7. Akhirnya Pergi

1120 Words
Gendis tidak benar-benar langsung pergi seperti perintah Ibu Wina. Dia masih berangkat bekerja seperti biasanya. Gendis meletakkan tas ranselnya di ruang karyawan kemudian berganti baju seragam. Tidak ada yang aneh pagi itu. Gendis menyapa beberapa tamu yang cek in juga yang melakukan cek out. Gendis juga membantu beberapa pelayanan yang kerepotan. Semuanya dia lakukan seperti pekerjaan sebelumnya. Di sela kesibukan itu, Gendis menyempatkan waktu untuk membuat surat pengunduran diri. Setelah waktunya penerimaan amplop coklat, entah dia dapat atau tidak, Gendis akan memberikan surat pengunduran dirinya pada Joni kemudian dia akan benar-benar pergi dari kota tersebut. Bukan hanya untuk lari dari kegilaan sang Ayah yang belum dia ketahui, tetapi untuk memastikan juga bahwa dia hamil atau tidak karena sebenarnya saat ini gendis sedang dalam masa subur saat melakukan cinta satu malam dengan Glen. "Gendis, kamu dipanggil tuh sama Tuan Jo," seru Desti dan Gendis mengangguk paham. Dia tahu kemana harus menemui manager mata keranjang bernama Joni tersebut. Gendis juga paham pasti pria yang tergila-gila padanya itu akan membahas gaji juga bonus dari pesta pernikahan yang diadakan Tuan Wilson kemarin. Setelah memasukan surat pengunduran diri ke dalam saku bajunya, langkah Gendis pun tertuju pada sebuah ruangan yang cukup disegani oleh para karyawan di hotel tempatnya bekerja. “Permisi, Tuan!” sapa Gendis saat masuk ke dalam ruang kerja Joni. Sang pemilik ruangan tidak memberikan respon melainkan sebuah tatapan meremehkan yang Gendis lihat. Namun gadis itu tak acuh dan berdiri di sisi meja ruangan tersebut. Cukup lama tidak ada suara ataupun kata yang keluar baik dari mulut Joni maupun dari mulut Gendis. Tentu saja dia masih menjaga kesopanannya sebagai karyawan disana. “Kenapa kamu diam aja, Gendis? Kamu nggak mau menjelaskan sesuatu atau meminta sesuatu dariku, hm?” tanya Joni yang kemudian memutar kursinya menghadap ke arah Gendis yang sedang berdiri dengan sopannya. “Anda yang memanggil saya, Tuan. Jadi … saya rasa anda yang akan memulai pembicaraan kita,” jawab Gendis masih bernada datar. Padahal sebelumnya kecanggungan ini tidak pernah terjadi sama sekali. Andai saat gajian tiba, Joni langsung menyodorkan amplop gaji milik Gendis secara langsung. Tidak seperti karyawan lainnya yang selalu melalui perantara kepala pelayan yaitu Desti. “Gendis … Gendis … kamu memang wanita yang menarik sekali. Nggak heran bukan kalau saya sangat menyukai kamu. Sebenarnya saya sangat ingin menahan gaji juga bonus kamu. Tapi urusan pribadi biarlah kita selesaikan secara pribadi. Saya harus profesional, bukan?” ujar Joni dengan sombongnya. “Iya, Tuan.” Gendis tidak mau banyak memberikan respon. “Baiklah, ini gaji beserta bonus kamu. Bahkan saya menambahkannya menjadi genap lima belas juta.” Joni meletakan amplop berwarna coklat tersebut di atas meja. “Terima kasih, Tuan. Saya tidak bisa membalas kebaikan, Tuan. Biar Tuhan yang membalasnya,” sahut Gendis seraya meraih gaji juga bonusnya kemudian memasukan uang tersebut ke dalam saku rok span yang dia pakai. “Kemarin ayah kamu saya kasih dua puluh juta dan jumlah itu lebih besar dari pemberian pria yang mengaku kekasih kamu itu. Heh! Ternyata kamu menolak saya karena sudah punya pacar rupanya. Tapi nggak masalah, selama ada uang, semuanya akan selesai bukan?” Joni masih meremehkan Gendis dan bicara dengan nada yang dibenci oleh gadis itu. Gendis sudah tidak tahan lagi berlama-lama di ruangan yang memberinya rasa sesak itu. Segera Gendis merogoh saku bajunya dan meletakan surat pengunduran diri tepat di depan Joni. “Maaf, Tuan! Mulai hari ini saya mengundurkan diri. Saya juga sudah tidak terikat kontrak kerja. Terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Saya permisi!” Setelah meletakan surat pengunduran dirinya, Gendis hendak beranjak. Namun Joni dengan cepat menarik tangan Gendis untuk menahan gadis yang membuatnya tidak bisa tidur tersebut. “Apa maksud kamu berhenti bekerja? Kamu kira cari kerja dengan gaji besar seperti yang saya berikan ini gampang? Ingat! Kamu hanya lulusan SMA. Kamu seharusnya berterima kasih dan beruntung bisa bekerja disini dengan gaji jauh dari rata-rata padahal ijazah kamu nggak berguna.” Bukannya takut, Gendis malah tertawa renyah seraya melepaskan dengan kasar tangan yang mencekal pergelangan tangan Gendis. “Tuan, ada cctv yang memantau kita. Anda tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dan … saya sudah berulang kali mengucapkan banyak terima kasih pada anda, Tuan Joni yang terhormat. Permisi!” Tak ingin basa-basi lagi, Gendis segera keluar dari ruang kerja Joni. Dia merasa sedang menghirup kebebasan saat ini. Dan sebelum Joni berbuat sesuatu atau bahkan Ayah Pendi sadar akan Gendis yang masih masuk kerja, dia segera masuk ke ruang karyawan dan mengganti pakaiannya. Gendis hanya berpamitan pada Desti. Walaupun wanita itu cukup tegas dan keras padanya, tetapi Gendis tahu jika ada kesedihan yang terpancar dari raut wajah Desti. *** Entah sudah berapa jam lamanya Gendis duduk di kursi busway. Tatapannya masih tertuju keluar jendela walau dengan tatapan kosong. Senja hampir tiba dan Gendis belum punya tujuan untuk pergi juga tinggal. Walaupun uang yang dia bawa cukup banyak bahkan kartu berwarna hitam yang diberikan Glen padanya juga dia bawa dan isinya masih utuh, Gendis benar-benar tidak punya tempat untuk dia tuju saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia jauh dari kedua orang tuanya. Akhirnya Gendis memutuskan turun dari busway dan berjalan menuju Mall Senayan City untuk mengisi perutnya terlebih dahulu karena dia tadi melewatkan makan siangnya. Pikirannya yang belum fokus membuat Gendis menabrak seorang wanita yang akan masuk ke dalam mall itu juga. “Aww!” rintih wanita tersebut yang untungnya segera ditangkap oleh suaminya agar tidak terjatuh. “Astaga … maaf, saya nggak sengaja. Tadi saya melam-” Gendis menghentikan permintaan maafnya karena terkejut dengan orang yang dia temui tersebut. “Loh … bukannya kamu pelayan di hotel kemarin ya? Siapa … lupa aku namanya, em ….” “Namanya Gendis, Sayang,” “Ah, iya bener! Kita ketemu lagi ya,” Mereka adalah Chelsea dan Ben. Sepasang suami istri yang berhasil membuat takjub semua orang karena pesta pernikahan mereka yang begitu mewah. Ditambah lagi semua kamar hotel telah dibooking khusus untuk tamu undangan pesta pernikahan tersebut. “Ah, hallo, Nona Chel … em Nona Chelsea!” sapa Gendis dengan canggungnya. Tentu saja seketika itu Gendis jadi ingat dengan Kakak dari wanita yang baru saja dia tabrak tersebut. "Eh, Mbak Gendis mau ngapain? Kok bawa tas ransel juga? Kayak mau pindah rumah aja," kata Chelsea dengan nada bercanda. "Ah, itu … em saya lagi mau cari makan aja, Nona. Mau cari sensasi makan enak di mall," jawab Gendis yang masih sedikit canggung. "Wah … kebetulan. Kalau begitu yuk aku traktir makan. Mbak Gendis bisa makan sepuasnya." Chelsea segera memeluk lengan Gendis tanpa ragu. "Eh, tapi … itu … tapi saya …." "Udah … anggap aja sebagai tanda perkenalan. Jangan sungkan. Aku suka kalau ada temannya." Gendis tidak bisa menolak dan akhirnya ikut masuk ke dalam mall yang mana dari cerita Chelsea, mall itu adalah milik keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD