Bab 5. bar-bar ala Voka

1226 Words
Melihat ada genangan darah di tubuh bagian bawah Dini, kedua mata Satria membulat terkejut. Laki-laki dengan rambut gondrong itu segera mendekat, lalu menunduk melihat keadaan Dini lebih seksama. Mengeluarkan ponsel dari sakunya, dengan cepat ia memesan taksi online. Bukan Satria tak kepikiran menggunakan mobilnya sendiri, tapi justru sengaja memesan taksi online demi keselamatan karena jujur saja saat ini ia tak akan bisa fokus menyetir bila melihat keadaan Dini yang sudah lemas. "Sial, apa yang terjadi padamu?" Usai memesan taksi online, tanpa meminta izin terlebih dahulu Satria langsung menyimpan satu tangan di bawah lutut dan tangan yang lain di belakang punggung Dini. Ia mengangkat perempuan tak berdaya ini, membawa keluar dari rumah. Begitu Satria keluar dari rumah, taksi online sudah menunggu di depan halaman rumah. "Ada genangan minyak depan pintu," jawab Dini dengan suara lemah. Terdengar helaan nafas kasar dari Satria, Dini tidak tahu kenapa Satria terlihat menahan amarah. Padahal Satria adalah orang pertama yang selalu mentertawakan setiap ia kena masalah, lalu marah yang saat ini diperlihatkannya untuk apa? Dini benci dengan dirinya, sebab seringkali menerka dengan ketidakjelasan. Sampai di rumah sakit, Satria mengernyit saat melihat Naren datang dengan terburu-buru bersama Mila. Berpikir sebentar, ia mendecih sinis saat satu pemikiran masuk ke dalam otaknya. "Karena kamu suaminya sudah datang, aku pergi dulu." Satria menepuk pundak Naren dua kali, saat ia akan melewati tubuh Naren pandangannya menajam begitu bersitatap dengan Mila. Tak ada kata yang terucap, hanya seringai menyebalkan yang tersungging di bibirnya. "Hei--," "Sudahlah, sekarang yang lebih penting keadaan Dini." Mila menyela ucapannya Naren, diam-diam menatap punggung Satria dengan bergidig ngeri. Saat tadi Satria memandangnya, entah kenapa Mila merasa kalau pandangan itu mengandung aura mencekam penuh tipu muslihat. Samar Satria mendengar Naren yang memanggilnya, tapi tak jadi karena Mila menahan. Ia bersiul santai, mengangguk sopan saat ada dokter yang lewat dan tersenyum ke arahnya. "Kembali untuk menemuiku?" Tanya dokter dengan senyum ramahnya. "Aku sudah memberikan obat penenang itu, harusnya bisa terpakai sampai minggu depan." Satria menoleh ke belakang, ke arah Naren dan Mila yang kini berdiri di depan pintu. "Bukan, hanya mengantar orang sakit." "Begitu rupanya," angguk sang dokter mengerti. Satria tersenyum simpul, mengangguk sopan dan berlalu pergi. Ia memang bukan orang baik, keadaannya juga sering mengkonsumsi obat penenang, sudah jelas tak akan berbuat baik pada orang-orang yang sudah merusak hatinya. Saat Dini membuka matanya, bau obat-obatan yang pertama kali ia hirup. Mendesah perlahan, ia kembali ingin memejamkan matanya andai tidak mendengar bunyi pintu terbuka. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Naren masuk sambil melangkah cepat menghampiri Dini. Di belakang Naren ada Mila, Dini tersenyum sinis sambil membuang wajah sata ingatannya kembali waktu ia terjatuh tadi. "Jangan sentuh aku, Mas!" Dini menarik tangan saat Naren memegangnya, ia menoleh ke arah Mila yang terdiam di samping sang suami. "Dari mana saja kamu?" "A-aku--," "Saat aku tadi memanggil kamu, kenapa tidak datang?" Dini kembali bertanya, sengaja memotong perkataan Mila yang seperti gugup ingin menjawab. Melihat pembantunya ini terdiam, Dini kembali bertanya. "Ada genangan minyak di depan kamarku, kenapa itu bisa terjadi?" "Sayang, mungkin kamu salah--," "Aku gak meminta kamu yang menjawab, Mas. Diam dan jangan menyela!" Dini melirik sinis Naren, lalu tatapannya kembali menghunus pada Mila. "Jangan-jangan kamu sengaja menaruh minyak di depan pintu kamar agar aku tergelincir dan jatuh." "Dini, kali ini kamu keterlaluan." Lagi, Naren menyela. "Mana mungkin Mila melakukan hal sejahat itu, kamu saja yang terlalu berpikir buruk padanya. Lihat sekarang Mila pasti sedih karena kamu menunduhnya begitu, tidak bisakah ucapan kamu itu disaring sedikit?" Sedangkan Mila cuma menunduk, mengusap pipinya yang basah. Ia merapat pada Naren, berusaha agar tidak terlihat oleh Dini. Andai Dini punya kekuatan untuk memukul Naren, pasti sudah ia lakukan dari tadi. Jangan tanya seberapa banyak rasa amarah yang Dini punya dalam hatinya, tapi sekuat tenaga ia menahan diri dan lihatlah nanti akan ia balas perlakuan dua orang di depannya dengan cara elegan. "Kamu membela Mila yang merupakan pembantu dari pada aku yang istrimu?" Dini terkekeh sakit, merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi kedua orang di belakang yang membuat emosinya meuncak. "Keluar kalian berdua!" "Dini--," "Keluar aku bilang!" Dini menyela, mengusir suami dan pembantunya. Saat mendengar langkah kaki mulau menjauh dan bunyi pintu tertutup, Dini mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Air mata, untuk apa ia keluarkan hanya untuk menangis laki-laki seperti Naren. drttt drttt drttt Dini menggapai ponsel dari atas nakas, ternyata yang memanggil adalah Voka. Setelah menghembuskan nafas perlahan untuk menenangkan diri, Dini menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel pada telinganya. "Katanya mau nelpon lagi habis lihat rekaman CCTV, aku tungguin kok gak ada?" Belum juga Dini berucap, Voka sudah nyerocos memarahi Dini. "Gak ada apa-apa dalam rekaman CCTV itu," jawab Dini pelan. "Aku hanya melihat mas Naren dan Mila pergi berdua, lalu jam setengah enam kurang keduanya pulang dengan Mila yang memakai lingerie merah itu." "Dini," Voka tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dini mengerti kenapa sampai Voka tak jadi berucap, tersenyum tanpa makna dengan mengeratkan cekalan tangannya pada ponsel. "Aku gak apa-apa, kamu gak perlu mengasihaniku." "Aku akan ke rumah kamu sekarang--," "Aku ada di rumah sakit," Dini menyela. "WHATTT?!" Dini sampai harus menjauhkan sedikit ponsel dari telinga saat mendengar teriakan Voka. Saat ia kembali nendekatkan ponsel, Dini mengernyit ternyata sambungan telponnya sudah mati. Mengetikkan alamat rumah sakit, lalu menyimpan ponsel ke tempat semula. Dengan langkah lebar Voka menghampiri dua orang di depan ruang rawat Dini, tanpa aba-aba ia langsung melayangkan satu tamparan pada perempuan paling menyebalkan di matanya. plak Bunyi tamparan menggema di lorong rumah sakit. Saking kerasnya tamparan yang dilayangkan Voka pada pipinya, wajah Mila sampai tertoleh ke samping. Ia meringis sakit, rasa pusing akibat terkena tamparan barusan membuatnya agak linglung. "Voka," Naren memanggil marah saat melihat Mila ditampar oleh sahabat dari istrinya ini. Dengan lirikan tajam, Voka menoleh ke arah Naren. "Apa?" Tantangnya. "Mau balas menamparku? Ayo, tampar! Dasar laki-laki b******k!" Kedua tangan Naren terkepal erat, bibirnya terlipat menahan diri agar tidak memukul perempuan di depannya. Mau bagaimanapun saat ini ada begitu banyak pasang mata yang melihat, harga dirinya akan tercoreng bila nekat balas menampar Voka. Ah, sial. Dasar tak berguna! Maka Mila dalam hati saat melihat Naren diam saja, sedangkan pipinya terasa berdenyut menahan sakit. Sedangkan dirinya bila membalas Voka, citra perempuan baik dan lemah lembutnya bisa rusak. "Sampai Dini kenapa-napa, aku bawa dia pergi dari rumahmu." Voka berucap tak main-main, bahkan kedua matanya berkaca-kaca saking marahnya pada Naren dan Mila. "Persetan dengan pernikahannya dengamu, dia sahabatku, bersamamu hanya menyakitinya lebih baik aku bawa pergi." "Dia istriku, Dini tidak akan ke mana-mana." Balas Naren yak mau kalah. "Kita lihat saja nanti," Voka sama keras kepalanya. Mendengar isak tangis Mila, bukannya kasihan Voka malah mendesis sinis. Ia mengibaskan rambut dengan gaya angkuh, sengaja menubruk salah satu bahu Mila dengan sengaja saat ia melewatinya hendak masuk ke dalam ruangan di mana saat ini Dini dirawat. Sebelum masuk ke dalam ruangan Dini, Voka menyempatkan menoleh ke belakang. Ia tersenyum sinis tatkala melihat Naren yang tengah mengelus lembut pundak Mila, sedangkan Mila berlagak seperti perempuan teraniyaya yang amat menyedihkan dan butuh perlindungan. sampah! Ucap Voka tanpa ada suara yang keluar. Sedangkan di kejauhan, tepatnya belakang tembok, Satria terkekeh melihat perdebatan di depan ruangan Dini. "Itu sebabnya aku gak turun tangan, akan ada yang membalaskan pada Naren dan pembantunya. Aku suka cara Voka, dia benar-benar cocok jadi sahabat Dini." Satria mengacak rambut gondrongnya, membalik badan melangkah pergi dengan menyelipkan kedua tangannya pada saku celana. Gayanya cool, dengan wajah sombong yang terangkat angkuh. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD