Ayu baru saja meletakkan mangkuk rujak strawberry kuah coklat itu ke meja ketika perutnya kembali terasa bergejolak dengan cara yang sama sekali berbeda. Bukan mual, bukan sakit, melainkan rasa ingin yang muncul tiba-tiba, cepat, dan sangat spesifik. Ia mengusap perutnya pelan, alisnya mengernyit, lalu bibirnya mengerucut tanpa sadar. Hendro yang sedang membereskan sisa piring di dapur melirik ke arah ruang tengah ketika mendengar Ayu menghela napas panjang. “Kenapa lagi?” tanyanya sambil tersenyum hati-hati, seolah sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk. Ayu menoleh perlahan. Tatapannya membuat Hendro refleks menegakkan punggung. “Mas…” panggil Ayu pelan. “Iya, Sayang.” “Aku kayaknya…” Ayu berhenti sejenak, menelan ludah. “Ngidam lagi.” Hendro terdiam beberapa detik. “Bar

