8. Ditraktir Makan

1065 Words
Sebuah restoran bernama Putu Made adalah tempat yang Chelsea pilih untuk mengisi perut. Kebetulan saat itu Chelsea sangat ingin makan bebek betutu yang ada di lantai 5 mall tersebut. Namun ternyata di resto tersebut, Chelsea hanya mencicipi sedikit saja kemudian dibungkus tanpa makan di tempat. Gendis hanya mengekor dan tidak berani bertanya kenapa. Padahal dia sangat ingin menikmati bebek betutu yang terkenal empuk dan rasanya yang begitu nikmat. Hanya saja uangnya tidak pernah cukup untuk membeli makanan yang butuh beberapa lembar uang merah hanya untuk satu porsi lengkap. Setelah itu, Chelsea dan Ben turun ke lantai 4. Lagi-lagi Gendis hanya menurut dan tidak banyak protes. Kali ini Chelsea duduk di meja makan dan memesan shabu-shabu lengkap dengan Ponzu Sauce and Sweet Sauce with sesame seed. Menu itu cukup menggugah rasa lapar yang luar biasa dari perut Gendis. "Mbak, makan aja, jangan sungkan ya!" kata Chelsea dan Gendis hanya mengangguk. "Ini Sayang kamu juga makan yang banyak, biar anak kita puas dan nggak ileran," ucap Ben pada Chelsea seraya menyuapi istrinya. Sontak saja Gendis langsung tersedak mendengar kata 'anak' yang baru saja Ben ucapkan. "Mbak, minum-minum!" kata Chelsea buru-buru memberikan botol minum air mineral pada Gendis yang batuk-batuk. "Makannya pelan-pelan, Mbak! Ayang beb nya nggak ditawarin makan ya tadi? Sampe batuk-batuk, gitu," ledek Chelsea yang membuat Gendis bingung menatap Chelsea. "Katanya kalau kita punya seseorang yang kita sayang, kalau mau makan tawarin dulu biar nggak kesedak kayak kamu, Mbak," lanjut Chelsea memberikan jawaban atas kebingungan Gendis. "Ah, bukan-bukan! Aku nggak punya ayang. Itu cuma mitos he … tadi itu … aku cuma kaget aja. Nona Chelsea lagi hamil?" tanya Gendis tanpa basa-basi. Bagaimana bisa mereka baru melakukan pesta pernikahan kemarin, tetapi sudah hamil. Berarti orang kaya dimana-mana sama saja. Mereka mencicil membuat anak terlebih dahulu layaknya rumah dan mobil, barulah menikah. "Haha … jangan salah paham, Mbak! Sebenarnya kami udah nikah dari beberapa bulan yang lalu tapi belum mengadakan pesta pernikahan karena suatu hal di Italia. Dan kemaren itu Papi aku maksa buat acara resepsi pernikahan, jadi ya begitulah," papar Chelsea menjelaskan kesalahpahaman yang dipikirkan Gendis. Gadis itu hanya manggut-manggut paham. Gendis jadi merasa tidak enak dan kembali canggung dan kembali melanjutkan makannya karena Gendis memang sedang lapar. Dia harus punya tenaga untuk mencari tempat tinggal. Namun setelah mendengar negara Italia yang disebut Chelsea, Gendis langsung teringat dengan Glen. Laki-laki itu mengajak untuk tinggal dan katanya akan berusaha untuk membahagiakannya. Tiba-tiba Gendis menyunggingkan senyum dan mengundang pertanyaan dari Chelsea. "Kenapa, Mbak? Kok senyum-senyum sendiri? Inget seseorang ya?" ledek Chelsea lagi. "Ah, bukan apa-apa, Nona. Hanya … penasaran aja dengan Italia. Katanya disana tempatnya indah. Apalagi kota Venesia yang banyak perahunya itu. Nona tinggal disana ya?" Gendis pun mencoba mengorek sedikit informasi. "Nggak kok! Yang tinggal disana kedua Kakak aku. Namanya Kak Andrew dan Kak Glen yang waktu kita pertama bertemu dia nyusul itu, Mbak," jelas Chelsea sambil menikmati makanannya. "Em, kedua Kakak Nona, udah menikah?" Gendis tiba-tiba merasa ingin tahu lebih jauh. "Belum. Tapi kalau Kakak pertama aku yang namanya Andrew udah punya calon. Mungkin setelah aku melahirkan mereka akan menikah. Tinggal Kakak aku yang namanya Glen. Entahlah, pria tua itu terlalu dingin dan kaku sama cewek," papar Chelsea membuat Gendis menahan tawanya karena Gendis membenarkan hal tersebut. Namun jika mengingat cinta satu malam mereka, Gendis langsung mengerjap dan mengatur napasnya kemudian kembali fokus dengan shabu-shabu yang ada di depannya. Obrolan terus berlanjut walaupun sesekali Gendis hanya mengangguk atau diam saja karena masih malu juga segan. Dia gadis biasa, tetapi bersanding dan makan bersama anak pemilik mall yang benar-benar asyik untuk diajak mengobrol. Walaupun begitu, tentu saja Gendis masih kurang nyaman karena tidak selevel. Adik dari laki-laki yang tidur dengannya itu sangat ramah. Bahkan sejak pertama bertemu hingga saat ini. Banyak cara Chelsea untuk mengubah kecanggungan mereka sampai akhirnya Gendis mulai bersikap biasa saja seraya menikmati makanan mereka. Sedangkan Glen begitu dingin dan terlihat arogan. Apalagi gaya bicaranya saat mengajak Gendis untuk menikah, sama sekali tidak menunjukkan sikap sebaik wanita di hadapannya. Adiknya saja mengakui jika sikap Kakaknya seperti itu. Setelah acara makan bersama selesai, Gendis tetap mengekor hingga mereka tiba di tempat parkir mobil yang tidak jauh dari pintu utama mall. "Terima kasih banyak, Nona atas traktirannya! Saya harus pergi sebelum waktu semakin malam," kata Gendis hendak pamit. "Em, boleh tahu Mbak Gendis mau kemana?" tanya Chelsea walaupun ragu. Namun dia benar-benar ingin tahu karena Gendis terlihat seperti orang yang akan kabur dari rumah. "Ngadu nasib, Nona. Hm, kalau begitu saya permisi dulu dan sekali lagi terima kasih atas traktiran makannya," ucap Gendis seraya sedikit membungkuk kemudian berjalan menjauh dari Chelsea dan Ben yang siap masuk dalam mobil. Namun baru beberapa langkah Gendis menjauh, tas selempang yang dia pakai dijambret. Seharusnya dia memakai tas itu dengan benar dan ditimpa dengan tas ransel supaya tidak gampang ditarik orang lain. Sayangnya penyesalan selalu datang diakhir. "Copet! Jambret! Tolong!" teriak Gendis hendak mengejar jambret yang membawa tasnya. Hanya saja bahu Gendis tiba-tiba ditahan oleh Ben. "Tunggu saja, biar aku yang kejar." Ben segera berlari dan Gendis menurut untuk tetap diam menunggu Ben dengan banyak harapan tasnya bisa kembali. "Tuhan … semua uang yang aku punya di tas itu," gumam Gendis sangat khawatir. "Tenang aja, Mbak! Jambret dan copet disini nggak akan ada yang berani berurusan sama suami aku. Tas Mbak Gendis pasti balik lagi," ujar Chelsea seraya merengkuh bahu Gendis yang telah menitikkan air matanya. Uang gaji juga uang pemberian ibunya memang ada di tas selempang yang dijambret. Tentu saja Gendis khawatir walaupun sebenarnya dia masih punya kartu berwarna hitam pemberian Glen, tetapi Gendis belum ada keinginan untuk menggunakan kartu tersebut. Namun kartu itu juga ada di dalam tas yang dijambret. Gendis pun menepi bersama dengan Chelsea dan sabar menunggu Ben. "Maksudnya gimana, Nona? Suami Nona polisi?" tanya Gendis heran kemudian menyeka air matanya. "Bukan. Aku juga nggak tahu awal ceritanya. Tapi dulu aku sempat kejambretan juga dan dengan mudah barang itu kembali. Tenang aja!" Gendis mengangguk dan berusaha untuk tenang. Benar saja. Tidak butuh waktu lama untuk Ben kembali membawa tas selempang milik Gendis. Namun ada yang berbeda dari raut wajah Ben saat kembali. "Kenapa, Mas?" tanya Chelsea heran melihat raut wajah suaminya. "Mbak, kenapa ada black card dan kartu nama Kak Glen di tas, Mbak Gendis?" tanya Ben menatap Gendis seraya menyodorkan tas yang mana di atasnya ada sebuah kartu hitam dan kartu nama yang bertuliskan Glen John Wilson. Seketika itu juga, Gendis langsung membatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD