Lamaran, Menikah dan Pindah Rumah

1108 Words
Tas baru dari Om Ferdi terpajang nyata di atas meja belajar Luna. ini seperti mimpi. Luna tersenyum kecil berulang kali seperti orang gila sambil melihat tas barunya. ‘Apa aku bolehin aja ya, ibu menikah sama Om Ferdi. Sisi kualitas dan kuantitasnya lumayan banget lho, diajak kondangan atau ambil raport di sekolah juga nggak jelek amat-amat.’ Pagi menjemput, dan Luna bahagia dengan tas barunya. Sepanjang hari, musuh bebuyutan Luna, Nawang hanya bisa diam sambil menatap kesal. Pulang sekolah, Nawang menabrak pundak Luna. Luna hanya menatap seperti biasanya. “Apa, lu mau nggak keterima?” Nawang meninggikan nada suaranya. Luna menggeleng. Hatinya berteriak, minimal hari ini baru sekali saja NAwang mengganggu. Hingga saat sepasang entra Luna melempar pandang keluar pagar. Rena dan Tobi terlihat melambaikan tangan. “Hah! Lagi-lagi sama teman Pelitanya, kenapa nggak aku aja yang dijadikan teman sama mereka, kenapa harus Luna!” Oceh Nawang. Luna sendiri langsung menyapa dan masuk ke dalam mobil Tobi, dan selama perjalanan menuju kafe tempat mereka nongkrong siang ini. Rena terus menanyakan perihal Pak Ferdi. “Ya, kalau aku bilang setuju, pasti ibu langsung dilamar lah sama Om Ferdi! Emang kenapa sih?” tanya Luna kesal. Siang ini, di dalam mobil Tobi, mengapa topik omongan mereka bertiga hanya berkutat tentang Ferdi, Ferdi, dan Ferdi. Membosankan. Rena seketika menggoyangkan lengan Luna dan dipegang kuat-kuat. “Lun! Kamu nggak salah bicara ‘kan? Kalau begitu terima aja lamarannya Om Ferdi buat mama kamu. Terus kalau Om ferdi udah jadi papa kamu!” “Apa, iuhhh papa, bapak kali, atau mentok ayah aja!” “Nggik mingkin,” sela Tobi sambil menyetir. “Si Mell aja panggil Om ferdi daddy. Iya nggak sih Tob?” “Bitil!” Luna memutar bola mata, tak paham apa yang dimaksud kedua temannya. “Lun! dengerin aku!” pinta Rena yang duduk berdampingan di kursi belakang. “Ogah!” “Kalau begitu tatap mata aku!” “Apose!” Luna menghindar. “Mata kamu belekan, ogah liat mata. Mending liat mata oppa-oppa aja.” “Udah lah Ren! Kasih tau dia, kalau dia jadi anaknya Om Ferdi, dia bisa minta masuk ke sekolah Pelita! Dan jadi teman sekolah kita!” “Apa! Maksudnya gimana?” tanya Luna. “Maksudnya kita bisa barengan terus kalau kamu biarin tante Mira nikah sama Om Ferdi. Om ferdi itu donatur di sekolah kita tau!!!!” Rena semangat menjelaskan. Obrolan di dalam mobil itu menjelma menjadi obrolan hangat sepanjang kebersamaan hari tersebut bersama Rena dan Tobi. Sampai Luna pergi tidur, ia kepikiran Om Ferdi. Kalau benar ia bisa masuk Pelita. Itu artinya dirinya bisa terbebas dari Nawang. *** Sekolah yang rama. Nawang semakin tidak suka sama sekali dengan Luna. Ditambah pagi tadi ada mobil Om Ferdi yang mengantar Luna ke sekolah. Membuat hati Nawang meracau dari Sabang sampai Merauke. “Heh! Lu simpenan Om-om ya. Gila, sekolah kita ada pecur Guys!” Nawang menyeringai jahat sambil mendorong bahu Luna. Hingga membuat tubuh gadis itu menabarak tembok bat di belakangnya. “Nawang! Lu emang ya kalau bicara nggak dipikir!!!” “Eh Lu udah berani teriak ya!” Tangan Luna dipegang kedua teman Nawang. Lalu Nawang melipstik bibir Luna seperti badut. Menyiksa batin gadis muda itu. “Nah! Gue dandanin biar cakep, abis itu Om-om itu bakal ajak ketemuan kamu kan!’ Nawang membuat wajah Luna buruk sekali. “Udah yuk cabut. Udah jam pulang sekolah juga!” Luna ditinggal sendiri. Ia merasa lututnya lemas, cengkeraman tangan dari kedua teman Nawang terasa begitu sakit di kedua lengannya. “Mending aku setuju aja buat mempercepat acara lamaran ibu sama OM Ferdi. Mungkin aja abis itu mereka berdua bisa cepetan menikah, dan aku bisa minta segera pindah dari sekolah ini!” Harapan Luna mulai berjalan sesuai yang diinginkan. Makan malam bersama Om Ferdi terjadi beberapa hari kemudian. Ternyata ada kenyataan lain yang harus diterima oleh Luna. Om Ferdi ternyata memiliki anak perempuan. “Kenalin Lun! Ini anak Om, saudara tiri kamu, tapi Om yakin dia bakal anggap kamu saudara kandung! Iya kan Mellya?” Mellya hanya tersenyum dan berusaha menunjukkan rasa simpatinya. ia memberikan tangan untuk awal jabat tangan. Luna berusaha membalas. Rasanya telapak tangan Mellya halus dan empuk sekali. “Luna!” “Mellya!” Om Ferdi dan Bu Mira tersenyum bahagia. Sebentar lagi mereka bisa menjadi satu keluarga. Acara tukar cincin hanya dilangsungkan di depan Luna dan Mellya. Juga kedua orang tua Ferdi yang kebetulan masih ada. Sementara itu acara resepsi pernikahan dilangsungkan seminggu setelah itu dengan dihadiri keluarga inti. Waktu yang bergulir sesuai ketentuan alam. Akhirnya mengantarkan Luna dengan pakaian cantiknya pagi ini untuk menghadiri acara akad nikah ibunya. Di depannya saat ini, sudah ada sosok berpeci. Juga Om Ferdi dan ibunya sedang duduk dalam satu garis lurus. Om Ferdi mulai mengangkat tangan untuk memulai ucapan akad. Luna memandangi tanpa bisa berkedip. ‘Luna! Masih ada waktu untuk menghentikan pernikahan ini. Bilang nggak sah kalau kamu emang nggak setuju!’ batin Luna sambil mendengarkan suara bersahutan meneriakkan kata sah atau tidaknya suatu pernikahan. Lalu pandangan Luna ke arah Mellya. Dimana wajah Mellya tidak ada ekspresi sama sekali. “Udah terlambat, mereka berdua udah resmi jadi pasangan!” batin Luan lagi bicara. Bu Mira terlihat haru, ia menangis bahagia. Luna yang melihat itu, langsung saja sesegera mungkin menepis pikiran yang buruk terhadap susunan keluarga barunya. Bukannya setelah ini, Luna bisa minta pindah sekolah. Boyongan dari rumah lama, menuju rumah yang bak istana. Di waktu sesuai yang dijanjikan om Ferdi, Luna dan sang ibu diajak pindah ke rumah om Ferdi dan anaknya usai acara resepsi, dan itu adalah hari ini. “Rumahnya gede abis!” batin Luna menilai rumah om Ferdi yang masih terlihat dari luar. “Masuk Lun, ngapain bengong disitu?” “Eh iya Om!” Om Ferdi merangkul bahu Luna untuk diajak masuk. Ia sudah menganggap Luna seperti anaknya sendiri. “Jangan panggil Om dong, kan ibu kamu udah jadi istri Om. Jadi, kamu otomatis jadi anaknya Om!” “Ehm … terus panggil apa?” tanya Luna. “Daddyku!!!!” tiba-tiba Mellya keluar dari rumah berteriak memanggil papanya, sambil berlari dan memeluk satu lengan pak Ferdi yang bebas. “Daddd! Aku mau laptop baru! Laptopku kena air!” “Iya nanti kita beli sama-sama, sekalian kita beliin juga si Luan.” “Makasih daddy! Thanks muach dad!” “Muach too Sayang! Eh Lun! Kamu bisa panggil saya aku daddy, sama kayak Mellya!! “Dedi?” ucap Luna dengan nada aneh. Mellya memandang ketus. “Kalau nggak terbiasa panggil daddy, panggil aja papa, pipi, papi. Pokoknya jangan ayah bapak, babe. Aku nggak suka dengarnya,” sela Melly. “Cari aja yang nyaman buat kamu Lun! pokoknya jangan Om ya!” tambah pak Ferdi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD