Hendro berdiri di ruang tamu dengan wajah tegang ketika pintu rumah terbuka. Ayu baru saja masuk, menutup pintu perlahan sambil menghela napas. Tangannya refleks mengusap perutnya yang kini semakin terasa berat. Ia belum sempat melepas sepatu ketika suara Hendro memotong udara dengan nada dingin yang tidak biasa. “Kamu dari mana?” Ayu terkejut. Ia menoleh cepat. “Mas? Mas sudah pulang?” Hendro tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, ponselnya berada di tangan, layar menyala. Tatapannya menusuk, membuat Ayu spontan menelan ludah. “Aku tanya, kamu dari mana?” Ayu mencoba tersenyum, meski hatinya langsung terasa tidak enak. “Dari rumah sakit, kontrol kandungan. Terus tadi mampir sebentar beli buah.” Hendro mengangkat ponselnya. “Sama laki-laki ini?” Ayu membeku. Hendro memutar layar pon

