Menjelang hari yang semakin larut, Suri menemani sang menantu untuk beristirahat di dalam kamarnya. Dia bahkan belum bisa membuat Anggi yakin sepenuhnya agar tetap bertahan bersama putranya yang sangat bebal. Suri merasa sangat cocok dan percaya pada Anggi, bahwa wanita itu bisa membimbing putranya yang terlalu random dalam berpikir juga dalam mengambil keputusan.
Ini akan menjadi momok yang sangat besar jika terus membiarkan Asta membuat rumah tangganya sendiri terlunta. Suri jelas tak menyetujui adanya perpisahan diantara keduanya begitu saja. Tidak ada yang bisa membuat seorang ibu menyetujui rumah tangga yang terpecah pada anaknya, begitu juga yang dilakukan oleh Suri saat ini. Dia akan berusaha sekuat yang dirinya bisa membuat Anggi yakin untuk tetap bersama sang putra.
Melihat keluar, Asta duduk dengan sangat menyedihkan di teras. Wajah kusutnya menjadi pertanda bahwa putranya itu juga merasa tertekan. Namun, ada yang harus lebih dulu dipastikan sebelum benar-benar percaya apa yang terjadi diantara kedua anaknya; anak tirinya dan anak menantu.
"Ma..." Sapa Asta dengan cepat begitu tahu ibunya menghampirinya.
"Kamu ngerasa bersalah, nggak, Ta?" tanya Suri dengan santai. Dia tidak menghakimi seperti apa yang dilakukan saat melarang Asta ikut masuk ke dalam sebelum Anggi tertidur.
Bramasta menunduk, menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Dia tahu jika dirinya sangat bersalah pun dengan segala kebodohan yang dimilikinya. Namun, Asta tak mau mengakuinya secara langsung. Itu bisa saja menjadi momok mengerikan yang bisa membuatnya semakin stres. Ya, karena Asta begitu egois, maka dia tak mau menambah rasa traumatisnya dan melampiaskannya pada sang istri yang tak tahu apa-apa.
"Mama lagi nanya, Ta. Bukan ngebiarin kamu diem begini. Mama tadi sempet mau marah sama Anggi karena seenaknya pergi dari rumah, tapi lihat dia yang bilang mau pisah dari kamu... mama rasa ada yang salah dengan pemikiran kamu, Ta. Seorang istri nggak akan begitu saja memikirkan kemungkinan pisah kalo nggak ada yang salah dengan pertimbangan yang selalu dipikir berulang kali." Suri menatap putranya. Dia menyanyangkan sikap sang putra yang seperti ini, terlalu banyak berpikir tetapi malah menyakiti orang lain akhirnya.
"Bramasta... kamu satu-satunya anak yang papa kamu miliki."
"Apa aku bukan anak mama juga? Kenapa, sih, mama pakai bahasa yang sangat menyindirku. Aku seolah cuma anak papa aja."
"Jangan terbawa emosi dulu, dengerin mama. Kamu itu mama sebut satu-satunya anak papa sebagai penerus yang dia harapkan bisa memimpin dengan baik. Tapi kalo menjadi pimpinan rumah tangga aja kamu membuat istri kamu tertekan, gimana dengan bawahan kamu nantinya di rumah sakit?"
"Aku nggak berniat menjadi penerus papa untuk urusan itu."
Suri menghela napasnya. "Kalo kamu lupa, kamu mengelola saham yang papa kamu berikan. Kamu ikut rapat pemegangnya, dan itu tandanya kamu memiliki peluang besar meneruskan kinerja papamu."
Menekan kepalanya, Asta menyembunyikan matanya yang memerah dihadapan sang ibu. Dia merasa tersudut. Selain masalah rumah tangga, dirinya juga tersudut dalam dua hal lainnya; masa lalu dan tahta.
"Mau kemana kamu?" tanya Suri yang mendapati putranya hendak masuk ke dalam rumah milik Anggi itu.
"Mau istirahat." Balas Asta dengan biasa saja.
"Anggi masih marah sama kamu, Asta."
"Nggak akan berhenti amarahnya kalo aku dan Anggi nggak ngomong sama sekali. Gimana mau bikin pikiran Anggi berubah dari perpisahan kalo mama menghalangi aku bicara sama istriku sendiri??"
Suri terdiam, putranya melayangkan tatapan yang membuat Suri merasa bersalah sudah ikut campur---mungkin---terlalu dalam.
"Omong-omong, Ma... terima kasih."
*
Asta sengaja memasuki kamar dimana sang istri berada, dan memastikan segalanya tetap tenang sementara dirinya berusaha mendekati serta menyibakkan selimut yang menaungi tubuh istrinya agar sedikit tersingkap. Dia pandangi dimana perut Anggi yang belum terlihat jelas bentuknya. Masih mencoba menyangkal awalnya dengan fakta bahwa Anggi hamil. Anak mereka. Anak yang sangat dia inginkan jika saja jalan takdir tidak membuatnya begitu takut akan rasa kehilangan lagi.
Mengingat kembali ucapan terima kasihnya pada sang ibu, Asta memang merasa sangat berterima kasih karena tanpa informasi menggebu dari Suri, mungkin Asta masih kelimpungan saja mencari keberadaan sang istri.
Kenapa lo harus ketakutan nggak nemuin istri lo ini, Ta?!
Satu pertanyaan yang kembali menghantui pemikirannya. Penyangkalan yang terus dilakukan hingga tak tahu hingga kapan Asta akan mengakuinya. Bahwa menjadi sangat peduli pada seseorang yang sudah terbiasa dihidup kita adalah bentuk pertama dari kata cinta yang tak perlu diucapkan melalui lisan yang ada.
Sayangnya, Asta tetaplah Asta yang bebalnya sudah mencapai taraf dewa. Dia merasakan kehilangan dan ketakutan yang begitu kuat ketika Anggi tidak dapat dia yakini berada dalam pengawasannya. Dia juga tak nyaman membayangkan rumah tanpa wanita itu. Namun, penyangkalan terus terjadi dalam dirinya sendiri.
Dia bergerak merebahkan diri dekat dengan perut sang istri. Dia mencoba menyingkap kaus tidur Anggi. Jemarinya mulai mengusap perlahan permukaan perut Anggi, lalu dengan keyakinan yang memang dipaksakan... Asta menyentuhkan bibirnya dengan permukaan perut Anggi yang bagi penglihatan Asta sama sekali tak berubah.
Maafin ayah, maafin ayah.
*
Tidurnya yang terasa nyaman dengan semburat menntari yang menembus jendela, Anggini menarik tangannya ke atas untuk membuat gerakan mengolet malas. Namun, gerakannya tak terealisasikan sebab terasa sangat sulit dilakukan. Mata yang semula masih memejam karena enggan membuka, terpaksa harus mengikuti insting kehati-hatiannya. Melihat ke sisi kirinya yang ternyata menunjukkan wajah Asta---suaminya---Anggi tak begitu memusingkannya sekilas. Setelah benar-benar sadar jika mereka sedang tak baik-baik saja karena berita kehamilannya, Anggi buru-buru mendorong tubuh Asta darinya.
Bramasta yang terkejut mendadak terbangun merasakan kepalanya pusing. Wajah tegang Anggi menyadarkannya jika semalam mereka belum benar-benar bicara. Asta hanya mencoba mendekatkan diri dan mencoba menerima keadaan istrinya yang berbadan dua. Dia belum menyatakan hal itu pada Anggi.
"Nggi... aku semalam mau ajak kamu bicara---"
"Kamu mau ajak bicara buat nyakitin aku lagi?" Anggi memotong ucapan Asta. Tuduhan yang menyakitkan, tapi benar adanya.
"Aku berharap nggak akan menyakiti kamu. Tapi aku cuma manusia, Nggi---"
"Langsung aja. Kamu mau bicara apa?"
Asta mendudukan diri. Dia sempat meminta tolong pada Anggi untuk mengulurkan gelas minum dan menegaknya sebanyak tiga kali teguk.
"Aku... nggak mau ada perceraian." Kata Asta melihat lekat ekspresi sang istri.
Wanita itu mendengus. "Kamu tahu apa yang kamu bilang, kan, Ta?" tanya tersebut diiringi dengan nada mencibir dari Anggi. "Jujur aja, Ta! Kamu itu nggak bisa bertahan lebih lama dengan hubungan ini! Kamu nggak akan bisa terus menyakiti diri kamu sendiri dengan memaksa tetap memertahankan pernikahan ini!" Ucap Anggi dengan lebih menggebu.
"Aku nggak terpaksa---"
"Kamu terpaksa! Dan itu jelas masih terlihat dengan penolakan kamu terhadap bayi yang---"
Ucapan Anggi yang kali ini terputus karena gerakan cepat dari Asta. Memberikan ciuman keras dan rakus, Anggi sempat melawan untuk melepaskan diri. Namun, Asta tetap memaksa bahkan lambat laun mulai mengakses bibir sang istri yang terbuai akan gerakan sensualnya.
Sial. Maki Anggi pada dirinya sendiri, karena sudah bersikap murahan menerima semua yang pagi itu Asta berikan.
*
Pagutan keras itu melambat seiring dengan pegangan kedua lengan Anggini yang mengikat dileher suaminya. Dia berniat tak bertingkah seperti wanita yang mudah sekali dimakan dengan rayuan di ranjang. Namun, bohong sekali siapapun wanitanya ketika sudah terbiasa dengan sentuhan suaminya, maka akan terus terbiasa. Justru terkadang wanita itu sendiri yang mencari cara agar disentuh dalam keadaan yang memang mendukung. Anggi dengan erat memejamkan mata serta memberi gerakan balik yang sama membuat gerakan melesak lidah dan menarik bibir satu sama lain.
Memang tidak ada kata pisah yang mudah. Apalagi pernikahan terhitung benar-benar berjalan setelah dua tahun ini dekat. Anggi tak pernah merasakan lesakkan sebegini hebatnya hingga mendorong tubuh yang suami lebih dulu. Emosi yang seolah terkoyak naik turun itu melesat pada tempat yang jelas saja membuat wanita dengan tubuh sintal dan wajah cantik tersebut bergerak lebih semangat dari Asta yang sekarang justru tak menyangka akan digiring dalam pesona agresif seorang Anggini.
Berposisi di bawah sang istri, Asta bergerak menarik kaus tidur yang Anggi pakai. Seperti tak rela tautan bibir mereka terlepas begitu saja, Anggi lebih dulu mendekatkan wajah dan meraup kembali bibir suaminya. Bak orang yang kehausan, Anggi sempat membuat Asta kewalahan. Dengan inisiatif yang dirinya miliki, Asta berniat mengubah posisi agar Anggi berada di bawahnya. Sayang, baru saja Asta berniat merunduk untuk menindih samar tubuh sang istri, Anggi lebih dulu menangis.
"Nggi?" panggil Asta dengan bingung. "Sakit? Apanya yang sakit?"
Asta yang mencoba mencari dimana letak kesalahannya dalam menyentuh sang istri tetap tak mendapatkan jawaban. Yang Asta dapatkan adalah pukulan---tak terasa---yang istrinya layangkan pada dadanya.
"Anggini, bilang aku salah apa?"
"Jangan ganti posisi, Bodoh!" Bentakan yang Anggi berikan ini adalah baru adanya. Baru kali ini Anggi meledak dengan mengatainya bodoh. Biasanya wanita itu hanya akan marah-marah akan suatu hal yang tak disukainya mengenai kebiasaan Asta dan tak akan sampai memaki dengan kata apapun, apalagi bodoh.
"Oke. Jadi aku nggak boleh ganti posisi?" Asta benar-benar merefleksikan kata bodoh yang istrinya ucapkan.
"Jangan nanya lagi!" omel Anggi lagi.
"Oke, oke. Kita pake cara yang kamu suka, Sayang. Oke?"
Asta mengambil banyak kesempatan untuk merasakan bagaimana beberapa titik sensitif tubuh sang istri terlihat lebih padat dan sesekali memang membuat Anggi memprotes jika ada bagian yang membuatnya tak nyaman. Begitu tangannya yang semula meremas pinggul sang istri tanpa sepenuhnya sadar menyentuh permukaan perut Anggi, gerakan naik turun yang wanita itu lakukan langsung terhenti.
"Nggi...?" Asta tak melanjutkan kata-kata protesnya begitu melihat apa yang sudah Anggi amati.
Wanita itu bergerak turun, membiarkan diri mereka belum mencapai k*****s satu sama lain. Emosinya sudah lebih dulu tidak terbendung. Terlalu sensitif akibat kehamilan, sepertinya.
Asta duduk dan mendekati Anggi yang terduduk seraya menunduk di pinggiran ranjang. "Sayang..."
"Aku nggak mau nurutin kamu untuk gugurin anak ini, Ta. Kalo rayuan kamu ini cuma berniat bikin aku bergantung sama kamu demi melepaskan anak ini... aku nggak bisa."
Asta menjambak rambutnya. Bahkan mereka belum memakai baju dalam keadaan pembicaraan seperti ini.
"Aku nggak berniat membuat kamu melepaskan anak itu, Nggi."
Seperti baru saja tersengat aliran listrik tinggi, Anggi menoleh kepada sang suami. Tatapannya jelas bertanya apakah Asta benar-benar dengan ucapannya atau tidak. Asta membalas tatapan istrinya dengan yakin meski begitu lemas berkata, "Aku serius, Nggi. Aku nggak akan disini kalo aku nggak yakin mengizinkan kamu tetap dengan kehamilan kamu."
Anggi menyentuh wajah Asta. "Kamu... nggak main-main, kan? Kamu serius, kan?"
Menumpuk telapaknya sendiri dengan milik sang istri, Asta mengangguk lalu memberikan kecupan pada telapak tangan Anggi. "Iya. Aku serius."
*
Ketika kembali melihat lelehan airmata Anggini, tanpa berkata lebih panjang, Asta menciumi dimana setiap bagian pipi yang terkena alirannya terhapus dengan sapuan bibirnya. Asta tak mengerti kenapa dirinya begitu peduli dengan tangisan sang istri saat ini. Bahkan rasa-rasanya dia justru ingin ikut menangis terbawa perasaan mendapati adegan seperti ini. Asta tak pernah siap dengan komitmen yang harus hancur diakhir. Jadi, dia akan mencoba menerima apa yang ada sekarang. Setidaknya, ketika dia masih belum siap untuk memiliki anak... ada Anggini yang akan menemaninya, menyadarkan bahwa ada nyawa yang harus mereka jaga.
"Aku nggak akan maafin kamu kalo ternyata kamu punya rahasia lain dengan berubah pikiran begini, Bramasta."
Asta tentu sempat tertegun dengan celetukan yang sepertinya tak ada niat apa-apa dari pemilik suaranya. Memang tidak ada maksud tertentu, dan Asta berusaha mengabaikannya saja agar tidak berkelanjutan dan mereka bisa melanjutkan apa yang tertunda.
"Setelah ini apa?" Belum sampai keinginan menyatukan tubuh kembali, pertanyaan dari Anggi kembali membuatnya tersadar dari buaian.
"Setelah ini?"
"Kita nggak akan begini-begini aja setelah aku positif hamil, kan?" tambah Anggi lagi.
"Maksud kamu gimana, Nggi?"
"Aku mau kamu bertanggung jawab sepenuhnya atas bayi ini. Kehamilanku, kamu juga harus turut serta. Aku nggak akan termakan ucapan kamu gitu aja tanpa bukti yang akan kamu lakukan."
Jadi, rencana mudah gue nggak bisa terealisasikan?
Seolah paham dengan apa yang ada dalam pikiran sang suami, Anggi menarik dagu Asta dan membuat pria itu melihatnya dengan jelas. "Kalo kamu masih berpikiran picik untuk membiarkan anak kita hanya mendapatkan perhatian dari satu pihak... kamu nggak akan tahu apa yang bisa aku lakuin nantinya, Ta."
"Ini bentuk ancaman?" tanya Asta sesantai yang dirinya bisa.
Anggini menggelengkan kepalanya. "Aku mau kamu nggak setengah-setengah kalo nggak mau ada perceraian diantara kita."
"Aku bisa menjadikan apapun sangat serius---"
"Aku cuma butuh bukti, bukan kata-kata kamu."
Dan Anggini benar-benar meninggalkan suaminya yang tetap terduduk di ranjang menatap tubuh telanjangnya ke kamar mandi. Dia membiarkan Asta merasakan tanggungnya akan sebuah sensasi. Sama seperti Anggini yang merasa sangat diberikan bagian tanggung dalam porsi diinginkan, sebab hingga kini Anggini tak tahu apakah Asta sudah mencintainya atau belum. Barang sedikit saja... Anggini masih meragukannya.
*
"Mama udah pulang?" tanya Anggi begitu mendapati suaminya duduk di sofa ruang tamu yang tak sebesar rumah yang mereka tinggali.
Asta diam saja. Dia amati foto Anggini bersama seorang lelaki yang terpajang hampir diseluruh sudut rumah tersebut, dan bodohnya Asta baru menyadarinya sekarang.
"Ini rumah siapa sebenarnya, Nggi?!"
Nada tanya yang sarat akan amarah itu membuat Anggi paham kalau sekarang adalah waktu penentuan. Sedikit saja Anggi ingin membuktikan sesuatu.
"Kenapa kamu tanya soal itu? Aku tadi nanya ke kamu lebih dulu soal mama---"
"Itu bahkan bisa kamu jawab sendiri dengan ketiadaan mama di sini! Jangan alihin pembicaraan."
"Aku nggak mengalihkan apapun."
"Aku tanya lagi, Anggini. Siapa yang sebenarnya membelikan kamu rumah ini, hah? Mantan pacar kamu? Atau jangan-jangan... kamu udah pernah menikah sebelumnya?"
Anggi menatapi wajah suaminya yang panik dan menantikan jawaban.
"Anggini!"
"Sama seperti kamu yang selalu bungkam soal masa lalu. Aku juga akan melakukan hal yang sama, Asta. Aku nggak akan mau membuka kisah masa lalu lagi, karena seperti yang kamu tahu, semua itu hanya memantik pertengkaran diantara kita."
Asta mendengus keras. "Apa, ini? Kamu mencoba menghindari pertanyaanku?!"
"Aku jawab kamu, dan jawabanku---"
"Jawab dengan benar, Nggi!" tuntut pria itu dengan menekankan setiap kata.
Anggi mendekatkan jarak mereka. Menaikkan dagu, membalas dengan berani manik tajam suaminya saat ini. "Kenapa kamu tanya soal ini?" tanya Anggi mula-mula.
"Aku perlu tahu semua urusan yang bersangkutan dengan kamu. Gimanapun, kamu adalah istriku---"
"Kamu cemburu."
Asta tak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Dan harus kamu tahu, Ta... cemburu tanda cinta."
*
Ketika pernyataan itu dilontarkan dengan apik oleh Anggi, pria yang mengaku sudah mau menerima janin dalam perut Anggini itu membuang muka. Tak siap dengan segala sesuatunya yang menyangkut dengan perasaan. Apalagi dengan semangatnya Anggi menekan dirinya dengan pernyataan bahwa cemburu adalah tanda cinta. Asta tak percaya dengan hal tersebut. Cinta? Apa yang akan dirinya dapatkan dari mengakui jika dirinya diam-diam memang menaruh rasa?
"Kenapa kamu sulit sekali mengakui---"
"Kita nggak sedang membuat pembicaraan yang mengharuskan aku untuk mengakui bahwa aku mencintai kamu atau nggak, Nggi. Ini masalah kamu dan lelaki yang banyak sekali fotonya! Bisa nggak kamu jawab aja siapa lelaki b******n yang kamu sembunyikan dari aku itu?!"
Anggini membentuk seringai dari dengusan yang sudah dirinya lakukan sebelumnya. Emosi yang sudah menggunung itu membentuk keberanian lain yang sudah Anggi siapkan sedari dulu.
"Kamu nggak lebih baik dari laki-laki yanng kamu sebut b******n itu, Ta. Itu nggak masuk akal sekali. Pertama, bukan aku yang harus menjelaskan masa lalu aku sama kamu. Yang kedua, dia bukan lelaki b******n seperti yang kamu sebutkan tadi. Karena Shota, punya berjuta-juta kebaikan, melebihi kesedihan yang selalu kamu berikan ke aku."
"Apa kamu mau kita bertengkar lagi, Nggi?"
Bibir wanita itu mengkeriting seiring dengan matanya yang memerah. Dia menggeleng, berusaha menjawab pertanyaan sang suami yang jelas, tak perlu dijawab sebenarnya. "Nggak perlu bertengkar. Aku juga capek begini terus sama kamu. Dan perlu kamu tahu, supaya kita nggak semakin parah memperdebatkan apa yang seharusnya nggak kita debatkan... alangkah baiknya kita ambil waktu sendiri-sendiri dulu."
*
Permintaan itu dipatuhi dengan baik oleh Asta. Dia belajar untuk tidak memaksa kehendaknya pada sang istri. Sudah cukup membiarkan banyak perdebatan diantara mereka terus bergerak melaju tanpa adanya keputusan akhir yang jelas. Yang Asta sesalkan adalah, pagi dimana semuanya membaik dan dia akan segera membawa istrinya pulang justru membuatnya pulang ke rumah tanpa sang istri ikut serta.
"Anggi mana?"
Asta terkejut dengan kedatangan Suri tiba-tiba dengan kemeja santai dengan apron bertengger dengan cantik ditubuh wanita baya tersebut. Raut berseri-seri ketika menanyakan keberadaan menantunya membuat Asta menyadari kalau sang ibu sudah mempersiapkan kejutan untuk Anggi.
"Dia nggak ikut Asta pulang, Ma." Kata Asta dengan malas.
"Kenapa? Bukannya kalian udah bicara? Apa Anggi tetap mau pisah---"
"Ma! Jangan sebut kata itu lagi. Asta nggak suka dengernya. Kami udah bicara, udah sempet damai, tapi akhirnya tadi bertengkar lagi."
Suri menurunkan sudut bibirnya. "Gara-gara mama, ya, Ta?" ucap wanita itu dengan lesu.
"Bukan. Ini murni karena Asta yang cemburu, Ma. Dan bodohnya, Asta malah membuat pembahasan yang lagi-lagi nyakitin Anggi."
Asta beranjak dari sofa menuju kamar. Sedangkan Suri hanya bisa menatap punggung sang putra saja. Makanan yang dia sengaja buatkan untuk menyambut kepulangan menantunya ternyata gagal. Ada masalah lagi antara putranya dan Anggi.
"Bu... gimana?" salah seorang pembantu yang sengaja Suri bawa dari rumahnya bertanya.
"Tolong kamu masukin sebagian makanannya ke wadah, ya. Saya mau bawa buat menantu saya."
Pembantu bernama Bunin itu melongo sebentar sebelum bertanya lagi, "Nyonya Anggi nggak pulang, Bu jadinya?"
Suri menggeleng lemah seraya menghela napasnya. "Tolong segera, ya, Mbak. Saya mau ngomong dulu sama anak saya."
Bunin menuruti titah majikannya. Suri berjalan menuju kamar yang sebelumnya sudah dimasuki sang putra, mengetuk pasti, Suri menemukan wajah lesu Asta. "Kenapa lagi, Ma?"
"Makan yang bener. Mama mau jenguk menantu beserta cucu mama."
Asta terbelalak. "Mama... tahu?"
"Bramasta... mama nggak akan mau mendengar tangisan Anggi lagi. Jadi, kalo sampai nantinya kamu membuat Anggi dan cucu mama menangis lagi, mama nggak akan ikut campur untuk rumah tangga kalian. Ini pertama dan terakhir mama sampaikan." Asta menunggu dengan wajah tegang. "Mama nggak mau ada nama Gita yang kamu sangkut pautkan di dalam rumah tangga kalian. Kalo akhirnya mama dengar itu dari bibir Anggi, jangan salahin mama yang mendukung rencana perpisahan yang Anggi mau."
Tak peduli putranya yang menahan amarah karena Suri kembali menyinggung mengenai perpisahan, Suri menepuk bahu Asta dan meninggalkan Asta sendirian di depan pintu kamarnya.