Gendis hanya bisa duduk memeluk kedua kakinya dengan dagu yang bersandar di lutut saat sang Ibu membelai lembut ujung kepala Gendis. Gadis itu benar-benar bingung saat ini. Dia ingin sekali menceritakan apa yang telah terjadi padanya semalam bersama dengan pria asing yang dia ketahui bernama Glen.
Namun dia tahu itu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan karena Gendis tidak mau melihat kekecewaan dalam diri wanita yang sudah sakit-sakitan itu. Gendis hanya berharap jika tidak akan ada benih yang tumbuh di dalam perutnya karena kejadian memalukan tersebut. Sedangkan dua pria yang dibencinya itu sepertinya sudah pergi karena Gendis mendengar suara mobil berlalu.
"Gendis, ya Tuhan … lihat uang-uang ini, amat banyak bukan?" Ayah Pendi tiba-tiba masuk sesaat setelah mobil yang dikendarai Adam juga Joni pergi. Ayah Pendi meletakkan uang puluhan juta tepat di depan Gendis dengan wajah yang amat bahagia.
"Yah, astaga … Ayah gimana sih? Gendis nggak mau menikah dengan mereka, kenapa Ayah terima uang itu?" teriak Ibu Wina diiringi gelengan kepala. Suaminya memang mata duitan bahkan sepertinya dia rela menjual anaknya sendiri hanya demi setumpuk uang yang akan habis dalam satu malam itu.
"Diam! Jangan ikut campur! Ini urusan Ayah dengan anaknya." Ayah Pendi pun mendorong tubuh sang istri supaya memberikan tempat untuk dia duduk di sisi Gendis. Raut wajahnya benar-benar sumringah menatap anak gadisnya yang cantik itu.
Ayah Pendi kemudian mengambil kembali tumpukan uang di depan Gendis dan mengibaskan tepat di depan anaknya dengan bangganya lalu memeluknya kembali layaknya sebuah guling yang memberikan kehangatan.
"Ayah! Jangan paksa Gendis! Dia anak kita satu-satunya. Biarkan dia menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan hidup bahagia, Yah!" seru Ibu Wina menatap sinis suaminya yang sedang memeluk gepokan uang dengan sudut bibir yang menyungging.
"Justru karena dia anak kita satu-satunya, dia harus berbakti sama kita supaya kehidupan kita jadi lebih baik. Setidaknya dia harus balas budi karena kita udah susah payah membesarkan dia. Udah minggir sana!" seru Ayah Pendi kemudian duduk di sisi Gendis dan merubah raut wajahnya yang tadi marah menjadi kegirangan.
Ibu Wina terpaksa sedikit menjauh karena dorongan sang suami yang sedang tergila-gila dengan uang puluhan juta di tangannya itu.
Gadis yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri itu tidak peduli sama sekali dengan pertengkaran kedua orang tuanya. Dia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi andai sang Ayah mengetahui jika dia tidak bisa menjaga kehormatannya.
Bisa saja semakin marah, atau bahkan tidak peduli sama sekali, karena yang ada di otaknya hanyalah uang. Asalkan Gendis bisa menghasilkan banyak uang, pastilah sang Ayah akan merasa bangga dan tidak peduli dengan apa yang dirasakan darah dagingnya sendiri.
Mungkin Ayah Pendi juga tidak peduli andai Gendis sedang putus asa dan bisa saja kejadian demi kejadian yang telah Gendis alami itu menyisakan trauma untuk kisah hidupnya ke depan.
"Nak, Gendis Sayang … lihat! Ayah bangga sekali kamu bisa membuat para pria itu tadi mencintaimu. Pokoknya kamu harus pilih salah satu dan minta mahar ya besar, kamu ngerti kan?" bujuk Ayah Pendi, tetapi Gendis tidak menanggapi pernyataan tersebut.
Bukannya menjawab, Gendis justru menenggelamkan kepalanya diantara kedua kaki yang dia peluk. Rambutnya terurai tidak karuan. Air matanya pun kini menetes membasahi pipi juga kakinya.
Bagaimana bisa Adam dan Joni mencintai Gendis? Sedangkan Adam memilih tidur dengan wanita yang entah siapa dan Joni memberikan sebuah obat yang dia sengaja karena ingin merebut kegadisannya.
Gendis tahu itu bukan cinta, melainkan hanya obsesi dan ambisi saja. Apalagi Gendis termasuk wanita yang begitu cantik. Saat kedua pria itu telah mendapatkan Gendis, dia yakin jika rumah tangga yang akan mereka jalani tidak akan menciptakan sebuah kebahagiaan, melainkan Gendis hanya akan mendapatkan penderitaan baru.
"Gendis! Katakan … diantara Tuan Jo dengan laki-laki bernama Adam yang katanya pacar kamu itu, siapa yang paling kaya? Cepet katakan! Ayah akan minta mahar yang besar dari pria yang kamu pilih. Kamu yang paling mengenal mereka, bukan? Jadi cepet katakan! Jangan malah meringkuk nggak jelas begini, Gendis!"
Entah apa yang bisa digambarkan dengan sikap Ayah kandungnya itu. Pria paruh baya di sisinya benar-benar gila dengan uang. Otaknya sama sekali tidak memikirkan apa yang sedang anaknya alami. Bahkan hatinya tidak bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Gendis saat ini.
"Ayah, cukup! Biarkan Gendis sendiri," seru Ibu Wina seraya menarik paksa tangan suaminya keluar dari kamar Gendis.
Tangisnya pun pecah sesaat setelah kedua orang tuanya pergi.
***
Sejak pulang dari bekerja, Gendis sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Dia bahkan melewatkan makan malam karena tidak ada keinginan untuk melakukan apa pun selain berbaring di atas tempat tidur singlenya. Beberapa kali Ibu Wina mengetuk pintu kamar, sekian kali juga Gendis tidak menghiraukan suara ketukan pintu tersebut.
"Apa yang akan terjadi kalau aku hamil? Tuhan … apa yang harus aku lakukan? Mungkin … aku harus pergi dari sini andai itu terjadi."
Tubuh yang lemah dan lelah serta pikiran yang kacau membuat Gendis terlelap begitu saja. Tidak ada yang tahu gadis itu sedang dirundung kemalangan.
Sampai pagi menjelma, tubuh Gendis serasa tidak punya daya untuk bangun. Namun dia memaksa karena hari ini adalah hari dimana semua karyawan mendapatkan amplop berwarna coklat.
Entah Gendis akan mendapatkan amplop tersebut atau tidak, tetapi dia harus tetap datang. Dia juga masih punya tanggung jawab atas pekerjaannya di hotel.
Langkah yang gontai dan kepala yang sedikit pusing membuat Gendis hampir saja ambruk di lantai. Namun kedua tangannya dengan cepat menempel di dinding menahan tubuh lemah itu.
"Gendis … kamu kuat! Sejak kapan kamu jadi selemah ini, hah?"
Helaan napas panjang mengiringi langkah Gendis hingga dia bisa membuka pintu. Kedua orang tuanya tidak terlihat di sekitar kamar Gendis. Dia pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Baru beberapa saat Gendis di dalam kamar mandi, suara ketukan pintu tiada hentinya dia dengar dan dia tahu itu adalah Ibunya. Sang Ibu seolah sangat tidak sabar untuk segera bertemu Gendis.
"Kenapa sih, Buk?" tanya Gendis hanya dengan lilitan handuk juga rambut dan tubuhnya yang masih berbusa.
"Nak, tolong … pergilah dari sini dan cari kebahagiaanmu. Ibu punya perasaan nggak enak kalau kamu masih di rumah. Mandimu cepetin dan segera pergi sebelum Ayah kamu kembali," kata Ibu Wina kemudian segera mendorong kembali Gendis untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Walaupun penuh dengan rasa heran, Gendis tidak serta merta bersantai. Dia buru-buru memberikan busa-busa di rambut dan tubuhnya kemudian segera masuk kamar dan mengenakan pakaian. Tak berapa lama, Ibu Wina masuk kamar Gendis dengan wajah ketakutan.
"Kenapa sih, Buk?" tanya Gendis lagi masih dengan wajah keheranan.
"Ini … uang simpanan Ibu. Kamu bawa dan kamu gunakan sebaik mungkin. Tinggalkan kota ini dan menikahlah dengan laki-laki yang mencintaimu, kamu harus janji!"
"Ada apa sebenarnya, Buk?"
"Jangan banyak tanya! Cepet kamu bawa barang yang penting aja, setelah itu kamu pergi dari rumah ini dan jangan kembali lagi, mengerti!"
Gendis tidak bisa apa-apa lagi. Dia memang berniat pergi untuk memastikan dia hamil atau tidak. Segera Gendis mengambil tas ranselnya dan memasukkan beberapa pakaian juga barang yang dia butuhkan.
"Lalu Ibu? Gendis khawatir Ibu kenapa-kenapa." Ibu Wina pun memeluk Gendis.
"Jangan khawatirkan Ibu. Kamu harus hidup bahagia, Nak. Ibu sangat sayang sama kamu. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang bisa menjaga dan mencintaimu hingga maut memisahkan. Cepat pergi sebelum Ayah kamu datang."
Gendis pun mengangguk dalam pelukan sang Ibu. Tetesan air mata tidak bisa ditahan. Walaupun berat, Gendis memang harus pergi dan dia berjanji akan kembali untuk menjemput sang Ibu.