Ayu duduk di ruang tengah dengan posisi setengah bersandar, satu tangan mengelus perutnya yang kini sudah semakin terasa keberadaannya. Televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang, perasaannya campur aduk antara lapar, manja, dan sedikit kesal tanpa sebab yang jelas. Sejak tadi sore, perutnya terasa aneh. Bukan sekadar lapar, tapi keinginan yang sangat spesifik, seperti ada suara kecil di kepalanya yang terus mendesak tanpa henti. Langkah kaki Hendro terdengar dari arah dapur. Lelaki itu baru saja pulang kerja lebih cepat hari ini, sengaja ingin memastikan Ayu baik-baik saja setelah beberapa hari terakhir penuh emosi dan ketegangan. Begitu melihat istrinya duduk diam dengan wajah melamun, Hendro langsung menghampiri. “Kamu kenapa, Sayang?” tanyanya lembut sambil dud

