Luna merasa lega sekali, akhirnya ia bisa keluar dari kamar mandi perempuan bersama dengan Daffa, tanpa ketahuan siapapun. Ingin marah pada Daffa saat itu, tapi karena sudah keluar dengan aman, dia pun putuskan saja untuk tidak marah. Sia-sia dan buang tenaga. Masih ada beberapa jam lagi sebelum akhirnya istirahat dan pulang. Lebih baik ia segera masuk kelas dan menerima pelajaran selanjutnya.
“Setelah ini, jangan bicara apa-apa lagi sama aku!” pinta Luna pada Daffa sebelum langkah kaki mereka menyentuh lantai kelas.
“Kenapa? Apa karena ancamannya Melly?”
“Salah satunya itu!’
“Tapi, Lun!”
“Kamu beneran pengen aku kesusahan ya?”
“Enggak!”
“Terus?”
“Cuma pengen berteman dekat aja! Beneran, kamu itu …!” Belum sampai Daffa melanjutkan kalimatnya untuk memuji Luna. Justru terdengar bel pergantian jam berbunyi. Membuat Daffa tidak bisa lanjut bicara.
“Waktunya masuk kelas!” Luna menatap sebiasa mungkin, agar Daffa benar-benar menyingkir dari hidupnya.
Masuk ke dalam kelas, Luna dan Daffa menyerahkan buku tugas mereka kepada Bu Guru. Sedangkan Mellya melihat itu dengan penuh tatapan benci. Yang benar saja, dirinya yang ingin mengerjai Luna agar dihukum guru, justru hukuman itu malah membuat Luna menghabiskan waktu dua jam pelajaran dengan Daffa.
Pergantian jam ini, saat guru tadi keluar dan guru jam selanjutnya belum masuk. Mellya ingin bisa menjelaskan kekesalannya pakai kalimat pada Luna, agar berhenti bergaul dengan Daffa. Ia menggebrak meja Luna dan langsung bicara banyak jurus pada Luna hingga isi kelas mendengar percekcokan tersebut.
“Maksud kamu apa sih Mellya. Kamu kira aku mau dihukum barengan sama Daffa. Kamu salah!” Luna ikut berteriak.
Rena dan Tobi langsung mengawal Luna, takut-takut akan terjadi penjambakan yang bisa membuat Luna dan Mellya berakhir di ruang BK. Mereka tidak mau masalah ini sampai terdengar guru, ditambah Luna dan Mellya adalah saudara tiri, yang seharusnya bisa akur selalu.
“Eh! Udah jelas kelihatan tadi kalau kamu minta temani Daffa ‘kan, biar kalian berdua kena hukuman sama-sama!” Mellya malah membuat teori seenak jidat.
“Hah!!! Yang bener aja?” Luna minta ampun rasanya karena sudah lelah menghadapi Mellya dan argumen bocah labil yang membuat semakin mumet sel otaknya.
Luna tanpa banyak bicara langsung menyeret tangan Mellya untuk menuju ke meja Daffa. “Kita berantem gara-gara kamu, bisa nggak kamu bilang sesuatu biar kita nggak salah paham,” ucap Luna pada Daffa yang anteng bagai baby born yang sedang tidur di kursinya.
“Bilang apa?” tanya Daffa santai dan juga sambil senyum.
‘Hah … mungkin dia pengen pamer giginya yang ganteng itu,’ batin Luna yang kesalnya sudah sampai di ubun-ubun. Baru kali ini ia bertemu dengan pria yang menyebalkan, tapi masih bisa tersenyum tanpa merasa bersalah.
“ Bilang kalau Luna tadi ngerayu kamu biar ditemani buat dapat hukuman dari guru tadi ‘kan!” ucap Mellya yang merasa paling benar.
“Oh yang tadi,“ ucap Daffa sambil terus tersenyum. Ia masih terlihat santai dan tidak merasa bersalah. Bahkan rasanya senang saja karena Luna bersedia menghampirinya di bangku. “Aku tadi beneran nggak ngerjain tugas. Jadi, memang patut dihukum, dan Luna juga nggak ngerayu aku tadi. Jadi ya, mungkin memang udah takdir kalau aku dihukum bareng sama Luna.” Tersenyum lagi lebih menawan sambil menatap Luna yang berdiri tegang bagai disengat listrik.
Sontak saja seluruh isi kelas ramai riuh karena omongan Daffa barusan.
Mellya makin kesal dan tak mengira Daffa bisa berkata hal seperti itu. Entah mengapa rasanya menyesal sudah marah pada Luna. Ia pun memutar tubuh sambil menginjak lantai penuh emosi.
Luna sampai kaget. Namun, bukan waktunya lagi melanjutkan debat dengan Daffa yang mungkin bisa menghabiskan waktu sepanjang dua musim kalau masih saja diteruskan. Padahal sudah ada guru yang masuk dan membuyarkan susunan acak para murid yang baru melihat tontonan tadi.
“Ada apa ini, kok pada nggak duduk di bangku masing-masing sih!”
“Iya Pak!!!” Seluruh murid kelas menyahut dan kembali ke tempat masing-masing untuk duduk.
***
Jam istirahat sudah tiba, waktunya Luna meluapkan kesal di meja kantin bersama dengan kedua temannya.
“Sabar Luna! Sabar!” ucap Rena.
“Sabar juga ada batasnya!” bantah Luna.
“Padahal kita berdua kemarin juga udah sempet bilang sama Daffa, buat nggak deketin kamu lagi lho!” tambah Tobi.
“Auk lah! Maunya itu bocah apa sih?” Luna mendesis kesal.
Sementara itu, di sisi yang lain, di satu kantin yang sama, tapi menu berbeda. Daffa sedang duduk bersama duo Rafa Rafi. Ia terpaksa makan bersama dengan kembar bersaudara itu lagi. Karena sudah diusir dari circle pertemanan Luna,.
“Ya berarti takdir lah, kalau kamu balik ke kita lagi!’ uca Rafa.
“Iya nih anak gadget sok-sok ngomong takdir.” Rafi lantas tertawa menatap Daffa.
Daffa tidak bisa bicara, bibirnya manyun sepanjang sungai sss yang suram. “Lagian kenapa ya, sodaranya Luna. Siapa namanya? Ehm ... Mellya. Usil banget, biarin aja dong harusnya kalau aku mau berteman sama Luna. Kenapa dia malah ngelarang, terus aku disuruh berteman aja sama dia. Hah! Keterlaluan!” Daffa lalu mengacak rambutnya sendiri.
“Kayaknya, si Mellya pengen deket sama kamu, mungkin dia naksir dan cemburu liat kamu sama Luna dekat!”
“Bener juga tu!”
Rafa dan Rafi secara bergantian mengeluarkan argumen, entah mengapa agak masuk akal. Tapi, tetap hati Daffa tidak mau ada yang mengatur lingkaran pertemanan yang ingin dijalin dengan siapapun yang dia mau. Bahkan Mellya sekalipun.
“Gimana kalau kamu terima aja Mellya buat jadi teman kamu. Nggak ada ruginya, sama-sama anak orang kaya, iya nggak Raf?”
“Tapi aku pengen berteman sama Luna!” Daffa masih kekeh, rasanya seperti tidak ingin menerima pendapat dari Rafa barusan.
“Kenapa sih? Kamu nggak coba berteman aja sama Mellya dulu. Jadikan Mellya itu batu loncatan aja. Ya, kan mereka sodara. Nanti kalau Luna udah mau berteman sama kamu lagi, ya tinggalin aja Mellya. Sekalian cari tau, kenapa Mellya ngotot nggak mau kamu berteman sama Luna.” Rafi lalu memegang pundak Daffa agar mau menerima pendapatnya dengan kepala dingin. Ia juga menatap serius.
“Ih bener juga apa yang dibilang Rafi.”
Daffa terus memikirkan pendapat Rafi saat istirahat di kantin sampai masuk kelas dan akhirnya jam pulang. Ia merasa, kalau ada benar dan salahnya pendapat tersebut.
"Aku temuin Luna aja dulu, dia maunya gimana? Apa bener dia nggak mau berteman sama aku, kan sayang banget. Padahal kalau selain Luna, pasti udah jingkrak-jingkrak kalau aku tawarin pertemanan. Lah ini, malah disuruh menjauh. Hah gila emang!” Daffa mengacak lagi rambutnya yang berponi seperti Dilan.
Nyatanya takdir Daffa dan Luna masih berlanjut, usai Daffa bicara sendiri. Ia merasa tali sepatunya longgar. Daffa pun membenarkan dulu tali sepatunya itu. Duduk berjongkok di lantai dengan dua tangan yang mulai bergerak untuk mengikat.
Samar-samar seperti mendengar suara Luna berbicara dengan Tobi dan Rena dari kejauhan. Daffa kemudian menoleh ke belakang yang menurutnya asal sumber suara. Ternyata, dia bisa melihat sepasang sepatu milik Luna berjalan menuju ke tempatnya saat ini. Daffa pun mulai berpikir untuk menculik Luna sebentar dari kedua temannya