Udara Segar

1502 Words
Max memberikan uang yang banyak pada Hanna, benarkah? Hanna benar-benar freeze dibuatnya. "Untuk apa, Tuan?" tanya Hanna malah bengong. "Ibumu pasti mengharapkanmu bekerja di tempat yang baik, kan? Dia pasti menaruh ekspektasi yang besar padamu! Berikan ini padanya dan bilang kalau kamu baik-baik saja di Jakarta!" kata Max sungguh membuat Hanna terharu. Bahkan Hanna sampai berkaca-kaca dibuatnya. "Tapi ini terlalu banyak ...." kata Hanna masih ragu untuk menerima uang itu. "Ambil lah! Kamu sudah memberi saya lebih malam itu!" kata Max lalu memberikan uang itu langsung ke tangan Hanna yang masih membeku. Lalu keluar dari ATM itu lebih dulu meninggalkan Hanna yang masih terbengong-bengong. Dia tak menyangka kalau Max sebaik itu. 'Ya Tuhan! Terima kasih karena telah menyelamatkan aku dari tempat gelap itu lewat Tuan Max, walau pada akhirnya dia pula yang telah merenggut kesucianku, tapi ... ternyata dia juga orang yang dermawan dan peduli! Semoga dia akan selalu menjadi orang baik!' batin Hanna masih tertahan di ruang mesin ATM itu. Sementara Max sudah hampir sampai di area mobilnya dan disana sudah ada Ariana yang menunggu dengan wajah masam. "Kalian ngapain sih berduaan di mesin ATM, benar-benar mencurigakan!" tanya Ariana kekik. Dia semakin tak suka saja dengan sosok Hanna. Dia semakin merasa kalau Hanna adalah pelayan yang berbeda dari yang lainnya. "Dia baru mendapatkan kartu debitnya sendiri, dia gak tahu bagaimana cara mengambil uang di mesin ATM!" jawab Max ngasal lalu masuk ke depan kemudi begitu saja. Heh, Ariana tertawa masam dan mengejek. "Dasar kampungan!" ejeknya lalu kemudian dia juga masuk ke tempat duduknya. "Heh, bodohnya! Masa gak bisa ambil uang di ATM sih? Itu kan mudah banget! Ini jaman modern! Masih saja ada orang seperti itu!" Ariana habis-habisan mengejek Hanna. Max diamkan saja, karena kenyataannya tak seperti itu. Setelah mencoba menyadarakan diri dari kenyataan, Hanna keluar dari mesin ATM lalu setengah berlari menuju mobil Max. Dia masuk ke seat belakang lagi. Dan Max langsung tancap gas lagi melanjutkan perjalanan. "Untukmu!" kata Ariana lalu memberikan sebotol minuman ringan, roti dan snack. Hanna semakin senang saja hari ini, karena walaupun Ariana adalah orang yang sangat judes, tapi dia masih mau berbaik hati dan membagi snacknya padanya. "Terima kasih banyak, Nona!" ucap Hanna. "Hati-hati kamu mabuk perjalanan! Gak lucu kan kalau kamu sampai muntah di mobil Max ini!" cibir Ariana. Walau sudah berbaik hati, tapi tetap saja mulutnya sinis pada Hanna. Hanna tak peduli yang pasti hari ini sangat bahagia. "Gak akan, Nona! Saya gak pernah mabuk darat kok!" jawab Hanna meyakinkan. "Syukur kah!" "Jadi kita mau kemana?" tanya Max yang masih fokus mengemudi. "Sebentar, aku cari di internet ya! Kita cari tempat makan dulu!" kata Ariana lalu mulai mengotak atik layar ponselnya. "Di dekat tempat tinggal saya ada sebuah kawasan hijau, disana ada cafe and resto-nya! Bisa menikmati sajian kopi khas dengan pemandangan hamparan bukit pinus!" Hanna memberi informasi. "Ya sudah kita kesana saja!" setujui Max. "Yang ini bukan?" tanya Ariana sembari menunjukkan layar ponselnya. Ada sebuah rekomendasi tempat yang Ariana dapatkan dari layanan yang ia akses. "Iya, yang ini Nona! Ada beberapa wahana memicu adrenalin juga! Kalian ... pasti akan suka!" "Oke! Kelihatannya lumayan!" Mereka tak sabar menunggu. Apalagi Hanna! Dia tak sabar ingin cepat sampai dan bersua dengan ibunya. Walau baru satu minggu dia tak bertemu dengan ibunya, tapi Hanna tak kuasa ingin bertemu. Hanna sebelumnya tak pernah pergi jauh-jauh dari ibunya itu. 'Ibu ... aku akan pulang dan membawa uang untuk membayar separuh hutang-hutang kita! Tunggu aku ibu!' batin Hanna sembari menghitung jarak yang kian lama kian dekat. Akhirnya .... Setelah menjalani tiga jam perjalanan dari Jakarta, mereka sampai juga di kawasan wisata yang tadi Hanna rekomendasikan. Untuk orang-orang perkotaan seperti Ariana dan Max, suasana di kawasan itu begitu menyegarkan hari-hari mereka. Udara yang mereka hirup begitu menyeruak memberikan kesegaran yang luar biasa. Hawa yang agak dingin juga membuat Max langsung menyukai suasana itu. "Kalian ... masuk saja, nanti saya menyusul!" kata Hanna yang tak sabar ingin segera menemui ibunya. "Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ariana. "Saya ... mau pulang ke rumah dulu! Jarak dari sini dekat kok! Saya gak akan lama, setelahnya saya akan kembali menemui kalian disini!" jawab Hanna. "Jadi rumahmu di daerah sini?" tanya Ariana lagi. "Iya, Nona!" "Kamu ikut dulu ke dalam! Nanti kita pergi ke rumahmu sama-sama!" kata Max memutuskan. "Oh, heum tapi ... saya gak mau merepotkan, Tuan!" "Jangan membantah!" tegas Max lalu mulai melangkah memasuki area wisata alam terbuka itu. Hanna pasrah, mana mungkin Hanna membantah perkataan Max. Begitu masuk, mereka berjalan ke sebuah lodge yang langsung di sambut dengan sebuah bukit hijau sebagai latarnya. Indah dan asri sekali. Ini weekend dan pengunjung memang sedang ramai. "Heum, oke ... lumayan! Mataku langsung dimanjakan dengan pemandangan ini!" akui Ariana. "Di bawah ada aliran sungai, airnya dingin dan jernih!" ucap Hanna, sudah mirip tour guide saja. "Oke, nanti kita akan kesana!" kata Ariana antusias. "Kalau kalian butuh kopi, cemilan atau makan siang, semuanya tersedia disana!" kata Hanna lagi sembari menunjuk sebuah pondok kayu dengan balkon yang juga disuguhi pemandangan hijau itu. "Baiklah kita menepi disana!" setujui Ariana dan langsung berjalan kesana. Max sejenak menahan langkahnya lalu melirik ke arah Hanna yang juga tak kalah bahagia ada di tempat itu sekarang. "Disini habitatmu?" tanya Max dengan nada gurauan walau masih gayanya yang dingin. "I-iya Tuan! Di tempat ini saya lahir dan tumbuh, apa kamu menyukai tempat ini?" jawab Hanna lalu bertanya. "Lumayan!" jawabnya lalu mulai melengos mengikuti jejak Ariana. Hanna turut senang kalau Max senang. Mereka duduk di pelataran resto dan cafe itu sambil duduk lesehan di depan meja rendah. Benar-benar suasana santai yang sangat menyenangkan. Kawasan wisata ini memang seperti terletak di perbukitan. Area yang menanjak membuat mereka seperti sedang ada di atas bukit sementara di bawahnya terdapat spot-spot bertenda yang ternyata adalah tempat duduk yang bisa dinikmati juga. "Disini cukup dingin ya! So far, aku sangat suka suasananya! Maybe, aku bisa membawa sketsa dan merancang beberapa desain disini!" akui Ariana. Hanna turut senang. "Mami dan Papi juga harus tahu tempat ini! Gak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari spot terbaik untuk menepikan lelah!" kata Max kemudian. "Iya benar! Tante Andini pasti akan sangat senang diajak kemari!" Hanna senang karena Ariana dan Max begitu menikmati suasana. Hanna merasa tak sia-sia mengajak mereka jauh-jauh dari Jakarta. KRIIING, ponsel Hanna berdering. Hanna lihat layar ponselnya dan yang menelphonenya saat ini Rado. Rado adalah makelar yang menjual Hanna ke club Diamond. Deg! Sontak perasaan Hanna jadi tak enak. Rado pasti akan mengecam Hanna karena Hanna sudah berani kabur dari Club. 'Bang Rado ....' batinnya, seketika mimik mukanya berubah muram cenderung ketakutan. KRIIING, Ariana menoleh, mungkin dia heran kenapa Hanna hanya bengong dan tak mengangkat sambungan telponnya. "Kenapa malah bengong? Angkat lah! Dering ponselmu annoying banget!" kata Ariana ketus. "I-iya, saya permisi sebentar!" Hanna beranjak. Hanna tak ingin Max atau pun Ariana mendengar percakapannya dengan Rado karena pasti akan ada percekcokan. Hanna berjalan menjauh ke salah satu sudut yang agak sepi lalu mengangkat telponnya. "Hanna!" begitu tersambung, Hanna disambut dengan seruan keras nan menggelegar, Hanna sangat ketakutan. "I-iya, Bang ...." jawabnya menggumam takut. "Berani-beraninya kamu ...." desis Rado, suaranya tajam sampai terasa menusuk pendengaran Hanna yang semakin dan semakin takut. "Ma-maaf, Bang ... maaf ... saya gak bisa bekerja disana! Mana bisa saya bekerja disana, Bang! Itu bukan tempat yang Abang janjikan pada saya sebelumnya!" Bahkan saking takut dan gemetarnya, Hanna sampai langsung menangis. Hanna tahu betul kalau berurusan dengan orang-orang seperti Rado akan berbuntut panjang. "Sialan kamu! Lihat saja! Kamu akan mendapatkan akibatnya!" ancam Rado. "Tapi ... tapi Abang sudah menipu saya, Abang bilang aku akan dipekerjakan di sebuah cafe, tapi nyatanya ...." "Alaaah, kerja dimana saja sama saja! Yang pasti aku sudah membelimu dengan harga tinggi! Aku rugi besar, Hanna! Kamu harus membayarnya! Aku akan mencarimu secepatnya! Dan lihat apa yang akan aku lakukan padamu! Atau pada ibumu! Lihat saja nanti!" Rado semakin mengancam dan Hanna semakin cemas. "Jangan Bang ... jangan ibu ...." Dari kejauhan Ariana melihat Hanna yang sudah jelas ketakutan sembari menelpon. Ariana heran, sebenarnya dia tak peduli, tapi lama-lama dia semakin heran saja karena Hanna benar-benar terlihat tertekan di pojok pelataran resto itu. "Kenapa dia?" tanya Ariana lalu matanya masih memperhatikan Hanna yang posisinya ada jauh di belakang Max. Max menoleh dan saat melihat Hanna menangis seperti itu, dia juga terheran-heran dan penasaran pastinya. "Heh, paling juga tiba-tiba diputuskan sama pacar kampungnya!" cibir Ariana, dia tak punya rasa simpatik sedikit pun. Max malah jadi khawatir. "Max ... apa dia sudah lama bekerja di rumahmu?" tanya Ariana, Max tak menjawab dan masih memperhatikan sosok Hanna. Ariana meradang, dia kelihatan sangat tidak suka Max memperhatikan Hanna seperti itu. "Max ...." sadarkan Ariana kesal dan sialnya Max malah bangkit dan beranjak menghampiri Hanna yang semakin menangis dan terpojok. Pasti Max penasaran dengan apa yang terjadi. Ariana? Tentu saja dia semakin meradang. Max, yang dulu selalu memprioritaskannya kini malah terlihat lebih peduli pada pembantunya sendiri. 'Iiiih, sebenarnya siapa sih perempuan itu? Kenapa Max memperlakukan dia dengan istimewa! Sebel deh!' gerutu Ariana, dia hanya bisa meradang menyaksikan sikap peduli Max pada gadis lain. Apakah Max akan mampu menenangkan Hanna?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD