Bagi mereka yang memutuskan masuk dan berkomitmen dalam urusan rumah tangga, kehamilan adalah penanda bahwa penerus mereka akan segera hadir. Namun, bagi rumah tangga Asta dan Anggi tak bahagia dengan tanda kehadiran anak mereka. Ini lebih seperti memerangi jalur dari esensi rumah tangga itu sendiri.
Anggi yang tak diberi respon baik, memutuskan untuk tak berbuat lebih jauh lagi dengan mendekati pria itu agar menerima kehamilannya. Tidak. Anggi tak mau mengemis untuk memohon pada Asta menerima keadaannya yang tengah berbadan dua. Sudah cukup kalau memang Asta ingin menyudahi segalanya, Anggi akan menerimanya. Toh, rumah tangga mereka sudah tak sehat sedari awal.
Begitu Asta menyingkir dari kamar mandi, pria itu juga tidak terlihat di ruangannya lagi. Anggi ditinggalkan sendiri di sana. Pakaiannya yang dibiarkan berada di bawah lantai, tetap berada di sana. Bahkan ada bekas jejak kaki di kemeja putihnya. Asta menginjaknya. Dan pria itu tidak merasa bersalah sama sekali. Dengan lesu, Anggi mengambil pakaiannya dan segera berganti. Dia tidak akan pulang malam ini. Tidak ke rumah dimana dirinya hanya akan merasa sedih dengan sikap kurangajar sang suami.
Tepat setelah kancing terakhirnya terpasang, dia terkejut dengan salah seorang OB yang membuka pintu tanpa mengetuk atau lainnya. "Eh, maaf, Bu. Kata bapak Bram suruh langsung bersihin ruangannya. Saya kira nggak ada orang."
Anggini bisa mengerti kebingungan OB tersebut. Bahkan dia yang menyandang status istri saja tak paham kenapa sosok Bramasta begitu sulit ditebak.
"Bersihkan saja. Saya sudah selesai, kok." Kata Anggi segera mengambil tasnya dan keluar dari sana.
Mata membengkaknya menjadi pusat perhatian begitu dirinya membuka pintu ruangan Asta. Ada asisten suaminya yang berniat mengucapkan sesuatu, tetapi tak jadi karena Anggi sudah lebih dulu berpesan. "Saya nggak mau ke sini lagi. Tolong beritahu atasan kamu, segera hubungi saya untuk urusan pengadilan yang mungkin sudah dia pikirkan sejak awal."
Asisten Asta membeliak terkejut. Pesan yang sarat akan privasi itu didengarnya dari istri atasannya sendiri. "Bu..."
"Saya nggak mau tahu. Pesan itu harus sampai ke Bramasta. Makasih."
*
Anggini memiliki rumah kecil yang tak diketahui oleh siapapun, termasuk kedua orangtuanya. Hanya ada satu nama yang tahu dimana saja lokasi yang menjadi tempat persembunyian dirinya ketika lelah menyapa. Ketika dirinya membutuhkan waktu bersandar menumpahkan rasa sedih, kecewa, dan marahnya tanpa mau membebani kedua orangtuanya dengan tekanan yang dirasa. Shota. Anggini begitu merindukannya yang sudah sibuk di lain tempat sana. Tak mungkin dia menyusahkan saudara angkatnya itu ketika Shota sudah memiliki kehidupan yang nyaman dan sudah pasti sibuk mengurus keluarga barunya.
Dering ponselnya membuat Anggi sedikit terperanjat dari fokus kesedihannya. Begitu melihat siapa nama pelaku yang membuat panggilan diponselnya, Anggi membalikkan lagi layar menjadi telungkup.
Suaminya tak akan berbicara dengan santai. Suami? Anggi kembali menyerukan panggilan itu dalam bentuk pertanyaan. Apakah Asta masih mau menyandang gelar suami? Apalagi bersama dirinya yang sudah mengecewakan pria itu.
Ketika dirinya kembali mengingat pesan yang dititipkannya pada asisten Asta, dia melihat kembali nama Asta yang tertera di sana. Mengangkat panggilannya dan suara yang pertama kali dia dengar memang agak mengejutkan. Tak seperti yang dia perkirakan.
"Dimana kamu, Nggi?! Kenapa pergi dari ruanganku?! Aku balik ke kantor dan kamu nitipin pesan yang gila! Apa-apaan, sih kamu---"
"Aku menunggu surat cerai dari kamu, Ta. Aku menunggunya."
*
Aku menunggu surat cerai dari kamu, Ta. Aku menunggunya.
Bagi Bramasta yang sangat tahu jika Anggini sudah sangat mencintainya, mendengar kalimat yang meneguhkan bahwa cinta saja tak cukup membuat wanita itu bertahan dengannya adalah bentuk dari ancaman tak kasat mata. Ini seperti melewati batas yang semula diinginkan Asta, tetapi tak lagi menyenangkan sekarang ini untuk dirinya dengar. Terlebih dari bibir istrinya sendiri.
Asta yang tak terima, sekaligus terkejut, langsung mematikan panggilan tersebut. Dia seakan tersihir untuk tak melanjutkan pembiacaraan, karena yang ada hanya akan menyakiti telinga, lalu hatinya sendiri.
Hati? Sejak kapan Asta memiliki hati untuk Anggini? Dia hanya memanfaatkan adik dari mendiang perempuan yang dicintai sampai sebegininya. Namun, dia tak rela dengan ucapan Anggini beberapa menit lalu.
"Apa lo mulai gila, Bramasta? Kenapa nggak lo setujuin permintaannya, sih?!" Omel Asta pada dirinya sendiri.
Jika dirinya sendiri saja tak memahami apa alasannya tak terima dengan keputusan sang istri, bagaimana dengan Anggini yang tak akan pernah paham apa isi hati pria itu sendiri. Menyugar rambutnya, Asta kebingungan dengan berjalan mondar mandir. Asistennya yang menunduk merasa bersalah sudah menyampaikan pesan dari Anggi itu melirik takut-takut apakah Asta akan memecatnya saat itu juga atau tidak.
tas belanja ber-merk terkenal itu ditendang oleh Asta hingga isinya yang baru dibelinya berhambburan. Dia keluar buru-buru setelah Anggi mengaku hamil tadi karena merasa sangat terkejut. Dia bahkan menginjak pakaian istrinya karena rasa panik yang menyandera isi kepalanya. Bayangan akan masa lalu membentuk cepat dibayangan yang bisa saja membunuhnya atas rasa bersalah. Awal yang dia inginkan bersama Gita dulu tak memiliki akhir bahagia ketika tahu bahwa perempuan itu hamil sebelum pernikahan mereka. Asta merasa takut jika harus mengalami duka besar untuk kedua kalinya. Itu sebabnya dia selalu lancar berkata kasar pada sang istri dengan tak menginginkan kehamilan atau anak di dalam pernikahan mereka.
"Bilang apalagi istri saya sama kamu?" desis Asta.
Danny. Si asisten perempuan dengan wajah biasa saja itu berkata dengan gagap, "Tidak ada, Pak. Hanya itu saja."
Asta berdecih keras, dia menaruh kedua lengannya dipinggang. "Hanya itu saja... dan kamu membuat saya semakin tidak memiliki muka didepan istri saya sendiri?! Kenapa nggak kamu tahan dia supaya bisa ketemu saya?!"
"Bapak... tadi bilang pergi---"
"Bukan berarti saya bakalan ninggalin istri saya sendiri begitu saja!"
Berkali-kali Asta menyalahkan Danny atas kejadian ini. Padahal sudah jelas sekali yang patut untuk disalahkan adalah diri pria itu sendiri yang tak mau menerima kehadiran anak dalam perut Anggini.
Sekarang, dia malah seperti orang gila yang tahu harus melakukan apa. Bahkan pikirannya seperti buntu dimana dia bisa menemukan sang istri. Dia bahkan memiliki banyak uang guna menyuruh orang mengetahui keberadaan Anggini. Namun, Asta takut jika dengan memaksa mengetahui dimana istrinya berada maka akan membuat kisah tragis yang sama. Dia tak mau menangis, merintih seperti dirinya kehilangan Gita dulu.
"Kenapa harus berbalik seperti ini Tuhan? Kenapa engkau berikan aku cobaan yang berkutat pada rasa takut yang sama setelah tragedi itu terjadi?"
Pintu ruangannya dibuka. Sudah hampir larut, Danny juga sudah izin pulang pada Asta. Namun ia sendiri tak mau kembali rumah jika istrinya benar-benar marah dan tak mau berbicara baik-baik dengannya.
KALO ADA YANG PATUT DISALAHIN ITU KAMU! KAMU, BRAMASTA! KAMU MEMBUAT AKU BENCI SAMA SEMUA INI! KAMU MELANGGAR KESEPAKATAN KITA, b******k!
Asta kembali mendengar caci dan maki dari suara Gita yang sudah memberinya tanda. Tanda bahwa kakak dari istrinya sekarang ini benar-benar tak mau memertahankan janin yang ada diantara mereka saat itu.
Sekarang... justru Asta yang takut dengan keberadaan anak yang tak tahu apakah akan tetap bisa hidup atau tidak.
*
Kepada apapun yang merasuki diri Asta. Saat dirinya terus berkata kasar pada sang istri, itu semua adalah bentuk pertahanan dirinya supaya tak kembali jatuh pada pesona dari adik mantan calon istrinya. Memang jahat. Seakan Asta juga adalah korban dan inginnya terus menyalahkan Anggini. Namun, manusia tetap pada kodrat manusianya. Egois. Asta merasa dirinya korban dari peristiwa yang menewaskan dua nyawa sekaligus. Namun, Gita juga tak bisa disalahkan sebagai pelaku dalam hidup Asta begitu saja.
Sejak awal, Asta sudah terbodohi dengan apa yang Gita berikan. Perempuan itu mengatakan jika dia mencintai Asta hingga menggiring perasaan pria itu semakin kuat untuk Gita. Memperlakukan Gita bagai ratu dalam hidupnya. Tak masalah diperlakukan bak anjing peliharaan yang ketika Gita menyuruhnya menjaga jarak, dia akan melakukannya. Yang ketika Gita menyuruh Asta mencoba g***a-pun Asta akan melakukannya, meski hal seperti itu tak pernah ada dalam daftar hidup Asta yang sudah tertata sejak kecil.
Anggita tentu saja kebalikan dari Anggini yang begitu polos, tegar, dan tidak mencoba menjerumuskan dirinya dalam kubangan kebejatan. Anggini tak pernah tahu jika cinta Asta pada kakak wanita itu adalah obsesi, sebab Asta tak pernah merasakan dunia yang Gita perlihatkan padanya sebelumnya.
Begitu Gita sepakat menggunakan Asta sebagai ladang uang untuk menggali apa saja jenis kenikmatan dunia, Asta yang bodoh akan rasa cinta membobol larangan perempuan itu. Kehamilan hanya menghambat Gita untuk bersenang-senang. Hamil hanya akan membawa malapetaka bagi hidup Gita yang bagai surgawi apalagi dengan ladang emas seperti Asta.
Bukan berarti Asta selalu mengikuti dunia t***l Gita. Asta tak banyak berpartisipasi, karena baginya yang tidak berbakat dalam dunia terlarang seperti itu, Asta membuat rencana menghamili Gita agar perempuan itu berhenti akan dunia gelapnya yang ditutupi dari keluarganya sendiri. Asta bahkan pernah bertengkar hebat dengan Gita karena menghabiskan malam dengan salah seorang rekan kerjanya.
Semua itu, membuat Asta membatasi dunia Anggini yang sudah dibatasi sendiri oleh wanita itu. Dipecat dari kantor? Asta-lah yang membuat rencana itu. Dan segala hal yang ingin dilakukan Anggi sebagai pekerja sangat dilarang oleh Asta. Semuanya tanpa sadar dirinya lakukan agar Anggi tak seperti Gita. Dan tanpa sadar juga... dia sudah memberikan cinta pada Anggi.
Nemar menyajikan minuman kaleng pada tamunya yang datang sangat larut itu. Melihat keadaan Asta yang sangat lusuh, Nemar tahu bahwa setelah Anggi berbicara dengannya ada yang tidak beres di sana.
"Berantem?" tanya Nemar.
"Lebih parah. Dia minta cerai."
Nemar mengambil kalengnya, dan meneguk sedikit demi sedikit. Kacau. Nemar menyebut keadaan tersebut kacau.
"Lo harus memperbaiki diri dulu sebelum memutuskan untuk menuruti kemauan Anggi atau nggak. Tapi kalo lo memang lebih senang pisah dari Anggi, yaudah---"
"Dia hamil." Asta menyekat ucapan Nemar. "Apa yang dia mau akhirnya kesampaian, Mar. Dia hamil. Dia berani menentang gue karena janin yang bahkan belum berumur bulanan."
"Lo masih inget, kan... anak itu titipan yang paling berharga?" Asta mengangguk pelan. "Terus kenapa lo membandingkan apa yang akan dilakukan Anggi akan sama kayak yang akan Gita lakuin? Lo harus lihat Anggi yang sebenarnya, tanpa melihatnya sebagai adik Gita aja. Sifat mereka beda. Gita terlalu banyak menghabiskan masa hidupnya untuk senang-senang berbuat yang nggak benar. Tapi Anggi nggak punya sisi hidup semacam itu."
"Dia akan tetap melakukan hal yang sama kalo dia tahu kayak apa kakaknya dulu."
Nemar menghela napasnya. "Terserah lo. Sekarang semuanya terserah lo. Gue nggak akan ngasih petuah apapun lagi, karena lo tetap akan mikir kalo Anggi sama kayak Gita."
*
Nemar bisa melihat bagaimana bodohnya temannya ini. Kesalahan masa lalu yang hampir membuat Asta gila, kini akan diulang kembali dalam versi lain yanng dimana Asta sendiri-lah yang akan membuat kisahnya pelik, dan tentu saja Asta yang akan menjadi pihak yang tega menyakiti. Wanita yang bernama Anggini akan mendapati sisi lain diri seorang Asta jika saja mau mereka siap untuk saling terbuka, sayangnya, Asta memang pria dengan segala keodohan ketidakpekaannya.
"Akan lebih baik kalo lo selesaiin masalah ini dengan benar. Cobalah lo keluar dari zona yang keterlaluan bikin lo nyaman, tapi malah yang ada lo nyakitin orang lain. Dua orang yang akan lo sakitin sekarang, Ta."
Mengusap wajahnya penuh rasa frustasi, Asta membalas ucapan Nemar dengan lesu, "Dulu juga gue nyakitin dua orang, Mar."
Sejujurnya Nemar muak dengan ucapan Asta. Bagaimana bisa terus menyalahkan diri, padahal yang menginginkan kematian adalah diri Gita sendiri.
"Kalo lo lupa, Bramasta... gue ini saksi dari kebodohan lo dan kejalangan Gita."
"Dia bukan jalang, Mar!" Asta menekan setiap nada bicaranya. Semakin Asta meyakinkan semua orang yang tahu bagaimana rusaknya Gita dulu, maka akan semakin terlihat jika cara Gita mencuci otak seorang Bramasta sangat berhasil.
Nemar membanting soda kalengnya hingga cairannya mengotori karpet mahal tempat tinggalnya. "Keluar aja lo dari sini!" Nemar mengucapkannya dengan penekanan yang sama seperti Asta.
Membiarkan Asta mengeluh dan tetap menutup telinga dengan segala saran yang ia berikan hanya akan membuat Nemar lelah sendiri. Jadi, dia putuskan membiarkan Asta terlontang-lantung dengan wajah kusut dan segala aura negative yang ada dalam pikiran pria itu. Memaksa—mendorong—Asta keluar dari rumahnya segera.
"Yang harus lo tahu, gue nggak akan mau nerima lo di rumah gue lagi selama lo nggak bisa memertahankan Anggini yang luar biasa pengorbanannya selama menggantikan posisi kakaknya!" ancam Nemar sebelum menutup pintu tepat di depan wajah Asta. Meski teman baik, dan tentunya Nemar membawa banyak kartu rahasia mengenai Asta, mereka juga bisa menjadi sangat tega seperti bermusuhan untuk beberapa hal.
*
Benar. Pulang ke rumah dia hanya disambut oleh angin yang mengisi udara di setiap sudut rumah. Rumah yang dirinya biasa tinggal bersama seseorang di dalamnya. Bukan rumah yang membuatnya merasakan sakitnya ditiggal sendirian. Asta membenci hal itu.
Ketika langkahnya mendekati kamar yang biasa digunakan bersama selama dua tahun lebih ini, Asta terkejut dengan panggilan diponselnya yang menerakan nama ibunya. Lebih tepatnya, ibu tiri yang sudah seperti ibu kandungnya. Karena Asta tak tahu dimana keberadaan ibu kandungnya sendiri. Selain tak mau mencari tahu, ayah Asta juga menutupi dengan rapi mengenai semua itu.
Asta menekan layar dan membuatnya menjadi suara keras.
"Istri kamu ngapain keliaran di perumahan temen mama, Ta?" Ucapan pertama yang wanita penuh kelembutan itu suarakan adalah pertanyaan mengapa sang istri ada di...
"Gimana, Ma?" Asta mencoba memastikan informasi yang dirinya dapatkan.
"Itu... si Anggi. Ngapain dia keluyuran di sekitar rumah temen mama? Memangnya kamu nggak ngurusin istrimu sampe tiba-tiba masuk rumah yang mama aja nggak tahu itu rumah siapa sebenarnya."
"Alamat rumahnya, Ma..." Asta buru-buru mengambil kunci mobilnya lagi. Mengapit ponselnya agar sang ibu tetap menjawab setiap pertanyaan yang membuat Asta penasaran.
Meski agak bingung dengan putranya yang sangat serampangan sekali meminta alamat padanya, tapi ibu tiri Asta itu tetap memberikannya.
Kamu ketahuan, Nggi. Kamu nggak akan bisa lari lagi.
*
Pintu yang diketuk dengan tak sabaran membuat kening Anggini mengernyit dalam. Seingatnya, dia tak pernah mencari masalah dengan siapa saja itu orangnya. Bahkan tempat tinggalnya ini tak banyak diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Hanya Shota yang bisa membuat Anggi merasa tenang dan nyaman, maka sudah pasti Shota tahu jika dirinya bersembunyi disinilah tempatnya.
Lalu, siapa yang dengan beraninya menyambangi rumah kecilnya ini dengan mengetuk pintu sangat keras itu? Nggak mungkin kak Shota, kan? Dalam hati kecil Anggini dia tetap menginginkan kehadiran Shota disaat seperti ini. Namun, memikirkan kemungkinan tersebut rasanya tak mungkin.
Merapikan rambutnya, dia agak kewalahan menutupi mata sembabnya. Menghampiri pintu, begitu mendapati pria yang tak ingin ditemuinya... Anggi mendadak ingin menangis. Belum ada sehari, dan dirinya sudah ditemukan oleh Asta.
Keduanya saling melempar tatap. Asta tahu dia sudah terlalu banyak menyakiti, tetapi tak bisa membuat dirinya sendiri berhenti melakukan hal tersebut. Mata Anggini yang kentara membengkak merah menjelaskan bahwa ada kesedihan mendalam yang ditanggungnya dengan menumpahkan tangisnya. Hal itu pula yang menyebabkan lamunan tautan manik mereka terlepas dengan seruan suara wanita yang langsung panik. "Ya ampun! Anggi...?! Kamu diapain anak mama, sih?! Tadinya padahal mama mau marahin kamu karena keluyuran di daerah sini kayak nggak punya suami aja. Eh... ini malah..."
Anggi sudah terlebih dulu tak kuasa menahan tangisnya dihadapan sang mertua. Wajah sedih Anggi membuat Suri---mama Asta---ikut terbawa emosi. Wanita yang sudah lebih tua dari Anggini itu menariknya dalam pelukan, menggiring sang menantu masuk ke dalam rumah. Asta yang semula ingin mengikuti mendadak berhenti begitu Suri menoleh dengan tatapan super tajam dan ucapan memperingatkan. "Kamu! Jangan ikut masuk!"
Suri bahkan bisa tahu kalau ada yang salah dengan hubungan mereka. Anggini yang sudah akrab dan dianggap sebagai anaknya sendiri itu membuat Suri tidak memberikan ruang bagi Asta melayangkan pemmbelaan versi pria itu. Suri sudah cukup tahu kebiasaan Asta yang suka melakukan pembenaran diri ketika ketahuan melakukan kesalahan.
Begitu keduanya bisa duduk tenang dengan Asta yang semakin tak reda rasa ingin tahunya mengenai Anggi bersama ibunya di dalam sana, Suri mulai menanyakan keterangan versi menantunya.
"Kamu kabur ke sini, Anggi?" tanya Suri yang diangguki oleh sang menantu. "Kenapa? Nggak mungkin nggak parah sampe kamu kabur-kaburan begini. Mama tahu kamu bukan tipikal yang kayak Gita, yang sukanya bikin drama---" Suri melihat ekspresi Anggini yang tak suka sang kakak dikatai seperti itu, ibu tiri Asta itu menjelaskan dengan lebih pelan. "Anggi, mama bukannya mau membandingkan kalian. Tapi... mama bersyukur kamu yang menjadi mantu mama."
"Mama nggak suka sama kak Gita?"
"Bukan, bukan begitu... mama suka Gita, karena Asta juga menyukainya. Tapi kamu membuat mama bersyukur, karena nggak membuat Asta menjauhi mama."
"Karena Asta juga milik mama sampai kapanpun, aku nggak bisa memisahkan kalian. Lagi pula, cintanya Asta juga masih tertambat ke kak Gita, Ma. Seharusnya aku nggak masuk dalam hidup anak mama supaya aku nggak bikin Asta inget terus sama kak Gita."
Suri menarik kesimpulan besar di sana. Anggini sepertinya tak sadar betul jika ucapannya membuat seorang wanita seperti Suri peka.
"Asta nggak akan mencintai masa lalunya kalo kamu berhenti membuatnya nggak melihat ke arahmu. Dia anak yang agak bebal bukan hanya seperti ayahnya, tapi juga karena mamanya. Mama nggak bisa melihat kamu dan Asta pisah, dengan kabur begini aja, mama bisa lihat kalo kamu berniat melepaskan Asta. Bener, kan?"
Anggi menunduk, malu karena niatnya terbaca.
"Aku... aku nggak bisa, Ma---"
"Kamu bisa, Sayang. Mama akan bantu kamu, sampai berhasil."
Anggi mengamati wajah Suri yang memang penuh tekad. "Kalo masih nggak berhasil?"
Suri menghela napasnya. "Semua keputusan ada pada kamu. Kamu berhak bahagia, Anggini."