Kedua mata Dini mengerjap saat penciumannya membaui bau segar dari aroma sabun, ia menggeliat dalam tidurnya. Sebenarnya mata Dini masih berat, berpikir kalau melanjutkan tidur sebentar lagi pasti nyaman. Namun, saat ingatan semalam masuk pada pikirannya, mata yang berat itu langsung dibuka dengan paksa.
"Ya ampun, apa aku kesiangan?" gumam Dini saat melihat jam menunjukkan pukul 06. pagi lebih.
Saat mengingat kalau dirinya masih pendarahan usai keguguran, Dini langsung bernafas lega sebab walau kesiangan bangun ia tak perlu melaksanakan kewajiban shalat subuh.
Baru saja Dini bangun duduk, ia melihat Naren yang sudah rapi dengan stelan kerjanya. Kepala Dini sedikit miring tatkala melihat rambut basah Naren, juga penampilan Naren yang sudah rapi. Padahal sebelumnya, Naren tidak pernah se gesit ini dalam mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Selalu menunggu dirinya yang menyiapkan segala keperluan.
"Sudah bangun," Naren berucap sambil melirik Dini, senyum di bibirnya sangat cerah seolah malam yang Naren lewati amat sangat menyenangkan.
"Hm," Dini menimpali hanya dengan deheman.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya Dini selanjutnya.
Naren melangkah mendekati Dini, duduk di sisi ranjang. "Kamu sangat nyenyak, aku gak mungkin ganggu tidurmu. Apa lagi kondisi kamu pasca keguguran benar-benar belum pulih, banyak istirahat malah lebih baik."
Diam-diam Dini melirik rambut basah Naren, memalingkan wajah saat tiba-tiba saja pikiran buruk menggelayutinya. Ia benci pikirannya, tapi tetap saja hatinya seakan mendukung mengatakan kalau suaminya ini mandi sampai keramas karena habis melakukan hubungan suami istri dengan Mila.
Mengernyit bingung, Dini menoleh ke arah Naren saat penciumannya baru sadar sudah membaui aroma shampo yang berbeda dengan shampo di kamar mandinya.
"Mas Naren ganti shampo?"
Melihat Naren yang bukannya langsung menjawab pertanyaannya malah gelagapan, Dini makin menyipit curiga. Ia menatap Naren, menunggu penjelasan dari suaminya ini.
"Ah, iya kah?" Naren tersenyum paksa. "Aku gak tahu, soalnya cuma pakai shampo yang ada di kamar mandi saja." Jawab Naren terbata, sesungguhnya saat ini tengah gerogi karena tidak punya alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan Dini.
"Gak ada aroma shampo seperti ini di kamar mandi, Mas. Shampo siapa yang kamu pakai?" Dini kembali bertanya, tatapan curiga tak surut dari wajahnya sedikitpun.
Naren melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menoleh menatap Dini dengan pandangan minta maaf. "Sayang, pagi ini aku ada meeting penting. Baik-baik di rumah, aku pergi dulu."
cup
Naren mengecup kening Dini.
Tanpa memberi Dini kesempatan untuk berbicara lagi, Naren terburu-buru keluar dari kamar.
"Mas Naren, kamu tidak menjawab pertanyaan aku." gumam Dini sambil melipat bibir menyimpan amarah.
drttt drttt drttt
Saat ada yang menelpon, Dini menoleh ke atas nakas. Ia mengambil ponsel, langsung menggeser tanda hijau saat melihat ternyata yang menghubunginya adalah Voka.
"Sudah lihat rekaman CCTV-nya?"
Tanpa bertanya ini itu terlebih dahulu, Voka langsung bertanya pada inti tujuan ia menghubungi Dini. Dari nada suaranya, terdengar jelas kalau saat ini Voka tidak sabar ingin segera mengetahui bagaimana CCTV itu merekam dan membuktikan tentang perselingkuhan suami dan pembantunya.
"Semalam aku ketiduran, tiba-tiba mata ngantuk berat usai minum air yang dikasih Mas Naren." Timpal Dini dengan nada suara tak bersemangat, berkebalikan dengan suara Voka yang mengandung emosi menggebu-gebu.
Terdengar decakan dari sebrang telpon, Dini tahu Voka pasti greget karena ia gagal memergoki Naren dan Mila semalam.
"Pasti itu minuman sudah dicampur sesuatu oleh suami kamu," tuduhan Voka tanpa bukti, hanya mengandalkan keyakinan yang tertanam langsung dalam hatinya. "Dasar laki-laki b******k, awas saja dia kalau nanti ketemu. Memukul wajahnya terlalu baik, memyiram wajahnya menggunakan air keras baru aku puas."
"Sadis," komentar Dini.
"Sekarang cek ponsel deh untuk lihat hasil rekaman semalam, moga aja ada sesuatu yang bisa kamu simpan untuk menyerang suami dan pembantu sialan itu suatu hari nanti." Perintah Voka, menyarankan agar Dini mengecek CCTV yang ia pasang dari ponsel.
Dini mengangguk, padahal ia tahu Voka tidak akan melihat anggukkan kepalanya. "Oke, aku cek. Kalau gitu telponnya aku tutup, nanti aku hubungi kamu lagi."
"Oke," Voka menyetujui.
tut
Telpon terputus.
Tak dipungkuri, jujur hati Dini berdebar tatkala mulai membuka rekaman CCTV semalam. Ia menajamkan penglihatan saat melihat Naren keluar dari kamar usai ia jatuh tertidur, menunggu dan menunggu Naren menghampiri kamar Mila.
"Ngapain Mas Naren duduk sendirian di sofa ruang tengah?" Tanya Dini, tapi entah pada siapa karena dalam kamar hanya ada dirinya sendiri.
Dini menutup bibirnya saat melihat tak lama Mila keluar dati kamarnya memakai jaket, mereka berdua berbincang sebentar sebelum kemudian keluar bersama. Dini menggeleng pelan, perasaannya kacau tatkala melihat Naren dan Mila pergi larut malam entah tujuan ke mana.
"Apa rekamannya cuma segini?" Dini frustasi, ia mempercepat rekaman agar meningkatkan waktu.
Pukul 05.11 pagi, Dini melihat dari rekaman CCTV Naren dan Mila pulang. Hati Dini mencelos tatkala melihat lingerie merah menyala yang dipakai Mila, lalu wajah penuh senyuman suaminya sambil melambaikan tangan pada Mila yang akan masuk ke dalam kamar.
Walau tidak melihat jelas perselingkuhan keduanya, tapi Dini amat yakin kalau Naren dan Mila sengaja pergi keluar berdua. Matikan ponsel, Dini mengatur nafasnya yang tiba-tiba sedak setelah melihat apa yang suami dan pembantunya lakukan.
"Aroma shampo itu, apa jangan-jangan aroma shampo kamar hotel?" Dini bergumam, mengusap kasar air kata yang jatuh tanpa ia mau.
Benar kata Voka, ia harus bisa mendapatkan bukti perselingkuhan suami dan pembantunya untuk dijadikan bahan di kemudian hari. Untuk saat ini Dini tidak akan memperlihatkan kecurigaannya tentang perselingkuhan mereka, tapi ia akan mengumpulkan bukti agar bisa dijadikan senjata suatu hari nanti.
"Kalian bermaim-main dengan orang yang salah," gumam Dini dengan hembusan nafas lelah, tapi dibalik itu semua ada seringai yang tercipta dari luka seorang istri yang tersakiti.
Merasa butuh udara segar, Dini turun dari ranjang dan masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Usai dari kamar mandi, Dini bermaksud untuk ke luar setelah sebelumnya mengambil ponsel karena mau menghubungi voka kembali. Namun, tanpa ia sadari, begitu membuka pintu ada genangan di bawahnya.
bruk
Nafas Dini rasanya terhenti saat tubuhnya jatuh terlentang di lantai, kepalanya pusing karena menghantam lantai hingga terdengar bunyi 'duk', tapi dari pada itu semua yang membuat Dini hampir tak bisa bernafas adalah perutnya. Darah segar terasa mengalir lebih banyak di area bawahnya, Dini merintih sambil memegang perut meringkuk kesakitan.
Melihat ponsel yang terlempar jauh, Dini mencoba meraihnya. Namun, tak bisa, ia terlalu kesakitan.
"Mila," Dini memanggil.
Tak ada sahutan dari pembantunya itu.
Tak putus asa, Dini kembali memanggil dengan suara lemah sebab berlomba dengan rasa sakit. "Mila, ke sini! MILAAA."
"Kemana dia?" gumam Dini dengan memegang perutnya makin erat, ia merasa darah itu mengalir makin deras.
Sebenarnya tidak heran Dini kembali keluar darah, sebab dokter sudah mewanti-wanti agar ia hati-hati. Saat tak sengaja tangannya meraba genangan yang tadi ia injak, matanya menyipit karena ternyata genangan itu adalah minyak.
Pantas aku terjatuh, ucap Dini secara internal.
Dengan sekuat tenaga Dini ingin meraih ponselnya, tapi percuma sebab ponsel itu terlempar terlalu jauh. Namun, walau begitu, Dini tak putus asa dan terus mencoba.
tok tok tok
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Dini menoleh senang. Sekuat tenaga Dini mengeraskan suara, lalu menyahut. "SIAPAPUN DI SANA, TOLONG AKU."
tap tap tap
Mendengar langkah kaki yang masuk ke dalam rumahnya dengan cepat, Dini berharap itu adalah Voka atau siapapun orang baik yang bisa menolongnya.
"Andini, kamu kenapa?"
"Sa-satria," gumam Dini terkejut.
***