"Dulu kita melakukan segalanya bersama, kenapa kamu mendadak bersikap seperti orang asing? Sampai sekarang aku masih belum mengerti. Apa sebenarnya salahku?"
Pria dengan mata setajam elang itu hanya diam. Giginya gemeretak, dengan tangan mengepal kuat. Herannya, meskipun abai, pria itu masih berbaik hati menunggu gadis yang kini basah kuyup karena guyuran hujan deras diluar sana. Ia berusaha menahan diri dari rasa iba untuk memeluk tubuh ringkih itu, karena rasa bencinya jauh lebih dalam.
"Apa kamu sudah bosan? Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali?" Lirih gadis itu, kini tubuhnya gemetaran bukan karena takut, melainkan udara dingin begitu menusuk kulitnya yang hanya terbungkus kaus tipis. Karena pria yang di hadapannya ini sepertinya tidak mau repot memberikannya mantel atau mengizinkannya masuk ke dalam dan menghangatkan diri dengan secangkir coklat panas.
"Mudah sekali. Kamu mau tahu jawabannya?"
Mata gadis itu seketika berbinar. Ada harapan terpancar walaupun sekecil permata batu cincin sekalipun.
Tapi setidaknya masih permata kan?
"Aku...akan lakukan apapun. Asalkan kamu kembali," Gadis itu baru saja hendak mendekat, namun melihat prianya beringsut mundur dengan pandangan dingin, dengan sadar diri, ia urungkan langkahnya. Meskipun, hatinya sakit bukan main.
"Pergilah dari hadapanku sejauh mungkin, sampai bayanganmu nggak akan terlihat lagi."
"Apa?"
"Kamu dengar kan? Aku sudah muak melihatmu, orang asing yang dipungut ibuku. Mau sampai kapan kalian menjadi parasit dikeluarga kami? Atau kalian memang berniat merebut harta ayah?"
"Kamu nggak sungguh-sungguh dengan ucapanmu kan?"
"Aku sangat serius. Sampai rasanya, ujung kukumu pun membuatku muak."