Babak Hidup Baru

1445 Words
Sudah pasti hidup Luna menjadi bahagia, punya papa kaya, ibunya tidak kesusahan untuk bekerja keras pergi ke pasar, kamar yang bagus, rumah yang besar, alat kebutuhan hidup lengkap dan tidak ada yang b***k seperti miliknya dulu. Juga kamar mandi di dalam kamarnya sendiri. Bahkan, anggapalah Luna katro, gadis itu bahkan membuka tutup pintu lemarinya yang sangat mudah digeser, ia gunakan speerti mainan. Karena tidak seperti pintu lemarinya yang selalu berbunyi dan tidak bisa ditutup rapat. Juga Ac yang dingin ini, berulang kali sepasang matanya melihat tidak menyangka kalau dirinya bisa tidur di kamar ber AC. “Ya ampunnnn, Rena! Tobi!!! Kamar aku bagus banget! Untung kalian nyaranin aku buat ngerestuin ibu aku nikah lagi. Oh My God, ini terlalu bagus!” Luna langusng lompat ke atas matras. Bukan matras, tapi tempat tidur yang bisa dipakai untuk loncat-loncat seperti di atas matras. Luna girang bagai bocah yang baru bisa masuk ke taman bermain. Perlahan seperti terdengar suara ketukan pintu. “Lun!! Luna!” Terdengar suara memanggil namanya setelah itu, suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Luna yang terlanjur berguling-guling di atas tempat tidur empuknya yang bisa dipakai loncat tinggi. segera bangun dan berjalan ke arah pintunya. Membuka dan ternyata ibunya juga Om Ferdi. “Ibu ada apa?” tanya Luna. “Ibu mau masuk boleh?” Luna mengangguk, lalu memiringkan tubuh membuat jalan masuk ke kamar untuk ibu dan papanya. Sama-sama duduk di atas tempat tidur, sang papa. Om Ferdi juga mulai menatap Luna. “Lun! Kamu mulai besok sudah bisa sekolah di sekolah yang sama dengan Mellya!” “Sekolahnya Mellya, sekolah apa ya Pa?” tanya Luna yang lidah masih lecet untuk memanggil papa. “SMA PELITA, sekolahnya Tobi dan Rena!” sahut bu Mira. Luna langsung terseyum lebar, saking lebarnya sampai-sampai dirinya harus menggerakkan telapak tangan untuk menutupi mulutnya. “Yang bener Bu?” “Iya bener!” “Secepat itu?” “Papa kamu ini donatur sekolah itu! Jadi gampang aja buat papa masukkan kamu ke sekolah sana, kamu bakal satu kelas juga kok sama Tobi dan Rena, kebetulan mereka itu temannya Mellya juga!” jelas Bu Mira. Luna mengalihkan pandangan pada papa barunya, ia spontan memeluk pria dewasa tersebut. “Makasih ya pa. makasihhhhh banget! Luna jadi …!” ucap Luna yang rasanya belum bisa diucapkan lagi. Tapi, ia harus mengatakan apa yang ingin disampaikannya itu, agar dua manusia dihadapannya ini tahu kalau hatinya sedang berbunga-bunga. “Luna bahagia banget Pa, makasih banyak, papa hebat banget!” ucap Luna sambil masih tetep memeluk pak Ferdi. Pak Ferdi membalas pelukan tersebut. Ia merasa ikut senang melihat Luna bahagia, tidak disangka anak gadis istrinya itu begitu semangat mengucapkan terimakasih. Beda sekali degan putrinya yang sepertinya biasa-biasa saja setiap menerima sesuatu dari dirinya. “Abis ini, kamu belajar yang rajin ya!” Pak Ferdi menatap Luna yang sudah melepas pelukan. Ia bahkan mengusap kepala Luna dengan begitu sayang. “Iya Pa! Senyum Luna mengembang sambil mengangguk. “Cantik banget kamu Lun, papa yakin kamu pasti cepat dapat banyak teman dan juga disukai guru. Papa tau kamu anak yang cerdas.” “Ya, tapi SMA Pelita itu juga sekolah favorit yang isinya anak-anak pinter semua Pa!” “Makanya kamu makin tambah rajin ya belajarnya,” tambah bu Mira. Kebahagiaan Luna malam ini yang begitu didominasi percakapan aantara pak Ferdi juga Luna, terdengar di telinga Mellya yang sebenarnya ingin menemui papanya malam itu. Ia ingin mengutarakan keinginannya dibelikan laptop yang belum kunjung dibelikan. “Kalau dulu. Aku minta dibelikan pas pagi. Malamnya pasti baranganya udah ada. Ini bilang buat belikan aja enggak, malah sibuk sama anak orang lain. Gimana sih papa ini. Apa papa udah nggak sayang lagi sama aku?” tanya Mellya dongkol. Ia menendang udara kosong di depannya. menghembuskan nafas dengan gusar dan berbalik lagi ke kamar dengan hati meracau. “Awas aja kamu kalau ngerebut kasih sayangnya papa dari aku, udah cukup ibu kamu yang numpang hidup enak. Kamu Luna, jangan macam-macam, apalagi coba menggeser posisiku sebagai anak emas di rumah ini!” *** Sekolah yang besar, dengan gerbang begitu tinggi dan juga satpam penjaga super ganteng. Luna disambut kedatangannnya di sekolah SMA Pelita dengan pemandangan yang demikian. Ia masih tersenyum tidak mengira kakinya akan menginjakak di sini. “Eh ngapaian bengong aja! Ayo masuk!” ajak Mellya yang turun dari mobil bersama dengan Luna. Luna yang masih syok skeptis tidak mendengar apa yang dikatakan Mellya. Terpaksa Mellya mendekat dan memukulkan kamus bahasanya yang sedang dibawa ke arah pundak Luna dengan cukup keras. “Lu mau kesambet! Setan disini banyak tau!” ungkap Mellya penuh emosi. “Hah! Apa!” sahut Luna tanpa panik sedikitpun. Ia bahkan terkesan seperti tidak peduli dengan omongan Mellya. “OMG, papa nemu anak ini dimana sih?” Mellya sudah tidak peduli, ia pun meninggalkan Luna begitu saja. “Lho! Mell! Mellya!” panggil Luna tapi tidak dipedulikan. Mellya masuk ke dalam kelasnya dan meletakkan tas dengan kasar. Kedua temannya yang sudah seperti sekongkol kompeni yang selalu berpikir buruk bersama-sama, suka makan di kantin ala highclass. Secara sama-sama anak donatur SMA Pelita, suka onar sendiri sedang melihat ke arah Mellya. “Lo kenapa cembetut?” tanya Prita. “Lagi pengen makan bangku!” Ketus Mellya. “Tu banyak! Mau bangku warna apa? Item, coklat!” sahut teman satunya, Nadia. “Kalian kok malah suruh aku makan bangku beneran sih!” “Ya abis sepagi ini, udah cembekur aja!” “Ayam tekukur kali cembekur-kur!” tertawa kedua teman Mellya saat itu juga. “Nggak lucu, gue sekarang punya sodara tiri tau!” jelas Mellya. “What! Jadi gosep itu bener, yang katanya papa kamu merried itu?” Mellya mengangguk. “Sodara tiri kamu gimana, ganteng nggak?” Nasia antusias. “Sodara tiri gue sati spesies sama kita, odol!” “Yee, nggak asyik! Jangan-jangan satu kelas lagi?” “Iya!” sahut Mellya dengan malas berterus-terusan. “Whuattt! Hah! dia cantik nggak? Sekelas ini nggak ada yang jelek tau, kalau dia jelek udah pasti bakal jadi bullyan.” “Lumayan lah, wajahnya bersih nggak ada jerawat. Entah dia perawatan pakai apa, padahal nggak punya skincare juga. Masak pas pindahan ke rumah dia cuma bawa baju aja, sama buku!” “Jadi, dia miskin?” “Iya, banget! Hape aja, layarnya retak jadi tiga!” “Itu hape atau dagangan obral?” “Mungkin hape bekas ganjel pintu.” Sementara itu, Luna sedang berada di ruang dewan guru. Ia bermaksud menunggu wali kelasnya yang akan membawanya ke dalam kelas tempat dirinya akan berada. “Luna Kania Putri ya? Kamu anak baru itukan?” tanya seorang guru yang baru saja mendekat. Luna mengangguk. “Iya Bu!” Guru tersebut lantas tersenyum pada Luna. “Perkenalkan nama saya Kinan Viola. Panggil saja Bu Kinan!” sambil memberikan tangan untuk mengajak jabat tangan. “Luna!” “Saya wali kelas kamu, sekarang saya ajak kamu ke kelas ya!” “Iya Bu!” Perjalanan baru pun dimulai. Luna akan memasuki dunia baru. Ia berjalan sebahagia mungkin, karena memang setelah ini dirinya bisa bertemu kedua temannya Tobi dan Rena. Hal yang sudah ditunggu selama setahun lebih. Pintu kelas yang akan dimasuki Luna sudah diketuk bu Kinan. Ternyata ada guru inggris yang kebetulan sedang mengajar di jam pertama. “Saya mau memperkenalkan murid baru!” “Oh iya! Silahkan disuruh masuk aja dan memperkenalkan diri,” ucap guru inggris tersebut. Luna perlahan melangkahkan kaki, dalam hatinya sangat berdebar. Tidak dikira ia akan grogi sekali saat akan memperkenalkan diri. Dari tempat berdiri, dirinya bisa melihat Rena dan Tobi. Kedua temannya itu terlihat melempar senyum. “Assalamualaikum!” sapa Luna mengawali sesi perkenalan. Semua temannya tersenyum dan menjawabnya serentak. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!” “Perkenalkan, nama saya Luna Kania Putri, panggilannya Luna!” “Baik, Luna, kamu bisa duduk di bangku dekatnya Rena!” pinta Bu Kinan sambil menunjuk bangku yang dimaksud. “Iya Bu!” Luna berjalan dan melempar senyum pada Rena, oh akhirnya mimpinya kesampaian juga. “Akhirnya kamu sekolah disini Lun!” ucap Rena saat Luna sudah duduk di sampingnya. “Iya! Kita sekelas Ren!” Mellya masih memperhatikan, ia tidak mengira kalau Luna sudah punya teman. ‘Itu anak keenakan banget sih udah punya temen aja disini. Padahal kan gue mau ngajak teman sekelas ini buat ngejauhin dia biar nggak punya teman. Hah! nggak seru jadinya.’ Menumpuk kedua tangan dia tas meja dengan malas, lalu melempar pandang ke arah murid lain di kelasnya. Sementara itu sejak kemunculan Luna, sudah ada sepasang mata yang memandang tanpa bisa berkedip. ‘Target baru lumayan cakep juga buat diajak malmingan!” Farrel yang suka anak baru mulai menaruh simpati pada Luna. Ia kemudian tanpa sengaja juga, malah turut ikut diperhatikan oleh Mellya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD