“Entahlah…” hanya itu yang mampu Kaluna bisikkan dalam hati. Ia tidak mengerti, tidak tahu, tidak bisa menjelaskan, seluruh dirinya hanyalah mengikuti kata hati. Kata hati yang menjerit bahwa ia tidak mau lagi berjauhan dengan Dhika, tidak sanggup menanggung jarak, tidak rela dihadapkan pada kata perpisahan. Ingatan tentang hari-hari kelam masih jelas, dari suara ancaman saat pistol menempel di pelipisnya, kehilangan yang merenggut janin mungil dari rahimnya, teror yang membuatnya begitu takut pada bayangan Dhika. Tapi malam ini, di pelukan hangat itu, semua luka terasa dikalahkan oleh satu hal yang lebih besar, yaitu rindu. Rindu yang menembus segala batas, rindu yang menolak ditutupi oleh alasan atau logika. Kaluna memeluk erat, tubuhnya gemetar, isakannya pecah di d**a Dhika. Lelaki i

