bagian enaknya, Anggi merasakan nyeri dan pegal. Sedangkan Asta, dia sibuk dengan gadget untuk mengatasi ketidakhadirannya untuk jadwal terapis. "Udah izinnya, Nggi?" tanya Asta yang masih menatap tab-nya. "Hm? Izin apa?" Anggi bisa melihat kerutan di dahi suaminya. "Izin kerjalah." "Oh. Aku belum bilang, ya kalo jadwalku diganti jadi siang? Nanti jam dua'an aku berangkat." Bramasta mendecak. "Kamu, tuh kerja macam apa, sih? Orang waktunya tidur kamu kerja. Orang waktunya istirahat, kamu nyari bahan. Aku sebenarnya nggak suka dengan sistem kerja kalian di tv. Program director atau apapun itu cuma bikin kalian capek sendiri." Kalian? Maksudnya... aku dan Gita? "Apa yang salah? Namanya sistem kerja, kan pasti beda-beda, Ta." Anggi menjawab. "Lagi pula, apa maksudnya kata kalian itu? Kamu inget, kan, Ta... kita lagi belajar menerima satu sama lain?" Untuk pembicaraan kali ini Anggi tak mau terlibat pembicaraan yang terlalu berat. Dia hanya ingin meluruskan permasalahan mereka saja. "Oh... sori buat itu. Aku suka keceplosan orangnya. Lain kali nggak akan begitu." Sebenarnya, dalam pikiran Anggi yang selalu negative, ucapan suaminya hanya kedok saja. Seperti tak benar-benar diniatkan dalam hati. "Asta... kamu siap jadi ayah?" Tiba-tiba saja Anggi memikirkan hal itu. "Maksudnya... kamu hamil gitu? Kan baru aja kita gituan. Mana bisa langsung jadi anak, Nggi." "Ish, bukan! Maksud aku, dari yang aku paham kalo kamu keluar di dalam terus bisa bikin hamil, kan? Berarti kamu siap jadi ayah?" Asta berpikir sejenak. Dia tidak memiliki pemikiran sampai kesana. "Kenapa nggak kita nikmatin waktu berdua kayak gini? Emangnya kamu mau waktu kita terganggu sama si kecil pas lagi semangat-semangatnya?" Dengan dalih seperti itu, sang istri percaya. Bramasta diam-diam menarik napas dan menghembuskannya pelan begitu jawaban Anggi melegakannya. "Bener juga, sih. Masa tunangan kita aja cukup saling kenal dan berantem terus. Memang lebih baik nunda dulu, ya, Ta." "He'em! Aku juga mikir gitu. Apalagi kamu yang masih ngejar kerjaan terus. Belum mau terikat sepenuhnya jadi ibu rumah tangga, lebih baik memang ditunda." Anggi mengangguk setuju. Tak ada pikiran apa-apa mengenai hal itu. Mereka mulai bisa berbicara dari hati, bukan dari otot. Kemajuan yang pesat hanya dengan kegiatan di ranjang—dan di kamar mandi—yang panas. Anggi-pun meringis dalam hati, mengapa tak dari awal saja memaksa mengajak sang suami untuk menikmati waktu dengan cara seperti itu. "Nggi..." "Hm?" "Aku punya rekomendasi dokter kandungan yang bagus." "Buat apa? Katanya mau nunda?" "Ya, ampun, Nggi. Kalo mau nunda juga harus konsul ke dokter kandungan. Nanti mereka kasih solusi yang pas buat kita." Anggi yang masih bodoh dengan hal seperti itu mengangguk kembali. Walau begitu, benaknya bertanya-tanya besar dan akhirnya dia celetukan saja langsung pad suaminya. "Kok kamu bisa tahu hal-hal begitu? Serasa pengalaman kamu lebih bagus ketimbang aku yang perempuan, Ta." * Banyak pertanyaan yang mengulas dibenak Anggi, meski begitu tak bisa semua tanya dia berikan, bukan? Jadi, mungkin satu pertanyaan ini mewakili apa yang memutar terus dikepala. "Ta?" "Ya... Nggi, aku kan berkecimpung di dunia kesehatan. Aku kenal banyak dokter berbagai spesialis. Masa gitu aja kamu nggak paham?" Seperti baru tersadar jika semua itu benar, Anggini membenarkan dengan anggukan. "Benar juga. Kamu, kan termasuk dokter, ya." "Ya. Seperti yang kamu suka ejekin ke aku. Aku ini dokter kejiwaan." Anggi tergeragap malu. Mana sempat, sih dirinya berpikir dulu sebelum menghina pekerjaan Asta? Jika pada akhirnya mereka akan menikah begini. "Maaf, deh... aku nggak tahu juga, kan kalo kita bakalan jadi pasangan nikah begini, Ta. Nggak lagi-lagi." Bramasta menilik wajah lucu sang istri yang kentara sekali merasa tak enak hati. Sengaja Asta tak langsung menanggapi, dia ingin mengerjai Anggini dengan rasa bersalahnya itu. "Aku tahu kamu serius bilang kalo kerjaanku itu dokter kejiwaan. Mau apapun itu jenisnya, kamu tetap akan bilang begitu. Bahkan kamu mungkin berpikir kalo aku ngurusin orang gila sebagai pasien ketimbang menyebutnya sebagai klien." Anggini yang sebenarnya memiliki sikap pengertian luar biasa itu mendekati posisi duduk suaminya. Di atas ranjang yang sudah mereka berantaki dan kotori berkali-kali itu, Anggi mencoba mendekati Asta dan mengusap d**a pria itu. "Aku beneran minta maaf. Itu salah satu sikap kasarku. Ta... aku nggak bermaksud merendahkan pekerjaan kamu." Dan Asta berhasil membalikkan topik pembahasan. Bahkan sang istri seperti sudah tidak memiliki pertanyaan lainnya sampai begitu mengharapkan Asta tak marah atas ucapan perempuan yang dulu sering membalas kata-kata menyakitinya dengan sama kasarnya. "Aku nggak mau maafin kamu sekarang, Nggi..." "Hah? Kamu beneran nggak mau maafin? Sebegitu sakit hatinya?" ucap Anggi terkejut. "Ya... nggak bisa disebut biasa, sih. Ini pekerjaan yang aku jalani pakai hati. Nggak main-main, tapi kamu..." "Aku harus ngapain supaya kamu nggak marah lagi, Ta?" Pertanyaan yang bagus, Nggi. Seringainya ditahan sekuat yang dia bisa. Menaklukkan seorang Anggini ternyata semakin mudah baginya. "Bukan marah, sebenarnya. Tapi lebih ke arah kecewa, Nggi." Wajah perempuan itu semakin memelas karena ucapan Asta semakin membuatnya merasa bersalah. "Ta... aku benar-benar—" "Mungkin salah satu caranya bisa dengan kamu izin cuti ke kantor. Aku nggak mau cuti sendirian di rumah. Kamu istriku, harus nurut apa kata suami, kan?" Selingan tajam yang biasanya akan Anggini balas lebih kasar, kini malah ditanggapi dengan gerakan cepat Anggi menghubungi pihak kantor beralasan benar-benar tak bisa masuk karena sakit. Tak sepenuhnya bohong, karena nyeri diselangkangannya memang masih sangat terasa. Bramasta mengamatinya, cukup senang dengan perubahan Anggi. Begitu sang istri berbalik menghadapnya lagi, Asta dengan cepat memberi ciuman di bibir Anggi. "Kamu udah nggak kecewa lagi, kan?" Bramasta tak mau cara menyenangkan ini berakhir begitu saja. Jadi, dia putuskan untuk melanjutkannya. "Aku nggak akan kecewa lagi kalo kamu bisa lebih kalem dan nggak banyak bertanya sesuatu yang berlebihan. Kadang, pertanyaan kamu itu memicu pertengkaran. Apalagi soal Gita." Asta menarik lengan istrinya, mengecup punggung tangan Anggi. "Kalo kamu mau hubungan kita berhasil, jangan bahas mengenai Gita, apapun itu yang kamu maksud. Aku nggak akan mencoba move on kalo kamu masih menyebut nama kakak kamu." Anggi sempat meragu, tapi ada benarnya untuk membuat Asta melupakan Gita tentu dengan tidak membahasnya terus menerus. "Oke. Aku nggak akan bahas Gita lagi." Dan Anggi tak akan pernah tahu kedepannya, pertanyaan mengenai mendiang kakaknya akan sangat penting untuk dikuak habis. * Mendatangi rekanan Bramasta untuk berkonseling menjadi pengganti dari kegiatan keduanya yang semula berniat hanya duduk manis beristirahat di rumah saja. Nemar menyambut mereka dengan baik hati tentunya. Wajah Nemar menunjukkan sedikit keterkejutan ketika melihat wajah Anggi yang sudah pasti memiliki kemiripan dengan mantan Asta itu. Nemar tahu, dia tahu apa yang Asta lakukan.  "Jadi... ke sini untuk?" tanya Nemar.  "Tanya-tanya, sama program nunda kehamilan, Mar." Alis Nemar terangkat melirik Asta lebih dulu sebelum ke arah Anggi. "Yang semangat kayaknya si suami aja, nih. Kamu semangat juga buat nunda kehamilan?" Dilempari pertanyaan seperti itu membuat Anggi tergeragap untuk menjawabnya. Dia datang ke sini juga karena anjuran sang suami yang menyuruh rencana mereka terealisasikan lebih cepat.  "Kok bingung?" tanya Nemar lagi.  "Mar, istri gue nggak paham sama program kayak gini. Dia bakalan nurut sama prosedurnya. Kita langsung bahas aja intinya, Mar." Nemar sebenarnya tidak mencoba mencari celah apapun dari pertemuan ini. Namun, melihat betapa polosnya istri dari Bramasta itu, sebagai laki-laki dia agak sedikit tak tega. Perempuan cantik yang memang lebih cantik dibanding mantan Asta itu terlihat lebih serius menyayangi Asta ketimbang sebaliknya.  "Karena ini prosedur dijalani berdua, saya mau memastikan suami dan istri nggak ada yang keberatan. Porsi saya sebagai dokter di sini untuk pasangan, yang berarti ada dua orang di dalamnya yang terlibat." Nemar mengacuhkan tatapan Asta, memfokuskan diri pada Anggi yang masih bingung. "Jadi, Anggini... kamu bersedia menunda kehamilan di dalam pernikahan kalian?" * Jawabannya, tidak. Anggi tidak siap menunda kehamilan dengan program yang sudah disebutkan oleh dokter Nemar. Yang Anggi ambil adalah saran untuk berhubungan intim yang aman saja. Entah itu metode yang mengharuskan Asta tak keluar  di dalam, berhubungan saat Anggi aman juga, atau menggunakan pengaman sebagai antisipasi. Anggi menyutujuinya, tapi tidak menunda dengan memakai pil, suntik, dan atau apapun itu yang bisa membuat hormon kewanitaan Anggi rusak hingga bisa saja ketika waktunya mereka ingin memiliki anak akan lebih sulit mendapatkannya.  "Ta, aku minta maaf. Tapi aku beneran nggak bisa mengikuti prosedur kayak gitu! Itu terlalu berisiko kalo kita mau segera memiliki anak nantinya." Anggi berusaha membujuk sang suami untuk memaafkan ketegasannya setelah setelah mengetahui baik dan buruknya program yang suaminya inginkan. Pria itu jelas marah. Sejak berada di ruangan Nemar tadi, Asta bahkan sudah terdengar mendengus berkali-kali karena merasa terkhianati oleh istrinya sendiri.  "Kita udah sepakat sebelum berangkat tadi, Nggi! Kenapa kamu berubah pikiran?! Bisa kamu bayangkan apa yang aku pikirin tadi?!" Melihat takut-takut ke arah suaminya, Anggi berkata, "Malu...?" "Lebih dari itu! Kamu bikin aku seolah nggak pengertian dengan pasanganku sendiri! Puas kamu lihat Nemar menyepelekan pendapatku tadi?!" Anggi tidak mencoba membalas. Dia mencoba mengamati dan mendengarkan apa yang suaminya ingin katakan. Biarkan saja Bramasta menuangkan rasa kecewanya. Anggi tahu ego pria itu terluka.  "Kamu udah berniat untuk selalu nurut sama suami kamu! Mana buktinya? Yang kamu lakuin tadi, di ruangan Nemar, kamu yang membangkang!" "Maafin aku. Bukan maksudku membangkang, tapi ini demi kebaikan kita." Asta menaikkan alis, mulutnya terbuka tetapi tidak mengatakan apapun. Tangan pria itu diangkat ke udara, mempertanyakan apa yang dimaksud istrinya.  "Ta... ada baiknya kita nggak melawan kehendak Tuhan. Kalo memang kita diberi waktu untuk berduaan aja, pasti usaha kita berdua seperti kata dokter Nemar tadi akan berhasil. Kalopun nggak berhasil, itu berarti kita dipercaya untuk menjadi orangtua." Bramasta menatap istrinya tak suka. "Kamu nyusahin aku!" Terkesiap. Anggi tak tahu apa arti dari ucapan itu yang sebenarnya, karena jiwa perempuannyayang suka mendramatisir keadaan menyembul dan membuatnya enggan meminta maaf lagi kepada Asta seperti pengemis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD