50

927 Words

Raka berdiri di depan gedung kantor Hendro dengan langkah mantap. Kemeja rapi, rambut tersisir, ekspresi wajahnya dibuat setenang mungkin. Di tangannya ada sebuah map tipis dan ponsel yang layarnya sudah siap menampilkan sesuatu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, menyebut nama Hendro pada resepsionis dengan suara percaya diri, seolah ia memang memiliki urusan penting yang tak bisa ditunda. Beberapa menit kemudian, Raka sudah duduk di ruang tamu kantor Hendro. Ruangan itu luas dan dingin, dinding kaca memantulkan cahaya siang. Hendro keluar dari ruang kerjanya dengan wajah kaku. Tatapannya langsung berubah tajam ketika melihat siapa yang menunggunya. “Kamu,” ucap Hendro singkat. Raka berdiri. “Mas Hendro. Terima kasih sudah mau menemui saya.” “Apa urusanmu?” Hendro t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD