“Kamu akan segera mengetahuinya, tapi tidak sekarang ini, Nobelia.” Arash mengusap khimar panjang gadis itu yang tergerai sampai ke pinggang. Takjub pada sentuhan jemari kakunya yang dipenuhi kasih sayang untuk Nobelia. Pria itu mendesah, “Jangan membenciku, jangan berhenti memercayai aku, jangan menatapku dengan kecewa. Aku menyayangimu sebagai saudara yang terlahir dari satu rahim—mana mungkin aku tega menyakitimu?” Sejenak tadi, Nobelia mengira jika pria yang kini tengah dipeluknya itu bukan Arash. Sebab, Arash terlalu tidak peka dalam meluapkan perasaannya. Tetapi sekarang, pria itu menunjukkan magisnya—menyihir dan cemerlang. “Benar, Abang adalah saudaraku, tamengku dari api neraka, salah satu tempat yang paling aman untukku bersandar kala berada dalam situasi apapun, mengapa aku sa

