Trip to Bandung

1494 Words
Hanna memang fenomenal. Dalam satu malam dia bisa menyelamatkan diri dari club malam itu dan berubah peran menjadi seorang pelayan di kediaman Jerome. Tapi, Hanna memang gadis yang rajin. Mendadak menjadi seorang pelayan bukan masalah besar untuknya. Pagi ini dia memulai harinya. Dia membereskan area tangga dengan rajin. Lap dan botol spray pembersih ada di kedua tangannya. Semprot semprot! Dia membersihkan pegangan tangga dengan detail. Kebersihan di kediaman Jerome memang harus detail bahkan sampai ke bagian tak terlihat sekalipun. Tap tap tap, dari atas sana terdengar suara langkah. Itu adalah Max yang terlihat sudah segar bugar dan berpenampilan casual. Hanna bersikap sigap dan menegakkan tubuhnya saat Max mendekat. "Kenapa kamu belum siap?" tanya Max sedikit menaikkan alisnya. "Jadi, rencana ke Bandung itu serius, Tuan?" tanya Hanna. "Apa semalam saya terlihat seperti bercanda?" tanya Max lagi dengan kekik kali ini. "Hehe, nggak sih!" jawab Hanna lalu tertawa nyengir memperlihatkan deretan gigi kecilnya. "Ya sudah sana, cepat persiapkan dirimu!" kata Max tegas. "Oke, Tuan!" Hanna meninggalkan pekerjaannya. Rasanya senang sekali diajak memandu acara piknik kecil Max dan Ariana. Hanna juga berharap dia akan sempat bertemu dengan ibunya di kampung. Hanna hanya ingin menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja saat ini. "Pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Bu Ester saat Hanna kembali ke mess. "Maaf, Bu! Barusan Tuan muda Max meminta saya untuk bersiap! Dia dan Nona Ariana akan pergi ke Bandung! Dan mereka meminta saya menemani mereka!" kata Hanna mencoba menjelaskan sedetail mungkin. "Heum, jadi rupanya kamu ini pelayan yang istimewa ya, huh?" goda Bu Ester, Hanna jadi salah tingkah. "Nggak juga kok, Bu!" sangkal Hanna. "Hey Hanna! Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu malam itu? Kenapa kamu tiba-tiba datang, dengan pakaian tak senonoh! Kami curiga kalau kamu itu cuma kupu-kupu malam yang dipungut Tuan muda Max di jalanan!" lontar Eva, salah satu pelayan yang tampak tak senang dengan eksistensi Hanna. Banyak pelayan yang merasa iri dengan Hanna. "Eh Eva! Kamu ini bicara apa? Jaga mulutmu!" peringatkan Bu Ester. Dia memang kepala pelayan yang selalu bersikap bijak. "Lah, Bu Ester juga lihat sendiri, kan? Bagaimana awal kedatangan perempuan jalang ini?" Eva masih menunjukkan rasa tidak sukanya. "Kamu gak boleh begitu, kalau Tuan Max sampai dengar ujaran kebencian kamu ini, dia bisa marah besar padamu!" kecam Ester. 'Sepertinya akan banyak orang yang gak suka denganku, huh! Hidup memang tak pernah mudah! Tapi, aku harus tetap semangat! Demi ibu!' batinnya mencoba memotivasi dirinya sendiri. Hanna memang selalu berusaha berpikir positif walaupun dalam situasi yang sulit. Hanna terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Orang tuanya berhutang banyak pada seorang rentenir di kampungnya. Bahkan sampai kini, rentenir itu masih mendesak Hanna untuk membayar hutang-hutang peningglan mendiang ayahnya. Rentenir itu sempat meminta tubuh Hanna sebagai tebusannya tapi Hanna menolak keras. Sialnya, tubuh Hanna akhirnya dikuasai Max pada malam itu. Hanna menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Kalau bukan seperti itu, mungkin sekarang dia sudah stres menghadapi kerasnya hidup di dalam club malam itu. Hanna masuk ke dalam kamar mess-nya. Dia tak ingin mempedulikan Eva yang selalu mencoba menjatuhkan mentalnya. Hanna akan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Hanna kemasi tas kecilnya. Pouch make up, ponsel dan dompet. Tak lupa dia juga mengganti pakaian. Tak lucu kalau Hanna harus pergi berlibur dengan pakaian nanny seperti sekarang ini. Hanna mengganti dengan celana blue jeans dan t-shirt warna merah muda. Fresh sekali. "Hanna! Cepat lah! Tuan muda Max dan Nona Ariana sudah menunggu di depan!" kata Ester di ambang pintu mes. "Iya, Bu! Saya sudah siap kok!" sahut Hanna sigap, dia cepat-cepat menghampiri Max dan Ariana di pelataran mansion. Setelah berpamitan dengan Ester, Hanna mempercepat langkahnya. Ariana dan Max menunggu dengan kesal karena menganggap Hanna lelet. "Menyebalkan!" kata Ariana lalu dia masuk ke seat depan, sementara Max di depan kemudi dan Hanna juga segera masuk ke seat belakang. "Tadi aku sudah telpon Tante Andini, dia bilang jangan lupa oleh-olehnya!" kata Ariana memulai obrolan saat Max mulai melajukan mobilnya. "Jadi mereka tahu kalau kita akan pergi ke Bandung?" tanya Max. "Kan aku yang kasih tahu, kamu malah gak bilang apa-apa! Mereka kan orang tua kamu, seharusnya kamu bilang sama mereka!" Max tak menanggapi omelan Ariana. Ariana dan Max terus berbincang sementara Hanna sudah seperti kambing congek saja, tak tahu harus mengobrol apa. "Oh iya, Max! Bagaimana kabar Anna, apa kalian sudah benar-benar putus?" Ariana mengganti topik pembicaraan. "Kami gak pernah jadian!" jawab Max enteng. "Oh, jadi benar kalau si Anna cuma ngaku-ngaku aja?" "Heum!" "Iiih dasar gak tahu malu! Ngaku-ngaku jadi pacar kamu!" "Memangnya berita itu sampai padamu di Amerika?" "Iya lah! Aku kan selalu update kabar tentang kamu! Tapi kamunya selalu cuek! Kamu gak pernah stalking akun media sosialku kan?" Hanna masih anteng menyimak obrolan kedua Tuan muda dan nona di depannya itu. Hanna tak akan bisa masuk dalam obrolan mereka. 'Huh, bosan! Dan jujur saja aku ngantuk! Semalam benar-benar gak bisa tidur!' Hanna malah menguap. Dia tampak sangat suntuk, perlahan dan perlahan dia menyandarkan tubuhnya sampai dalam hitungan menit, Hanna langsung tertidur. Hanna memang tak bisa berbaur dengan obrolan Ariana dan Max yang terus menceritakan masa lalu mereka. Dan Max baru menyadari Hanna tertidur saat tak ada suara dari belakangnya itu. Max menatapnya lewat kaca spion atasnya. "Ya ampun, pelayanmu ketiduran, Max!" Ariana juga menyadari Hanna yang sudah tertidur. Ariana menoleh ke arah Hanna dan masih saja memandangnya dengan sebelah mata. "Heh, kenapa dia mau jadi pelayan di rumahmu? Apa dia tak bisa menemukan pekerjaan di luar sana? Aku pikir dia sengaja melamar pekerjaan di rumahmu untuk bisa dekat denganmu!" Ariana menduga-duga. Max diam saja. Ceritanya bukan seperti itu. Hanya Max dan Hanna yang tahu bagaimana awal mereka bertemu. Penuh dengan petualangan. "Kita ke mini market dulu ya, butuh cemilan nih, biar gak suntuk!" pinta Ariana saat mereka hampir memasuki gerbang tol. "Nanti saja, saat sampai di rest area pertama!" putuskan Max. "Oke, baiklah!" "Kamu istirahat saja! Perjalanan kita masih panjang! Rest area juga sekitar 30 menit lagi!" kata Max yang tetap fokus mengemudi. "Kalau aku ketiduran juga, pasti kamu juga akan ikut ngantuk! Aku akan tetap bangun untuk menemani kamu!" kata Ariana dengan nada menggoda. "Terserah kamu saja ...." gumam Max. Entah apa yang Max rasakan saat ini. Sejujurnya, Max masih mengagumi sosok Ariana, tapi tak ada lagi rasa cinta yang tersisa. Alih-alih melirik ke arah Ariana, Max malah sesekali mencuri pandang pada penumpang di belakangnya. Apakah Max tergoda lagi? Dan setelah beberapa menit melintasi jalanan bebas hambatan, Max menepi ke rest area. Saat berangkat tadi mereka memang tak sempat membeli cemilan. "Biar aku saja yang turun!" kata Ariana lalu turun dan beranjak menuju mini market yang ada disana. Dan saat Ariana menutup pintu mobil dengan cukup keras, Hanna terusik dan terbangun. Dia jadi malu karena ketahuan tertidur. "Belum sampai ya?" tanya Hanna sembari mencoba mengumpulkan oksigen untuk menyibak rasa kantuknya. "Masih dua jam perjalanan lagi!" kata Max. "Oh, masih jauh ya? Heum, maaf saya ketiduran!" ucapnya malu-malu lalu berusaha merapikan kembali ikatan rambutnya. Max diam saja, sok cuek padahal sejak tadi dia memperhatikan. "Oh iya, Tuan. Kalau boleh, bisakah saya menemui ibu saya sebentar?" pinta Hanna, dia sangat berharap Max mau berbaik hati dan mengabulkan permintaannya. Sejenak Max diam. "Kamu mau pulang?" tanya Max. "Sebentar saja, saya cuma mau bilang kalau saya baik-baik saja! Saya takut ... Bang Rado bilang yang macam-macam sama ibu! Dia pasti marah besar karena saya kabur dari Club!" jawab Hanna mencoba meyakinkan Max. "Dimana kamu kenal si Rado?" tanya Max. "Dia memang sering datang ke kampungku untuk mencari tenaga kerja! Saya gak menyangka kalau Bang Rado setega ini! Padahal saya sudah menganggap dia seperti Kakak sendiri! Tapi ternyata ... dia malah menjual saya!" tutur Hanna, kelihatannya berat sekali dan Max cukup kasihan padanya. "Baiklah, kita akan ke tempatmu sebentar!" setujui Max. Lagi pula dia tak tega melihat nasib malang Hanna. "Terima kasih banyak, Tuan! Terima kasih banyak!" ucap Hanna kegirangan tanpa sadar menyentuh lengan Max sebagai tanda kalau ia begitu berterima kasih pada Max dan setelah agak lama dia jadi salah tingkah. "Maaf, Tuan ...." ucap Hanna pelan dan malu-malu. "Ikut saya!" kata Max lalu dia turun dari mobil. Ikut? Kemana? Batin Hanna tak mengerti. Hanna tak tahu apa rencana Max tapi dia ikuti saja. Sebelum Ariana kembali dari dalam mini market, Max mengajak Hanna untuk menepi ke salah satu sudut rest area yang cukup luas itu. Kemana Max membawa Hanna? Apakah Max ingin melakukan kembali perbuatan asusila pada Hanna. Hanna sempat meragu. 'Ya Tuhan, apa dia mau melakukannya lagi?' batin Hanna ketakutan, dan ternyata Max membawa Hanna masuk ke dalam sebuah ATM. Hanna masih tak mengerti apa maksudnya. Max menggesek kartu debitnya, klik klik klik, dia siap untuk menarik sejumlah uang. Ada tujuh digit angka yang Max klik. Zzzzzz, suara mesin mendengung terdengar sampai akhirnya sejumlah uang keluar dari mesin. Hanna masih tak mengerti, kenapa Max meminta antar padanya hanya untuk mengambil uang di mesin ATM. Apakah Max ingin pengawalan? Heh, konyol sekali Max. "Simpan ini!" Dan ternyata, Max memberikan uang itu pada Hanna. Hanna terpaku .... Max memberikan uang yang banyak pada Hanna, benarkah? Hanna benar-benar freeze dibuatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD