Bibir itu benar-benar membuatnya gila. Gila pada luka berdarah yang bertahun-tahun bersarang di dadanya. Gila pada rindu yang busuk, gila pada—ah, ia menyalurkan kepedihan melalui ciumannya itu. Nobelia harus tahu bahwa ia mampu sekejam Fir’aun. Sebab gadis itu selalu bagai batu dari luar angkasa, dari jauh tampak kecil, namun ketika mendekat dapat merusak dan menghancurkan segalanya. Semuanya. Termasuk kendali dirinya yang pecah berantakan—tercecer di lantai. Saif menggigit kecil bibir itu sebelum melepaskannya kembali. Terengah hebat, ia menetralkan bola matanya yang kini berkabut. Entah Nobelia memang manis, atau apakah itu hanya karena efek laban yang membuatnya hampir mati karena hasrat? “Menyedihkan sekali, apa ini adalah ciuman pertama bagimu, huh?” Sarkas dan retoris, sejujurnya

