Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya bagi Hendro. Ia menyetir mobil dengan rahang mengeras, tangannya menggenggam setir lebih kuat dari perlu. Di kursi belakang, Kiano duduk diam, tasnya rapi di punggung, matanya menatap keluar jendela tanpa banyak bicara. Ayu duduk di samping Hendro, sesekali melirik suaminya dengan cemas, lalu menoleh ke Kiano dengan senyum menenangkan. Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Hendro mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang. “Kiano.” Kiano menatap Papanya. “Papa ke dalam sebentar. Kamu tunggu di mobil sama Mama dulu.” Kiano ragu-ragu, lalu mengangguk pelan. Hendro turun dari mobil. Begitu kakinya menginjak halaman sekolah, ekspresinya berubah dingin. Matanya menyapu sekitar, anak-anak berlarian, orang tua lain berbincang santai. S

