Bab 51

990 Words

Pintu kantor Hendro tertutup pelan setelah sekretarisnya pamit. Ruangan itu kembali sunyi, hanya suara pendingin udara yang berdengung konstan. Hendro berdiri di dekat jendela besar, menatap lalu lintas kota dengan pikiran kusut. Wajah Ayu yang menangis, suara Kiano yang memanggilnya Papa, dan kebohongan yang berlapis-lapis masih berputar di kepalanya tanpa henti. Ketukan pintu terdengar. “Masuk,” ucap Hendro singkat tanpa menoleh. Pintu terbuka, dan aroma parfum menyengat langsung memenuhi ruangan. Hendro refleks menoleh. Rita berdiri di ambang pintu dengan gaun ketat berwarna gelap yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambut terurai rapi, riasan wajahnya sempurna seolah ia sedang menghadiri pesta malam, bukan menemui mantan suami di kantor siang hari. Tatapan Hendro langsung mengeras.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD