1-Takdir Hidup

1533 Words
'BRAK!!' Ada sedikit retak pada pintu yang hanya berbahan kayu itu. Kekuatan wanita paruh baya itu tidak bisa diremehkan. Alisnya memicing dan tatapannya tajam. Sekitaran leher sampai ke telinganya pun memerah. Wanita itu sangat marah hingga seisi apartemen bergetar. Beberapa penghuni terlihat mengintip, bahkan ada yang terang-terangan menyaksikan adegan yang sedang menarik perhatian seisi bangunan apartemen. Seperti sedang menonton pertandingan tinju di MMA, menunggu siapa yang akan dibabat habis oleh lawan dan jatuh telak. Diana menelan ludah dengan gugup. Kepalanya semakin menunduk hingga nyaris mencium lantai. Oh tidak! Sebentar lagi Pelita akan bangun. Semoga Tuhan melindungi anak kecil itu di kamarnya. "KALAU TIDAK SANGGUP MEMBAYAR SEWA TIDAK USAH TINGGAL DISINI! MEMANGNYA AKU INI BERSEDEKAH PADAMU?!" Teriak Constance--sang pemilik sewa. Deru napas wanita gempal itu tampak kembang-kempis. Seperti ada asap mengepul melewati kepalanya. Diana dibawahnya semakin bergetar, "T-tolong b-beri saya kesempatan. Saya janji akan membayar dalam waktu dekat. Tolong beri saya waktu lagi, saya punya bayi, saya tidak mungkin tidur di jalanan, jangan usir kami..." Lirih Diana. "Cuih! Aku tidak peduli. Mau kau tidur di jalanan, atau digorong-gorong, atau bahkan di perkosa oleh para pengemis sekalipun. Aku tidak peduli! Berikan uangku sekarang!" Wanita gemuk itu meludahi Diana. Suaranya yang nyaring bahkan sampai terdengar ke komplek apartemen seberang. Mengundang banyak massa yang awalnya memilih sibuk di dalam rumah masing-masing untuk keluar. Namun, ketika telah memahami situasi yang terjadi, mereka kembali masuk ke kamar dengan tidak peduli. Lebih tepatnya, mereka malas ikut campur. Berurusan dengan Constance sama saja cari mati. Hei! Bukan hanya Diana yang orang susah di lingkungan ini dan terpaksa menyewa apartemen milik wanita gempal itu. Mereka hanya beruntung hari ini bukan giliran mereka. Oleh karena itulah, tidak ada satupun yang berniat menolong wanita malang itu. Biarlah nasibnya ditentukan oleh Nyonya Constance. Kalaupun Diana mati, mereka hanya perlu bersikap pura-pura tidak tahu. "Saya tidak punya uang. Saya...baru saja dipecat. Saya mohon beri saya waktu," Diana mulai panik. Terlebih saat mulai mendengar tangisan bayinya dari dalam kamar. Constance kemudian berkacak pinggang sambil memandang Diana yang bersimpuh dengan remeh, "Inilah kenapa aku tidak suka dengan kaummu. Kalian para Asian hanya bisa membuat kami susah! Pergi saja ke Negara asalmu! Kenapa harus menyusahkan orang lain? Kamu pikir aku tidak perlu uang untuk menghidupi kebutuhanku dan perawatan apartemen ini?! Kamu pikir kerusakan yang kalian akibatkan itu diperbaiki dengan daun?!" Sejak awal Constance memang tidak menyukai Diana. Ini bukan hanya perkara uang, tapi ada masalah pribadi. Setiap hari, Diana akan selalu menerima hinaan yang tidak bermoral dari Constance. Apalagi setelah suaminya--Josh terang-terangan melakukan pelecehan terhadap Diana. Alih-alih menyalahkan suaminya, Constance malah menuduh Diana yang menggoda dan wanita gatal. Sebagai seseorang yang tak berdaya, Diana hanya bisa menerima keadaannya dengan pasrah. "Saya janji akan segera membayarnya. Minggu depan! minggu depan saya janji akan menyediakan uangnya. Kalau tidak, saya bersedia keluar dari sini," Diana bicara asal. Pikirannya terbelah dua antara menenangkan anaknya atau menenangkan Constance. "Besok! Aku ingin uangnya besok! Dan ya! Kau memang harus segera keluar dari sini. Entah dengan cara lari atau mati. Dasar parasit tidak tahu diri!" Constance mundur. Belum Diana sempat bernapas lega, ia berbalik, "Jangan lupa, ganti rugi kerusakan pintu ini. Aku tidak suka propertiku rusak." 'Baam!' Setelah pintu ditutup kencang. Diana langsung berlari ke kamar dan menenangkan anaknya. Buat hati satu-satunya. Lentera hidupnya. Dan alasan ia masih bertahan di dunia. Diana duduk menenangkan anaknya. Lalu menangis sesegukan dalam diam. Seandainya ia tidak melakukan kesalahan, seandainya suaminya masih ada, seandainya saja waktu dapat terulang, ia mungkin tidak akan menderita. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah buah hatinya. Pelita Sungkara. **** "Halo, Ma..." Diana rindu sekali dengan ibunya. Tak terasa 1 tahun sejak kejadian itu bermula. Ia tidak pernah lagi bersua dengan sosok yang telah melahirkannya. Diana merasa, itu adalah tindakan yang ditunjukkan ibunya karena rasa kecewa. Tapi Diana sama sekali tidak menyalahkan orang tuanya. Jika Diana berada diposisi mereka, Diana mungkin akan melakukan yang lebih daripada sekedar marah. Bagi Diana, orangtuanya masih berbaik hati membiarkannya hidup. Terlebih, Diana pergi meninggalkan negerinya tanpa pamit. Seolah Diana sendiri memang memilih melarikan diri dari mereka. Diana lah yang sepenuhnya salah dan egois. Jika saja ia tidak memiliki anak, mungkin Diana sudah mati sejak dulu, menyusul kepergian sang suami tercinta. "Ngapain kamu telepon saya lagi? Kamu nggak puas sudah kecewakan kami?! Mau apalagi kamu sekarang?!" Teriak ibunya lewat telepon tanpa repot menyapa. Diana diam-diam tersenyum hangat. Setidaknya ibunya sudah mau mengangkat teleponnya. Tak apa, ini adalah sebuah kemajuan. Meskipun dimaki-maki, justru hati Diana malah menghangat. Diana dulu sangat dekat dengan ibunya hingga pada suatu titik, ibunya menganggapnya bagai orang asing. "Apa kabar? Mama dan papa sehat kan?" Tanya Diana dengan gugup. "Nggak usah banyak basa basi. Kamu pasti ada maunya kan? Cepat ngomong! Saya nggak punya banyak waktu buat meladeni anak durhaka seperti kamu!" Ah, ibunya memang paling tahu Diana, "Di, mau pinjam uang, Ma. Untuk bayar sewa. Di, baru saja dipecat kemarin. Kalau nanti Di sudah dapat pekerjaan baru, Di pasti akan segera kembalikan sama mama secepatnya kalau sudah gajian," Diana berujar. Jika kalian menganggap bahwa Diana hanya menghubungi ibunya pada saat perlu, kalian salah besar. Sejak hari dimana ibunya membuang Diana beserta bayi di dalam kandungan, Diana selalu mencoba menghubungi ibunya namun tidak pernah mendapatkan respon yang baik. Dia anggap hari ini sebagai keberuntungan. Ibunya tak lagi bersuara. Diana sampai harus mengecek ponselnya apakah panggilan telah terputus. Karena biaya telepon ke luar negeri sangat mahal. Diana takut pulsanya habis. "Dasar anak tidak tahu diri! Aku seketika bersyukur sudah membuang kamu. Kamu lupa apa yang kamu perbuat sama mama dan papa? Kamu hamil diluar nikah lalu kabur dengan pria itu dan menikah tanpa restu kami. Sekarang kamu meminta uang begitu saja? Nggak! Aku nggak akan kasih. Anggap saja ini sebagai hukuman dari Tuhan atas apa yang kamu perbuat. Mending kamu coba minta sama suamimu yang sekarang sudah ada didalam kubur itu," Kata ibunya dengan tajam. "Mama, tolong jangan hina suamiku, dan namanya Sungkara." "Hah! Saat seperti ini pun kamu masih membela dia, jadi untuk apa kamu masih minta tolong padaku? Sudahlah bicara omong kosongnya. Jangan pernah kamu hubungi aku lagi untuk alasan apapun dasar anak durhaka!" Tanpa sadar air mata Diana kembali menetes tepat setelah ibunya menutup teleponnya. Berapa kali pun ia berusaha mengerti bahwa ini adalah hukum tabur yang sudah ia tuai selama hidupnya, tetap saja penderitaan ini jauh diluar batas kemampuannya. Ia duduk meringkuk di sebelah box bayinya. Anak kecil berumur 2 tahun yang tak berdosa, sebelum lahir sudah mendapatkan cobaan yang berat karena perbuatan hina ibu dan ayahnya. Seharusnya ia tidak dilahirkan jika Diana tahu suaminya akan pergi secepat itu. Satu-satunya penguat dan motivasi Diana untuk tetap hidup setelah segala caci maki yang ia terima. Oh Sungkara, kenapa kamu tega meninggalkanku sendirian? Kenapa kamu tega sekali melihatku menderita sementara mungkin kamu sudah tersenyum manis di surga. Secarik kertas tergeletak tepat dibawah tasnya. Tangisan Diana mendadak mereda. Ia merangkak cepat lalu mengambil kertas kecil yang berisikan kartu nama. Ia teringat sesuatu. Harapan... Diana menimbang lama akan keputusan selanjutnya. Memilih jalan selanjutnya untuk ia tempuh. Salah langkah maka menuju jalan buntu. Pikirannya semakin kalut. Jarinya menggenggam kuat kartu itu hingga kukunya menusuk, membuat kertas kecil itu sedikit kumal. Lalu dengan satu tarikan nafas ia memantapkan pikirannya. Satu-satunya orang yang bisa ia hubungi dan akan memberikan jalan keluar. Ia ketik dengan bergetar nomor telepon yang tertera. Dengan gugup menempelkan di telinganya. Diangkat! "Hei! Akhirnya kau menghubungiku. Sudah ku bilang kan bahwa kau tidak bisa menolak tawaranku?" Wanita di seberang telepon lalu tertawa nyaring. Seakan mengejek Diana yang telah menjilat ludahnya sendiri. Ada bunyi gemerisik di seberang sana. Tampaknya wanita itu sedang bekerja. "Jadi, kapan kau akan datang?" Tanyanya lagi dengan tak sabaran. "Secepatnya..." "Secepatnya itu kapan? Kamu tahu kan yang ingin bekerja disini sangat banyak? Jangan sampai aku malah mengambil orang lain yang lebih cepat dan bertekad daripada kamu," Orang diseberang sana mendesis. Tidak suka melihat ketidakpastian dari jawaban Diana. "Besok. Saya akan datang besok." Kata Diana cepat. Tidak ingin membuat sang lawan bicara murka. "Kamu sadar kan dengan apa yang kamu lakukan?" Tanya wanita itu untuk memastikan. Lama Diana terdiam. Kembali meragu, padahal di seberang telepon wanita yang dipanggil madam itu menunggu dengan tidak sabaran, "Iya, madam." "Baguslah, aku pikir kamu mabuk. Aku nggak mau dipenjara karena dituduh melakukan kerja paksa." Setelah berbincang mengenai jam pertemuan, telepon ditutup. Bukannya lega karena telah menemukan solusi, justru Diana semakin kalut. Padahal ia sudah bertekad untuk bertaubat dengan sering pergi ke gereja. Tapi justru, ia malah kembali masuk ke dalam lubang dosa yang lebih parah dari yang ia lakukan dulu. Diana merutuki sikap naif nya yang gampang tertipu. Karena putus kuliah, ia terpaksa memutar otak untuk mencari nafkah setelah suaminya tiada. Tapi mendadak dijanjikan oleh impiannya selama ini, tanpa pikir panjang, tanpa persiapan ia terbang ke London untuk mewujudkan mimpinya. Mimpi yang telah usai sebelum dimulai. Ia ditipu habis-habisan. Uang tabungan yang ia kumpulkan lenyap tak bersisa dibawa kabur. Lalu, resmi menjadi gelandangan bersama anak semata wayangnya. "Anakku....Pelitaku..." Diana mengusap kepala anaknya dengan sayang. Berkali-kali berbisik kata maaf yang tak mungkin dimengerti oleh dunia bayi. Meskipun begitu, Diana tidak ingin hidup dalam penyesalan. Demi anaknya, ia harus berusaha keras mencari cara. Agar Pelita tidak kesulitan, agar ia bisa hidup normal seperti teman sebayanya nanti. Agar Pelita tidak malu, memiliki ibu sepertinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD