Si Kembang Desa

1504 Words
"Ada apa?" tanya Max begitu sampai di dekat Hanna yang masih menangis agak ketakutan. Dan kehadiran Max membuatnya semakin ketakutan. "Ceritakan lah!" kata Max mendesak. "Saya ... saya harus segera pulang, Tuan! Sebentar saja! Kalian tunggu disini, saya akan segera kembali!" kata Hanna lalu perlahan menyeka air matanya. "Apa si Rado mengancam?" tanya Max. Hanna cukup berdecak, bagaimana bisa Max tahu dengan Rado? Pikir Hanna. "Iya, mungkin ... ini semua salah faham! Saya harusnya konfirmasi pada dia saat pergi dari club, dan sekarang ... dia marah besar pada saya!" kata Hanna. Max menarik ponselnya dan menghubungi seseorang, Hanna masih belum mengerti, siapa yang Max hubungi. Apakah Rado? "Lo dimana?" tanya Max saat sambungan telponnya terhubung. Hanna diam saja, dia tak tahu siapa yang Max hubungi. "Apa lo baru saja mengancam seseorang?" tanya Max lagi sembari menatap Hanna dengan sangat tajam. Hanna jadi malu dan risih. "Ya! Gue sedang ada di Bandung! Temui gue! Gue share lokasinya! Datang dalam 15 menit atau gue ambil satu jari tangan lo!" perintah Max diiringi dengan sebuah ancaman mengerikkan sampai membuat Hanna begidik. Apakah Max benar-benar sedang menghubungi Rado? Max sudah selesai dengan urusannya, dia menyimpan lagi ponselnya di saku celananya lalu kembali fokus memperhatikan Hanna yang masih ketakutan. "Jangan takut! Saya akan selesaikan si Rado!" kata Max. Hanna tak menyangka kalau Max akan menolongnya sampai sejauh ini. Tapi tetap saja, Hanna takut terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya. "Te-terima kasih banyak, Tuan!" Max berjalan kembali menghampiri Ariana yang terlanjur bete. Dia sangat sebal dengan situasi ini. Dia merasa kalau Hanna adalah pembantu yang cukup spesial untuk Max dan Ariana sangat tak senang dengan hal itu. "Kamu ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba menangis di pojokan?" tanya Ariana tanpa rasa empati sedikit pun. Hanna mau pun Max kompak diam. Tak ada yang menjawab pertanyaan Ariana. "Dan satu lagi, apa hubungan kalian? Aku jadi curiga! Dia bukan pembantu biasa untukmu, Max! Sepertinya dia begitu istimewa untukmu!" Ariana melanjutkan pertanyaannya. Max tetap tak mau menjawab dan Ariana semakin kesal saja. Rado memang mendapat telpon dari Max tadi. Dia terlihat gentar. Dia langsung pergi menuju tempat yang sudah Max share lokasinya padanya. Rado sangat tahu siapa Max, Rado juga tahu kalau Max tak pernah main-main dengan ancamannya. Dia datang dengan sepeda motor. Tepat waktu karena dia tak ingin satu jari tangannya hilang gara-gara membantah permintaan Max. Dia parkirkan sepeda motornya di halaman kawasan wisata itu. Bahkan dia lebih gentar lagi kala melihat mobil Max terparkir di kawasan wisata itu. 'Waduuh! Ternyata Bos Max beneran ada disini! Sial! Bagaimana bisa dia tahu sama masalah gue sama si Hanna!' batinnya lalu melangkah masuk, dia mencari keberadaan Max dan akhirnya ketemu juga. Saat Rado datang, Hanna malah semakin ketakutan. Dia kembali gemetar, Hanna seperti memiliki trauma yang cukup dalam kala melihat kedatangan Rado dan Max merasakannya. "Jangan takut!" bisik Max tegas. "Bos ...." Rado menghadap dengan penuh hormat. Wajahnya yang beringas kala mengancam Hanna luntur seketika kala berhadapan dengan Max. "Kita bicara disana! Di bawah sana!" kata Max lalu dia bangkit dan menunjuk satu spot di bagian bawah kawasan wisata itu. "I-iya Bos!" setujui Rado lalu bangkit. Max juga bangkit. "Ada apa ini?" tanya Ariana semakin tak mengerti saja. "Tunggu disini!" kata Max lalu dia melanjutkan langkahnya diikuti oleh Rado. Tinggal lah Hanna dan Ariana disana. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ariana kini lebih menekan pada Hanna. Hanna tak tahu harus menjelaskan apa pada Ariana. Dia takut salah bicara, terlebih, malam itu Max menyelamatkannya dari club malam lalu merenggut kesuciannya. Hanna sangat tahu kalau Ariana sepertinya mencintai Max, Hanna tak ingin mengacaukan hubungan orang lain, sungguh ia sangat tak ingin itu terjadi. "Gak ada apa-apa, Nona ...." "Gak ada apa-apa, gimana? Sejak semalam aku mencium gelagat yang gak beres antara kalian berdua! Apa kamu simpanan Max?" Ariana menduga, dan Hanna semakin terpojok. "Bu-bukan! Bukan seperti itu, Nona! Ini hanya salah faham! Saya takut salah bicara, biar nanti Tuan muda Max saja yang menjelaskannya!" kata Hanna mencoba bicara se-sopan mungkin. "Heh, aku tahu kalian memang bersekongkol!" "Maafkan saya kalau saya membuat kamu gak nyaman Nona!" "Sangat! Kamu sangat membuat saya tidak nyaman! Max jadi bersikap beda padaku! Aku kira salah satu penyebabnya adalah kamu!" "Nggak kok! Saya gak berarti apa-apa! Saya hanya pelayan di kediaman Jerome! Gak ada yang lebih dari itu, Tuan muda Max memang orang baik! Dia hanya ingin menolong saya, itu saja!" dalih Hanna. Hanna benar-benar tak ingin Ariana semakin berprasangka buruk. "Lalu, pria yang tadi siapa? Aku lihat tadi kamu langsung ketakutan melihatnya!" "Dia ... dia ...." "Kenapa dia memanggil Max dengan sebutan bos?" Ariana sudah seperti wartawan kepo saja, dan Hanna cukup kewalahan menjawab satu persatu pertanyaan Ariana itu. 'Aduh, Ariana ini siapa sih? Kepo banget! Aku harus jelaskan apa coba? Belum lagi kalau dia tahu apa yang Tuan Max lakukan padaku malam itu, aarrrgggghhh! Bisa-bisa aku diseret keluar dari rumah itu dengan terhina! Kayaknya Ariana ini jodoh yang sudah disiapkan orang tua Tuan Max deh!' batin Hanna, dan dia tetap tak menjawab rasa penasaran Ariana. "Woey! Malah bengong! Kayak orang cacingan!" sadarkan Ariana lalu mengejek. "Maaf, Non ...." "Maaf ... maaf! Jelaskan!" "Saya gak bisa ...." "Heh, oke! Lihat saja nanti! Aku akan mencari tahunya sendiri! Kalau ada sesuatu yang tidak beres antara kamu dan Max! Aku akan melaporkannya pada orang tua Max!" ancam Ariana. Hanna diam saja dan hanya menunduk lugu, Hanna berharap apa yang telah terjadi di malam itu akan tetap tersimpan menjadi rahasia antara dirinya dan Max saja. Bagaimana situasi antara Max dan Rado? Mereka berjalan terus menuruni bukit sampai akhirnya tiba di spot paling dasar dari objek wisata alam ini. Mereka menepi di pinggir sebuah sungai yang mengalir tenang dengan air yang jernih. Suasananya memang menenangkan jiwa, tapi sayangnya saat ini jiwa Max sedang bergejolak, terusik oleh urusan Hanna yang kadung sudah ia anggap menjadi urusannya juga. "Ceritakan bagiamana awalnya lo mengajak perempuan itu untuk bekerja di Jakarta!" perintah Max, dia berdiri tegak dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya, sementara itu, Rado hanya berdiri kuyu di hadapan Max. "Sa-saya ...." "Bicara dengan jelas!" tegas Max. "Wa-waktu itu saya memang menjanjikan sebuah pekerjaan untuk Hanna. Di cafe bukan di club Diamond! Memang seperti itu lah trik untuk mengajak para kembang desa untuk mau bekerja di Club, Bos!" jawab Rado. Heum, kembang desa ya? Ya, itu memang sebutan yang cocok untuk Hanna. Dia pure, dia cantik alami bahkan Max juga masih merasakan kenikmatan yang Hanna berikan padanya malam itu. "Terus sekarang lo mengancam dia?" tanya Max lagi. "Ya ... karena saya rugi besar, Bos! Saya sudah memberikan tunjangan untuk ibunya di kampung! Sedangkan saya? Saya harus mengembalikan uang yang Bos Rocky berikan atas pembelian Hanna!" "Terus ... lo masih mau mengancamnya?" "Nggak kok, Bos! Ka-kalau dia sudah ada di bawah lindungan Bos, mana mungkin saya berani mengusiknya lagi!" "Bagus kalau lo sadar akan hal itu!" "Iya, Bos! Tolong jaga Hanna baik-baik ya! Karena ... dia juga sebenarnya masih menjadi incaran para rentenir di desa! Para rentenir itu ingin memperistri si Hanna karean orang tuanya berhutang pada para rentenir itu!" kata Rado malah memberi informasi lain. Max semakin tertarik saja dengan sosok Hanna. 'Dikejar-kejar rentenir? Ternyata kehidupannya sangat getir!' batin Max. "Coba cari tahu berapa hutang-hutang orang tuanya itu!" perintah Max. "Oke, Bos!" "Kalau lo sudah dapat informasinya, lo bisa hubungi gue!" "Oke, Bos! Heum ... ngomong-ngomong ... apa bos suka dengan Hanna?" Lama-lama Rado penasaran juga dengan sikap protektif Max terhadap Hanna, dia bertanya memberanikan diri. "Gue cuma kasihan sama dia!" tegas Max malah menyangkal rasa pedulinya. Padahal aslinya, Max begitu terbius oleh pesona gadis desa itu, hanya saja Max tak ingin mengakuinya. "Oh, begitu ya Bos! Tapi, di desa, si Hanna ini adalah bintangnya! Banyak para Tuan tanah yang menawarnya dengan harga tinggi, tapi ibunya selalu mempertahankannya karena Hanna dianggap bisa membuat peperangan antar pemuda dan para pria yang ada di desanya itu! Menarik kan, Bos!" tutur Rado saat tensi perbincangan sedikit berubah santai. Ya! Max semakin tertarik saja. Lalu dia tertawa masam. Pada akhirnya si kembang desa yang diperebutkan oleh pria sekampung itu berakhir di kamarnya malam itu. Max puas karena dia mendapatkan kegadisan di kembang desa. "Yes, i got it!" batin Max bangga. Max memang selalu mendapatkan apapun yang dia mau dalam hidupnya. "Heum, Bos ... setelah ini rencananya Bos mau kemana?" tanya Rado. "Pulang!" jawab Max singkat. "Oh, gak mau tunggu sehari atau dua hari lagi? Bos bisa mengunjungi tempat-tempat indah disini! Biar saya siapkan villa untukmu dan kekasihmu, Bos!" tawarkan Rado dengan senang hati. "Kekasih?" tanya Max. "Ya ... perempuan yang tadi itu kekasihmu, kan Bos?" "Bukan!" bantah Max. 'Entahlah! Dulu gue sangat menginginkan Ariana! Sekarang semuanya terasa hambar!' batin Max, ternyata itu lah kenyataannya. Max sudah tak mencintai Ariana lagi. "Oh, begitu ya Bos!" "Setelah ini gue akan mengantar Hanna ke rumah orang tuanya, sebentar!" kata Max. "Oh, mau ngapain Bos?" "Katanya dia ingin bertemu ibunya, sebentar!" "Oh, oke kalau begitu, saya akan mengawal kalian yaa!" "Oke!" Setelah perbincangan itu berakhir, Max kembali berjalan ke atas, menghampiri Ariana dan Hanna yang masih menunggu di cafe di bagian paling atas bukit wisata ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD