Ayu sedang duduk di ruang tengah dengan posisi kaki selonjor di atas karpet, punggungnya bersandar pada sofa. Tangannya mengelus perutnya yang mulai sedikit membulat, matanya menatap kosong ke arah televisi yang menyala tanpa benar-benar ia perhatikan. Rumah terasa tenang sore itu, terlalu tenang sampai suara pintu depan yang dibuka terdengar jelas. Ayu langsung menoleh. Kiano masuk dengan langkah pelan, tas sekolahnya tergantung di satu bahu. Biasanya anak itu akan langsung berlari, berseru memanggil Mama, atau setidaknya tersenyum kecil. Tapi kali ini berbeda. Bahunya turun, kepalanya menunduk, dan sepatunya diseret tanpa semangat. Ayu mengangkat sebelah alisnya. “Kiano?” panggilnya lembut. Anak itu berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, wajahnya tampak pucat, mata cokelatnya redu

